Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Aku Tidak Marah


__ADS_3

Leon buru-buru pulang ke rumah untuk menemui Hara,  saat tiba di rumah,  ia berlari menemui Hara di kamar mereka, wanita cantik itu baru saja keluar dari kamar mandi,  tiba-tiba Leon duduk bertumpu di lantai di hadapannya.


“Hara … aku salah, aku minta maaf,” ujar Leon wajahnya berantakan.


“Ada apa?” Tanya Hara bingung melihat  suaminya bersujud  di hadapannya.


“Hara aku tidak mengatakan  semua ini padamu karena aku merasa malu,” ujar Leon.


“Aku tahu, tetapi seharusnya kamu jujur padaku Leon Wardana, kesabaranku habis,” ujar Hara dengan suara meninggi.


“Hara ….!?” Leon menatap kaget.


“Sttt …. Hara meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, meminta Leon terus melanjutkannya. Hara merogoh ponsel Leon yang di sadap.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Leon  dengan gerakan bibir.


“Ponselmu di sadap,” bisik Hara.


Mendengar ponselnya di sadap seketika Leon terkejut, biasanya ia yang selalu menyadap ponsel orang lain,  tetapi kali ini ponsel miliknya  yang sadap. Mereka berdua melanjutkan aktingnya.


“Lalu kamu mau  apa?” tanya Leon dengan suara meninggi.


Untungnya tidak ada anak-anak mereka saat itu, kalau saja ada bisa ada gempa lagi di rumah.


“marah,  karena kamu tidak jujur!” Teriak Hara, melempar ponsel milik Leon  ke dinding sampai hancur.


Mata Leo melotot  terkejut, tetapi ia juga melanjutkan aktingnya.


“Aku juga marah, Hara tetapi beri aku waktu,” ujar Leon, ia bersikap  natural agar  akting mereka tidak si curigai.


“Aku tidak mau, aku  sudah bosan seperti ini terus, aku akan pergi dengan anak- anak.”


“ Hara! Hara jangan seperti itu,” ucap Leon ia membawa satu gelas cairan keras dan menuangkan ke ponsel miliknya dan hancur, Penyadap itu akhirnya hancur.


Lalu mereka diam sejenak.


“Hara, apa benar kamu sudah mengetahui semuanya?” tanya Leon dengan wajah pucat.


“Iya.”


“Apa?”


“Aku mengetahui melalui camera yang aku letakkan di ruangan mu, sebenarnya aku sudah curiga padanya,sejak kamu selalu bersikap cuek padanya dan Toni, Ken, Zidan sudah sering mengingatkanku dengan si rubah itu, aku pikir jika aku berbuat baik padanya dia akan berubah, ternyata, iblis tetaplah iblis  …. mengajarkanku beberapa hal  kalau  kita bisa mempercayai seseorang  hanya karena dia berpenampilan sopan.”


“Lalu apa kamu marah?” Tanya Leon tidak berani melihat wajah istrinya.


“Untuk apa marah? Kaila  yang  mencuri  dari kamu, dia melakukannya saat kamu pingsan, dia yang harusnya malu sayang, kamu hanya kehilangan  sebagian cairanmu , bukan harga dirimu,” ujar Hara ia  berusaha mengembalikan  kepercayaan diri Leon.


Wajah Leon panik.


“Hara …..” Mata Leon berkaca -kaca, antara kaget bangga dan tidak percaya.

__ADS_1


“Aku sudah mengetahuinya  semua kebenarannya kamu tidak salah sayang, kamu lelaki dan suami hebat,” ujar Hara  memuji suaminya.


“Hara ….” Leon begitu bahagia saat Hara tidak menyalahkannya.


“Aku istri mantan bos mafia,” ujar Hara tertawa.


“Kamu mengetahui semuanya dari mana?”


Hara menceritakan semuanya pada Leon, mendengar Hara  menyadap ruangannya Leon kaget, karena ia sendiri tidak menyadari kalau Hara memasang camera di kamarnya.


Leon memeluk Hara dengan tubuh menegang ia meneteskan air mata karena ia emosional.


“Sayang , aku sangat takut beberapa hari ini, aku takut kamu meninggalkanku, aku takut kamu membenciku,” ujar Leon  dengan  pundak bergetar.


“Untuk apa aku membencimu , ini  ujian untuk kita,  baik aku dan kamu tidak tahu dia iblis atau bukan.”


“Lalu apa kamu hamil? Kata dr, Shena ….”


“Aku tidak hamil sayang, aku memberikan untuk wanita itu.”


Leon menatap dengan takjub pada istrinya, Hara menceritakan semuanya, Leon memeluk Hara.


“Apa kamu menangis?” Tanya Hara saat ia merasa pundaknya basah.


“Aku sangat mencintaimu Hara, terimakasih,”ucapnya lagi.


“Sayang, tetapi kita belum aman, kita tidak tahu siapa penghianat  di belakangmu, kita akan tetap berpura-pura  bertengkar dengan begitulah aku dan anak-anakmu selamat,” ujar Hara.


“Kamu benar, kita akan tetap pura-pura bertengkar agar mereka  keluar dan menunjukkan keberadaanya mereka,” ujar Leon.


Saat malam tiba Leon sudah selesai mandi ia duduk di sisi ranjang.


“Tetapi kita tidak bisa bertengkar di hadapan anak-anak, bagaimana kalau aku pergi ke Kalimantan  besok dengan kami pergi kamu bebas menyelesaikan semuanya sampai mereka masuk ke penjara. Kak Toni sekarang lagi di Kalimantan dia ingin membuka peternakan kuda,” ujar Hara.


“Baiklah”


Saat mereka saat mengobrol mereka  mendengar langkah kaki.


Leon keluar ternyata ada Bimo,”Ada apa Bim?”


“Tadi aku dengar suara ribut-ribut Bos.”


“Apa kamu ingin menonton kami  bertengkar  dengan istriku, Bim?”


“Oh, tidak Bos.” Lelaki bertubuh kekar itu keluar’


Leon masuk lagi ke dalam kamar.


“Apa kamu  berpikir dia penghianatnya?” Tanya Leon.


“untuk saat ini, bukan dia tetapi Kaila mempengaruhi  dengan kata-kata kebohongan, mungkin suatu saat nanti mereka akan mengkhianatimu,” ujar Hara.

__ADS_1


“Kamu benar tidak mudah mencari orang-orang seperti mereka berlima,” ujar Leon, situasi yang di hadapi saat ini mengingatkannya  pada masa lalu di mana semua masalah bisa selesai hanya sekejap mata di tangan kelima anak buah kepercayaan Zidan, Ken, Toni, Riko dan Iwan.


Tetapi kelima anak buahnya  tersebut sudah memiliki kehidupan masing-masing, Leon tidak ingin mengusik kehidupan mereka.


“Apa kamu merindukan mereka?” Tanya Hara melirik wajah suaminya.


“Terkadang, tetapi  aku sadar hidup itu melangkah ke depan bukan mundur ke belakang, jika aku menggunakan cara yang lama apa bedanya aku dengan yang dulu, itu yang sering aku  ingat makannya aku tidak menghabisi Bimo saat ia membiarkan Kaila melarikan diri.”


“Kamu benar, biarkan dia melarikan diri, aku sudah membuang kekhawatiran,” ujar Hara.


Leon menatap dalam istrinya, ia tidak menduga kalau Hara menyelamatkannya dari rasa malu.


“Hara …. aku tidak tahu bagaimana hidupku jika kamu tidak bersamaku.”


“Benarkah, kamu bersyukur memiliki  wanita seperti aku?”


“Sangat bersyukur, aku akan melakukan apapun untukmu Hara.”


“Benarkah?”


“Iya.”


“Kalau begitu kamu harus melakukan sesuatu padaku,” ujar Hara.


“APa?”


“Karena Kaila memakai pedangmu, aku ingin kamu memeriksanya ke dokter, aku tidak ingin tertular penyakit  dari Kaila.”


“Sayang aku sudah melakukannya sebelum kamu suruh,” ujar Leon menunduk  merasa sangat rendah.


“Jangan salah paham sayang, kamu tahu kan  Kaila  tidur dengan banyak pria, bagaimana kalau ia tertular penyakit dan menularkan padamu, lalu kamu menularkan padaku,”ujar Hara.


“Baiklah sayang aku  mengerti,” ujar Leon tanpa membantah.


“Aku juga tidak ingi melakukannya dengan waktu dekat ini dengan kamu,” ujar Hara saat leon memeluknya di atas ranjang.


Wajah Leon merasa  sangat malu saat Hara berkata seperti itu.


“Kamu menghukum ku Hara?”


“Tidak sayang, aku hanya merasa ….”


“Jijik padaku?”


“Tidak, hanya  merasa takut.”


“Lalu?” Tanya Leon memelas.


“Berikan aku waktu melupakan semua kejadian buruk ini, aku janji setelah itu aku akan kembali seperti dulu lagi.”


Leon mendapat hukuman juga karena pedang miliknya nyasar ke sarang milik orang lain, Hara meminta Leon  memeriksanya ke dokter dan meminta Leon tidak meminta jatah ranjang waktu dekat, Leon setuju.

__ADS_1


Untuk menangkap penghianat di belakang Leon, maka mereka berpura-pura masih  bertengkar, bahkan Leon setuju Hara meninggalkannya agar ia leluasa melakukan pekerjaannya.


Bersambung ….


__ADS_2