
Leon buru-buru pulang ke rumah untuk menemui Hara, saat tiba di rumah, ia berlari menemui Hara di kamar mereka, wanita cantik itu baru saja keluar dari kamar mandi, tiba-tiba Leon duduk bertumpu di lantai di hadapannya.
“Hara … aku salah, aku minta maaf,” ujar Leon wajahnya berantakan.
“Ada apa?” Tanya Hara bingung melihat suaminya bersujud di hadapannya.
“Hara aku tidak mengatakan semua ini padamu karena aku merasa malu,” ujar Leon.
“Aku tahu, tetapi seharusnya kamu jujur padaku Leon Wardana, kesabaranku habis,” ujar Hara dengan suara meninggi.
“Hara ….!?” Leon menatap kaget.
“Sttt …. Hara meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, meminta Leon terus melanjutkannya. Hara merogoh ponsel Leon yang di sadap.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Leon dengan gerakan bibir.
“Ponselmu di sadap,” bisik Hara.
Mendengar ponselnya di sadap seketika Leon terkejut, biasanya ia yang selalu menyadap ponsel orang lain, tetapi kali ini ponsel miliknya yang sadap. Mereka berdua melanjutkan aktingnya.
“Lalu kamu mau apa?” tanya Leon dengan suara meninggi.
Untungnya tidak ada anak-anak mereka saat itu, kalau saja ada bisa ada gempa lagi di rumah.
“marah, karena kamu tidak jujur!” Teriak Hara, melempar ponsel milik Leon ke dinding sampai hancur.
Mata Leo melotot terkejut, tetapi ia juga melanjutkan aktingnya.
“Aku juga marah, Hara tetapi beri aku waktu,” ujar Leon, ia bersikap natural agar akting mereka tidak si curigai.
“Aku tidak mau, aku sudah bosan seperti ini terus, aku akan pergi dengan anak- anak.”
“ Hara! Hara jangan seperti itu,” ucap Leon ia membawa satu gelas cairan keras dan menuangkan ke ponsel miliknya dan hancur, Penyadap itu akhirnya hancur.
Lalu mereka diam sejenak.
“Hara, apa benar kamu sudah mengetahui semuanya?” tanya Leon dengan wajah pucat.
“Iya.”
“Apa?”
“Aku mengetahui melalui camera yang aku letakkan di ruangan mu, sebenarnya aku sudah curiga padanya,sejak kamu selalu bersikap cuek padanya dan Toni, Ken, Zidan sudah sering mengingatkanku dengan si rubah itu, aku pikir jika aku berbuat baik padanya dia akan berubah, ternyata, iblis tetaplah iblis …. mengajarkanku beberapa hal kalau kita bisa mempercayai seseorang hanya karena dia berpenampilan sopan.”
“Lalu apa kamu marah?” Tanya Leon tidak berani melihat wajah istrinya.
“Untuk apa marah? Kaila yang mencuri dari kamu, dia melakukannya saat kamu pingsan, dia yang harusnya malu sayang, kamu hanya kehilangan sebagian cairanmu , bukan harga dirimu,” ujar Hara ia berusaha mengembalikan kepercayaan diri Leon.
Wajah Leon panik.
“Hara …..” Mata Leon berkaca -kaca, antara kaget bangga dan tidak percaya.
__ADS_1
“Aku sudah mengetahuinya semua kebenarannya kamu tidak salah sayang, kamu lelaki dan suami hebat,” ujar Hara memuji suaminya.
“Hara ….” Leon begitu bahagia saat Hara tidak menyalahkannya.
“Aku istri mantan bos mafia,” ujar Hara tertawa.
“Kamu mengetahui semuanya dari mana?”
Hara menceritakan semuanya pada Leon, mendengar Hara menyadap ruangannya Leon kaget, karena ia sendiri tidak menyadari kalau Hara memasang camera di kamarnya.
Leon memeluk Hara dengan tubuh menegang ia meneteskan air mata karena ia emosional.
“Sayang , aku sangat takut beberapa hari ini, aku takut kamu meninggalkanku, aku takut kamu membenciku,” ujar Leon dengan pundak bergetar.
“Untuk apa aku membencimu , ini ujian untuk kita, baik aku dan kamu tidak tahu dia iblis atau bukan.”
“Lalu apa kamu hamil? Kata dr, Shena ….”
“Aku tidak hamil sayang, aku memberikan untuk wanita itu.”
Leon menatap dengan takjub pada istrinya, Hara menceritakan semuanya, Leon memeluk Hara.
“Apa kamu menangis?” Tanya Hara saat ia merasa pundaknya basah.
“Aku sangat mencintaimu Hara, terimakasih,”ucapnya lagi.
“Sayang, tetapi kita belum aman, kita tidak tahu siapa penghianat di belakangmu, kita akan tetap berpura-pura bertengkar dengan begitulah aku dan anak-anakmu selamat,” ujar Hara.
“Kamu benar, kita akan tetap pura-pura bertengkar agar mereka keluar dan menunjukkan keberadaanya mereka,” ujar Leon.
Saat malam tiba Leon sudah selesai mandi ia duduk di sisi ranjang.
“Tetapi kita tidak bisa bertengkar di hadapan anak-anak, bagaimana kalau aku pergi ke Kalimantan besok dengan kami pergi kamu bebas menyelesaikan semuanya sampai mereka masuk ke penjara. Kak Toni sekarang lagi di Kalimantan dia ingin membuka peternakan kuda,” ujar Hara.
“Baiklah”
Saat mereka saat mengobrol mereka mendengar langkah kaki.
Leon keluar ternyata ada Bimo,”Ada apa Bim?”
“Tadi aku dengar suara ribut-ribut Bos.”
“Apa kamu ingin menonton kami bertengkar dengan istriku, Bim?”
“Oh, tidak Bos.” Lelaki bertubuh kekar itu keluar’
Leon masuk lagi ke dalam kamar.
“Apa kamu berpikir dia penghianatnya?” Tanya Leon.
“untuk saat ini, bukan dia tetapi Kaila mempengaruhi dengan kata-kata kebohongan, mungkin suatu saat nanti mereka akan mengkhianatimu,” ujar Hara.
__ADS_1
“Kamu benar tidak mudah mencari orang-orang seperti mereka berlima,” ujar Leon, situasi yang di hadapi saat ini mengingatkannya pada masa lalu di mana semua masalah bisa selesai hanya sekejap mata di tangan kelima anak buah kepercayaan Zidan, Ken, Toni, Riko dan Iwan.
Tetapi kelima anak buahnya tersebut sudah memiliki kehidupan masing-masing, Leon tidak ingin mengusik kehidupan mereka.
“Apa kamu merindukan mereka?” Tanya Hara melirik wajah suaminya.
“Terkadang, tetapi aku sadar hidup itu melangkah ke depan bukan mundur ke belakang, jika aku menggunakan cara yang lama apa bedanya aku dengan yang dulu, itu yang sering aku ingat makannya aku tidak menghabisi Bimo saat ia membiarkan Kaila melarikan diri.”
“Kamu benar, biarkan dia melarikan diri, aku sudah membuang kekhawatiran,” ujar Hara.
Leon menatap dalam istrinya, ia tidak menduga kalau Hara menyelamatkannya dari rasa malu.
“Hara …. aku tidak tahu bagaimana hidupku jika kamu tidak bersamaku.”
“Benarkah, kamu bersyukur memiliki wanita seperti aku?”
“Sangat bersyukur, aku akan melakukan apapun untukmu Hara.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Kalau begitu kamu harus melakukan sesuatu padaku,” ujar Hara.
“APa?”
“Karena Kaila memakai pedangmu, aku ingin kamu memeriksanya ke dokter, aku tidak ingin tertular penyakit dari Kaila.”
“Sayang aku sudah melakukannya sebelum kamu suruh,” ujar Leon menunduk merasa sangat rendah.
“Jangan salah paham sayang, kamu tahu kan Kaila tidur dengan banyak pria, bagaimana kalau ia tertular penyakit dan menularkan padamu, lalu kamu menularkan padaku,”ujar Hara.
“Baiklah sayang aku mengerti,” ujar Leon tanpa membantah.
“Aku juga tidak ingi melakukannya dengan waktu dekat ini dengan kamu,” ujar Hara saat leon memeluknya di atas ranjang.
Wajah Leon merasa sangat malu saat Hara berkata seperti itu.
“Kamu menghukum ku Hara?”
“Tidak sayang, aku hanya merasa ….”
“Jijik padaku?”
“Tidak, hanya merasa takut.”
“Lalu?” Tanya Leon memelas.
“Berikan aku waktu melupakan semua kejadian buruk ini, aku janji setelah itu aku akan kembali seperti dulu lagi.”
Leon mendapat hukuman juga karena pedang miliknya nyasar ke sarang milik orang lain, Hara meminta Leon memeriksanya ke dokter dan meminta Leon tidak meminta jatah ranjang waktu dekat, Leon setuju.
__ADS_1
Untuk menangkap penghianat di belakang Leon, maka mereka berpura-pura masih bertengkar, bahkan Leon setuju Hara meninggalkannya agar ia leluasa melakukan pekerjaannya.
Bersambung ….