Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Ingatannya Sudah Pulih Kembali


__ADS_3

Mereka semua masih berkumpul di rumah Leon.


“Aku akan memaafkan mu Dokter, kalau kamu menemukan infomasi tentang Hara di rawat di rumah sakit mana, aku yakin ingatannya sudah pulih sebelum kejadian ini.”


 Bu Atin mengintip ke layar monitor yang dipasang untuk melihat ke gerbang,  di luar gerbang ternyata ada beberapa wartawan yang mencari Leon.


“Kalian tidak bisa keluar, ada banyak wartawan di luar sana” ujar Bu Atin, ia duduk kembali bersama mereka.


“Karena itu aku pulang Bu, di Hotel makin banyak wartawan.”


“Hara dirawat di rumah sakit mana? Ibu ingin menjenguknya.”


“Itu juga yang membuatku pusing, aku sudah menyuruh Bram dan beberapa orang tapi tidak  menemukanya. Piter memang gila,” ujar Leon.


“Hara,  wanita yang malang, dia wajar menjaganya seperti itu Nak, karena hidupnya selalu diikuti bahaya.”


“Sepertinya ingatan dia sudah pulih”


Bu Atin menarik napas panjang, Hara bertanya banyak hal padanya saat di gedung atap. Namun, saat  itu Bu Atin tidak memberitahukan pada Leon karena ia tahu Leon pusing karena Bianca.


“Sebenarnya ….” Bu Atin menahan napas dan menggantung kalimatnya. Mata mereka semua menatap Bu Atin dengan diam.


“Apa Ibu?”


“Saya sudah bertemu Hara saat dia pemotretan di hotel”


“Lalu ….” Leon menatap wanita itu dengan tatapan memburu.


“Dia bertanya banyak hal tentangmu, Nak”


“Tentang apa Ibu?”


“Dia juga  bertanya pada Ibu tentang   gambar ini pada Ibu.” Ia mengambil gambar yang di berikan Hara padanya. Sebuah gambar mainan kuda-kudaan  dari kayu atau rocking Horse.


Leon melihatnya, matanya kembali  berkaca-kaca, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain.


“Non Hara bertanya pada Ibu’ Ibu tahu tidak ini punya siapa,  kuda-kudaan kayu ini sering sekali terlintas di benakku, bahkan  datang ke mimpiku’ Itu kata Hara,” ujar Bu Atin.


Leon masih diam, wajah terlihat sangat sedih.


“Coba lihat Bos,” Ken dan Zidan sama-sama melihat gambar yang di lukis Hara.


“Ini kan, kuda-kudaan yang dikerjakan Iwan dan Rikko dulu, yang dihadiahkan untuk  …. anak Non Hara,” ujar Ken.


Suasana tiba-tiba  berubah  menjadi sangat sedih, ternyata mainan kuda-kudaan dari kayu itu di kerjakan Iwan dan Rikko saat di Jakarta dulu,  lalu di berikan untuk Hara.


“Oh, Benarkah …. Oh pasti kalian sudah bersama-sama sekarang, tolong jaga  cucuku  ya Nak Rikko sama Nak Iwan,” ujar Bu Atin menyeka air matanya.


“Jadi benar, kalau ingatan Nona Hara sudah pulih?”

__ADS_1


Kita akan pastikan lagi kebenaranya.


Zidan menelepon Kaila.


“Kai, tolong buka loker kerja Non Hara,  jangan  bertanya apa-apa. Oh satu hal lagi.  Jangan memberitahukan Bu Hilda”


“Baik Pak Zidan,” ujar Kaila.


Kaila terpaksa tidur di kamar hotel karena ada banyak wartawan dan polisi yang mengawasi hotel, karena ada penembak jitu di hotel  jadi polisi masih menjaga area hotel.


Kaila masuk kantor dan mengambil kunci cadangan  loker para pegawai ia membuka.


Beberapa lama kemudian ia menelepon Zidan.


“Aku sudah membukanya Pak, ada banyak gambar dan lukisan”


“Minta seorang pegawai ke rumah Bos, kami tidak bisa keluar,  di sini banyak wartawan”


“Baik Pak”


Kaila meminta pegawai hotel  menyamar sebagai petugas antar  makanan dan mengantar barang - barang milik Hara ke rumah Leon.


                                 *


“Dari keterangan gambar ini yang saya baca, ini potongan-potongan ingatannya Non Hara,” ujar Billy.


“Itu artinya belum atau sudah?” Tanya Ken penasaran.


“Sebagian, tetapi belum jelas. Lihat dari semua gambar yang paling banyak gambar Pak Leon”


Lagi-lagi Ken   merusak suasana,  dalam  lukisan Hara, ada gambar Leon  kising dengan seseorang.  Namun, gambar wanitanya tidak jelas, karena saat itu dalam benak Hara Leon kissing hot dengan seorang wanita,  tetapi wajah wanitanya ia  lupa,  jadi wajah wanita itu  di coret- coret karena kesal … jadi tampak  seperti orang gila.


Ken mengambil satu lembar gambar itu dengan  wajah bingung.


“Ini Bos, kising sama siapa sih? Ama orang gila lagi? sepertinya Bos doyan bangat sama orang  gila,” bisik Ken sama Zidan, ia menawan Tawa.


“Lu cari masalah iya. Bos lagi emosi … lu mau di bolongi kakinya,” ujar Zidan.


Ken melipat  kertas itu kembali dan memasukannya ke kantong celananya. ” Untuk jimat,” ujar Ken.


“Saya mau  ke kamar,  ingin tidur, kepalaku sakit. Dapatkan dia malam ini, Dokter,” ujar Leon masih kesal pada dr.Billy karena dijodohkan dengan orag gila.


“Hadeeeh …. Iya Pak Leon,” jawab Billy dengan suara pelan


“Nak …!’panggil bu Atin, menatap Leon dengan tatapan iba. Ia tahu betapa sulitnya masalah yang dihadapi Leon selama ini.


“Iya Bu” Leon menatap orang tua itu dengan tatapan menunggu.


“Jaga kesehatanmu Nak” ucap Bu Atin, wajah Leon terlihat sangat lelah.

__ADS_1


“Iya Bu.”


Leon naik ke kamarnya, tapi bukan seperti perkataanya tadi ingin tidur, ia tidak tidur, ia sibuk menelepon semua orang-orangnya ia sibuk mencari kabar dari Hara, Leon hanya ingin tahu, kalau Hara baik- baik saja.


“Kenapa aku tidak menyadari kalau ingatannya   sudah pulih, apa yang di lakukan Bianca akan membuatnya akan semakin membenciku dan Piter …..” Leon sangat kesal.


Duduk di sisi ranjang, dengan kedua tangannya mengacak-acak rambutnya, sehingga terlihat seperti orang yang sedang mabuk, bahkan ia tidak membuka dasinya hanya ditarik kasar  melonggarkan pernapasannya yang terasa sesak.


Leon berjalan kearah lemari, peti kayu itu sudah lama tidak ia membuka, langkahnya berjalan lunglai  dan mengangkat peti kayu itu, ia letakkan di atas ranjang, perlahan ia buka, ada rasa sesak dan terasa perih di bagian dadanya saat ia membukanya.


Hal pertama yang di pegang  sebuah foto Hara dengan  kedua tangan memegang perut yang sedang hamil,   dalam foto, ia tertawa,   foto itu saat mereka melarikan diri dan berakhir di satu rumah pasangan suami Istri yang sudah renta di daerah Bogor,  Kedua orang tua itu menerima mereka dengan baik, Hara tertawa saat di Leon memakai pakaian orang tua itu padanya.


Ada juga foto Leon  dan Hara saat berfoto selfy, Hara tersenyum Lebar saat ia melamar Hara di Villa.


“Jadi ingatanmu sudah pulih?  kamu marah-marah padaku hari itu karena kamu kesal padaku, ingin meluapkan kemarahan mu padaku, kalau saja hari  itu aku tahu ingatanmu sudah pulih, aku  tidak akan melepaskanmu,” ujar Leon meletakkan foto Hara kembali dalam peti, menutupnya dan menyimpannya lagi


 Hara di jaga seorang mantan  pasukan  elite khusus strategi dan cara melindungi orang sudah jadi keahliannya, bagaimanapun  usaha  Leon mencari Hara kalau bukan Piter yang  muncul Leon tidak akan tahu. Zidan  sangat  jenius, Piter juga sama pintar juga di sinilah keahlian keduanya di pertaruhkan.


Karena keahlian Piter, Leon pernah  menawarinya utuk bekerja padanya, bahkan berapapun yang ia minta Piter akan berikan, tapi saat itu Piter menolaknya, karena ia bekerja untuk keluarga Hara bukan demi uang, bahkan saat Ayah Hara sudah meninggal, ia sudah tidak mendapat gaji lagi,  justru ia yang bekerja untuk menghidupi Hara. Piter  bekerja  melindungi Hara bukan karena uang, tetapi karena sebuah tanggung jawab dan janji. Ia  bekerja karena ia mengingat kebaikan Ayah Hara, ia punya hutang budi pada keluarga Hara, dan baginya kelurga Hara keluarganya  sendiri.


              *


Si sisi Lain Hara masih menangis sesenggukan, akhirnya ingatannya pulih total, ini namanya hikmah di balik musibah. Saat Bianca mendorongnya sampai jatuh,  ternyata kepalanya juga ter bentur.


Piter membawa ke rumah sakit karena  mengeluh kepalanya sakit luar biasa  dan pingsan kembali. Saat ia bangun ingatan Hara pulih total.


Satu malam itu ia terus saja menangis karena ia akhirnya bisa mengingat Iwan lelaki yang ada dalam lukisannya, lelaki yang selalu membuatnya tertawa bahagia dan  memberikan mainan kuda untuk calon anaknya saat itu. Ia sangat sedih ketika mengetahui Iwan dan Rikko, Susan dan bayinya meninggal, sementara Toni yang mengalami luka bakar.


“Kak Iwan, Rikko, Susan, Damian, ayah, Ibu adik-adikku dan anakku. Apa kalian sudah bertemu?” Tanya Hara, ia menangis lagi


“Hara sudah, jangan menangis lagi, hidup akan tetap berlanjut, bukan melihat ke belakang. Sekarang ingatan mu sudah kembali, kamu bisa memilih tetap jadi artis atau meneruskan perusahaan ayahmu,” ujar Piter memberikan tissu untuk Hara.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Baca juga  cerita yang lain;


 Baca juga;


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2