Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Saat Cinta Tidak Memandang Materi


__ADS_3

Toni berencana akan  menemui keluarga Kikan hari itu juga.


“Apa kamu gugup?” tanya Kikan padanya.


“Gugup itu sudah pasti, tapi aku akan menghadapi.”


“ Lalu .... Kapan kita rencana akan ke sana, maksudku ke rumah keluargaku?”Tanya Kikan menatap Toni dengan wajah dengan raut wajah tenang.


Kikan berpikir Toni bersikap buru-buru padanya karena desakan keadaan, jadi ia tidak begitu bersemangat, justru ia berpikir agar Toni mendapat ketenangan dulu. Tetapi yang terjadi malah, Toni yang ingin mengajak dengan sangat serius.


"kapan yang kamu rencanakan? " Tanya Kikan.



“Hari ini?”


“Ha … ini beneran?” Wanita  berkulit putih itu menatap Toni dengan tatapan menyelediki.


‘Apa dia menjadikanku sebagai pelarian, agar masalah perjodohannya  Bu Hara tidak disinggung lagi?


“Kikan diam?”


“Toni, begini … aku belum siap.”


“Kenapa? Tadi kamu bilang iya, kenapa  berubah pikiran lagi?” Toni menatapnya dengan wajah serius.


“berikan aku mendiskusikannya dengan keluargaku terlebih dahulu baru kamu datang menemui mereka. Kamu tahu, kan aku tidak punya ayah lagi, jadi kalau apa-apa itu kakak lelakiku yang selalu  mengatasinya menggantikan sosok ayah.”


“Baiklah, lalu masalahnya apa?”


“Aku tidak ingin salah membuat keputusan.”


“Tidak, aku serius akan menikahi mu.”


Kikan menunduk, ia berpikir Toni hanya menjadikannya jadi pelarian, Kikan berpikir ulang lagi.


Kikan lahir dan besar dari keluarga sederhana,  bapak Kikan sudah lama meninggal, jadi ia tinggal dengan sang ibu dan keluarga kakak  lelakinya yang sudah menikah, kedua orang  lagi kakak lelakinya tinggal di Surabaya.


Kikan tidak mau  salah mengambil keputusan, tidak mau membebani kelurga.


“Kikan apa kamu ragu padaku?”


“Berikan aku waktu, untuk memikirkannya.”


“Baik, kamu tidak  kenalkan aku pada keluargamu?”


Karena Toni terus memaksa, Kikan akhirnya membawa Toni sore itu ke rumah keluarganya.

__ADS_1


Ia mengabari mamanya sebelum mereka datang, sore itu setelah izin pada Bu Atin, mereka berdua  meminta izin pada Zidan untuk membawa  mobil, Toni sengaja  tidak membawa motor ninja miliknya  agar bisa membawa buah tangan untuk.


Benar saja, di awali dari hati yang tulus dan baik, sambutan keluarga Kikan sangat baik.


“Saya hanya bekerja pada seorang pengusaha, Bu?” ujar Toni saat ibu Kikan bertanya tentang pekerjaan Toni.


“Tidak apa-apa, pekerjaan apapun itu kalau kita bekerja dengan tulus, hasilnya akan jadi berkat,” ujar Ibu Kikan.


Toni  mengangkat  kepala menatap wanita tua di depannya. Ia kaget, ini bukan cerita yang dialami Zidan, saat datang  menemui keluarga Clara.


Zidan   beberapa kali mendapat penolakan dan sikap sepele dari keluarga  Clara, baik setelah mereka menikah keluarga tadinya  masih membanding- bandingkan Zidan dan dr. Reza, walau dokter itu  sudah menyelingkuhi anak mereka, tetapi mereka masih membela Reza saat itu.


Lelah sering di rendahkan, akhirnya Zidan membeberkan harta yang ia miliki, sebuah hotel  dan restoran milik Zidan di China yang di hadiahkan Leon untuknya.


Bukan hanya untuk Zidan. Ken juga memiliki hotel dan cafe di Bali dan untuk Toni Leon juga memberikan sebuah  hotel di Bandung dan restauran di Kelapa Gading.


Setelah mendengar hal tersebut, keluarga Clara masih tidak percaya, karena mereka berpikir kalau Zidan hanya seorag pengawal pribadi untuk Leon.


Mendengar Zidan di perlakukan seperti itu Leon saat itu memberikan Tiket liburan ke China dan menginap di hotel milik Zidan. Sejak saat itu, barulah mereka semua bungkam dan menganggap Zidan sebagai menantu dan tidak mau lagi menjelek-jelekkan menantunya.


Leon memberikan hal  yang sama untuk ketiga anak buah kepercayaannya. Leon juga  berjanji jika mereka menikah Leon juga akan memberikan rumah  sebagai hadiah untuk mereka tinggali. Zidan sudah mendapatkan miliknya , sebuah apartemen mewah di Serpong City.


Kini hadiah  rumah juga telah menanti untuk Toni dan Kikan, jika mereka menikah Leon bahkan berjanji akan membiayai semua pernikahan Toni, karena  bagi Leon Toni sudah seperti adik, Ibu Atin juga sangat menyayangi Toni.


Masih di rumah keluarga Hara.


‘Apa aku salah dengar? kenapa dia tidak bertanya bertanya berapa gajiku?’ Toni berucap dalam hati. Lalu  ia bertanya lagi.


“Apa ibu tidak keberatan jika saya menjalin hubungan dengan Kikan dan saya juga berniat menikahnya waktu dekat ini?”


“Tidak apa-apa, asal kalian berdua! akur dan sejalan, semua bisa di lalui, kebahagian anak sudah pasti kebahagian Ibu …Materi bukanlah jaminan untuk mendapat kebahagian,” ucap wanita yang sudah terlihat ubanan tersebut.


“ Apa ibu tidak -apa juga jika saya juga tidak punya orang tua juga?”


Tiba -tiba suasana  jadi hening  dan wanita itu menatap Toni dengan mimik kaget.


“Itu artinya selama ini,  kamu tidak punya siapa-siapa di sisimu?” Ibu Kikan bertanya lagi.


“Iya Bu,” ujar Toni dengan wajah mulai terasa panas, ia berpikir kalau itulah waktunya ia tidak akan di terima.


Kikan juga hanya bisa diam tidak ingin membela atau  ingin mengatakan sesuatu.


‘Apa yang ingin ibu  katakan?’ Toni menahan gejolak di dada.


“Kamu kasihan Nak,” ujar wanita itu berurai air mata.


“Tida apa-apa, Jangan menangis,” ujar Toni.

__ADS_1


Ternyata keluarga Kikan keluarga sederhana yang   baik dan tidak materialistis


“Jadi kapan mau dilamar?” Tanya kakak lelaki Kikan.


“Haaa, Ya. Elaaa …. baru juga di kenalin ke rumah sudah tanya kapan lamaran sih Bang,” ujar Kikan, ia menatap  protes pada sang kakak.


‘”Untuk apa lama kalau sudah cocok?” balas sang kakak .


“Iya setidaknya abang sama Mama seleksi dululah calon  menantu ini, apa sudah cocok apa belum?” ujar Kikan.


“Untuk apa seleksi? memangnya penerimaan pegawai negeri harus ada tahap seleksi segala? ngaco kamu,” ujar sang mama mengomeli Kikan.


Sikap mama Kikan sontak membuat mereka semua tertawa, suasananya akhirnya saling akrab dan bercerita tanpa Beban, saat sudah malam Toni akhirnya pulang dengan perasaan bahagia.



“Aku pulang iya, calon istriku,” bisik Toni tertawa.


“Iya calon suamiku,” balas Kikan  dengan tawa manis.


Ia melihat kanan -kir tidak ada orang ia berjinjit dan mendaratkan satu ciuman di pipi Toni. Saat Toni ingin membalas.


“Uhuk … Uhuk!”


Sang kakak ternyata memantau kondisi, Toni   buru-buru pulang sementara Kikan menahan tawa karena Toni kepergok kakaknya , wajah Toni memerah menahan malu.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA


Terimakasi untuk tips yang kaliangri


Baca juga  karya  terbaruku iya kakak;


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2