
Saat Hara dan Leon terduduk dengan kedua lutut kaki bersimpuh di lantai, semua mata menatap dengan Iba, terlebih pada sosok Leon yang ikut berlutut, seorang bos dan lelaki sukses, ia tidak malu melakukan itu walau di depan anak buahnya, Hilda dan Haris, zidan, Ken, Bram sampai tidak tega melihat apa yang dilakukan sang Bos, semua anak buah Leon terlihat menunduk menyaksikan bos yang mereka hormati melakukan hal seperti itu.
‘Aku bahkan rela sampai mencium kakimu, kalau itu yang kamu ingin Pak Piter, tetapi jangan mencoba memisahkan Hara dariku lagi’ ujar Leon dalam hati, ia tidak memperdulikan tatapan kaget dari tetua adat padanya.
“Hara bangunlah." Bu Ina menatap dengan rasa kasihan.
“Om, tolong maafkan aku dan Leon, tolong beri kami restu,” ucap Hara menunduk lemah.
Semua mata menatap Piter, karena dia, kedua pasangan ini berlutut, Piter mendekat dan menarik tangan Leon dan Hara memintanya untuk berdiri.
“Baiklah aku akan memaafkanmu, jika kamu berjanji di depan semua orang kalau kamu akan menjaga Hara dengan baik dalam keadaan terpuruk baik dalam keadaan senang , akan tetapi jika kamu meninggalkannya, saya yang akan mengejarmu dan menghabisi. Berjanjilah di depan semua kalau kamu tidak akan menduakannya, tidak akan membuatnya terluka lagi,” ujar Leon, inilah wujud sosok bapak untuk Hara menjaga dan melindungi orang yang ia sayangi.
Leon menunduk mengusap keningnya, ia benar-benar sangat mencintai Hara dengan tulus, ia bahkan rela berlutut di depan Piter yang sebenarnya bukan keluarga Hara, namun ia rela melakukannya yang penting tidak ada masalah untuk Hara.
“Baiklah , saya berjanji di depan keluarga istri saya Jovita Hara Wardana, bahwa saya Leon Wardana, tidak akan menyakiti dan selalu menjaga Hara seumur hidupku,” ucap leon dengan lantang tulus ia menggenggam tangan Hara dengan erat.
Tepuk tangan riuh memenuhi ruangan saat Piter menerima Leon dan Hara kembali
Ini moment yang sangat menyentuh.
Zidan terdiam.
‘Apa mencintai seseorang harus berkorban sebesar itu?’ Ia membatin, Zidan lelaki yang menjauhkan diri dengan hubungan percintaan karena ia tidak percaya namanya cinta. Tetapi melihat Leon sampai berlutut seperti itu tiba-tiba sesuatu menyentuh hatinya.
Saat ia duduk dr. Billy datang dengan Clara. Leon ternyata mengundang dokter muda itu dengan istrinya dan Clara juga.
“Clara ….?” Perawat cantik itu datang tanpa kekasih, ia hanya tersenyum kecil pada Zidan lalu ia masuk ke dalam. Melihat reaksi terkejut dari Zidan, Bram dan Ken meledek lelaki batu es tersebut.
“Wah, ada Clara godain Ayo Bram,” ujar Ken memanas-manasi Zidan. Lelaki berwajah tampan itu hanya mendengus kesal melihat kelakuan usil Ken.
“Baiklah semua keluarga sudah mendengar janjimu, sekarang kamu berikan ini, sebagai tanda janjimu sebagai pengikat untuk Hara, begitulah adat yang berlaku untuk kami, tidak hanya janji namun, harus ada sebagai tanda pengikatnya,” ucap Piter memberikan kotak kayu ke tangan Hara. “Bukalah.” Pinta Piter menatap Hara.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar Hara membuka, ia tahu kotak kayu itu milik ibunya, saat ia membukanya tangisan Hara pecah .
“Ibu ….” Ucap Hara menangis.
“Itu milik kedua orang tua kamu, saat mereka lamaran dulu, Ayahmu memberikannya padaku untuk aku jaga, seperti menjagamu, sekarang aku paham, kedua orang tuamu ingin memberikannya padamu saat ini, pakailah pada suami dan pakaian untuk Hara,” ucap Piter suasana tiba-tiba jadi sangat haru.
Leon melakukan semua yang diperintahkan Piter.
“Pantas saja Pak Piter menjaga Hara begitu ketat layaknya seorang ayah, ternyata dia menjaga wasiat orang tua Hara,” ujar Ken, ia semakin mengangumi sosok Piter.
“Om … aku sayang om,” ucap Hara memeluk tubuh Piter dengan haru. “ Terimakasih telah menjagaku selama ini.”
Piter ternyata tidak benar-benar menolak pernikahan mereka, hanya ingin melihat sejauh mana Leon mencintai Hara, ia ingin lihat setulus mana ia mencintai Hara, tapi setelah melihat Leon tadi berlutut, ia akhirnya yakin.
Sebenarnya ia juga sudah mempersiapkan cincin itu jauh-jauh hari saat Leon meneleponnya sudah menikahi Hara.
Setelah acara pemberian cincin itu selesai , semuanya acara berjalan dengan hikmat, tidak ada penolakan lagi, keluarga Hara akhirnya menerima Leon karena ketulusannya dan Piter akhirnya mau luluh karena Leon mau meminta maaf dan merendahkan dirinya demi Hara.
“Aku ingin cinta yang seperti itu, cinta yang mau berkorban demi orang yang di cintai,” ujar Hilda melirik Piter
Dengan semua yang dimiliki Leon, satu kedipan mata, ia bisa mendapatkan banyak wanita dalam hidupnya, akan tetapi, bukan itu yang ia inginkan, hanya Hara yang mampu membuatnya menangis dan tertawa, hanya Hara yang membuatnya kuat dan hanya Hara juga bisa membuat terpuruk karena itulah ia Berjuang mendapatkannya.
Semua acara berjalan lancar, Leon membagi-bagikan hadiah untuk keluarga Hara dan acara penyambutan keluarga Leon juga sangat berjalan baik berkat bantuan Hilda, wanita itu yang mempersiapkan semuanya, ia sudah biasa menangani acara-acara besar dan kecil di hotel.
**
Seperti dalam adat Hara dan Leon akan menginap beberapa hari di rumah keluarga istrinya.
Saat acara selesai, Leon memerintahkan ketua adat yang ia bawa langsung dari Kalimantan, Haris dan Zidan mengantar langsung pulang sesuai perintah Leon, semua sudah selesai tamu sudah pulang, Baik Bu Atin yang pulang sendiri ke rumah, tanpa Hara dan Leon karena keduanya akan tidur di rumah Hara.
Hilda juga masih tinggal di rumah Hara ia, ikut membantu Bi Ina membereskan semuanya saat Leon duduk di ruang tamu bersama Piter dan Vikki Hara ikut membantu membereskan yang berantakan mata Leon tidak berhenti melirik Hara yang terlihat lelah karena mengangkat barang-barang dan memindahkannya .
__ADS_1
Ken dan Bram juga ikut membantu, tetapi Leon tidak tega melihat Hara ikut bekerja.
Tiba-tiba Leon berdiri menggulung lengan kemeja panjangnya. “Biar aku saja,” ucap Leon mengangkat tumbukan piring untuk di bawa ke dapur.
Piter dan Vikki saling melihat.” Iya kamu saat ini sudah menjadi menantu di rumah ini, jika kami paman Hara maka kami juga paman kamu, bagus, bagus kerjakanlah,” ucap Piter.
Ken dan Bram tertawa ngakak melihat sang bos di perintah. Hilda tersenyum merasa lucu jika ia menikah dengan Piter maka, ia jadi bibi dari Leon bosnya sendiri. Mendengar gurauan Piter mereka semua tertawa.
Leon tidak memperdulikan ledekan Vikki dan Piter , ia ikut membereskan pekerjaan rumah pekerjaan yang harusnya di lakukan Hara.
"Bos biar kami saja," ujar Ken dan Bram.
"Sini saja Bro biarkan dia dan istrinya yang mengerjakan," ujar Piter.
"Iya bener kapan lagi dilayani ama bos sendiri," bisik Ken di balas tawa Sama Bram.
Hara tidak ingin Bi Ina melakukan sendiri, baginya , Bi Ina sudah seperti ibu, saat semua pekerjaan selesai dan makan malam selesai, kehangatan dan keharmonisan masih terjadi di rumah Hara,
Piter membawa dua gitar mengajak Leon , Leon duduk di balkon atas, di suguhkan pemandangan indah di balkon pemandangan taman mini milik Hara, taman bunga.
“Sini duduk, Ra,” ucap Piter memberikan gitar ke pangkuan Hara.
Seperti kebiasaan Hara dan Piter dan Vikki setiap kali hari libur, bisa-bisa seharian menghabiskan waktu hanya duduk di balkon bernyanyi dan menonton Film.
“Lagu apa om? “ tanya Hara duduk di samping Leon.
Bagi Leon ini pertama kalinya ia merasakan kehangatan dalam keluarga, kalau biasanya Leon akan menghabiskan waktu kerja dan kerja, bahkan jarang pulang ke rumah hanya sekedar makan berdua bersama Bu Atin.
Kini melihat keakraban Hara Pada Piter dan Vikki, Leon menyadari indahnya memiliki sebuah keluarga, inilah awal dari kebahagiaan Leon, cinta tulus dan pengorbanan membuahkan hasil yang manis.
Bersambung...
__ADS_1
Jangann lupa vote like iya kakak.