
Leon duduk santai, terlintas di pikiran saat Okan di pengaruhi sihir jahat.
Tidak terbayang oleh Leon saat Okan kedaan terpaksa di bawa ke asrama, Okan di paksa sekolah disana, mungkin ia akan membenci kedua orang tuanya dan semua keluarganya, kebencian itulah yang nantinya kekuatan ilmu hitam itu semakin cepat mengusai seluruh jiwanya ia akan semakin nakal dan rusak seperti anak-anak rekannya.
karena perasaan benci yang di miliki semakin besar maka dukun yang mengendalikkanya untuk menghabisi keluarganya dengan alasan ia sangat membenci keluarganya karena merasa di asingkan. Sang dukun jahat sudah menyusun semua dalih dan rencana busuk. Tetapi roh leluhur keluarga Leon, masih menjaga Leon dan keluarganya, entah karena masalah itu malam itu Leon tidak bisa memejamkan mata, seakan-akan ada suara yang menyuruhnya masuk ke kamar Okan, ia akhhirnya memutuska bangun dan berjalan ke kamar Okan melihat buku aneh yang dipegang putranya. Kerena itulah putra sulungnya selamat.
Leon masih duduk melamum di atas kapal
‘Terimakasi roh leluhur, dan arwah untuk kedua orang tuaku karena menjaga putraku’ ujar Leon dalam hatinya , ia menyadarkan kepalanya di kursi di lantai paling atas kapal, ia bersantai menikmati udara laut, Sementara anak buahnya sibuk menngkap ikan dengan berbagai cara mulai dari memancing, menabur jala dan terahir berenang menangkap ikan. Semua, tampak sibuk dan bersenang-senang.
Leon masih sibuk dengan pikiranya, kali ini ia memikirkan kejadian kedua, kehilangan sosok wanita yang paling berjasa dalam hidupnya, kehilangan ibunya yang paling membuat hatinya bagai di tusuk ribuan jarum, walau wanita itu hanya seorang ibu angkat dan bukan ibu yang melahirkan, tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau Bu Atinlah yang mengantarkanya hingga bisa menjadi seorang bos seperti sekarang.
‘Ibu terimakasi, aku bangga dan beruntug menjadi anakmu, ujar Leon megarahkan pandangan matanya yang mengunakan kaca mata hitam untuk melihat langit yang cerah itu.
Masalah ketiga ketika Toni hampir kehilangan nyawa karena ingin menemui putra yang saat itu tinggal Bersama Kikan, Toni hampir saja di bacok sama saudara iparnya karena emosi. Mereka marah saat Kikan sakit Toni tidak ada.
Leon sendiri yang meminta Toni untuk datang ke sana, ia tidak tahu apa jadinya kalau Toni sampai terluka.
Keluarga Kikan malah meminta adik yang di berikan pada Toni di ceraikan . Tentu saja Toni menolak kerena ia masih ingin rumah tangga kembali bersatu . Toni akan menjadi daging bakar saat itu, kalau saja Leon tidak meminta Bimo menemaninya.
“Mikiran apa Yah, sampai-sampai menghela nafas berat seperti itu, jangan bilang masalah kerjaan karena sudah ada bibi Hilda yang menganturnya,” ucap Hara mendekatkan kursinya dekat suaminya.
“Oh, tidak hanya menikmati hembusan angin dan tentunya memikirkan kamu, apa Ibu masih kuat?”
“Tentu, aku akan kuat tidak ingin mengecewakan anak-anak, mereka sangat menikmatinya, lihat saja itu Okan dan Chelia tidak henti-henti tertawa bahagia saat mendapatkan ikan besar tadi”
“Iya aku berharap kejadian buruk tidak ada menganggu keluarga kita lagi, aku hanya ingin melihat mereka baik-baik saja,” ujar Leon baru juga ia bicara seperti itu tetapi saat membuka kaca mata hitamnya ia melihat wajah istrinya pucat bagai mayat hidup.”Loh katanya kuat, itu kamu pucat”
“Ombaknya makin besar jadi guncangan kapalnya makin terasa, aku merasa kepala ku belakangan ini mulai sering sakit ,” ucap Hara memegang kepalanya, keinginannya kuat ingin liburan, ternyata fisiknya tidak mendukung.
__ADS_1
“Terus bagaimana? Apa kita putar balik saja?” Leon panik.
“Tidak usah kita sudah setengah perjalanan, aku tidur di kamar kapal saja, ayo antar aku,” ujar Hara.
Dengan wajah khawatir Leon mengantarnya ke kamar, menemaninya beberapa saat, ia juga mengolessin tubuh Hara dengan minyak gosok.
“Kan, benar dugaanku, kamu pasti mabok Bu, kamu tidak mau dengar, di darat saja kamu sudah mabok dan pusing, apalagi di dalam kapal yang berguncang seperti ini,”ujar Leon memijat-mijat leher Hara, Hara muntah-muntah pada akhirnya.
“Maaf … aku hanya ingin menikmati liburanya, aku juga ingin melihat laut sudah lama tidak melakukannya ,” ujar Hara merasa bersalah.
“Terus bagaimana, kita pulang apa lanjut?” Leon menatapnya dengan serius.
“Kita lanjut saja, aku akan tidur jangan di batalkan kasihan anak-anak udah sangat senang tadi, walau ia sudah mabuk laut, melihat anak-anak bahagia Hara tidak tega membatalkan liburan mereka.
Padahal Leon tadinya ingin mengajak keluarganya lagi liburan naik kapal pesiar, kpal pesiar yang ia beli patungan dengan beberapa rekannya. Melihat Hara seperti itu ia membatalkannya.
“Bu, kamu tidak akan bisa tidur karena ombaknya semakin sore akan semaki kuat, kapalnya akan semakin bergoyang”
“Gini, saja kita berlabuh di depan dan kita menginap di darat bakar ikan dan buat api ungun, di depan ada penginapan’ kan?”
Hara memilih tidur dan liburan naik kapal di lanjutkan sementara Hara di jaga seorang perawat yang dibawa mereka.
Perjalanan kapal masih berlanjut tanpa di ketahui anak-anak ibu mereka sedang meringkuk di ranjang karena menahan pusing dan mabuk kerena gunjangan angin yang mengoyang-yoyangkan kapal. Tetapi Hara mencoba bertahan, ia tidak ingin merusak kebahagian kedua buah hatinya, yang terlihat bergembira saat menangkap ikan lalu membakarnya.
‘Kalau Hara saja tidak merasa senang, sakit dan tidak menikmatinya apa aku harus merasa senang juga? Ini bukan liburan namanya’ Leon membatin.
“Ayah tidak apa-apa?” tanya Okan yang melihat ayah mereka gelisah
“Tidak apa-apa Nak, apa kamu menikmati liburan kali ini?’ tanya Leon menatap putra sulunya dengan tatapan menunggu.
Karena Hara merasa kepala kembali sakit, Leon merasa tidak tega, melanjutkan liburan
__ADS_1
Walau Hara bilang masih kuat, tetapi Leon tidak ingi hal buruk pada Hara dan calon anaknya.
“Tidak apa-apa sayang, kasihan anak-anak,’ ujar Hara.
“Tunggu Bu kita tanya anak-anak dulu,” ujar Leon.
"Maaf ya, kehamilan kali ini rasanya sangat berbeda dari mereka bertiga, aku merasa tubuhku sangat lemah. Mungkin karena faktor usia yang tidak muda lagi"
"Aku akan selalu bersamamu Bu, tidak akan terjadi apa-apa sama kalian berdua," ujar Leon memberikan semangat pada istrinya yang mengalami ngidam parah.
" Aku tidak tahu ... apa aku kuat apa tidak, aku merasa seperti ingin mati terkadang"
"Kalau kamu tidak kuat, kita bisa melepaskannya Bu, aku dan anak - anak masih membutuhkanmu, sebelum dia semakin besar lebih baik kita buat pilihan sekarang," ujar Leon.
Apa Hara kuat mempertahankan kehamilannya?
Bersambung …
Akak yang baik , jangan lupa tetap dukung karya ini kasih like vote dam komentar. Kalau bisa bantu share di facebook kalian iya kakak agar makin banyak lagi yang menonton. Jangan lupa baca juga karyaku yang lain.
Terimakasihnya untuk semuanya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat