Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Menemukan Lelaki yang dia cari


__ADS_3

Baiklah, sekarang kamu mau minta apa padaku,” tanya Leon.


“Sebenarnya permintaanku tidak begitu penting, itu karena hanya karena penasaran saja.”


“Ada apa?”


“Ia mengeluarkan satu Foto, apa kamu mengenalnya? siapa dia dan tinggal di mana?” tanya Jovita.


“Kamu mendapat itu dari mana? Aku mendapat dari laci bekas  Sabrina"


"Itu Bokoy, ayah Angkat ku, orang yang berpengaruh orang yang mengendalikan dunia hitam dan punya bisnis di mana-mana."


“Apa hubunganmu dengannya?” tanya  Jovita .


Mata bulat itu menatap Leon dengan serius


Jovita pernah mendengar namanya, tetapi lupa wajahnya.


“Ia seperti seorang dewa penyelamat untukku, ia yang memberiku kehidupan," ujar Leon.


Seketika raut wajah Jovita berubah.


“Ok terimakasih hanya ingin bertanya saja," Menyimpan  foto ke tasnya.


“Nona Muda, apapun yang kamu pikirkan ...jangan pernah berpikir mengusik lelaki tua itu, dia tidak akan segan-segan menguliti orang yang mengusiknya, jadi, jangan mencari masalah dengannya"


"Pak Leon apa bapak takut padanya?


"Nona Hara. Bukan takut, tetapi saya menghormatinya"


"Sejauh mana?"


"Ada apa? apa ada sesuatu?" Leon balik bertanya.


“Tidak, saya hanya ingin tahu saja,


Sepertinya pernah melihatnya, apa mungkin saya salah, wajahnya tidak asing, hanya lupa pernah melihatnya di mana"


“Iya bisa jadi  Hotel yang ingin di bangun Ayahmu’kan, punya dia. Apa kamu lupa.”


“Benarkah?"


“Dia punya banyak bisnis, tapi yang lebih banyak di Perhotelan. Dia juga aktif di bagian sosial" Leon menjelaskan dengan begitu baik.


"Berarti, di sisi gelapnya ada juga kebaikan," Jovita memuji Bokoy


"Lelaki itu rasa sosialnya tinggi memberi bantuan paling banyak untuk panti asuhan"


"Pak Leon sepertinya sangat mengenalnya dan sangat dekat dengannya"


Leon menunjukkan perlakuan yang berbeda pada Jovita saat ini, tidak seperti biasanya, kalau biasanya ia  bersikap dingin dan tegas. Tapi kali ini manusia si kulkas dua pintu itu sangat berbeda, wajahnya tenang. Menjawab pertanyaan Jovita dengan sabar.


"Dia orang kuat dan paling ditakuti"


“Benarkah, ternyata dia orang hebat,”

__ADS_1


“Tapi kenapa?”Leon menatap heran pada Jovita.


“Tapi kamu harus membawaku bertemu dengan lelaki itu” Jovita menatap Leon dengan tatapan tegas


“Kamu gila? Saya sudah bilang,  jangan coba-coba mendekati pria tua itu, apa yang kamu cari dari lelaki bangkotan seperti itu,” Leon menatapnya dengan mata menyelidiki.


“Saya berpikir untuk menemukan pembunuh keluargaku, saya ingin menemui orang- orang yang berhubungan dengan ayah"


"Hara, lelaki tua itu gila, dia tidak bisa melihat wanita cantik, jika dia melihatmu dia akan menginginkanmu"


'Apa kamu kamu sekarang mengakui aku cantik?' Jovita membatin.


"Saya akan ikut andil dalam proyek Hotel tersebut, saya akan menggambar lagi, tetapi sebagai ganti bawa saya menemui lelaki tua itu .Bagaimana?"


“Jadi kamu menerima tawaran kamu,  untuk ikut ambil bagian dalam proyek itu. Ada apa? kenapa tiba-tiba menerimanya padahal tadi kamu tidak  mau,” tanya Leon belum mengerti alasan Jovita tiba-tiba berubah pikiran.


“Tidak, setelah saya pikirkan, saya  harus melakukannya karena itu dulu gambar saya,” kata Jovita. “Baiklah terimakasih untuk makan malamnya aku mau tidur.”


Ia ingin meninggalkan Leon. Tapi Leon, memikirkan kira-kira apa yang lagi yang di rencana kab Jovita kali ini, ia tidak ingin Jovita bertindak nekat lagi.


Ia juga tahu kalau Jovita ikut andil di balik tewasnya Beny, Siska dan kebakaran berumah, Leon tahu ingin membalas kematian orang tuanya.  Tapi masalahnya Lelaki tua bukan sembarangan, tidak mungkin rasanya ia membiarkannya  bertindak mempertaruhkan nyawa, ia sadar ini semua karena dirilah kenapa Jovita sampai marah.


“Eh…Jovita saya ingin bicara"


“Lah… dari tadi kita ngomong’ kan?”


"Saya bersalah sama kamu." Leon ingin bicara dengan sikap ragu- ragu.


“Oh, tidak apa-apa lupakan saja, santai saja, saya sudah melupakannya, terimakasih untuk makan malamnya” Jovita berdiri.


“Iwan! awasi Jovita, jangan sampai lalai pantau terus,” ucap Leon


Melihat raut wajah Jovita tadi, ia tahu wanita itu ingin melakukan sesuatu.


“Baik Bos,” jawab Iwan, ia mengawasi cctv di pintu kamar Jovita. Leon hanya memperbolehkan Iwan mengawasi bagian pintu luar Jovita. Mereka belum tahu kalau Jovita menggali lubang di bawah tempat tidurnya, untuk akses keluar  masuk dari kamarnya.


Jam 24: 00


Leon sudah tidur dengan nyenyak di atas meja kerjanya, sesaat setelah ia meminum segelas kopi, niat untuk tetap terjaga, tapi apa daya.  Kopi yang ia pesan sudah di beri obat tidur sama Bi Ina.


Kini wanita cantik itu kembali keluar melakukan misi, seperti biasa dari kamarnya tembus ke gorong-gorong  menuju gorong- gorong pembuangan limbah rumah tangga.


Seperti biasa Piter sudah menunggunya di dalam  mobil, Jovita berganti pakaian.


"Hara, tolong pikirkan sekali, kata Bibi kamu sakit kemarin. Biarkan om yang melakukannya. Kamu tahu yang kita akan hadapi ini? Mereka para mafia"


"Kalau begitu mari kita jadi mafia Om"


"Hara dengar-"


"Om. Saya bukan anak kecil lagi. Saya sudah cukup sabar mendengarkan.


Tapi apa? Ibu dan ayah dituduh penipu!"


"Hara ... kenapa kamu jadi pemarah seperti ini? Baiklah" Piter mengalah.

__ADS_1


Mobil berjalan meninggalkan tempat tersebut suasana hening.


"Aku minta maaf Om? aku putus asa"


" Baiklah Hara"


“Apa Om sudah yakin mereka menginap di Hotel itu?”


“Yakin, orang ku sudah mengawasinya sejak tadi,”


“Tapi bagaimana om menemukan?"


“Aku mengingat ciri- ciri yang kamu pernah bilang dulu. Ada gambar kepala macan di pembuat tato dan nama orang yang menggunakannya, satu lelaki bertubuh pendek satu lelaki bertubuh tinggi dengan memakai cincin tengkorak.”


Jovita memberikan Foto  kedua orang yang menghabisi kedua orang tuanya


"Apa ini Om?"m


"Iya"


Jovita menarik napas panjang, Ia penasaran dengan 'Pemilik bintang itu'


Jovita tidak sabar lagi ingin tahu siapa pelaku yang sebenarnya. Ia 'Pemilik Star otak di balik itu orang yang memerintah lelaki bertato itu di balik kematian kedua orang tuanya.


“Kita  urus kedua orang ini dulu di hotel"


“ Baik Om"


“Hati- hatilah, pemilik hotel ini bukan orang sembarangan , orang-orang ku sudah ada di sana, tenang saja gampang mengatasinya. Tunggu di bangunan belakang, aku sudah menyuruh untuk mematikan semua camera yang akan kita lewati, kita tidak akan terlihat di camera.”


“Baik Om"


Jovita mengikuti apa dikatakan Piter ,  ia menunggu di gedung kosong di belakang Hotel.


*


Akhirnya apa yang ditunggu Jovita selama ini muncul di hadapannya.


Baru menunggu  sepuluh menit, dua orang lelaki dengan kepala ditutup kain hitam diseret ke hadapannya orang-orang bayaran Piter berhasil menemukan kedua pria pembunuh orang tuanya.


Jovita tidak sanggup menahan emosi, Jovita menarik balok kayu dari sudut ruangan ia ingi menghajar keduanya.


Tetapi Piter menahannya.


Penutup kepalanya di buka dan terlihat wajah kedua orang lelaki yang menghabisi kedua orang tua Jovita.


“Siapa kalian? Kenapa kami dibawa kesini,” tanya salah seorang  bertubuh  gempal.


“Halo apa wajahku tidak asing pada kalian?” tanya Jovita, ia jadi wanita berani saat ini, karena keadaan mengubahnya.


Pada akhirnya semua rasa sakit itu mengubah hidupnya,  ia tidak takut lagi pada namanya benda tajam, seperti  pistol yang ia acuhkan pada lelaki itu.



Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa kasih vote da like iya.


__ADS_2