
Leon baru tiba di restaurant cabang baru yang ia buka di Kelapa Gading Jakarta Utara.
Membuka restaurant di kawasan mewah di daerah itu membuat usahanya melonjak cepat, Leon sudah berpengalaman dengan usaha di bidang kuliner, apalagi restauran miliknya memasok langsung ikan-ikan segar dari para nelayan dari pesisir laut di pinggi pantai di Jakarta Utara.
Indonesia kaya akan hasil alam dan salah satu hasil tangkapan laut , karena tanah air memiliki laut yang luas, sengaja ia membuka restaurant laut di sana, agar mudah mendapatkan ikan-ikan segar dan usaha kerasnya berhasil.
Restaurant yang baru beberapa bulan itu mengalami peningkatan setiap minggunya. Leon orang yang pekerja keras , jika ia memulai hal yang baru, ia akan mengerjakan sendiri dan melihat prosesnya sendiri dan dari kerja keras itu jika berhasil, ia merasakan satu kepuasaan dalam bekerja.
Leon bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain, ia punya kriteria sendiri dalam mempercayai orang lain, termasuk dalam pekerjaan. Setelah usaha itu berhasil barulah ia mencari orang yang bisa ia percaya untuk melanjutkannya Kali ini Bram memegang restaurant di Kelapa Gading.
Kembali ke hotel untuk menandatangani beberapa berkas, saat ia baru duduk suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.
Tok… Tok ….
“Masuk” sahut Leon.
Kaila masuk, tetapi kali ini sikapnya berbeda, ia tidaklah datang untuk melapor atau membacakan skedulnya pekerjaan.
“Ada apa, Kai?”
“Bos … ,” suaranya terjeda, ada sesuatu yang mengganjal di sana.
Melihat sekretaris yang sudah lama bekerja padanya itu ingin mengatakan hal yang penting. Leon membenarkan posisi duduknya dan meletakkan pulpen yang ia pakai menandatangani berkas yang ada di atas mejanya.
Mata Leon menatap dengan tenang kearah Kaila.
“Ada apa, Kai?”
Mata indah bermanik hitam pekat itu, menatap Leon dengan tatapan ragu. “Katakanlah, Kai”
“Pak, mas Vikky ingin mengajakku menikah, apa boleh?”
'Vikky ...? Bukankah Hara bilang pamannya suka sama lelaki'
Mata Leon membelak kaget, karena lelaki itu paman dari istrinya.
__ADS_1
“Duduk denganku, Kai” Leon berdiri dari kursi kebesarannya dan ia mengajak Kaila duduk di sofa di di ruangan itu.
Wanita bertubuh tinggi semampai, bak model itu, ikut duduk menuruti ajakan bos besarnya.
“Saya minta maaf Pak Leon, kalau saya berhubungan dengan saudara bos, saya sendiri,” ucap Kaila menundukkan kepalanya.
“Begini Kai, saya tidak punya hak untuk melarang jodoh karyawan saya, saya akan mendukung walau dengan siapapun itu, asalkan mereka orang-orang baik, tetapi masalahnya, apa kamu sudah yakin dengan pinangan Vikky? ia lelaki yang sudah mapan dalam segala hal, maka tidak ada niat untuk hanya bermain-main dan bersenang-senang, sedangkan kamu wanita punya jiwa bebas. Apa kamu sudah siap terikat dengan sebuah ikatan pernikahan?” tanya Leon
“Iya Pak, tetapi apa saya masih boleh bekerja seandainya jadi menikah dengan Viky, Pak?”
“Tentu saja masih bisa Kai, saya berpikir kalau kamu bisa membedakan antara pekerjaan dan hal pribadi.”
“Baik pak, saya sedikit merasa tenang,” ucap Kaila.
“Izinkan saya memberi saran padamu Kaila, pikirkan matang-matang sebelum kamu membuat keputusan, menikah akan membuatmu mengubah sikap dan kebiasaan lamamu, kamu tidak lagi sebebas yang dulu lagi, baiknya bicarakan dengan keluargamu dengan baik-baik.”
Leon merasa Kaila ikut dengannya beberapa tahun tidak salahnya memberi saran. Makanya ia memberi nasehat, ia tahu Kaila masih mudah dan masih suka bersikap hura-hura dan bergonta-ganti pasangan. Ia tahu banyak tentang para karyawannya. Namun, ia tidak mau ikut campur hal pribadi selagi itu tidak menganggu pekerjaan, selama ini Kaila orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaan, maka itu Leon tidak pernah menegurnya. Walau leon tahu Kaila suka tidur dengan banyak pria, justru, ia merasa kasihan pada Vikky karena mendapat wanita yang kurang baik untuk dijadikan jadi pasangan hidup apa lagi itu pamannya istrinya.
'Apa Vikky tobat dan menjadikan wanita ini jadi istrinya atau Kaila yang punya tujuan lain?'
“Karena pernikahan sebuah keputusan yang besar Kaila, kamu tidak akan bisa memutuskan sendiri dan kamu tidak bisa melakukan sendiri semua harus ada campur tangan keluarga.”
“Baiklah, aku tidak akan menikah jika harus merundingkannya dengan keluarga. Maukah Pak Leon jadi waliku? "
“Ha?”
Leon kaget dengan permintaan Kaila.
“Saya anak dari korban broken home Pak, saya tidak pernah menganggap punya seorang ibu dan seorang ayah, maukah pak Leon jadi orang tua, saya?”
“Ha!” Alis Leon mengkedut mendengar permintaan Kaila.
Leon terkejut dengan permintaan tiba-tiba itu.
“Maaf Pak, kalau saya meminta dengan tiba-tiba,” ucap Kaila dengan tatapan sedih, ia menundukkan kepalanya dan tangannya sibuk menggulung ujung kemeja yang ia pakai.
__ADS_1
“Kai, bukan saya tidak mau, tetapi kalau masih ada keluarga dan kedua orang tua kamu, saya tidak berani melangkahi mereka, itu melanggar aturan, lain halnya kalau mereka sudah meninggal, kalau orang tua kamu masih hidup akan jauh lebih baik kalau kamu meminta restu pada mereka.”
“Tidak akan Pak, saya tidak akan melakukan itu pada mereka berdua, lebih baik saya menjadi perawan tua seumur hidup, dari pada meminta restu pada kedua orang itu,” ucap Kaila dengan wajah menahan kemarahan.
Leon diam, membiarkan Kaila menuntaskan konflik batin yang ia rasakan, ia beberapa kali menarik nafas panjang setiap kali ia menyebut kedua orang tuanya. “Mereka membuang ku saat aku masih kecil Pak, aku dibuang dip anti asuhan, ibu menikah lagi dan tidak mau membawaku bersama keluarga barunya, ayah juga menikah lagi dan enggan mengajakku ikut bersama keluarganya. Apa salahku Pak? kenapa mereka menolak saat mereka berdua memintaku dilahirkan di dunia ini, aku hidup di rumah penampungan. Selama ini kerasnya hidup dan pahitnya jalan untuk bertahan hidup sudah aku alami.”
Saat ini Leon hanya diam, memposisikan diri sebagai pendengar atas keluh kesah dari Kaila, ia bisa merasakan sakit dan kepahitan yang dirasakan wanita berparas cantik itu, tetapi Leon tidak pernah menduga kalau Kaila lahir dari keluarga yang kurang baik, karena selama ini ia terlihat sangat mewah dan memakai pakaian bermerek tidak terlihat orang susah.
“Saya turut prihatin dengan kehidupan kamu Kaila, tetapi saya mohon maaf saya tidak bisa menggantikan orang tua kamu di saat mereka masih hidup,” ucap Leon ia menolak menggantikan kedua orang tua Kaila.
“Baiklah Pak, terimakasih atas waktu bapak,” ucap Kaila ia keluar dari ruangan Leon wajahnya terlihat lesu.
“Hadeh,, kenapa harus ada yang seperti ini?” ucap Leon mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Tapi kapan dia berkencan dengan pamannya Hara? Bukannya Bram selama ini mengejar-ngejar Kaila? Tapi kenapa tiba-tiba ingin menikahi Vikky? Hilda saja menikahi Piter jadi tante Hara aku pusing . Lalu Kaila menikah dengan Viky artinya jadi bibiku …. Sial, kenapa jadi begini” Leon menggaruk kepala.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing
__ADS_1