
Tidak menemukan petunjuk tentang kunci yang mereka dapatkan, Piter dan Vikky kembali ke rumah, padahal mereka berdua sudah lelah mencari tahu tentang kunci itu, tetapi tidak menemukan petunjuk, bahkan ke kantor juga sudah mereka bawa, tetap tidak tahu kunci yang mereka pegang, lebih tepatnya kunci apa yang ingin di tunjukan Ibu Hara pada Piter.
Tiba di rumah, Piter menghempaskan tubuhnya di sofa baik Viky juga demikian.
“Kalian sudah pulang?” Bu Atin duduk di depan kedua lelaki yang terlihat kucel itu.
“Sudah Bu, tapi tidak mendapatkan hasil malah bertemu hantu ,” ucap viky.
“Kamu ngomong apa sih, hantu siapa?” Bu Atin melirik kanan kiri, ia takut Hara mendengar percakapan mereka tentang almarhum keluarganya.
“Hantu siapa lagi, kalau tidak mereka?”
“Ha?” Bu Erna langsung mengusap-usap kedua lengannya, wanita itu memang penakut. “Kalian bicara apa… apa benar kalian bertemu nyonya sama tuan di sana?”Ia bertanya, tetapi ia tetap ingin tahu.
“Ah lupakan hantu yang ada nanti ibu tidak berani ke kamar mandi” Piter mengeluarkan benda kecil itu dari saku celananya. ” Apa ibu pernah melihat ini?” Piter menyodorkan kunci besi kecil itu ke tangan bu Atin.
“Oh ini kan kunci milik nyonya.”
“Ibu yakin itu milik Ibu Hara?” tanya Piter bersemangat.
“Iya, aku pernah melihat beberapa kali, tapi aku tidak tahu itu kunci apa pastinya.”
“Ok, dapat satu petunjuk ini milik ibu Hara, sekarang yang kita cari tahu, ini kunci apa.”
Melihat Hara turun mereka semua diam, tidak ada pembahasan tentang kunci baik tentang kepergian mereka ke rumah itu, lalu Hara duduk wajahnya masih tidak bersemangat.
“Om dari mana, kayak habis bersih-bersih?”
“Kami berdua lagi mencari berkas di kantor, tapi tidak menemukanya, aku capek, aku lelah ingin mandi” Piter bangun tetapi menjatuhkan kunci itu dari kantong jaketnya.
Jatuhnya tepat di depa kaki Hara, ia memungutnya menatap, menimangnya memiringkan kepalanya, mereka semua mulai panik, Bu Erna mulai berpikir mencari alasan agar Hara tidak curiga kalau mereka sedang menyelidiki masa kecilnya.
“Itu kunci a-“
“Ini kunci loker ibu’ kan?” potong Hara sebelum Piter bicara
“Ha?” kamu yakin?” Tanya mereka serentak dengan mata menatap Hara bersamaan.
“Iya, ada apa?” Hara berbalik bertanya menatap mereka dengan bingung.
“Itu, ah, om menemukanya di laci kantor, tetapi tidak tahu itu kunci loker ibu kamu, tetapi lokernya di mana?”
“Di ruang senam yang lagi di renovasi,” ucap Hara.
__ADS_1
“Ha!” teriakan mereka bersamaan lagi.
“Ada apa?” tanya Hara curiga, menatap mereka dengan tatapan bingung, ia benar- benar ingin tahu, ia berpikir ke dua orang itu menyembunyikan sesuatu dari mereka.
“Hara, begini … sebelumnya kami minta maaf. Bukan ingin menyembunyikan dari kamu, tetapi kami tidak ingin kamu banyak beban pikiran, jadi… kami ingin mencari tahu kebenaran di balik cerita –“
“Ada apa sih Om?” Hara menatap dengan raut wajah tidak sabar.
“Gini Nak, ini tentang masalah kamu dan Leon.”
“Sudahlah Bi dia saja tidak perduli, aku sudah dua hari di sini, jadi benar ia takut kebenaran itu terungkap” ucap Hara dengan wajah terlihat kecewa.
“Kamu salah, itulah yang ingin kita perbaiki, Nak.”
“Apa maksudnya? Apa yang kalian ?”
“Hidup kalian berdua akan selalu di landa kesalahpahaman Hara, kalau kamu selalu curiga dan tidak percaya pada Leon hubungan kalian akan berakhir, jika kamu tidak ada kepercayaan pada suamimu” ucap Bu Ina menatap Hara dengan tatapan prihatin.
“Om, aku bicara dengan apa yang aku lihat.”
“Hara apa yang kamu lihat dan apa yang kamu dengar itu belum tentu sebuah kebenaran, maka itu om ingin meluruskan semuanya.”
“Apa yang om ingin luruskan? Kenyataannya, Toni teman masa kecilku dan kami sudah di tunangkan oleh orang tua kami, itu kenyataannya, tetapi Leon dan Ibu menyembunyikan kenyataan itu dariku.”
“Hara, walau itu memang faktanya apa kamu pikir kamu bisa mengubah takdir, itu masa lalu Hara, masa depanmu Leon dan anak yang kamu kandung itu yang perlu kamu ingat Nak” ucap Bu Ina lagi.
Piter menarik nafas panjang, ia ingin mejelaskan tetapi tidak mau Hara salah paham, ia tidak mau wanita itu salah mengartikan tujuannya.
“Hara sebenarnya om ingin mengatakan ini dari kemarin tetapi Om takut kamu salah paham.”
“Ada apa Om?” Hara menatap Piter dengan penasaran, ia selalu percaya pada perkataan Piter karena ia tidak pernah berbohong.
“Sebenarnya apa yang kamu pikirkan dan yang dipikirkan Leon semuanya salah, kamu dan Toni tidaklah dijodohkan, ibumu hanya meminta menjagamu seperti seorang adek, semua itu di lakukan agar Leon menjauhi mu karena saat itu dia menguntit sepanjang waktu, saat kita masih di Kalimantan,” ucap Piter ia terpaksa berbohong pada Hara.
“Maksudnya apa yang dikatakan Leon tentang perjodohan itu semua bohong?” tanya Hara dengan raut wajah bingung.
“Hara, Leon tidak bohong tetapi, ia salah paham,” doang
“Begini… Ibu kamu pernah bercerita ada seorang anak kecil yang mengikuti kamu sepanjang waktu selama saat di taman, ibumu pikir anak itu suka padamu karena kamu cantik, ibumu tidak suka karena anak itu gelandangan, kamu tahu siapa itu? itu Leon.”
“Iya, aku tahu pernah cerita, tetapi dia tidak bilang tentang Liontin tersebut, itu yang membuatku sedikit kecewa.”
“Jadi begini … Ibumu meminta Toni menjagamu sebagai adik, bukan tunangan.” Piter berpikir tidak ada salahnya berbohong, agar hidup Hara dan Leon baik dan hubungan Toni dan Kikan kekasihnya bisa berjalan dengan baik.
__ADS_1
“Benarkah?” wajah Hara tiba-tiba berubah cerah.
“Jadi Toni dan aku tidak dijodohkan? Apa itu benar om, aku hanya ingin kebenaran agar perasaan lebih tenang.”
“Tidak Hara. Itulah tujuan kami tadi pagi, pergi ke bekas rumah kalian
“Kenapa tidak bilang dari kemarin,” ucap Hara bernapas lega.
“Tapi…. Tunggu! Apa Toni juga mengaku kalian bertunangan?” tanya Piter menatap Hara dengan mata serius.
“Toni tidak menjelaskan secara rinci, tetapi dia bilang, ibuku menikahi setelah dewasa. Tetapi, seingatku tidak ada acara yang sakral.”
“Hara, om yakin jika ibu masih hidup, dia tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan Toni. Leon bukan orang yang seperti dulu lagi.”
“Baik Om.”
“Apa kamu percaya pada suami sekarang?” Tanya Piter.
“Aku percaya padanya om, aku hanya ingin kebenaran, aku juga tidak akan mungkin meminta Toni menikah denganku.”
“Dia juga tidak mungkin, kamu karena kamu bawa-bawa drumband milik Leon,” ujar Bi Ina terkekeh.
Hara memeluk perutnya.
Hara akhirnya tenang karena kebohongan yang di lakukan Piter.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)