
Seiring bertambahnya usia kehamilan Hara, rasa begah dan perubahan bentuk fisik mempengaruhi mood dirinya.
Saat Hara marah, Leon yang akan mengalah.
Malam ini pun begitu, karena Leon tidak pulang berapa hari, ia marah pada suami.
Hara sudah rebahan di ranjang, Leon dengan sabar meladeni kemarahan Hara, ia memijit kakinya , tidak tahu Leon alasan kenapa Ia marah, Ia hanya diam.
Leon ingin segera istirahat, masalah di kantor hari ini menguras tenaganya juga, tetapi melihat Hara masih terlihat kesal Leon tidak jadi istirahat.
“Sayang, kalau sudah lelah istirahatlah,” ujar Leo, karena melihat Hara menguap beberapa kali.
Karena Hara diam, Leon tidak tahu harus berbuat apa Leon turun lagi untuk mencari angin segar.
"Kok, turun lagi Nak, istirahatlah," ujar Bu Atin.
“Apa malam ini aku selamat, Bu?” tanya Leon.
Wanita paruh baya itu hanya tertawa mendengar keluhan Leon, ia tahu Leon sangat menjaga semua perkataan dan tindakannya belakangan ini agar Hara tidak tersinggung. Tetapi walau Leon sudah menjaga sikap menghadapi Hara tetap ada saja yang selalu salah dan terlewatkan.
“Apa kamu pikir Hara akan menyakitimu? kamu yang harus menjaga Hara, ke depannya kamu akan semakin pintar untuk menjaga perasaanya, karena wanita hamil itu selalu ada yang drama yang tidak terduga.”
“Aku mengerti, Bu.”
“Walau ia memancing kamu marah jangan pernah meladeni kemarahannya, kalau kamu merasa tidak tahan lebih baik diam kalau tidak tinggalkan sementara waktu.”
“Iya Bu, ibu istirahat saja.”
Sebelum naik ke kamar atas, Leon terlebih dahulu melakukan ritual kecil, menarik napas membuangnya melalui hidung melakukanya beberapa kali.
Lalu ia menekan handel pintu, suara denyit pintu mengalihkan mata Hara yang sedang duduk di sofa dengan wajah cemberut.
‘Oh ada apa ini? aku menghirup suasana yang tidak enak saat ini’ Leon mulai melepaskan pakaian yang ia kenakan.
“Apa kamu sudah makan, sayang?” Leon mencoba memecahkan keheningan.
“Sudah,” jawab Hara dengan suara ketus.
‘Oh benar dia masih marah, apa yang membuatnya marah? oh aku tidak akan bisa meredakan kemarahannya, apa yang harus aku lakukan? Leon bermonolog dalam hati.
“Apa ada yang salah?”
__ADS_1
“Banyak yang salah Leon, banyak…!”
“Maksudnya?”
“Hadeh… kamu kenapa kamu jadi pikun seperti ini sih?”
Leon diam, dengan menatap Hara kedua bola mata itu membesar dan menatap dengan bingung, ia ingin memperjelas tapi ia takut wanita akan lebih marah lagi padanya.
“Hara kalau kamu ingin mengatakan sesuatu katakan yang jelas, aku tidak tahu kamu marah karena apa, dan apa membuatmu marah dan kesalahan apa yang aku perbuat.”
Leon menunggu, tetapi wajahnya Hara semakin jutek, ia hanya menyibukkan dirinya melihat-lihat majalah fashion di tangannya.
Walau Leon sangat capek hari ini dan ia ingin istirahat, tetapi ia tidak emosi ataupun marah, walau kamar mereka benar-benar sangat berubah dan bukan selera seorang lelaki apa lagi untuk selera untuk Leon.
Bahkan saat melihat kamar itu, ia kaget karena semua dalam kamar mereka tampak berubah. Hara menggantinya jadi nuansa pink semua. Selera perempuan, tetapi ia tidak marah, ia tahu Hara hanya melampiaskan kekesalannya dengan menjadikan kamar itu kamar yang sangat norak agar Leon marah.
“Woo… warnanya. Apa ini selera mu? Warna terang dan nuansa pink, baiklah kalau kamu menyukai, kita pakai ini saja,"ujar Leon.
“Apa kamu marah?”
“Tidak sayang, aku mandi dulu, badanku terasa lengket."
Leon on masuk ke kamar mandi, menutup pintu dan menarik napas lega. Karena kamar mandi itu tidak ikut di renovasi sama Hara.
"Baiklah, itu karena kehamilannya," gumam Leon pelan.
Setelah merendam sekitar lima belas menit di dalam bak mandi, ia berpikir kalau kemarahan Hara sudah redah. Leon keluar dari kamar mandi, ia berpikir akan langsung tidur, membuka lemari dan mengambil piyama tidur.
“Sayang, aku ingin tidur.”
“Baiklah, kamu jangan tidur di sini, aku sedang tidak ingin melihatmu, kamu boleh tidur di kamar sebelah.”
“Ha? Hara apa kamu harus mengusirku, aku capek banget sayang."
“Oh, jangan khawatir aku marah bukan karena itu.”
“Terus karena apa?”
“Aku lagi mengidam aku tidak ingin melihatmu, kamu boleh keluar sekarang.” Hara mendorong suaminya keluar dari kamar.
“Ada apa dengan Hara, kenapa ia semarah itu? Leon sempoyongan berjalan karena menahan rasa kantuk, kearah kamar sebelah , tetapi kamar itu di kunci dan biasanya ibunya yang pegang.
__ADS_1
“Hadeh … ini lagi, acara dikunci segala. Ya ampun aku mengantuk” Leon mendumal, dengan tangan mengusap batang leher.
Ia turun meminta kunci pada ibunya, saat itu Bu Atin masih duduk santai di ruang tamu, mengobrol santai bersama-beberapa asisten rumah tangga.
“Leon ….?”
“Bu, aku minta kunci kamar di sebelah kamar kami.”
“Untuk apa?” tanya Bu Atin menatap Leon dengan bingung kening wanita itu, sampai berlipat membentuk tiga lipatan
“Sepertinya Hara masih marah Bu, ia ingin aku tidur di kamar lain.”
“Oh… Baiklah,” ucap wanita itu, tanpa memperpanjang masalah, ia meminta seorang asisten rumah tangga untuk menganti seprai kamar, karena lama tidak ditempati ia taku Leon tidak nyaman dan gatal.
“Menunggu kamarnya dibersihkan apa kamu mau ibu buatkan susu jahe untuk menghangatkan tubuhmu?” tanya Bu Atin, dalam hati ia merasa kasihan. Karena ia tahu Leon sudah sangat capek hari ini di kantor, karena tidak ada sekretaris yang membantunya seperti biasa, di tambah lagi Hara marah-marah padanya kali ini.
“Tidak usah Bu, aku langsung tidur saja, aku capek bangat.” Ucap ia beberapa kami menguap menahan rasa ngantuk.
“ Baiklah, tidak apa-apa. Hara mungkin lagi ngidam juga.” Ucap Bu Atin mencoba menghibur Leon.
“Iya,” ucap Leon berdiri karena kedua wanita yang sedang membersihkan kamar itu sudah turun itu artinya kamar siap di tempati.
Masuk dalam kamar baru, berbaring sebentar matanya sudah tertidur pulas.
Bersambung.
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
Terimakasi untuk tips yang kaliangri
Baca juga karya terbaruku iya kakak;
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
- Bintang kecil untuk Faila (ongoing)