Menjadi Tawanan Bos Mafia

Menjadi Tawanan Bos Mafia
Gedung Milik Hara Ditutup


__ADS_3

Zidan, Toni, Ken meminta Leon menutup ruangan olah raga laki-laki di lantai  tiga, karena  mereka mendapat kabar Clara jalan  dengan  seorang pria yang jadi member di  di tempat Hara.


Mendengar hal-hal yang demikian tanpa berpikir panjang Leon langsung menutup ruangan tersebut. Ia takut Hara ketularan selingkuh.


Saat Zidan dan Toni  sedang keluar Hara mendekati Leon.


“Yah, mereka yang sedang bermasalah kenapa jadi itu yang di tutup,” ujar Hara protes.


“Aku takut, ibu juga nanti selingkuh,” dalih Leon.


“Tidak mungkin sayang, aku sudah tua.”


“Clara juga sudah tua, tetapi dia berkencan dengan lelaki lain, bukankah itu menjijikkan.” Leon menatap Hara dengan tegas.


“Kalian para lelaki selalu menyalahkan wanita jika sudah begini,  seolah -olah pihak wanita  pendosa besar.”


“Sayang dia seorang Ibu sekarang bukan anak ABG lagi yang bisa kabur dari rumah jika bertengkar dengan pasangan,” ujar Leon ia membela Zidan.


“Kamu tidak tahu penyebab kenapa dia seperti itu … Zidan tidak pernah mengharapkannya di rumah.”


“Zidan hanya sibuk kerja Bu,” balas Leon.


“ZIdan sudah bertahun-tahun tidak memberinya nafkah batin Leon … dia tidak pernah menyentuh Clara, saat ia bertanya Zidan akan marah.”


“Zidan pekerja keras, Hara … dia tidak punya waktu bermain-main,” bela Leon lagi.


“ Tetapi dia berubah setelah  Clara semakin menua. Apa kamu akan melakukan itu nanti padaku?” Tanya Hara menatap Leon.


Saat mereka mengobrol tiba-tiba seorang pria tampan  memilik tubuh tinggi berotot datang  ingin ke ruangan fitnes.


“Maaf iya Mas, ruangannya lagi tutup lagi perbaikan dulu,” ujar Hara berbohong , lalu mereka mengobrol akrap dan Hara memang selalu ramah pada semua orang. Melihat hal itu, alis mata Leon menyengit ia tersenyum kecil melihat istrinya mengobrol akrap.


Setelah  lelaki itu pulang Hara mendekati suaminya lagi, tetapi tiba-tiba ia  berkata ;


“Setelah aku pikir-pikir, aku berubah pikiran,” ujar Leon santai.


“Maksudnya?” Hara menyengitkan alisnya.


“Gedung ini …. akan  aku tutup.”


“Haaa …?” Hara kaget.”Kepana lagi?”


“Aku tidak mau kamu ikut-ikutan selingkuh.”


“Kamu  cemburu sama lelaki tadi?”


“Iya.”


“Dia sudah punya istri Leon, istrinya teman kuliahku, makanya aku mengobrol akrap tadi.”


“Tidak perduli mau dia temanmu ataupun tetanggamu dulu, gedung ini aku tutup saja.”


Kalau Clara, Rebeka, Kikan ingin di perhatikan dan ingin di cemburuin, tetapi  bos mantan mafia ini, justru kebalikannya. Leon tua-tua keladi. Semakin tua semakin menjadi, semakin tukang cemburu dan posesif pada Hara


                    *


Melihat semua kekacauan itu Hara merasa pusing, ia meninggalkan gedung olah raga miliknya,  saat kepalanya dipenuhi banyak masalah biasanya ia akan mengadu, pada Bu Ina, tetapi wanita sudah tidak ada lagi untuk mendengar curhatan Hara, sudah sangat lama wanita yang merawatnya tersebut meninggal.

__ADS_1


Melihat rumah tangga sahabatnya di ambang kehancuran terkadang ada rasa  was-was juga dalam hati Hara.


‘Aku berharap aku dan Leon mengalami hal yang seperti itu, aku berharap tidak ada perpisahan untuk kami demi anak-anak’ Hara membatin.


Ia berpikir akan ziarah ke makam Bu Ina dan ke makam ke dua orangtuanya, tapi sebelum ke pemakaman ia menelepon Piter.


“Apa Om sibuk?” tanya Hara saat menelepon Piter.


“Tidak, ada apa Hara?” sahut Piter di ujung telepon,  ia mengaku tidak sibuk pada Hara padahal saat itu posisinya ia sedang ada dalam rapat, tetapi untuk Hara ia selalu bilang bisa.


Umurnya tidak muda lagi saat ini, tetapi ia selalu menyayangi Hara sama seperti dul, walau ia sudah  mulai menua.


“Aku ingin ke rumah Om, ingin ziarah ke makam ibu dan Bu Ina, Om,” ujar Hara.


“Kebetulan Hilda ada di rumah saat ini , datanglah, nanti aku pulang.”


“Baiklah, tetapi Om Piter tidak lagi sibuk kan? Maksudku apa aku menganggu?”


“Tidak Hara, om tidak sibu.”


“Baiklah aku mampir ke rumah ya Om, aku hanya rindu sama om”


“Baiklah, Jangan kemana-kemana langsung ke rumah nanti Om datang,” ujar Piter mengingatkan Hara.


“Baik Om.”


                  **


Hara tiba di rumah Piter, rumah yang dulu ia pernah tinggalin bersama orang –orang yang mencintainya.


Bu Ina semasa hidupnya sangat mencintai Hara seperti anaknya sendiri, wanita itu sudah sangat lama sejak  pergi meninggalkan dunia ini,


“Ah, tidak terasa ternyata sudah sangat lama, ternyata kami semua sudah mulai tua,” ujar Hara.


Ia masih berdiri menatap nanar tempat-tempat favorit Bu Ina, berharap  ia melihat wanita itu di sana dan menyapanya.


‘Ah, konyol apa yang aku pikirkan , dia sudah tiada, bagaimana mungkin ia menyapaku, aku sangat merindukan bibi’ ujar Hara dalam hatinya.


Hilda  menoleh keluar saat Piter menelepon, mengabari istrinya kalau Hara mau datang.


“Mari masuklah,” panggil Hilda saat Hara  masih mematung di luar pagar menatap halaman samping rumah.


Hara mengikuti Hilda masuk ke rumah.


“Tante, tidak kerja?” tanya Hara menjatuhkan panggulnya di sofa.


“Aku ingin istirahat di rumah, umur semakin tua jadi gampang capek.”


“Hara mengangguk pelan. “Aku datang ke sini  rindu sama bibi Ina, sudah sangat lama, melihat yang terjadi pada rumah Kak Toni aku jadi merasa sedih”


“Apa benar Kikan  tidak pulang ke rumah lagi?”


“Iya.”


“Dia bilang Toni berubah, bukan hanya Toni Zidan dan Ken juga, mereka seolah-olah   rumah tangga mereka di uji bersama-sama.”


“Kenapa para wanita yang selalu jadi korban jika umur sudah tua, aku sangat kesal jika suami menutut ini  dan itu pada istrinya,” ujar Hilda marah. “Dasar para mantan mafia,” ujar Hilda tanpa sadar kalau Hara juga  istri Leon.

__ADS_1


“Apa Tante Hilda, sudah tahu semuanya?”


“Ken cerita pada Piter, Piter cerita padaku.”


Hara menghela napas panjang.


“Apa semua baik-baik saja?” tanya wanita  beranak dua itu menggeser minuman dingin yang disajikan asisten rumah tangganya. Kini matanya menatap Hara menunggu jawaban.


“Kalau bisa jujur aku merasa tidak baik-baik Bi, aku  lelah dan tadi lagi marah pada Leon.”


“Loh … kenapa marah pada Pak Leon? Apa dia selingkuh juga? Aku rasa dia tidak mungkin melakukan itu,” ujar Hilda.


“Bukan karena dia selingkuh, Tante, hanya kerja keras dan impianku meneruskan pekerjaan ibu sia siam” ujar Hara dengan wajah lelah.


“Lalu kenapa marah?”


“Leon menutup gedung olahraga yang aku kelola, Tan.”


 “Lalu apa  kamu ingin melarikan diri lagi?” tanya Hilda dengan kedua alis menyengit menyelidikinya.


“Tidak Tan, aku tidak lari, hanya  marah saja ingin menuntaskan semuanya pada Ibu, ingin minta maaf pada Ibu, karena aku tidak bisa meneruskan keinginannya saat masih hidup, ibu   dulu ingin gedung olahraga miliknya tetap.


Setelah hening beberapa menit, Hilda menarik nafas panjang.


“Ada apa?”


“Leon Bi, ia tidak pernah berubah selalu bersikap cemburu berlebihan, dia posesip aku pikir setelah anak-anak sudah besar, nyatanya, tidak sama sekali, justru semakin tua, semakin parah.”


Hara menceritakan semuanya pada Hilda, bukanya membela Rara, ia malah tertawa ngakak mendengar  tentang kecemburuan Leon.


"Kamu beruntung Hara, banyak wanita di luar sana, termasuk aku, Hara, ingin di perhatikan seperti itu.”


"Tidak semua wanita suka dicemburui dan perlakukan spesial, menurutku Leon berlebihan, aku tidak suka, tante tahu bagaimana aku berusaha keras menjalankan usaha ibu yang sempat tenggelam itu, aku hanya ingin bekerja tetapi kenapa dia selalu curiga?"


"Hara, kamulah yang harus mengalah dan mengerti Leon, kamu harus paham kenapa ia mencemburui mu


itu karena ia sayang, kalau ia tidak sayang tidak akan cemburu' kan?"


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasi untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


 -Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


- Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2