
" Kasihan sekali ya Kenzo, dia sudah salah mencari masalah dengan nona kecilku!" Chiko terkikik...
" Ya biarkan dia sampai gila mencariku om!"
" Lalu apa yang kau lakukan di apartemen?"
" Aku ingin menemui Martin sialan itu!"
" Martin juga tidak sepenuhnya salah nona!"
" Kenapa kau membela para penghianat itu om?"
" Dia sangat mencintai Cindy, dia tidak berpura-pura selama ini dalam menjaga keluarga Pratama!"
" Kata maaf itu mudah di ucapkan, siapa yang tahu isi hati orang!"
" Nona, kau bisa datang menghibur Cindy bukan?"
" Ya, nanti saja lain waktu aku akan mengurus Martin lebih dulu!'
" Dia sudah dipukuli habis - habisan oleh Fahad dan Julius!"
" Sekarang giliran ku berarti!"
" Kekekarasan tidak akan menyelesaikan masalah!"
" apa aku mengatakan akan menggunakan kekekarasan??"
" Tidak,...!"
" Ya sudah...kenapa terlalu khawatir pada Martin apa om ada di pihaknya?"
" Tentu saja tidak!"
" lalu??"
" Lupakanlah, kita kemana ini?"
tanya Chiko mengalihkan topik perbincangan.
" Lurus saja!"
" apa kalian tinggal di sini??"
" Ya,...!"
" Woooo....hidup kalian cukup terjamin!"
Tasya mengabaikan Chiko ,Tasya segera masuk dan naik ke lantai di mana dia tinggal, Chiko mengikuti dengan segera.
" Aku pulang!"
Tasya segera masuk.
" Nona Sansan...kau sudah kembali?" Tanya Sansan palsu.
" Ya, kau bisa ikut om Chiko pulang, oh ya pilihlah sekolah yang menurutmu cukup bisa kau ikuti!"
" aku pindah sekolah, oh dimana ayah chiko??"
" Apa??" sahut Chiko.
" Oh, .... panglima!" sapa Dai yang terkejut.
" Hallo Rio atau aku harus memanggilmu Dai??"
" Apa pun itu panglima, senang bertemu dengan anda kembali!" mereka pun berjabat tangan.
" Tasya, apa kau mengatakan yang sebenarnya pada panglima?"
" Tidak, hanya saja dia tak semudah om Kenzo untuk dibohongi!"
" Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
" Om Chiko akan diam saja, masih dengan rencana yang sama!"
" Hmmm baiklah!"
__ADS_1
" aku sangat lelah, aku capek aku mau tidor!" Tasya segera masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
" Aduh maafkan Tasya Panglima!"
" Tak apa, dia pasti lelah, terimakasih Dai, kau sudah menjaga nonaku!"
" Ah, dia juga nonaku Panglima!'
" Baiklah... kau , bagaimana bisa kau di tindas diam saja??"
" Sansan di ancam ayah, ... Sansan sangat ketakutan!"
" haduh, bagaimana bisa istri kenzo memilih orang untuk menyamar ,dan tidak mencaritahu dulu Sansan itu siapa"
" hahahhahah... kesalahan Fatal!" Dai tertawa sangat puas.
" Ya sudah, ayo ikut ayah mencari sekolah sesuai dengan keinginanmu!"
" Sansan,pindah sekolah??"
" Apa kau ingin tetap bersekolah di sana??"
" tidak, tidak! Lalu apa alasannya nanti jika di tanya?"
" Sansan yang asli, sudah membalaskan penderitaanmu dan aku sudah mengurus surat pindahmu!"
" ah??, Sansan turun tangan??, Ya Tuhan, mereka sangat tidak beruntung sepertinya!" Gumam Dai
" Hahah, satu kelas di hajar habis - habisan olehnya!"
Chiko ikut tertawa.
" Seorang diri??" Sansan KW seakan tak percaya.
" Ini hal kecil Nona, dia lebih bar - bar lagi di luar negeri, dia membunuh orang seperti membunuh nyamuk!"
" benar - benar Gen Bos Bram!" Chiko merasa bangga.
" menakutkan sekali!" Sansan kena mental.
" Sudah, ayo kita cari sekolah, dan kau tahu karakter Sansan kan??, cobalah kau tiru sedikit!"
" Hahahaahhahahhaha" Chiko dan Dai tertawa terpingkal.
" siapa yang menyuruhmu membunuh, astaga!" Chiko memegangi kepalanya.
" lalu...!"
" Tiru gayanya sedikit!"
" Ah, dia sangat keren...itu sangat sulit, aku tidak memiliki kepercayaan diri seperti dirinya!"
" Nona, berusahalah lebih keras sedikit, agar orang lain tidak menindasmu!"
" Ya, kau harus berusaha sedikit !"
" Ya, baiklah...!"
" Haduuuuuuh kalian berisik sekali woiiii....om Chiko kau sudah mau pergi kenapa tidak pergi - pergi??, bawa itu Santan Kara!"teriak Tasya dari dalam kamarnya.
" Aih... ternyata dia didominasi karakter bundanya!" Chiko menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Santan kara siapa??" Tanya Sansan KW
" Siapa lagi??" Chiko menunjuk Sansan KW.
" kok Santan??, aku bukan santan!"
" Jika kau tidak terima, ayo bergulat denganku!" teriak Tasya
"Ayah ayo pulang!" Santan kara menarik lengan baju Chiko ketakutan.
" Aih...ini apalagi ini anak, begini aja sudah mau ngompol di celana!"
" Ah, maafkan Sansan ya panglima dan nona!"
" Tak apa, memang harus seperti itu... sebagai Sansan...kau pasti sangat kualahan selama ini menjaganya!"
__ADS_1
" Hahah... tidak sama sekali panglima!"
" Syukurlah jika begitu!, kami pergi dulu!" Chiko dan Santan kara pun segera pulang.
Dai segera menyusul Tasya kekamarnya,....
terlihat Tasya sedang merengkuk dan menutupi kepalanya dengan bantal.
Dai mengerti jika Tasya sedang menangis, karena begitulah Sansan asli jika sedang menangis tidak bersuara hanya tubuhnya yang terlihat sesenggukan.
" Mereka sudah pergi kau bisa mengeluarkan suaramu,kau menahannya sangat lama, kau bisa sakit!" ujar Dai lembut.
" Huaaaaaaaaaaa hukhukhuk...
hikhikhik....huhuhuhuhu....aku tidak ingin menangis Dai!" ujar Tasya
" dari semua hal aneh di dunia ini, Mulutmu saja yang tidak bisa kupercaya!" jawab Dai santai.
" Huaaaaaaa....aku tidak mau cengeng, tapi hatiku sakit melihat bundaku yang hidup dalam ketidak tahuan, huhuhuhu...dia terlihat bahagia sekarang, tapi dia akan menangis saat tahu yang sebenarnya, bundaku sangat malang!"
Dai, mengelus perlahan punggung Tasya, untuk membuatnya tenang.
" Kenapa kau harus berpura - pura tegar jika kau tidak mampu??"
" Dai ayo kita cari mesin pemutar waktu, aku ingin kembali diwaktu kau mengatakan ada seseorang yang keluar dari mobil kami, huhuhu.... seharusnya kau juga mengatakan pada Ayahku jika kau melihat itu, kau juga diam saja!"
" Iya aku yang salah...kau bisa menghajarku habis - habisan!"
" Aku ingin membotaki kepalamu Daiiiiiiii!" Teriak Tasya.
Dai segera memegangi rambut kepalanya.
Haaaaaaaahhhhh....Jika aku tidak menyayangimu kau sudah aku masukan ke dalam toples kututup dan ku lakban lalu ku lempar ke tengah lautan agar di makan ikan paus besar.
dalam hati Dai sangat gemas pada Tasya.
Tasya segera bangkit mendekat ke arah Dai
" Dai...kau jangan mengumpat ku dalam hati!"
Daiii mencubit kedua pipi Tasya dengan sangat keras, karena gemas dan tidak tahu harus berbuat apa, kemudian Dai menempelkan keningnya pada kening Tasya dan hidung keduanya menempel.
" Bisakah jika kau sedang sedih, ya sedih saja, jangan bercabang, aku sulit mengatasimu jika begini!" ujar Dai.
Tasya segera memeluk Dai,
" Dai kau manis sekali, rasanya aku tidak rela melepasmu dengan wanita lain, tapi aku juga tidak mencintaimu, bagaimana dong???"
Dai segera menarik rambut kepang satu Tasya sehingga Tasya mendongak memandang atap plafon.
" Aggg aaagggg aggg...!"
" Ayo bicara lagi Tasya...!" Ujar Dai tersenyum
" Ampun ampun ampun... aku tidak bercanda lagi!"
Dai segera melepaskan tanganya.
" aku hanya bercanda, kau kasar sekali, aku yang lemah ini bisa apa??"
" hahahaha...lemah kepalamu, aku tidak tahu isi kepalamu itu apa?, kenapa isinya sangat gila!"
" Hey aku tidak gila, kau yang gila!"
"Hahaha, kita kan teman berarti sama gilanya jika aku yang gila!"
" Oh ya...hahahaha...Aku akan hati - hati lagi saat bicara padamu!"
" Apa sudah lebih baik??"
" Ya, selama ada Daiku, aku tidak akan lama berlarut dalam kesedihan!"
" Bagus, sakarang apa kau mau menemui Martin?"
" Sebentar aku harus memperbaiki mood ku dulu, agar tidak membuat langkah fatal pada kunci jawaban yang kita cari!"
Dai mengusap kepala Tasya,
__ADS_1
" Itull baru Tasyaku, aku akan membuatkan minuman untuk memperbaiki moodmu!"
" Terimakasih Dai!" Tasya kembali ceria,untuk Tasya Dai adalah dirinya dan dirinya adalah Dai, mereka akan slalu menjaga dan menghibur satu sama lain saat di salah satu dari mereka sedang tidak dalam ke adaan baik.