GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
385.ketulusan


__ADS_3

" Mom, aku mau ke Swiss dengan Ai...ingin melihat Cindy..." ujar Julius pada Savina.


"Oh ya, kau harus mengunjungi saudaramu itu nak...juga tante dan om mu..."


" Ya mom, malam ini kami akan berangkat..."


" oke hati-hati saat berangkat nanti, bawalah beberapa orang untuk menjaga kalian..."


" Ya mom..."


Mendengar saudaranya tidak baik-baik saja membuat hati Julius ikut merasakan lukanya.


malam itu keduanya berangkat menuju Swiss, sebenarnya Fahad juga ingin ikut, namu ada Dhiren, yang tidak mungkin dia temukan dengan ibunya karena masih dalam keadaan tidak baik.


" Ai...jangan terus menangis, Cindy itu wanita hebat dia akan segera bangkit dan membaik..."


" Yus, aku sangat merindukannya, apalagi saat dia mengomel...saat dia menyuruhku sarapan, saat dia..."


"Ssstttttttt....hentikan sayang, kita akan segera bertemu Cindy , kita akan tahu bagaimana keadaannya sekarang..."


" Iya..."


" sekarang kau tidurlah..."


Iyus menyandarkan kepala Aina ke pundaknya dan menggenggam tangan Ai dengan erat.


setelah perjalanan panjang, akhirnya dia sampai ke tempat tinggal Vevey dan Hiro.


" mama..." Aina memeluk Vevey dengan penuh kerinduan.


" anak mama sayang...mama sangat rindu..." derai air mata jatuh dari keduanya.


" Tante...apa aku tidak mendapatkan pelukan??" ujar Julius.


" Wah Iyusku sudah sangat tinggi , sudah melebihi tante ya ..."


Vevey memeluk keponakannya ini dengan bangga.


" Dimana om Hirosan te??"


" Om ada di Dubai ada 2 minggu lagi baru pulang..."


" Jadi tante hanya dengan Cindy??"


" tidak, lihatlah dengan siapa Cindy di dalam..."


Iyus dan Aina pun mengikuti Vevey berjalan memasuki ruangan.


" Abang Asuh???"


" eh...Julius..."


" abang...kenapa di sini??"


" menemani Cindy..."


" abang sudah...??"


" abang mengundurkan diri Yus... ternyata aku dan Fahad tidak jauh beda...heheh"


" Kalian curang sekali, mengundurkan diri..."


" justru sekarang aku sangat bangga padamu, kau sudah menjadi ajun komisaris kan??"


" Ya itu karena aku anak seorang Laksamana..."

__ADS_1


" kau tidak boleh seperti itu..."


" Yayaya...mana Cindy??"


" Dia takut setiap kali mendengar suara langkah kaki orang banyak dia bersembunyi di dalam lemari..."


" apakah aku bisa melihatnya..."


" Cobalah tapi kau harus hati-hati, dia suka memukul secara tiba-tiba..."


" Baik..."


Hati Julius terasa sangat tersayat, mendengar penuturan dari Fannan, itu berarti Cindy memang sedang tidak baik-baik saja, Mata Julius sudah berkaca-kaca, mengingat bagaimana bahagianya mereka waktu masih anak-anak, meski sering bertengkar.


"Cindy...." dengan suara yang bergetar Julius memanggil saudaranya.


namun tidak ada sahutan,


" Cindil...cindilll...di mana kau cindil..." teriak Julius.


" hihihihi" terdengar kikikan dari dalam lemari.


Julius membuka lemari itu.


" Cindy aku menemukanmu, kau kalah kau harus menerima hukumanmu!" ujar Julius pada saudaranya yang terlihat sangat berantakan, sangat kurus memprihatinkan.


" hihihihihi...Aku kalah hahahahaha" ujar Cindy tertawa seperti anak kecil.


Julius segera mengangkat Cindy dan membawanya ke atas ranjang.


" Cindy, apa kau mau Es cream strawberry??"tanya Julius dengan air mata yang berlinang.


" Mau ..." mengangguk senang.


Cindy hanya menggeleng, seakan dia tidak ingin menceritakan tentang lukannya.


Julius mengusap air matanya,dan membelai rambut Cindy dengan lembut.


" Maafkan aku Cindy karena tidak bisa melindungimu, aku sudah kembali,aku akan melindungi sekarang, kau tidak aka terluka!" ujar Iyus .


" Mana es creamku??" tanya Cindy.


" kau mandi dulu dan aku akan mengobati luka-luka mu dulu..."


Cindy mengangguk...


" Aina bantu kakakmu mandi..." pinta Iyus.


Aina yang masih sesenggukan dipelukan Vevey segera menghampiri Cindy.


" Kak, ayo mandi bersama..." ajak Aina dengan lembut.


Cindy pun mengikuti langkah kaki Aina, Aina segera mengisi air di bathub, Aina segera masuk ke bathtub dan menarik Cindy.masuk ke dalam bathtub yang jika dulu masih kecil itu sangat luas untuk mereka ke sana kemari, sekarang mereka hanya bisa duduk sambil menunggu Air penuh.


" Huhuhu kakak, Airnya dingin sekali..." Aina berlagak seperti Aina kecil, yang slalu menangis saat mandi dengan air dingin.


tapi Cindy malah ikut menangis,


" hihihihiks...hihihiks...hikhiks iya dingin sekali"


Aina menggaruk kepalanya, karena Cindy tidak bereaksi seperti Cindy dulu, jika Cindy yang dulu akan segera meminta Aina keluar lalu mengatur airnya agar menjadi hangat,tapi yang sekarang malah ikut menangis.


" ah, baiklah... kakak keluar sebentar Aina akan mencoba mengatur suhu airnya..."


Cindy mengangguk dan keluar.

__ADS_1


setelah Aina mengatur suhunya, Aina meminta Cindy masuk ke dalam bathtub,dan membantu memandikan Cindy dengan perlahan setelah itu membantu memakaikan pakaian, mengeringkan rambut dan mengikat rambut Cindy dengan rapi agar terlihat cantik.


Julius memoleskan obat pada luka-luka Cindy, karena Cindy selalu melukai dirinya.


" Cindy, jika kau terluka lagi tidak akan ada es cream strawberry, coklat dan juga permen ..." ujar Iyus.


Cindy hanya mengangguk sambil menikmati es cream nya.


selang beberapa saat Cindy tertidur pulas...


" Tante...kenapa tidak meminta Tasya untuk merawat Cindy??"


" Bukankah Tasya menjadi ibu susu Nora??"


" Iyus sangat tidak rela jika Cindy seperti ini??"


" Kami juga berusaha yus, kami sudah mengganti dokter 10x..."


ujar Vevey.


" Cindy tidak mau keluar dari rumah sama sekali, dia slalu ketakutan saat mendengar suara mobil, apalagi melihat mobilnya..." sambung Fanan.


" Abang asuh, apa kau sungguh masih mencintai Cindy, dalam keadaan seperti ini??"


" untuk apa aku di sini Yus, jika perasaanku berubah ??" jawab Fannan.


"Kalau begitu nikahi Cindy..."


" Yus kau tidak bisa seperti itu pada Fannan..." ujar Vevey.


" Aku mau menikahinya!" tegas Fannan.


" Nak Fannan, Cindy seperti ini bagaimana bisa, jangan kau paksakan...Cindy juga tidak mengingatmu siapa...!"


" Jika Abang menikahi Cindy, Abang bisa mengurus semua total tentang Cindy, dari mandi , berpakaian dan juga semuanya..."


"hihihi hihihiks... kenapa seperti ini??, apa keluarga kita ini sedang di kutuk??, aku merasa sangat menderita melihat Cindy seperti ini..."


" ma...."


Aina menenangkan mamanya.


" Nyonya biarkan aku menikahi Cindy, aku akan merawatnya total...aku ingin membawa Cindy pulang, sepertinya di sini Cindy tidak ada kemajuan..."


Fannan menikahi Cindy karena ingin mengambil alih tanggung jawab keluarga Cindy beralih padanya, Fannan akan merawat Cindy bersama dengan kakaknya Fannya yang juga sangat jauh dari kota dan keramaian.


Jika Cindy sudah menikah dengannya, maka dia tidak sungkan untuk memberikan metode pengobatan, yang sesuai dengan yang ingin Fannan coba berikan pada Cindy, karena itu sudah tanggung jawabnya sebagai suami Cindy.


" Hihihihi, nak Fannan...kau kenapa harus seperti ini??" Vevey tak habis pikir, dengan Fannan yang juga banyak berkorban untuk menemani Cindy , padahal Fannan setiap hari kena pukul oleh Cindy, tapi tetap sabar menghadapi Cindy.


" Itu karena abang sangat tulus mencintai Cindy tante .."


" Nanti aku akan bicarakan pada kakak dan adikku dulu ya nak Fannan, aku tida bisa mengambil keputusan sendiri..."


" Baik nyonya, saya berjanji akan merawatnya sepenuh hati..."


" aku tahu itu nak Fannan..."


" Tante, aku juga mau menikahi Ai..."


" Kau harus bisa meyakinkan Daddymu terlebih dahulu Iyus, ..."


" Ya, sepertinya itu tidak mudah...tapi aku akan bersabar dan berusaha meyakinkan Daddy..."sambil menggenggam erat tangan Aina dan memandang Aina penuh dengan cinta.


Vevey melihat jika anak dan keponakannya sudah tumbuh besar dan cukup luar biasa, anak-anak dulu yang sedikit -sedikit suka berantem menangis ,kini sekarang mereka saling menguatkan satu sama lain .

__ADS_1


__ADS_2