
" Pah...bukankah semua orang tahu tentang istriku, dan hanya aku yang tidak tahu??"
Hiro mengangguk ,menyetujui ucapan putra tirinya itu.
" Jadi apa yang ingin kau perjelas Putraku??"
" Kenapa??, Kenapa? kalian hanya melihatku sebagai badut??"
" Jangan salah paham, tunggulah mamamu kembali, jangan menilai dengan pandanganmu sendiri!"
" Baik!"
tak lama Vevey pun datang membawa beberapa minuman hangat karena di Swiss sudah memasuki akhir bulan 11 uang cukup dingin.
Mama tahu udara dingin, kenapa juga masih sempat pakai pakaian sexy, menyenangkan suami juga tidak perlu begitu, bagaimana jika mama jatuh sakit
dalam hati Fahad.
" Ayo Fahad Dai minum dulu!" Hiro mempersilahkan kedua anak muda itu menghangatkan. tubuhnya.
setelah 2 anak muda dihadapannya meneguk sedikit meniman hangat, Vevey mulai bicara.
" makan dulu ya, baru bicara!" Vevey tahu Putranya akan membicarakan perihal serius dengannya, dia sedang berhadapan dengan anak laki-lakinya jadi dia akan mengupayakan perut putranya tidak kosong saat membicarakan hal serius.
Fahad mengangguk, karena perutnya belum sempat terisi karena keberangkatan mendadak, dan dia tidak bisa makan di dalam pesawat.
" Siapa yang masak ma??"
tanya Fahad bingung.
" Papalah, masak iya mama...kau mau lihat rumah ini terbakar??"
Fahad hanya tersenyum, dia mengira mamanya sudah ada kemajuan perihal urusan dapur tapi ternyata memang itulah mamanya tidak ada kemajuan sama sekali perihal dapur.
" Tapi papa baru pulang ma!"
" Tak apa, papa tidak capek kok, papa masak sekarang, kalian istirahat dulu ya!, biar mama tunjukkan kamarnya!" Hiro segera beranjak menuju dapur.
" Bawa minuman kalian, ayo naik ke atas!"
dengan patuh keduanya mengikuti langkah Vevey.
" Kalian istirahat dulu ya, pasti lelah perjalanan ke sini sangat jauh!"
" Ya ma!"
" Terimakasih nyonya!"
" iya, santailah kalian mama turun bantu papah!"
" Bisa ma??"
"mama cuma bantu liatin aja , apa susahnya??" segera melenggang pergi keluar kamar.
Fahad dan dai tertawa karena ulah Vevey,
" Andai saja nyonya tidak lahir begitu cepat dariku, aku akan mengejarnya!"
" Hei otakmu!"
" Mamamu itu lain dari yang lain tahu!"
" Apa maksudmu??"
" Ya,andai saja ada Nyonya Vevey Junior, itu pasti menyenangkan!" Dai merebahkan tubuhnya di ranjang, begitu juga dengan Fahad.
" Mamaku tiada duanya ya di dunia ini!"
" Tapi kau malah lebih mementingkan istrimu!"
__ADS_1
" Diam kau cerewet, kau lama-lama sama dengan Yuda cerewet!"
" Yuda, anak buah Martin??"
"ehmmm"
" Aku berbeda dengannya, Dia lebih bisa kau andalkan Fahad!"
" Kenapa kau bicara begitu??"
" Kau anak laki-laki satu-satunya di keluagamu, aku tidak yakin kakak perempuanmu itu bisa tetap berdiri mengendalikan resto itu, dia bisa karena terpaksa, karena dia adalah anak tertua, dia mengambil semua tanggung jawab berat itu saat mamamu downkan??"
" ehmm, jadi aku harus merebut posisi kakakku??"
" Tidak, kenapa kau bodoh??"
" tanpa kau rebut posisi itu akan kau dapatkan, kau bilang jika Kakakmu sedang- kita tidak perlu membahasnya sekarang, aku mau tidur!"
Fahad mengangguk dia tahu, maksud Dai, memang tidak baik jika mamanya dengar hal itu sekarang, apalagi masalahnya belum selesai.
Fahad pun ikut memejamkan matanya, tapi malah wajah Diana Munjul jelas diingatannya.
" Fahad kau juga berengsek!" gumamnya lirih
sambil memukul kepalanya.
...----------------...
" Anggit.... Anggit...!" teriak Yuna
Anggita berlari menghampiri nyonyanya,
" Ya, nya....!"
" di mana tuan??"
" tuan pergi setelah nyonya pergi...!"
Anggita hanya menunduk tak berani berbicara sepatah kata pun, entah bagian mana yang nyonyanya benci padahal menurut Anggita, Tuannya adalah sosok Visual yang sangat sempurna, jauh dibandingkan dengan sopir yang selalu memasuki kamar nyonyanya itu .
" siapkan makan, aku lapar!"
" nyonya mau makan apa ya??"
" Apa saja yang enak, apa ibuku juga belum pulang??"
" sudah nyonya tapi pergi lagi...!"
" kemana??"
" katanya mau shopping!"
" ketagihan itu mama, tiap hari shopping!,tapi tak apa Fahad pasti akan mencukupi semuanya, cepat kamu masak gih!"
" Baik nyonya...!"
Anggita merasa kasihan pada tuannya, padahal Tuannya sudah baik hati tampan, pekerja keras, istrinya malah selingkuh.
makanan pun siap, Anggita menyiapkan semua di meja makan, setelah itu memanggil Yuna, untuk makan.
" nyah.... nyonyah...!"
tok tok tok...
namun tak ada jawaban...
"permisi..."
Mendengar suara dari luar karna pintu tidak di tutup Anggita pun segera keluar.
__ADS_1
" Eh, cari siapa nona??"
" Fahad ada??"
" Tuan Fahad tidak ada nona!"
" Istrinya??"
" Ada non, nona siapa??"
" Aku tantenya Fahad, aku masuk ya, aku lama tidak bertemu dengan istrinya!"
Anggita mengamati dari atas sampai bawah melihat seseorang yang mengaku tantenya tuanya karena terlihat sangat muda.
Anggita pun mengangguk,
" Saya panggil dulu nyonya saya!"
" Dia tidur??"
" Tidak tahu nona...!"
" Biar aku yang bangunkan, lanjutkan pekerjaanmu!"
" oh baik, tadi kebetulan nyonya minta di masakin, sudah siap tolong sampaikan ya non eh nyonya !" Anggita segera pergi, sebenarnya dia tidak yakin, tapi karena auranya sangat mengintimidasi akhirnya Anggita segera kembali ke dapur.
Dok dok dok dok...
suara ketukan itu begitu keras dan tidak berakhlak.
setelah lama membuat keributan akhirnya keluarlah Yuna dengan rambut acak-acakan, dan baju tak berbentuk.
" Oh, Sansan??"
"Panggil aku tante karena aku akan menikah dengan om Fahad, meski tidak ada hubungan darah tapi tolong hormati aku!" tegas Sansn sambil memakai kembali sepatunya yang barusan untuk menggedor pintu.
melihat tampilan acak-acakan Yuna, Sansan menyeringai licik.
" Kau habis bergulat dengan Fahad??" Padahal Sansan
sudah tahu jelas Fahad ke swiss.
" Ti ti tidak tante...saya baru bangun tidur,maaf ya tan aku ganti baju dulu!"
menutup lagi pintunya.
jelas bukan Fahad karena Sansan datang saat mengamati Cctv jika Yuna masuk ke kamar bersama Robert, segera Sansan tancap gas, ke rumah Yuna, yang jaraknya tidak jauh dari rumah Sansan beda kampung saja.
Sansan masih menunggu di depan pintu kamar, terdengar suara Robert dan Yuna berbisik -bisik.
" Oh pelacur ini memang minta diberi pelajaran!"
Gumam Sansan menuju tempat makan, melihat masakan begitu mewah dan lezat, Sansan tak sungkan untuk duduk dan menyantap makanan yang ada.
Anggita datang dengan membawa teko minuman.
" Oh...non, eh nyonya...apa nyonya Yuna belum bangun??"
" sudah dia sedang ganti baju, apa ini kau yang memasakanya??"
" Iya nyonya, benar apa tidak enak??"
" Enak, padahal kau masih muda, ayo duduk makan bersamaku!"
Anggita menggeleng kepala, takut.
tapi Sansan menarik Anggita duduk di sampingnya.
"Ayo makan!"tegas Sansan membuat Anggita ketakutan.
__ADS_1
mau tidak mau Anggita segera mengambil nasi dan lauk.
meskipun Sansan sangat galak saat berbicara, tapi bibirnya tak pernah berhenti tersenyum, Anggita dapat melihat jika tantenya Fahad itu orang baik, berbeda dengan nyonyanya yang terlihat lembut dan seperti bersahabat saat berbicara, namun tak pernah terlihat ulasan senyum tulus darinya.