GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
209. Tertawa


__ADS_3

Alfred melihat ke arah Julia, yang terlihat menahan bibirnya untuk berbicara.


" Nona Julia, apa aku harus menyetujui permintaan Panglima??"


" Meskipun rasanya hati ini ingin berkata iya, namun saya tidak berani menjawab pertanyaan anda Yang Mulia!" Jawaban yang cukup Cerdas dari Julia.


" Hahahahaha, Keluarga Pratama sangat menarik...aku sangat mengaggumi keluarga kalian ini...berikan wanita itu pada Panglima, dan segera antarkan Panglima ke pelabuhan dengan selamat, maaf panglima saya tidak bisa mengantar!"


"terimakasih Yang Mulia, Julia bagaimana denganmu??" tanya Chiko.


Julia melihat ke arah Raja,


" Apa kau meminta pendapat ku??" Tanya Alfred.


" Ya Yang Mulia...!"


" Terserah keputusanmu, aku tidak pernah membencimu, aku tidak akan menarik kembali apa yang sudah ku berikan, jika nona ingin mengembangkan bisnis di sini, maka aku tidak akan menghalangi, jika tidak dilanjutkan saya juga tidak menghalangi...!"


" Om Chiko...Julia masih ingin melanjutkan bisnis Julia di sini om...!"


" Apa kau tidak takut??"


" Raja sangat baik hati, Julia tidak takut om...!"


" Julia jika ada apa-apa cepat hubungi kami!"


" Iya om,...!"


" Kalau begitu aku pergi dulu, jaga. diri baik - baik...!" Chiko segera pergi membawa Renata.


" Apa kau sungguh tidak takut padaku??"


" Tidak, Yang Mulia... Apakah saya boleh membeli Yuzan dan Ami untuk menjadi orang saya untuk membantu saya menjalankan bisnis di sini???"


" Berani membayar berapa nona???"


ujar Alfred tersenyum dengan permintaan yang sama konyolnya dengan Sansan, namun Julia tidak mata duitan.


" Ehmmm berapa ya, anda pasti tidak kenkuarangan uang kan Yang Mulia , sebentar Yang Mulia saya akan menghitung tabungan dan uang jajan yang di kirim abang - abang saya, karena kan itu untuk modal saya, nanti Sisanya saya hitung dulu, semisal tidak cukup bolehkah di cicil Yang Mulia sampai lunas, dengan nominal Yang anda inginkan!"


" Apa kau sangat menyukai Yuzan dan Ami??"


" Ya, Yuzan sangat baik dan cekatan, dan Ami cukup bisa di andalkan, apalagi dia sangat setia dengan saudaraku, dia pasti adalah pilihan terbaik!"


" Kalau begitu aku hadiahkan mereka berdua untukmu, sebagai ucapan selamat atas cabang yang sukses kau buka di sini!"


" Tidak - tidak , saya sudah banyak merepotkan anda Yang Mulia jika tidak ada sesuatu yang setimpal saya tidak akan menerimanya!"


" Lalu apa yang bisa dihitung setimpal untuk 2 pelayan itu??"


" Ehmmmmm...apa ya??, bagaimana jika aku membagi hasil pendapatan bersih 5% pada anda!"


" Bukankah itu pajak yang wajar kamu bayar, itu tidak bisa dikatakan setimpal nona, sudah bawa saja 2 orang itu kemana pun kau pergi!"


" Tidak, Yang Mulia... saya akan pikirkan lagi jika sudah nanti aku akan segera kembali...!"


" Ya sudah terserah padamu!"


" Baik, Yang Mulia, apa anda sudah melepaskan Sansan??"


"Hmmm... dia memang burung liar yang tidak bisa tinggal dalam sangkar, seberapa kuat sangkar yang ku buat untuknya, tetap saja dia akan tetap terbang keluar!"

__ADS_1


" Apa anda sedih??"


" Ya, tapi ya sudahlah...!"


" Yang Mulia ayo ikut aku....!"


" Kemana??"


" Ke dapur!" Julia segera menarik lengan Alfred Dans yang ingin menegur Julia bahwa dia tidak bisa sembarangan menyentuh Raja, namun Alfred s memberi kode untuk tidak mempermasalahkannya.


Alfred mengikuti Julia ke dapur semua koki dapur terkejut dengan kedatangan Alfred yang mendadak.


" Hormat pada Yang Mulia Raja, !" semua orang memberi hormat.


" Sudah kalian boleh bangun,...!"


Semua koki gemetaran dan sangat tidak biasa dengan kedatangan Rajanya ke dapur untuk pertama kali.


" Kosongkan tempat ini, kalian istirahatlah!"


" semua segera mematikan kompor dan menghentikan kegiatan dan serempak pergi meninggalkan kan dapur hanya tersisa Alfred, Julia dan Dans saja .


" Kau sudah mengacaukan urusan perdapuran hari ini Nona!"


" Yang Mulia, panggil saya Julia saja...maafkan saya Yang Mulia saya juga tidak tahu jika mereka sangat ketakutan melihat anda!"


" Berkat kau aku jadi tahu,jika aku sangat menakutkan!"


" Hihihi...Yang Mulia...anda silahkan duduk saya akan membuatkan roti yang biasa dibuatkan oleh ibuku saat aku sedih karna bertengkar dengan Sansan atau kembaranku atau saudaraku yang lain!"


" Kalian juga suka bertengkar??"


" Itu terdengar menyenangkan!"


" Ya, dulu saat kecil sangat menyebalkan sekalang setelah dewasa itu memang hal yang kami rindukan, memangnya anda tidak pernah bertengkar dengan saudara anda???"


sambil memotong kantong tepung yang akan di olahnya.


" Tidak pernah sama sekali, !"


" Wah itu hebat Yang Mulia, anda benar - benar saling menyayangi dengan saudara anda, keluarga kami kalah kompak dong!, aku kira hanya Keluarga kami yang sekompak itu dalam menyayangi saudara!"


"namun sekalinya kami bermasalah maka salah satunya mati!"


" Apa??, aooouuhhhh...!" Karna terkejut Julia salah menggunting tanganya dan darah pun mengucur sangat deras dari jari Julia.


Alfred segera berlari meraih tangan Julia dan mengangkatnya ke atas.


" Dans panggil dokter cepat!"


Dans segera berlari memanggil dokter,


" Yang Mulia tidak perlu, hal seperti ini sering terjadi saat aku membuat kue!"


" Ternyata kau belum profesional, pantas saja Sansan tidak memilih kuemu!"


" Hahaha, anda mengejek saya ,itu benar - benar menusuk hati!"


" Diam lah nona jangan banyak bergerak, agar darahnya tidak terdorong keluar!"


" Yang Mana di mana anda terluka, kenapa anda sampai dapur??"

__ADS_1


" Dokter bukan aku yang terluka, cepat obati anak ini!" meberikan Jari Julia pada sang dokter.


" Oh astaga, Yang Mulia Ratu, anda itu sudah menjadi Ratu kenapa masih berkeliaran di dapur!" segera mengobati luka Julia.


" Pffffttttttt....!" Julia menahan tawa karena masih di kira jika dirinya adalah Sansan.


" Yang Mulia Ratu lukanya cukup dalam jangan terkena air dulu, sebaiknya anda tidak banyak bergerak agar darahnya tidak keluar lagi karna ini cukup dalam!"


" Dokter terimaksih ,anda sudah boleh pergi !" Ujar Julia mendorong dokter itu keluar dengan pelan.


Julia segera melanjutkan pekerjaannya,


" Julia apa kau tidak dengar apa yang dikatakan dokter itu??"


" Dengar yang mulia, ini tidak apa-apa saya pernah terluka lebih dalam dari ini, tapi saya tetap bekerja, bukan hal yang besar!"


" Memang anak seorang Laksamana!"


" Wah Yang Mulia apa anda sangat terobsesi dengan keluarga Pratama, heheheh!"


" Tidak, aku mengenal semua karna saudara mu itu!"


" Ya, Sansan itu kesayangan di keluarga kami, terimakasih karena anda saya bertemu dengannya kembali!"


Alfred terdiam, ya dia sebenarnya sangat sedih atas kekalahannya, padahal usahanya sudah sedemikian rupa, sedangkan Kenzo hanya diam saja namun dia pemenangnya.


Julia melanjutkan pekerjaannya, dia tidak berani berbicara lagi karena terlihat jelas raut wajah Alfred sudah berlipat - lipat kusutnya.


Julia meraih tepunh di lemari dinding yang sangat tinggi, maklum orang -orang negara F sangat tinggi, dan itu jauh dari tubuh Julia untuk meraih tepung itu, Julia melompat - lompat berusaha meraih tepungnya.


" Nona apakah butuh bantuan??" Tanya Dans lembut.


mendengar pertanyaan Dans Alfred melihat ke arah gadis yang melompat - lompat berusaha mengambil kantong tepung.


" Tidak aku bisa sendiri, ...!" Masih berusaha meraih.


Alfred berdiri berniat untuk membantu ,


" aku dapat!" Julia berhasih meraih kantong Tepung, namun ternyata kantong tepung itu robek.


" Oh tidak!" tepung dalam kantong itu mengguyur seluruh tubuh Julia.


Alfred dan Dans tak bisa menahan tawanya.


" Pufffffffffffffftttttttttt.....!"


Alfred segera meraih kain di meja dan merangkapkan ke kepala Julia.


Julia melihat kearah wajah Alfred dengan wajah yang sudah berubah seperti putri salju itu,


" Pftttttt....... pfffffffffffttttttttt....!"


" Yang Mulia, maafkan saya....saya tidak terbiasa menggunakan dapur Istana!" Ujar Julia merasa bersalah.


" Sudah lupakan untuk membuat kue hari ini kembali bersihkan tubuhmu!, Ami Yuzan bantu Julia membersihkan tubuhnya!"


Ami dan Yuzan yang berada diluar pun segera masuk, mereka sempat terkejut namun segera membawa Julia kembali ke tempatnya.


Sementara Alfred dan Dan tertawa lepas...


karena Julia.

__ADS_1


__ADS_2