
Martin menyimpan lagi remot itu di dalam sarung bantalnya.
Dan segera memejamkan matanya...
...----------------...
Fannan sibuk menghubungi Cindy, yang katanya akan makan siang bersama namun ponselnya tidak aktif, Fannan tidak begitu berpikir buruk karena Cindy adalah wanita karir yang sering keluar negeri tiba-tiba.
Fannan pun terpaksa makan siang sendirian,sambil melihat berulang kali layar ponselnya barang kali Cindy memberi kabar padanya .
namun itu tidak terjadi....
...----------------...
Hari sudah gelap,
Cindy menggeliat meregangkan saraf, tubuhnya terasa sangat remuk, bagian pribadinya terasa sangat perih, Cindy membuka matanya yang sangat berat karena sangat lelah .
Cindy seperti orang linglung karena dia tidak ingat di mana sekarang Cindy terbangun dan mendapati tububnya hanya berbalut selimut
" OMG??, ....!" Cindy terkejut melihat bercak darah di sprei berwarna biru muda itu.
" Sudah bangun sayang...!" suara tak asing terdengar di telinga nya
Cindy menoleh ke arah suara itu, terlihat Martin duduk di sofa dengan kimono berwarna abu, dia menghisap dalam batang rokok di mulutnya,
tanpa sadar Cindy meneteskan air matanya dengan deras,
" Oh Shiit...!, semua ini bukan mimpi...!" Gumam Cindy.
Martin melihat Cindy menangis segera mematikan batang rokok yang masih panjang itu ke asbak dan bergegas menghampiri Cindy yang masih telanjangg, tubuhnya penuh dengan kissmark yang di buatnya.
Dengan sangat lembut Martin membelai kepala Cindy
" Aku akan bertanggung jawab, karena aku sangat mencintaimu!"
Cindy tak bersuara bibirnya sangat rapat air matanya terus mengalir.
" Sebelum kau yakin padaku, kau tidak akan melihat matahari terbit dan terbenam...!" dengan kata lain Cindy tidak ada pilihan lain untuk bersama Martin.
" Sayang, apa kau tidak mau menikah denganku??"
nampaknya akal sehat Cindy sudah mulai bekerja namun semuanya sudah terlambat, apa yang bisa dia perbuat lagi, jika dia tidak bersama Martin, dia sudah ternoda dia tidak pantas dengan siapapun.
" rileks sayang, ...apa kau mau mandi?"
Cindy mengangguk.
Martin segera mengangkat tubuh Cindy dan segera membawanya ke kamar mandi, Martin mengatur showernya agar hangat, dan perlahan mengarahkan percikan air itu pada tubuh Cindy Yang sangat sexy.
" Jangan bersedih, aku akan memberikan semuanya untukmu, hidupku, cintaku semuanya untukmu sayang...!"
Cindy masih tetap terdiam, Martin dengan perlahan menggosok tubuh Cindy dengan sabun, setelah selesai memandikan,Martin segera menegakkan tubuh Cindy dan memakaikan handuk kimono, lalu menggendong Cindy dan mendudukkan Cindy di Sofa.
" Apa sayangku lapar??"
" Ya...!"
" Ehmmm, tapi aku tidak bisa memasak, bahkan membantumu saja pasti kena omel, karena salah!" Ujar Martin
Bibir Cindy tertarik Cindy tersenyum, mengingat kepayahan Martin.
" Tapi tenang saja, aku punya koki lumayan...!"
Martin mengambil ponselnya .
" Yud kau sudah kembali??"
" Sudah tuan...saya di ruang tengah...!"
" Masakan, cumi tepung, tumis kangkung, bla blanbla...!" Martin mengingat semua makan favorit Cindy.
" Baik!"
" Tunggu ya sayang, ...!"
Martin duduk menempel pada Cindy ,Martin bermanja di pangkuan Cindy, melihat wajah cantik dengan rambut setengah basah , wajahnya datar namun tetap cantik.
" Sayang, bagaimana jika kita menikah besok!" ujar Martin membujuk Cindy.
" Tidak,...!" Cindy masih berpikir bagaimana jika keluarganya tahu jika dia berhubungan dengan Martin.
" Baiklah, kita backstreet dulu sampai kau siap, tapi kau harus menjauhi pria bernama Fannan!"
"Tidak, dia adalah teman yang baik...!"
" Apa kau yakin, kau tidak akan jatuh cinta padanya??"
" Semenjak kau merenggutnya, aku tidak berharap cinta dari pria lain!"
Martin tersenyum puas...
" Tolong jangan membatasi pertemananku, aku akan mempertimbangkan hubungan kita!"
" Baiklah, ...!" Martin hanya mengiyakan saja, meskipun itu tidak sama dengan hatinya.
Martin kembali duduk dan menarik Cindy ke pangkuannya, Martin ******* bibir Cindy yang dingin itu.
__ADS_1
" Abang....!"Keluh Cindy kesal
"Wah, ...panggil abang lagi...!"
" Abang, badanku masih sakit semua...!"
" Aku hanya mencium saja...aku tidak akan berbuat lebih....!"
Cindy mengalungkan tangannya pada Martin menatap mata berwarna coklat di hadapannya.
Cindy malah berinisiatif mencium bibir Martin yang rasanya asap karena habis merokok.
Martin segera mengimbangi ciuman suka rela dari wanitanya.
Tok tok tok...
keduanya terkejut dan menghentikan ciuman panas itu.
" Tuan, makan malam siap...!"
Martin meletakan Cindy di sofa dia beranjak menuju pintu, Martin menggunakan sidik jarinya untuk membuka pintu, pintu pun terbuka setelah mengenali sidik jari tuannya.
" Selamat malam tuan dan Nyonya" Sapa ramah pria muda membawa gerobak dorong berisi makanan lezat.
Yuda segera menata semua makanan itu di meja dihadapan Cindy.
" Selamat makan nyonya...!"
" Yud, tolong ganti spreiinya...!"
" Baik, ...!" Yuda segera keluar tak lama di kembali membawa bad cover baru, dengan tenang menggantinya meski matanya terkejut dengan noda merah yang cukup besar pada sprei, namun dia tetap tenang dengan kilat dia sudah mengganti dengan sprei berwarna hitam polos, Yuda terlihat sangat profesional di usianya yang masih muda.
" Jangan melihat pria lain!" Martin merasa kesal pada Cindy.
" Hmmm dia sangat terampil...!" Cindy mengalihkan pandangannya pada hidangan di hadapannya.
" Ya, ...!" Martin menyuapi Cindy dengan penuh Cinta, mulai detik ini Martin akan meratukan wanita yang membuatnya mentok tidak bisa berpaling lagi.
Cindy merasakan kasih yang berlimpah ruah dari abang angkatnya itu.
" Abang...apa kau sudah mengawasiku lama??"
" Hemm...!" tetap menyuapi Cindy.
" Hmmm jadi begitu!"
" Fannan memang option yang baik, tapi dia tidak akan ada kesempatan kecuali aku mati...!"
" Aku dan mas Fannan hanya berteman saja...!"
" Biasa saja...!"
" Oke, aku percaya padamu, jangan mengecewakanku...jika tidak aku akan menghukummu...!"
" kan sudah ku bilang, jangan membatasi pertemananku!"
" Ya, aku juga ingin memberitahumu, jika aku sekarang bekerja dengan Om Kenzo di Aogiri!"
" Om Kenzo menerimamu??"
" Ehm...Renata juga ada di keluarga Tanaka, Sansan juga sudah memaafkan kami...!"
" Apa??"
" Renata tidak tahu jika itu akan mencelakai keluarga pratama!"
" Sudahlah aku tidak mau membahas itu...!"
" Tapi kau harus tahu, aku akan menangkap Juno dan memberikannya pada kalian, terserah mau kalian bunuh siksa atau apa...!"
Cindy terkejut
" Apa abang tidak membual??"
* Aku bersumpah ...!"
Cindy tersenyum mengembang,
" Ahhhhhh cantik sekali saat kau tersenyum... ayo habiskan makanannya!"
" Tuan Nyonya apakah ada lagi??"
" Oh sudah Yuda kau bisa beristirahat terimakasih!"
Yuda pun segera pergi menutup pintu.
" Aku sudah kenyang...!"
" kalau begitu istirahatlah...!"
" Di mana tas Cindy bang??"
" aku menyimpannya...!"
" bolehkah Cindy minta ,Cindy harus mengabari orang rumah...!"
" okeh...!"
__ADS_1
Martin menuju lemari besar, lagi - lagi semua akses harus menggunakan sidik jarinya.
" ini...!"
memberikan dengan senyuman.
Cindy menerimanya dan segera membuka tasnya lalu mengambil ponselnya.
Cindy segera mengecek handphone nya ternyata banyak sekali panggilan dari Papa dan mamanya dan juga Fannan, Cindy menelan ludahnya, sepertinya dia sudah gila, tapi sekali lagi semuanya sudah terjadi.
Cindy segera membalas pesan mama papanya mengatakan bahwa dia mendadak keluar kota.
Dan mengatakan hal sama pada Fannan,Cindy melemparkan ponselnya di sofa, dia benar-benar merasa bersalah pada keluarganya.
" Ayo istirahat sayang...!" Tangan kekar itu meraih pinggang Cindy dan membawanya ke ranjang.
" Abang, tidak boleh nakal...!"
" Baik, ...!"
Martin segera mendekap tubuh gadis itu dengan hangat, karena Cindy kenyang dan masih sangat lelah dia pun mengantuk lalu memejamkan matanya.
Dan terlelap tidur...
...----------------...
Jepang
" Bagaimana Nyonya Sansan, dan tuan Dai??"
ini pertemuan kali keduanya bersama nona Mizu.
" Oh...tentu saja obatnya sudah saya buat... karena sudah mengetahui jenis racun anda!"
" Sungguh??"
" Ehmmmmm...!" Menunjukan macam-macam obat racikannya.
" Kok banyak sekali nona...!"
" Lah mau sembuh tidak, soalnya itu banyak sekali racun di tubuh anda.
" ohhh baiklah...!"
" Ini habiskanlah dalam sekali tegukan, dan ini beberapa yang harus kau minum setiap pagi sore malam, harus tetap waktu ini juga sama semua sudah ada kejelasannya, jika sudah habis kau bisa menghubungi ku lagi nona...!"
" oh baik..." hendak mengambil obatnya namun Sansan menahanya.
" kenapa??"
" Kan belum bayar sisanya....!"
" Baik, sisanya berapa jadi???
Sansan mengangkat kedua tanganya,
" 10 Digit??"
Sansan mengangguk...
" Tapi kan saya tidak tahu ini manjur atau tidak...!"
" Itu baru akan menghilangkan setengah racun pada tubuh anda nona!"
" Apa??"
" Ya, kan saya sudah bilang jika jasa saya itu sangat mahal... kita harus melaui 2 tahap tidak bisa langsung sekaligus!"
" Baiklah...!" Mizu segera mengirimkan pada rek Sansan
" Sudah nyonya...!"
" baik terimakasih... semoga tahap 1 bekerja dengan baik kalau begitu kita harus segera kembali...!"
" baik...!"
Sansan dan Dai pun segera kembali ke apartemennya.
" Dai, aku akan kirimkan 2 digit padamu...!'
"tidak, aku akan rugi 3x lipat...!"
" Yah sayang sekali...!"
" Aku akan mencari sumber dana tambahan lain selain padamu!"
" Kau pendendam sekali Dai hihihi..."
" Dari pada anak cucu ku kelaparan di masa depan!"
" Hihihih....tenanglah kita kan sahabat,aku tetap akan memberimu upah!"
" Kata Sahabat sekarang memberikanku trauma berat!'
" Hahahahhahahahahahahah..." Sansan tertawa sangat puas.
Sansan memang sangat suka dengan uang, tapi dia juga tahu membayar jasa, di tetap mengirimi 2 Digit pada Dai, meskipun di bibir Dai selalu menolak , namun Hatinya juga berbunga, setidaknya dia tidak rugi banyak .
__ADS_1