
Mobil yang dikemudikan Bram itu di Tabrak sampai terbalik,...
Jalan itu memang sangat sepi,...
hiks hiks hiks hik...
hik hiks hik Hik...
terdengar rintihan Sansan
Bram, masih sadarkan diri namun tubuhnya tidak dapat bergerak,.
Jovan, juga masih sadar dan berusaha, keluar dari mobil,
" Kaaaaak, keluarkan, ah...istri dan anakku duuuluuuu, jauuuhkan mereka dari momobil!" ujar Bram terbata -bata menahan rasa sakitnya.
tanpa bicara, Jovan berusaha Turun Air Matanya mengalir deras, Jovan membuka pintu belakang dan segera mengeluarkan Sansan dan Sasha dari Mobil.
" Bertahanlah Sasha, hiks hiks bertahan!" Jovan segera menyeret tubuh Sasha dan menggendong Sansan sekuat tenaga menjauh dari mobil.
" Sansan, sembunyi di balik pohon besar itu, apapun yang terjadi jangan melihat ke Arah mobil!" ujar Jovan
" hiks hiks hiks ayah, bunda!" Sansan benar - benar syok sampai tak bisa menangis keras, suaranya tertahan sangat berat, hatinya sangat nyeri melihat kedua orang tuanya tak Berdaya.
" Paman akan menyelamatkan ayahmu, tunggulah, pejamkan matamu, ini barang - barang bundamu kau harus menjaganya dan diam jangan meninggalkan tempat ini Satu langkahpun!"
Sansan mengangguk ketakutan memeluk tas bundanya,
Jovan berjalan menghampiri Bram dengan langkah terpatah - patah.
" Tiiidakkk jangan mendekat!" Bram berusaha berteriak sekuat tenaga menghentikan Jovan, Namun Jovan tak mendengar Suara Bram.
Bram melihat percikan api dari mobilnya,
" Ja...Jaangan mendek -....!"
" Bluuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr"
mobil itu meledak dan terbakar ...
" Agggggggggggggggggggggggghhhhh" Sansan melihat mobil itu meledak, disaat ayahnya masih berada di dalam mobil dan Pamannya juga berada di dekat Mobil itu, Sansan pun pinsan.
...----------------...
Beberapa jam kemudian,
ting tong ting tong...
Mbak Zara berlari membuka pintu,
" Maaf,apa benar, ini kediaman Jovan Pratama?"
" Benar pak!, ada perlu dengan siapa?"
" Jadi, saya ada kabar penting, kira - Kira saya bisa menyampaikan dengan siapa di rumah ini?"
" oh saya panggilkan nyonya saya sebentar!"
mbak Zara segera memanggil Vevey.
Vevey pun segera keluar,
" Maaf pak ada apa?"
" Dengan berat hati saya harus menyampaikan ini nyonya!"
" Apa pak?"
" Em mm,...kami dari pihak kepolisian bagian lalu lintas, saya boleh bertanya terlebih dahulu?"
" Ya pak silahkan!" entah kenapa air Mata Vevey mengalir begitu Saja tanpa di sadari.
" Ibu ini siapanya bapak Jovan Pratama?"
__ADS_1
" Sasaya istrinya, a ada aapa, sebenarnya?" Vevey tak kuasa menahan air matanya, air mata itu keluar dengan sendiri.
" Bapak Jovan mengalami kecelakaan, dan...!"
" Dimana suami saya???" Teriak Vevey Histeris dan menggoyakan tubuh orang yang memberitahunya.
" Suami saya titidak terluka parah kan pak?"
Vevey masih berharap suaminya baik baik saja.
" maafkan saya, Suami anda meninggal di tempat, dan juga pengemudi bernama Bram Steve, Dan satu wanita terluka parah yang Belum teridentifikasi!"
" Tidaaak ,tidakkkkk, tidakkkk, suami ku pasti masih hidup!!"
Cindy yang mendengarnya, terjatuh karna sangat syok...
Tunggu, Sansan....?
Cindy segera bangkit menghampiri Vevey yang masih histeris.
" Pak, lalu adakah anak kecil di dalamnya?" tanya Cindy gemetaran.
" anak kecil?, sejauh kami melakukan evakuasi kami hanya menemukan 3 korban saja!"
" Apa?, pak adik saya bernama Sania juga berada di mobil itu!, bagaimana bisa ditemukan? tolong cari pak!"
"Baik, pihak keluarga bisa mendatangi Rumah sakit, Pertiwi!"
" Ma, kita jemput papa dan om Bram!" Cindy menguatkan diri untuk Vevey dan adik - adiknya.
" Cindy, papa pasti masih hidupkan?, mama tidak bisa hidup tanpa papahmu, hiks hiks hiks!"
mbak Zara dan mbak Sia pun ikut menangis,
mendengar ucapan Vevey.
" Mbak, Sia...tolong temani Aina dan Fahad dulu!" ujar mbak Zara mengusap air matanya.
Mbak zara segera menghubungi Savina,
"Halo, mbak Zara,..ada apakah?"
" Huk huk huk, nyo nyo nyonyah...hik hiks hik!"
" Mbak, apa anak - anak berkelahi lagi?"
" Huhuhuhuhu....!" Semakin keras menangis.
" Mbak ada apa, jangan membuatku takut!"
" Nyonya Savina, hik hik hik....Mobil yang dikemudikan Tuan Bram kecelakaan!, hik hikz his"
" Apa?, lalu bagaimana keadaanya, di bawa ke rumah sakit kah?"
" Huhuhuhuhuhu....mereka di bawa ke rumah sakit Pertiwi!"
Savina segera mematikan panggilannya,
" Sayang, ke ke ke rumah sakit pertiwi!" ujar Savina yang sudah berlinang air mata.
" Kenapa, apa sedang tidak enak badan?"
" Cepat, cepat,cepat!!"
" Yayay!" Jonathan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
" hiks hiks hik, mereka pasti baik - baik saja, huhuhuhu!" Gumam Savina menangis.
Nathan, tetap fokus pada kemudinya, dia tidak bertanya pada istrinya, jawabanya akan dia temui jika dia sampai dengan segera di rumah sakit itu.
30 menit perjalanan mereka pun sampai di rumah sakit.
" Kita harus kemana?" tanya Nathan.
__ADS_1
" aku tidak tahu, mbak Zara hanya mengatakan Mobil yang ditumpangi Jovan kecelakaan!"
" Apa?" Nathan segera masuk dan berlari menuju resepsionis.
" Jovan Pratama!!!!, cepat dimana adikku dirawat???"
" Sesebentar, ....!" sambil mencari data pada komputernya.
" Dimana cepat cepat!"
" Ah, aa...aanuuu...di di kamar, kaaaamar Jenazah!"
Nathan menarik baju, petugas resepsionis itu
" Apa katamu!"
" Hiks hiks....saya juga hanya pepetugas pak!"
Nathan segera melepaskan,
" Jovan, Lalu Bram???" Bergumam sendiri antara percaya tidak percaya.
" Sayang, itu Cindy!" Savina menunjuk ke arah Cindy yang sedang memapah Vevey.
Nathan segera berlari menghampiri
" Vevey, ...!"
Vevey menoleh,
" Kak, kak...Jovan...Jovan...suamiku,Bram, hikks hiks Sahsa, huhuhuhu Sansan, hiks hiks hiks!"
Vevey tak kuasa menahan tangis.
" Kenapa bisa begini?" Nathan memeluk Vevey dan Cindy.
" Paman, papa dan om Bram tidak selamat, tante koma, Sansan menghilang!"
" Sansan???" Savina dan Nathan terkejut.
" Ya, Sansan diam diam masuk dalam Mobil!"
" Astaga!!, Sayang kau jaga Vevey aku akan Mengurus jenazah adik - adikku!"
Nathan hatinya sangat terpukul, dengan apa yang terjadi pada keluarganya, namun dia harus tetap kuat.
setelah mendengar laporan dari team penyelidik, sudah tersimpulkan bahwa ini adalah pembunuhan terencana.
Kabar itu tersebar begitu cepat, dan sampailah kabar tersebut ketelinga Chiko anak buah Bram yang sudah menjadi bagian keluarga Pratama itu.
mendengar kabar itu, Chiko segera meluncur menuju rumah sakit.
" Tuan, ... hiks hiks tuan....hukhuk!" Chiko menangis di samping jenazah Bram, yang sudah tidak bisa dikenali lagi rupanya.
" Chiko, kejadian ini adalah pembunuhan!" Nathan memberi tahu
" Pembunuhan?, siapa pelakunya?"
Nathan menggeleng kepala,...
" Mobil yang dikemudikan Bram kecelakaan dari Arah pemakaman, itu berarti, saat mereka berziarah, mereka baru beraksi!, mereka berangkat sampai tujuan selamat, dan kecelakaan saat kembali, dalam penyelidikan tidak ada jejak rem, mereka membuat remnya blong saat dipemakaman, dan lagi Sansan.menghilang!"
" Apa nona kecil ikut?"
" Hmmm...polisi sudah mencari kesemua tempat, namun tidak bisa menemukanya!"
" Jika dia meninggal pasti akan ditemukan tubuhnya, disitu hanya ditemukan Satu sepatu Sansan, kemungkinan besar Sansan diculik, hanya Sasha yang bisa menjadi saksi namun keadaanya tidak memungkinkan, hampir semua tulangnya patah!, kau paling tahu cara kerja anak buah Bram, kerahkan mereka untuk menangani kasus ini, dan utamakan menemukan Sansan!, lalu anak buahku dan anak buahmu, bergilir menjaga Sasha selama dia dirawat, biar dokterku yang merawatnya,aku akan mengurus prosedur pemindahan pasien ke rumah sakit Crist, tolong urus jenazah adikku sampai ke rumah!, perbanyak penjagaan di kediaman Pratama!"
" Baik!" Chiko menyerahkan tugas pencarian Sansan pada Gery, karna dia yang memegang kendali semua anak buah Bram.
Chiko mengerahkan anak buahnya untuk mengawal jenazah Bram dan Jovan kembali, ke kediaman Pratama.
Bersambung...
__ADS_1