
" Boy, kau terlihat senang??'
" Ya dad...aku senang aku baru bertemu dengan Incess...!"
" Hemmm, Boy dia akan marah jika tahu yang sebenarnya...!"
" Dia orang yang mudah memaafkan Dad...!"
" Hemm baiklah, Daddy tidak akan ikut campur!"
" Terimakasih Dad...Daddy tidak ada kerjaan??"
" Daddy akan lebih sering di rumah sekarang, kecuali memang ada sesuatu yang tidak bisa ditangani anak buah Daddy, sebenarnya Daddy ingin mengambil pensiun Dini, tapi banyak yang keberatan...!"
" Daddy memang yang terbaik...!"
" Tidak juga, semua juga tidak luput dari bawahan Daddy...oh Ya, kau pun juga sudah mendapatkan Rumah Dinaskan Boy???"
" Dapat Dad, tapi belum aku tempati, lagian Putra akan bekerja di kota ini, dekat dengan rumah, sebaiknya di rumah saja...!"
"Tak masalah...kau sekalian siapkan pengajuan menikah, nanti berkasnya serahkan pada Daddy saja, untuk berkas calonmu juga sudah di siapkan oleh camermu!"
" Oh ya benar, setelah menikah aku akan menempati rumah dinas bersama istriku!"
" Ehm, tidak perlu mengisi perabotan macam-macam seperlunya saja, aku yakin, kalian akan berpindah-pindah, Jika Incess tidak mau ikut denganmu biarkan dia tinggal di sini saja!"
" Oh ya, tapi Putra akan membawa Incess kemana pun Putra bertugas!"
" Okelah, oke.... sepertinya Putraku sudah kepentok ya sama Incess??"
" Ya Dad...dia manis banget sih!"
" Hahahahaha...Semoga kau bahagia selalu boy...!"
" Thanks Dad...!"
" Ya, oke... saatnya Daddy menjemput Mommy, Daddy pergi dulu boy...!"
" Oke, Putra juga ingin istirahat sebentar!"
" Lakukan nak...!"
Nathan dan Putra pun beranjak dan pergi ke arah tujuannya masing-masing.
Sementara Ami dan Yuzan sedang sibuk melaporkan semua kejadian pada Rajanya.
" Yuzan, apa kau sudah mengabari Yang Mulia??"
" Sudah, Untuk pernikahan sepupu nona, Yang Mulia sudah mengirimkan hadianya ke kediaman sepupu nona langsung...!"
" Oh benarkah??, Ya, dia juga memintaku untuk mengabari kapan pernikahan kakak Nona, agar bisa mengirim hadiahnya tepat waktu...!"
" Yang Mulia sepertinya sudah sangat jatuh hati pada nona...tapi nona akan sulit di taklukkan, apalagi nona bilang dia tidak mau berbagi suami dengan orang lain...!"
__ADS_1
" Ya, tapi itulah tugas kita di sini...membantu Yang Mulia menjaga nona dari incaran pria lain!"
" Ehmm, tapi di sini sangat enak Ami, bebas mau kapan saja di mana saja kita bisa sesuka hati ..!"
" benar, aku tidak yakin nona juga bisa hidup di dalam istana dengan baik, kita tahu hidup di dalam Istana sangat terkekang,nona sudah terbiasa hidup bebas mana bisa nona tetap terkurung dalam Istana!"
" Ya sama halnya seperti Nona Tasya, dia juga tidak betah hidup di dalam Istana!"
" Semua tergantung Yang Mulia, lagi pula ini era modern, seharusnya Yang Mulia bisa sedikit bertoleransi untuk kebebasaan orang dalam Istana!"
" Tidak bisalah, hal yang menyangkut istana sangat tabu untuk di publikasikan...!"
" Ya, juga sih ... entahlah jika memang berjodoh ,semua pasti ada jalannya!"
" Ami, aku lihat kau dari kemarin memandang sopir pribadi yang biasa duduk di taman utama itu...apa kau menyukainya??"
Wajah Ami memerah
" Apaan?, tidak ada...!"
" bohong sekali, tapi dia slalu bersama gadis kecil , siapa dia ya ? apa adiknya??"
" Oh aku tidak tahu, sudah ah lanjutkan saja memasaknya, keburu nyonya dan nona kembali kita belum siap!"
" Oh ya...!"
semenjak Ami dan Yuzan ada, Savina tak pernah repot mengurus rumah dan dapur, sebenarnya Savina dan Nathan sudah mengatakan pada mereka untuk tidak melakukan pekerjaan rumah, namun keduanya tetap membersihkan rumah dan memasak, mereka sangat senang apalagi saat berbelanja .
mereka berdua baru merasakan kehidupan yang sesungguhnya, benar -benar membuat mereka bahagia bisa di terima di keluarga Pratama.
Hari Minggu
Fahad membawa istri tercintanya ke rumah Sansan untuk melakukan terapi pertamanya.
Di bantu dengan Dai tentunya, Karna Dai yang bisa menjadi asistennya saat melakukan pengobatan atau terapi jika ada pasien.
" Sayang, tetap semangat ya, aku yakin kau pasti bisa sembuh!"
Fahad menyemangati istrinya itu.
Sementara Sansan dan Dai sibuk menyiapkan semua keperluan untuk terapi, dan Kenzo duduk dengan beberapa berkas pentingnya, Kenzo melirik mereka sesekali sambil membaca berkasnya.
" Ayo kita mulai, oke...akak iparku apa kau sudah siap??"
Yuna tersenyum dengan lembut, seperti bidadari turun dari pohon kesemek.
" Kakak, aku harap kau bisa bertahan dengan baik, ini cukup menyakitkan,apa kau siap??"
" Apa kah sangat sakit??"
" Tergantung sih...!'
" tergantung gimana???"
__ADS_1
" Dai berikan kakak iparku minuman herbalnya....!"
" Baik!"Dai pun menyodorkan botol minuman pada Yuna
" Silahkan nona, tapi ini sangat pahit apa bona sanggup??" Tanya Dai dengan lembut.
" Apa sungguh Pahit??"tanya Yuna ragu meminumnya
" Kakak kau mau sembuh tidak?, jika pahit saja tak dapat kau atasi, bagaimana kau mau sembuh!" ujar Sansan
Yuna segera mengambil botol itu lalu meminumnya, pikir Yuna itu hanya sepahit jamu saja, jadi dia segera meneguk ramuan Sansan berharap segera dihabiskan maka akan selesai.
" Bruuuuuuuuurrrrrr" seketika Yuna menyemburkan ramuan itu mengenai Fahad, ternyata ini tidak bisa dikatakan pahit, tapi sangat,sangat sangat sangat pahit, sampai bekasnya tak bisa hilang menempel di lidah sampai tenggorokannya.
" Minum minum ..." teriak Yuna
" Kakak tidak bisa loe kak, tahanlah jangan minum kasiatnya akan berkurang nanti!"
sementara di ujung Sofa sana Kenzo menahan tawanya, sambil di tutupi wajahnya dengan berkas agar tidak terlihat, bagaimana tidak menahan tawa, Kenzo adalah saksi hidup yang mengetahui rencana jahilnya dengan Dai sebelum Fahad dan istrinya datang.
" Kata Sansan itu adalah pengobatan bersubsidi, jadi pengobatannya sedikit harus ada penyiksaan!" Gumamnya Lirih sehingga hanya dirinya saja yang mendengarnya.
Kenzo tahu rencana kedua anak nakal di hadapannya itu alias Dai dan Sansan, mereka sebenarnya bisa saja memberikan obat yang diolah agar tidak pahit, tapi kedua anak usil itu justru membuat ramuan yang sangat pahit, dan juga Sansan seharusnya bisa melakukan terapi yang cukup aman dan nyaman, namun dia akan menerapi dengan cara yang lebih ekstrim.
" Wueeeegkkkkj pahiiiiit..."
Fahad yang melihat sang pujaan hati tersiksa merasa sangat tidak tega.
" Fahad, mau di lanjut atau tidak??" tanya Sansan.
" Istriku, apa kau ingin lanjut???"
Yuna segera memencet hidungnya lalu meneguk minuman herbal itu agar cepat habis ditegaknya.
Yuna sudah geleng-geleng kepala,air matanya mengalir begitu deras menahan siksaan yang cukup berat dari iparnya, tapi dia ingin bisa berjalan lagi, dia akan menempuh semua penderitaan agar bisa kembali berjalan.
" Kakak ipar apa kau mau lanjut, terapi selanjutnya akan sangat sakit, apa kau yakin??, tapi cara ini yang ping ampuh untuk merangsang saraf - saraf kakak yang tertidur!"
" Sansan lanjutkan aku, akan menahanya!"
" Tapi kak, katakan pada suamimu, jangan sampai dia menghentikanku di tengah proses terapi itu akan mempengaruhi hasilnya!"
" Sayang, seberapa pun aku tersiksa tolong jangan hentikan prosesnya, aku sangat ingin menjadi istri yang sempurna untukmu!"
" Tapi, aku tidak tega melihatmu menderita!"
" Fahad, kemarilah...duduk denganku...jika kau mau istrimu sembuh, jangan mengganggu !"
" sayang, percayalah kau akan bisa berjalan lagi, aku akan menunggu di sana!"
" Hmmm"
Fahad pun segera duduk di samping Kenzo , meskipun dengan tatapan yang masih tidak rela jika istrinya merasakan sakit.
__ADS_1
Bersambung...
Oh Yuna, sepertinya kau main di tempat yang salah ..🤣🤣🤣