GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
351. Firasat Buruk


__ADS_3

Fathia yang sudah membaik pun juga sudah pindah ke rumahnya sendiri.


Suhail mengamankan rumah Fathia dengan beberapa ajudan, karena calon istrinya itu cukup keras kepala.


Sekarang Fathia fokus untuk membuat beberapa minuman terbaru, agar lebih lebar pemasukannya, dan mulai bersosialisasi dengan banyak orang untuk memperluas jangkauannya dalam berbisnis, semua dia pelajari dari calon ibu mertua terbaiknya.


sebenarnya Fathia sangat ingin tahu, siapa dibalik semua ini yang membantu dirinya, namun Suhail mengatakan tidak tahu apa- apa soal itu, padahal itu masuk dalam pasaran keluarga Pratama, entah itu kebetulan atau suatu konspirasi Fathia masih belum bisa mengorek semuanya.


...----------------...


Hari yang sudah di sepakati pun tiba,


hari ini Cindy dan Martin akan membicarakan semua pada Kedua orang tuanya.


" Sayang, tenangkan dirimu..."


Martin mencoba untuk menenangkan istrinya untuk lebih tenang lagi dan lagi.


" Aku sebenarnya sudah sangat siap abang, tapi rasanya kakiku enggan meninggalkan apartemen ini...rasanya sangat takut!" ujar Cindy.


" apa yang kau takutkan sayang???, ada aku...aku akan melindungi mu...!"


" Huhuhu...huffffttttt ...rasanya aku sangat tidak ingin beranjak dari tempat ini abang!" ujar Cindy sambil berurai air mata.


" Baiklah tenangkan lagi hatimu, aku akan menelpon paman untuk bersabar menunggu!'


" Ya, ok..."


tidak tahu Cindy merasa sangat tidak enak hati hati itu, semalam juga rasanya dia tidak bisa tidur sangat takut akan sesuatu.


Sementara Di aula utama Pratama semuanya sudah berkumpul, hanya tinggal menunggu keduanya tiba.


" Kak Nathan , sebenarnya ada apa??" Vevey tak enak hati.


" Tunggu anakmu tiba...!" jawab Nathan.


" Kenzo coba kau dan Sansan menjemput mereka, kenapa lama sekali,agar semuanya cepat selesai!" pinta Nathan.


" Baik kak, ayo sayang kita jemput mereka!"


Kenzo dan Sansan pun segera menuju apartemen Martin.


saat di tengah perjalanan ponsel Kenzo berdering.


" Ya ada apa??"


" Om, aku ads panggilan mendesak dari atasan, tolong kirim orang menggantikanku om...!"


" Oh, ya sudah ...aku akan mengirim orang untuk menggantikanmu Putra , terimakasih!"


panggilan pun berakhir...


" siapa??, Dai dan Noah masih mengurus pindahan rumah kita dan anak-anak!"


Gumam Kenzo bingung.


" Apa abang ada tugas dadakan??"


" mungkin, ...!"


" Ya sudah kita ke sana saja dulu om, ini juga mendesak!"

__ADS_1


" Ya...!"


Dan akhirnya mereka sampai di apartemen Martin.


ting tong Ting tong...


ceklek...


" Om...!"


" Kalian lama sekali sih??"


" Om,Cindy tidak mau beranjak dari apartemen, dia malah menangis terus...!"


" kenapa??, kalau begitu biar keluarga kita yang ke sini saja...!"


ujar Sansan.


" Jangan, itu sangat tidak sopan, biar aku coba bujuk sekali lagi ..." ujar Martin.


Martin pun berusaha, membujuk Cindy bersama dengan Kenzo dan Sansan, akhirnya Cindy pun mau.


" Yuk, ....pakai mobil om aja, om parkir di luar !"


" Oh ya...!"


Entah Cindy merasa sangat tidak ingin keluar dari apartemen, langkahnya sangat berat,dengan sabar Martin dan Sansan menuntun Cindy perlahan.


sampailah mereka ke lantai dasar, melihat mobil Kenzo mau di angkut paksa karena parkir sembarangan, Kenzo buru-buru menghampiri petugasnya, mencoba membujuk agar mobilnya tidak, di angkut,


meliha Kenzo kualahan, Sansan segera berlari ke sebrang membantu Kenzo.


" Ya itu nanti, satu-satunya, ini adalah perintah penertiban jalan!'


" Adakah surat perintahnya pak??"


Sansan, Kenzo sibuk berargumen dengan para petugas itu.


" Sepertinya mobil Om akan di angkut, sayang tunggu di sini, jangan kemana-mana,aku ambil mobil kita dulu ya!" ujar Martin.


Cindy mengangguk, dia menunggu di pinggir jalan sambil melihat Sansan dan Kenzo berdebat dengan petugas itu.


Karna Cindy juga kesal dengan petugas itu , Cindy hendak menyusul Sansan dan Kenzo di seberang.


Namun dari arah kanan,melaju mobil sangat kencang, Martin yang baru turun dari mobil, menyadari Cindy dalam bahaya, Martin segera berlari, sangat kencang, tanpa memanggil Cindy, Jika dia memanggilnya Cindy akan berhenti di tengah jalan.


" aaaagghhhhhhh"


Duaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrr....


tinnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn....


" Yaaaaaa Tuuuhaaaaaaaaaaaaaaaannn" teriak Sansan histeris


" Cinddyyyyyyyyyyy!"


" Kakaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk"


" Jangan ke sana, kita harus cepat pergi...!"


" Tidak kakak...!"

__ADS_1


teriakan histeris tidak rela begitu lantang.


" Cepat, pegang tuan dan bawa paksa masuk ke dalam mobil..."


" lepaskan aku, lepaskan aku..." berusaha meronta, namun orang - orang itu sangat kuat memegangi dan memasukan pakss ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan tempat kejadian itu.


Sansan dengan gemetar segera memanggil ambulans...


" Tidak bunda, ayah, paman..." Air mata Sansan menetes sangat deras, ingatannya di masa kecil kembali terlintas di kepalanya, Sansan menjatuhkan ponselnya dengan langkah gemetar Sansan mundur sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya sambil berteriak histeris, Sansan berjongkok ketakutan .


Kenzo bingung harus bagaimana, Kenzo meremas rambutnya dengan kencang, dia segera menghubungi Nathan untuk segera datang.


...****************...


Rumah sakit Crist.


" Tidakkkkkkkkk, abang....tidakkkk, jangan tinggalkan aku...tolong ,tolong om Crist,tolong selamatkan Abang....!"


" Cindy, tenanglah...kau harus ikhlas..."


" Huhuhuhu, tidak...aku mau ikut abang, abang jangan tinggalkan kami, abang... Tuhan tolong ambil aku juga...!" teriak Cindy mengoyak- ngoyak tubuh Martin yang sudah tak bernyawa.


kabar itu pun terdengar sampai ke negara F


dan mereka segera kembali detik itu juga.


karena Cindy tidak bisa tenang, dan malah melukai dirinya sendiri,akhirnya terpaksa disuntikkan obat penenang dan di bawa ke ruang perawatan dengan penjagaan ekstra.


Kenzo masih menjaga Sansan yang sangat syock.


sementara Vevey sangat terpukul dengan apa yang menimpa putrinya, dan juga Martin, Hiro, Savina dan kedua menantunya menenangkan Vevey.


Nathan dan Suhail masih menunggu jenazah Martin menunggu kedatangan Reyna, sebelum mengurus pemakaman Martin.


Chiko dan Gerry segera mengurus semuanya dikantor polisi


karna Sasha hamil maka dia harus di rumah, ditemani Aina, tiara Nathali dan mbok Yem.


kediaman Pratama di jaga dengan ketat.


" Fanan...kenapa kau ada di sana??" tanya Nathan pada Fanan.


" Saya slalu menjaga Cindy meskipun saya tidak berada di sisinya, karena anak buah saya melaporkan ada seseorang yang mengawasi Cindy 2 hari lalu saya pulang laksmana...saya juga ikut memantau pergerakan mereka!'


" Apa yang terjadi??'


" sepertinya targetnya adalah Cindy, saya juga sudah berlari untuk menyelamatkan Cindy tapi jarak saya terlalu jauh, Tapi Martin sangat sigap, dia tanpa berteriak langsung melompat mendorong Cindy, aku hanya bisa menangkap Cindy agar tidak jatuh, aku tidak bisa menyelamatkan Martin, aku sangat menyesal Laksmana!"


" terimakasih Fanan, berkatmu keponakanku tidak terluka, Martin juga sudah seperti keponakanku sendiri, aku juga sangat terpukul, Fanan aku minta tolong padamu untuk menjaga Cindy, apalagi dia sedang hamil... keluargaku sudah cukup kacau setelah kecelakaan yang menimpa kedua adikku, aku harus segera menangkapnya jika tidak keluarga kami tidak akan hidup tenang!"


ujar Nathan yang terlihat sangat-sangat terpukul.


" Saya berjanji akan menjaga Cindy dan juga anak dalam kandungan Cindy Laksmana!"


" Terimakasih, Fanan...!"


" Kalau begitu saya akan berjaga di ruangan Cindy Laksmana!"


" Ya..."


Fanan pun segera menuju ruangan Cindy, Fanan merasa sangat sedih dengan apa yang di alami oleh wanita yang dicintainya itu, padahal Fanan sudah ikhlas melepasnya agar dia bahagia dengan pria yang dicintainya, tapi kenapa malah menjadi seperti ini, ini bukan hal yang diinginkan oleh Fanan, melihat Cindy menderita, dia pun juga menderita.

__ADS_1


__ADS_2