
Sebelum Fahad menemui Yuna, Fahad terlebih dulu ke toko bunga kakaknya untuk membelikan bunga kesukaan Yuna.
" Fahad apa kau sungguh menyukai Yuna??"
" Ya kakak, ada apa??"
" Ehm...dia adalah teman terbaik kakak, kakak tidak ingin dia terluka...lebih lagi... sekarang keadaannya tidak sama seperti awal kau menyukainya!"
Merasa sangat terpukul dengan keadaan sahabatnya.
Fahad mengusap Air mata kakaknya dengan lembut,
" Kakak, apa kau tidak mengenali adikmu sendiri??"
" Tentu saja Fahad baik, tapi bagaimana ?"
" Sssssstttt...tidak ada bagaimana, aku akan menjaga Yuna untukmu kakak!"
" Huhuhuhu ..huhuhu....aku merasa sangat sedih dengan keadaanya, hatinya sangat tertekan , kehidupannya sungguh tidak mudah!"
" Aku akan memudahkan hidupnya mulai sekarang!, jangan menangis lagi...!"
" huhuhu...baiklah...!"
" Bunga apa yang Yuna sukai??"
" Mawar putih dia suka ,berikan mawar ini padanya...!"
memberikan buket yang cukup simple dibawa oleh Fahad.
" Kakak aku ke sana dulu...!"
" Ya...!"
Fahad pun segera kembali ke rumah sakit dan menuju ruangan Yuna.
" Bibi, ...!"
" Tuan...!"
" Bagaimana keadaan Yuna??'
" Hmm...dia masih belum bisa menerima keadaannya saat ini tuan, masih tidak mau makan juga, tidak mau minum obat, dia hanya melamun sepanjang hari melihat ke arah Jendela!"
" Bolehkah saya masuk bibi??"
" Tapi Tuan, mentalnya sedang tidak baik , bagaimana jika nanti dia melukai anda??"
" Tidak akan terjadi ...!"
" Jika begitu silahkan tuan,...!" Ibu Yuna pun membuka pintu untuk Fahad dan menutup kembali , ibunya Yuna pun pergi untuk memberi waktu untuk putrinya dan Fahad.
" Sudah ku katakan jangan ada yang masuk!" ujar Yuna yang tetap melihat ke arah jendela.
" Maafkan aku Yuna....!"
Yuna terkejut mendengar suara yang tak asing baginya.
" Oh Tuan Fahad, tuan...apa kau datang karena meminta jawaban??, Tuan aku akan jawab sekarang, aku menolak untuk hidup denganmu!"
" Tak apa, aku akan tetap mengejarmu!" memberikan mawar putih pada Yuna.
__ADS_1
" hiks hiks hiks...kenapa??, kenapa??, Tuan apa anda tidak tahu jika saya sekarang cacat, tidak bisa berjalan??"
" Aku tahu, itu tidak akan merubah perasaanku padamu!'
" Tidak, aku tidak percaya jika ada orang yang benar -benar setulus itu, nyatanya Tuhan tidak pernah membiarkan aku bahagia!"
" Jika kau tidak percaya padaku tidak masalah, tapi kau tidak boleh menyalahkan Tuhan!"
" Lalu aku harus menyalahkan siapa??, bukankah Tuhan yang memberikanku cerita hidup yang sangat menyedihkan seperti ini??'
( Tolong jangan salahkan Author juga ya...!, salahkan saja pembacanya hehehe)
Fahad mengusap kepala Aina dengan lembut,
" Tuhan maha baik, makanya Tuhan mempertemukan kita...!"
" Tuan aku tidak menyukai anda maafkan saya!" mengembalikan bunga pada Fahad.
" Kau dan kakakku bisa berteman, itu berarti kalian memiliki frekuensi yang sama,jadi aku tahu saat kalian berbohong dan tidak!"
" Aku, aku...tidak berbohong!" menunduk tidak berani mandang Fahad.
" Karna kau aku, tidak memilik masa depan lagi...!" ujar Fahad yang kemudian duduk di samping Yuna.
" A...a...aku??, a aku kenapa tuan??"
Tanpa di sadari Yuna, suasana hatinya sedikit berubah karena kedatangan Fahad, dia seperti terhipnotis oleh Fahad dan menurut saja.
" Ya, aku menunggumu 3 hari berturut-turut di tempat yang sama tapi kau tak datang - datang sampai aku meminjam nama pamanku untuk bisa masuk meski terlambat!"
" Ma...maaaf....tuan, Yuna juga tidak tahu jika semua akan terjadi!"
" Ehmmmm, karena belum mendapatkan jawabanmu aku tak pernah tenang, sampai akhirnya aku kabur dari Asrama untuk kembali mencarimu, tapi ternyata kau mengalami kecelakaan karena akan menemuimu, jika ingin berandai, aku ingin memutar waktu, aku yang akan datang ke rumahmu, agar semua ini tidak terjadi, tapi ini adalah takdir, bagaimana pun aku mencegahnya semua juga akan terjadi, tolong Maafkan Aku Yuna!"
" Kenapa minta maaf, tuan bilang ini sudah takdir ,maka ini juga bukan salah anda!, tapi maaf aku tetap tidak bisa menerima perasaanmu lagi, Tuan semoga kau mendapat seseorang yang pantas dan tepat untuk anda!"
" Yah, itu aku merasa satu nasib denganmu, mungkin tidak ada yang pantas bersanding dengan seorang pengangguran seperti aku, aku sudah kabur dari asrama, maka aku sudah tidak memiliki masa depan lagi!"
Aku tidak menyangka aku mengikuti cara kotor yang di mainkan oleh Iyus pada kakakku, tapi ini juga demi cinta.
dalam hati Fahad.
" Kenapa tuan harus kabur??"
" Ya, bagaimana aku harus mendegarkan jawabanmu, tapi sudah begini ternyata aku di tolak!" memasang raut wajah sedihnya.
" Bukan ,bukan sebenarnya Yuna hanya merasa tidak pantas saja dengan tuan!"
" Sekarang aku juga tidak pantas untuk siapapun bagaimana dong??"
" Anda sungguh mempertaruhkan masa depan anda ,hanya untuk sebuah jawaban dari saya yang bukan siapa-siapa ini??"
" Hmm...aku kira sampai di sini kau tahu seberapa tulus dan seriusnya aku padamu!"
" Tapi, tapi...!"
" Tidak apa-apa nona Yuna, aku akan menerima penolakan ini...!" memasang wajah memelas.
" Tapi, andakan sudah resmi menjadi polisi, dan hanya lanjut untuk pendidikan lebih tinggi saja kan?, lalu seorang polisi apa bisa dikatakan menganggur? lalu menikahi wanita lumpuh begini apa bisa??"
" Citraku sudah tercoreng karena tidak disiplin mungkin aku akan di copot sesegera mungkin, hehehe!"
__ADS_1
" Lalu bagaimana ?, bukankah itu cita-cita anda tuan??"
" Ya gimana lagi, kembalikan. pada Takdir...Nona, aku akan menarik ucapanku yang dulu, untuk memintamu menungguku selama 2 tahun...!"
" Apa Tuan menyerah?" merasa kecewa
" Menyerah??,mulai sekarang aku yang bukan siapa-siapa ini, akan memintamu menjadi pendampingku, seumur hidupku apakah nona bersedia??"
" Tuan, jangan bercanda!"
" Tidak, aku tidak bercanda...aku memang terlahir sebagai anak orang terpandang, tapi aku tidak akan mengandalkan nama dan harta orang tuaku, aku akan memulai semua denganmu yang bukan siapa-siapa ini dari bawah, apa itu sudah cukup memasuki syarat menjadi pasanganmu?"
" Tapi, apa orang tuamu bisa menerimaku?"
" Karna aku anak laki-laki, orang tua ku slalu memberikan kebebasan untuk menentukan pilihanku sendiri sejak kecil!"
Bagaimana ini ?? tapi jika aku menolaknya, tapi dia sudah sampai seperti ini.
Yuna sangat bingung
" Baiklah nona, aku tidak memaksa lagi...!'
" aku bersedia!" menjawab dengan kilat.
" Apa??"
" Ya aku...aku mau tuan...!" malu-malu.
" sungguh???" Fahad sangat girang.
" Ya ...!"
" Hemmm...aku berjanji akan membahagiakanmu Yuna...tapi aku melupakan sesuatu!" menggaruk kepala.
" apa itu tuan?"
" Umurku baru genap 17 tahun 4 bulan lagi... jadi itu kita baru bisa bertunangan dulu bagaimana?, jika sudah genap kita menikah!"
" Tuan apa kau tidak terburu-buru??, Tuan masih sangat muda dan lebih muda dari, apa sungguh ingin menikah muda denganku??"
" Memangnya kenapa menikah muda?"
" Masa depan anda kan masih panjang, takutnya anda menyesal di tengah jalan !"
" Aku tidak pernah terburu-buru dalam mengambil keputusan Yuna, aku slalu memikirkan resikonya dulu jika itu bisa aku tanggung kenapa tidak!"
" Tuan, kata dokter aku lumpuh permanen, mana bisa diobati?, saya akan menyusahkan anda seumur hidup!"
" Tidak, Tuhan itu maha baik, kita harus percaya jika kita sungguh mau berusaha Tuhan pasti akan memberikan hasil yang terbaik!"
" Ehmmm anda benar, terimaksih Tuan karena sudah memilih saya!, padahal saya tidak cantik, saya bukan dari kalangan berada dan saya tidak sempurna!"
" semua akan terlihat cantik, indah dan sempurna di mata orang yang tepat !, di mataku kau terlihat sangat sempurna, aku tidak mencari wanita cantik dan berstatus tinggi, aku ingin memiliki wanita yang sama lembut dan baik hati seperti mamaku...jika aku memiliki seseorang seperti mamaku maka aku memiliki rumah yang hangat dan anak-anak yang bahagia!"
Yuna mengarahkan kedua tangannya pada Fahad, Fahad segera menyambut dengan senang hati Yuna dalam pelukannya.
" Tuan, rupanya yang kau katakan Tuhan itu maha baik benar, ...!"
" Oh ya??"
" Dia mengirimkan ku seorang malaikat yang sangat baik hati dan tampan padaku aku sangat bahagia!" Yuna merasa sangat nyaman dalam pelukan Fahad, karena Kehangatannya seperti seorang ayah yang slalu ingin melindungi dan membahagiakan anaknya.
__ADS_1
Rasanya seperti ini , aku kira Tuhan tidak menyayangiku, semua penderitaan yang aku alami terhapus begitu aku memeluknya.
Air mata Yuna mengalir sangat deras, hingga membasahi baju Fahad, namun Fahad tidak menghiraukan itu, Fahad tetap memeluk wanitanya dengan ketulusannya, sebab Fahad mengerti rasanya kehilangan sebuah Dinding di dalam rumah, jika seorang ibu adalah pondasi dalam sebuah rumah, maka ayah adalah sebuah dinding yang menjaga kita dari kedinginan , kepanasan dan juga menjadikan kita merasa aman.