GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
62. Kelakuan Pembuat Onar


__ADS_3

" Sudah satu bulan, lebih di sini...bolehkah kita menggunakan ponsel sekarang?"


" Boleh, tapi ponsel itu di sediakan dari kerajaan, kau tidak bisa sembarangan mengakses dan semua akan terlacak dengan jelas oleh kerajaan!"


" Astaga ketat sekali, aku kira masuk kerajaan itu sangat menyenangkan, rasanya melebihi penjara!"


" Sabar, sabar ...apa kau sudah pernah masuk penjara?"


" Belumlah!"


"ya sudah, jangan di samakan!"


" Dai, aku sangat rindu pada om Kenzo!"bersandar di pundak Dai meratapi nasib.


" Bukanya kau sedang kesal dengan tuan Kenzo?"


" Ehmmm...kesal tapi tidak bisa lama - lama!"


" Kau sangat lemah pada Tuan kenzo, dimulut saja kau sangat bar - bar, dihatimu sangat lemah!"


" Diamlah, saat kau bicara sungguh tidak enak di dengar!"


Dai tersenyum sambil mengusap kepala Tasya.


" Setelah, kita menyelesaikan misi ini, apa kau mau pulang?"


" Pulang??, tidak...aku belum menemukan orang yang sudah jahat pada keluargaku!"


" Apa kau tidak rindu??"


" Sangat rindu!"


" Aku ada cara untukmu, jika kau ingin kembali tanpa di ketahui"


" Sungguh??"


" Tentu saja, ...!"


" Katakan!"


" Nanti jika misi kita sudah selesai!"


" Baiklah, aku akan segera menyelesaikan misi kita yea!!"


" Misi apa??"


" Oh, ah yang mulia,....!" Tasya terkejut


" Yang Mulia, apa ada yang sesuatu hal, sampai anda datang kemari sendiri!" ujar Dai dengan tenang.


" Tidak ada, aku hanya ingin bertanya pada Tasya!"


" Aku???" Tasya kebingungan.


" Ya, kau....!"


" Ada apa yang Mulia, apa saya membuat kesalahan!"


" Apa di dinding sebelah sana itu hasil karyamu??" Menunjuk dinding yang dimaksud.


" Ah, benar yang mulia, apa yang mulia tidak menyukainya?"

__ADS_1


" Tidak, kalian ini sepertinya bukan orang biasa, dan aku mendengar kata Misi sebenarnya kalian ini siapa?"


Dai dan Tasya saling memandang,


Sepertinya Yang mulia ini tidak bodoh juga ya,


dalam hati Tasya.


" Kami membuat misi untuk menyelesaikan tugas kami dengan cepat, jika di antara kami ada yang bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat maka, yang lambat akan menraktir kita makan enak pada saat kami mendapat hari libur!" Dai berbohong dengan mulus dan percaya diri, dua orang ini memang totalitas dalam melakukan apapun.


" Oh, kalian sepertinya sangat menikmati tinggal di istana,...!"


" tentu saja, tinggal di istana adalah impian saya sejak kecil yang mulia, heheh kami harus menikmati kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya!"


" Ya baguslah, jika begitu...lalu pertanyaan satunya, belum kalian jawab!"


" Oh, itu...mmm.. sebenarnya saya terlahir dikeluarga yang cukup lah dulu, dan kemudian kami sekeluarga mengalami kecelakaan, dan dan... hiks hiks hiks!"


" Sudah Tasya jangan di ingat lagi, kita sudah berada di sini, kita aman, tidak akan ada yang bisa menyakiti kita!" Dai menenangkan Tasya dan membuat aktingnya menjadi sempurna di mata sang Raja.


" Sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi, namu jika kalian itu bermaksud untuk membuatku merubah keputusanku tentang aturan di larang menikah, maka enyahlah sekarang!!!"


"Apa di sini ada perturan seperti itu??" Tasya pura - pura bingung.


" Kau sudah masuk dan tinggal di istana kau tidak tahu soal itu??"


" Tidak tahu yang Mulia, hamba hanya butuh uang saja, dan yang terpenting tidak melanggar aturan yang ada, mana Tasya tahu jika ada aturan di larang menikah!"


" lalu bagaimana denganmu?" Alfred menanyai Dai.


Dai sudah memasang wajah kebingungan.


" Kau juga tidak tahu?"


"sungguh?" Mendesak.


" Jika boleh jujur, sebenarnya Dai pernah mendengarnya namun Dai kira itu hanya isu belaka ,saat masuk ke sini tugas Dai hanya merapikan kebun saja, selebihnya kata kepala pelayan Dai tidak perlu tahu!"


" Kalian, ini sangat polos sekali?, untung saja kalian tidak ditipu orang masalah pekerjaan, sudahlah lupakan pertanyaanku, anggap saja aku tidak pernah bertanya!"


" Yang Mulia, apa anda percaya dengan kemampuan seseorang dalam hal yang tidak terlihat kasat mata?"


" tidak, aku tidak percaya...!"


" Tapi, aku slalu melihat di belakang yang Mulia, seorang wanita yang sangat cantik, dia memakai baju seperti anda, namun dia hanya menunduk saja, seakan-akan dia sangat sedih dan menderita!"


Alfred berbalik kebelakang, mencari sesosok yang di katakan oleh Tasya.


" di mana?"


" Itu tepat di belakang yang Mulia, dia sedang menatap anda, saat ini kalian sedang berhadapan!"


" Tasya, kau jangan membual, kau tahu hukuman di sini?, tidak akan main - main!"


" Tasya, berhenti....kau jangan memaksakan diri lagi, jika kau seperti ini akan melukai tubuhmu sendiri ,kau tidak boleh menggunakan kemampuan mu ini sembarangan!"


" ah, tidak jangan - jangan mendekat, agggggggg, aagggggghhh....!" Tasya tiba - tiba terdiam menunduk dan gaya duduknya berubah begitu anggun.


" Hey kenapa dia??" Alfred kebingungan.


" Yang Mulia, saya akan membawa Tasya masuk, dia terkadang seperti ini!, yang Mulia, tolong jangan katakan pada siapa pun tentang kejadian ini pada orang lain!"

__ADS_1


" kau, kau memerintahku??" Tidak terima.


" Hiks hiks hiks...!" Tiba - tiba Tasya menangis.


" Tasya, ada apa?" tanya Dai.


" Lancang!, aku adalah yang Mulia Ratu, kau tidak sopan!" Dai terkejut dan memandang ke arah Alfred yang masih kebingungan.


" berani sekali kau mengaku menjadi ratu!"


" Yang Mulia, kau jahat sekali, tidak mengenaliku, bukankah kau yang mengatakan sendiri meskipun aku menjadi abu, kau akan tetap mengenali ratumu sendiri!"


Tubuh Alfred gemetaran, nada bicara dan kata - kata ini sangat mirip dengan Ratunya.


" Kau jangan berakting, kau bukan ratuku, Tasya, jika kau berhenti sekarang aku masih bisa mengampunimu!" tegas Alfred.


" hiks hiks, perkataan seorang pria memang tidak bisa di pegang, dasar kau kepala harimau, bagaimana bisa dulu aku mau denganmu, memang kematian ini adalah jalan terbaikku!"


Alfred tiba - tiba jatuh terduduk...


" Kau sungguh ratuku?" air matanya mengalir sangat deras.


" Ya, yang Mulia, ...bisakah kau mengikhlaskan kepergianku?, betapa tersiksanya aku melihatmu begini, kau masih saja keras kepala!"


" aku tidak bisa ...aku tidak ingin kau meninggalkanku!"


" Tolong yang Mulia, kau harus bahagia tanpa aku, jadilah raja yang terbaik di dunia, bukankah , kau slalu mengatakan itu padaku!"


" Jika itu kau masih ada, namun sekarang keadaannya berbeda kau adalah pondasiku, bagaimana bisa aku hidup tanpa pondasiku!"


" Aku akan slalu ada di dalam hatimu yang Mulia, meski kita sudah di alam yang berbeda, aku tidak pernah meninggalkanmu!"


" Sungguh kau tidak pernah meninggalkanku?"


" Benar, aku slalu ada di sampingmu, Yang Mulia kau harus bahagia, jangan menyiksa diri lagi!"


" tolong peluk aku ratuku!"


Tasya segera memeluk Alfred dengan hangat dan lembut.


" Selamat tinggal yang Mulia, aku sudah harus pergi!"


" Tidak ,tidak!"


Tasya tiba - tiba melemas dan pingsan.


" Ratu, ratu!" Alfred mengguncang - guncangkan Tasya dengan keras.


" Astaga, Yang Mulia, kau akan membunuh Tasya jika begitu!" mengambil Tasya dengan paksa.


" Yang Mulia, bisakah yang Mulia menenangkan diri dulu, Tubuh Tasya sudah sangat lemas, apakah boleh beristirahat?"


" oh, baik!" Alfred segera menghapus air matanya dan segera kembali ke kediamannya.


" Tasya kau gila!" Dai sangat khawatir.


" Aduh, Raja sialan itu mengguncang tubuhku dengan kencang, tenaganya kuat sekali, aku hampir gagar otak di buatnya!"


"ah,kau membuatku jantungan, itu sama saja mengantar nyawa kita!"


" Ah, Dai nyawa kita masih aman, aduh badanku sakit semua ,aku mau tidur dulu, tolong gantikan aku cuci baju dulu!"

__ADS_1


Tasya segera masuk ke dalam kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya ke ranjang .


Dai, memang tidak bisa berkata tidak pada Tasya, dia pun menggantikan Tasya mencuci pakaian, dan sesekali dia terkikik mengingat ulah Tasya yang slalu spontanitas, namun slalu membuatnya ketakutan, jika dia ingat memang Tasya ini konyol sekali, ada saja ide aneh - aneh yang bermunculan di kepalanya.


__ADS_2