GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
316. Dikira minta sumbangan


__ADS_3

" Aku mau!"


" Mau???"


" Ya mau..., aku mau..., aku mau Suhail...!" Fathia menjawab dengan sepenuh hatinya.


Akhirnya cinta sang Jenderal tidak terkatung-katung lagi.


Suhail langsung memeluk Fathia dengan sangat bahagia, mengecup pucuk kepala Fathia dengan lembut.


" Fathia ikut pulang ke rumahku ya?!"


masih memeluk


" Kita kan belum menikah??, tidak boleh ...!"


" kita pikirkan nanti saja, kau tinggal di mana yang terpenting kita pulang dulu ke rumahku, aku akan mengenalkan kau pada mereka, sekarang juga!"


" Sekarang???"


" Ya, kita berpamitan dulu dengan bibi dan paman, juga anak-anak!"


" Kenapa harus begitu cepat??"


" ya pokoknya kita harus segera bertemu dengan kedua orang tua ku!"


" Suhail, aku belum siap!"


" Tak apa, mereka akan sangat senang bertemu denganmu!"


Fathia mencengkeram erat lengan Suhail, Fathia bukan seorang yang penakut, tapi untuk yang satu ini memang Fathia lebih takut, pikirannya melayang tak karuan, karena banyaknya dia dengar bahwa ibu mertua itu slalu jahat.


( Fathia nggak tahu aja camernya udah maju lebih dulu)


" Serahkan semua pada calon suamimu ini, jika mereka tidak menyukaimu aku akan tetap menikahimu!"


( Suhail juga tidak tahu jika emaknya udah maju duluan sama Julius)


" Kau tidak boleh membantah orang tuamu, jika mereka tidak menyukaiku, aku akan berusaha membuat mereka menyukaiku, aku akan berjuang bersamamu!"


Suhail pun tersenyum mendengar jawaban Fathia,


Aku sebenarnya juga takut, jika ternyata aku mengulangi kesalahan Fahad, aku harap aku memang tidak salah memilihmu Fathia.


dalam hati Suhail.


" Suhail kenapa kau dia saja??"


" Aku senang saja dengan jawabanmu, terimakasih Fathia, ku harap kau memang begini adanya, dan tidak akan berubah di masa depan!"


" Kurang ajar kau mengira aku sama seperti mantan istri saudaramu!??"


" Tentu saja Fathiaku berbeda!, sudah ayo aku tidak mau membuang waktu!"

__ADS_1


Suhail segera meminta Izin untuk membawa Fathia kembali ke negaranya pada Yuki dan juga Mamoto.


meskipun berat untuk Yuki, karena sudah sangat terbiasa dengan adanya Fathia, namun bagaimana pun Fathia memang hanya sementara tinggal untuk pengobatan, tak ada alasan untuk menahan Fathia untuk tetap tinggal.


" Bibi paman, anak-anak, aku pamit ya!"


" Ya ,kalian hati-hati!"


" Tunggu ...!"


seorang gadis berusia 5 tahun itu berlari menghampiri Fathia dan juga Suhail.


" Lily, ada apa??" Tanya Fathia.


" Kakak, Lily sudah bisa melihat tapi Lily tidak pernah tahu wajah ibu dan ayah Lily, Lily ingin melihat super hero Lily... percuma Liliy bisa melihat tapi tidak bisa melihat ayah ibu Lily...!"


Suhail sangat tercengang dengan perkataan gadis 5 tahun itu, benar-benar anak luar biasa.


Suhail berjongkok di hadapan Lily, Suhail tersenyum, melihat mata Lily sangat mirip dengan Sansan kecil.


" Apa kau ingin ikut dengan kakak??, kau ini anak angkat atau anak kandung Sania?, kau mirip dengannya saat kecil...!"


" Tentu saja aku anak angkat, kakak kau ini bagaimana, umurku sudah 5 tahun, dan ibu Sansan baru 17 tahun, jika aku anak kandungnya aku keluar dari mana??!"


" Pufffffffffffffftttttttttt... !" Fathia tak kuasa menahan tawanya, begitu juga dengan yang lain.


" Bagaimana jika kau menjadi anak angkatku Lily??!" Suhail menawarkan diri .


" Tidak, aku hanya ingin menjadi anak dari ayah Kenzo dan ibu Sania!"


" Hei kau sudah menolak tawaran berharga!"


" Jika aku masih buta apa kakak tetap mau menjadikanku anak??, hanya Ayah Kenzo dan ibu Sania yang mau menerima Lily apa adanya!"


" Lily kau tidak boleh seperti itu" tegur Yukini.


" Tak apa Bibi, dia anak yang cerdas...Lily, kakak bisa saja membawamu bertemu dengan Ayah ibumu, tapi itu tidak adil jika hanya kau saja, bagaimana dengan 6 saudaramu??"


Lily menoleh kebelakang melihat 6 saudaranya.


" Baiklah, Lily tidak jad-"


" Bawa Lily bertemu dengan Ayah ibu kak, kami tidak masalah, kami akan tetap di sini sampai ibu dan ayah menjemput kami lagian kami sangat senang bersama bibi dan paman di sini, Lily belum pernah melihat ayah ibu, itu juga tidak adil untuknya, karena kami sudah melihat bagaimana rupa ayah ibu!" Sahut Be memotong pembicaraan Lily.


"Ya benar...!" dengan serempak saudara - saudara Lily .


Suhail semakin terkesan dengan anak-anak angkat Sansan, itu .


" Ya, Tuan tolong bawa Lily pada Sania dan tuan Kenzo...!" sambung Yuki ya karena Lily setelah bisa melihat , dia ribut setiap hari menanyakan Sansan dan juga Kenzo.


" Sungguh Lily boleh menyusul ayah ibu??" tanya Lily pada Yuki.


" Ehmm...!" Yuki mengangguk, Lily melihat ke arah 6 saudaranya, mereka pun mengangguk serempak.

__ADS_1


" Ayo Lily ke sini!" panggil Suhail sambil mengulurkan kedua tangannya, Lily segera berlari menyambut tangan Suhail.


Mata kecilnya berkaca - kaca,


" Jangan menangis, kau akan segera bertemu dengan ayah ibumu!" Sambil menggendong Lily dengan satu tangan kirinya dan tangan kanannya menggandeng Fathia.


" Ya Kak... semuanya kami pergi, terimakasih untuk semua!" Suhail pun membawa keduanya kembali.


setelah perjalanan panjang,mereka pun sampai.


" Lily terlelap dalam gendongan Suhail...!"


" Suhail, Kita akan mengantar Lily dulu kan??"


" Tidak , kita ke rumah orang tuaku dulu!"


" Ta...tapi ...!"


" Sudah ayo,...!" Mereka pun turun dari taxi dan berjalan masuk ke halaman Pratama.


Suhail dengan sabar menuntun Fathia berjalan, sambil menggendong Lily yang masih terlelap.


Ya mereka sampai pukul jam 7 pagi.


itu waktu santai untuk keluarganya apalagi di hari Senin ,biasanya Savina dan Julia tidak pergi ke toko.


( penyakit senin biasalah)


terlihat Savina dan Nathan berbincang sambil menikmati secangkir minuman, di depan teras, Julia menempel pada Savina dengan manja, sementara Putra sedang mencuci mobilnya di depan teras sambil berbincang hangat.


" Eh, itu siapa sayang, apa mereka itu ke sini mau minta sumbangan??" ujar Savina melihat seseorang yang masih jauh di depan gerbang.


" Mana mom??"


" Itu, tuh mereka kayakanya jalan ke sini!" sambil menyipit-nyipitkan matanya agar


tampak jelas .


" oh, Ya...aku sering melihat pemandangan begini mom di lampu merah, ada yang menggandeng ibunya yang buta, lalu meminta - minta di jalan, itu sepertinya tidak hanya membawa istrinya yang tapi juga anaknya, orang sekarang nekat-nekat ya mom?"


" Ya, tapi mau bagaimana lagi, apa-apa melambung tinggi, ya nasib orang kan beda - beda Jul, bentar mommy mau masuk dulu, ambil sembako buat mereka!" Savina berdiri.


" mom, ambilkan dompet Daddy sekalian!" pinta Nathan meskipun Nathan tetap fokus pada korannya namun dia menyimak pembicaraan anak gadis dan istrinya.


" Ok ok Dad!" Savina segera masuk ke dalam.


Tak lama Savina pun keluar, dengan membawa bingkisan besar berisi berasa gula minyak telur dan teh.


" Dad...ini dompetnya!"


Nathan meletakkan, korannya dan segera mengambil dompet dari tangan Savina, lalu melihat ke arah gerbang.


mata Nathan yang masih sehat, terbelakak.

__ADS_1


__ADS_2