
mata Diana terbelalak melihat penampilan Fahad yang seribu kali lebih dan lebih sangat tampan dari yang lalu.
namun Fahad terlihat sangat dingin sekali,
" Had, kenalkan ini Anna dan bibi Belle, bibi Belle belum bisa berbahasa lokal jadi tolong dimaklumi..." ujar Kenzo.
" Om kau mencarinya cukup jauh, terimakasih..."
Fahad melihat ke arah Diana, memastikan dengan pandangannya tentang ibu susu Dhiren itu.
" Selamat bekerja, tolong bantuanmu!" Fahad segera mengalihkan pandangannya.
"terimakasih tuan..."
" Mbak, tolong antar mereka ke kamarnya!" pinta Fahad pada mbak Zahra.
" Baik...." Mereka pun di antar oleh mbak Zara ke kamar mereka, namun saat Anna dan bibi Belle melewati Fahad.
" Berhenti...!!"
Dag dig dug....
jantung Anna semakin berdegup kencang .
Kenzo dan Tasya saling memandang
" Aku ingin menggendong anak itu!" ujar Fahad melihat Nora di gendongan bibi Belle.
" Apa??" Kenzo dan Tasya terkejut.
" Tidak tahu kenapa, rasanya aku menyukai anak itu!" ujar Fahad.
" Tapi dia perempuan!"
ujar Tasya.
biar bagaimanapun mereka berjanji agar tidak membuat Anna dan anaknya terekspos oleh Fahad.
" Jangan tuan, takutnya nanti mengompol, karena tidak memakai pampers "ujar Anna beralibi.
" sebentar saja...."
tidak tahu kenapa Fahad rasanya tertarik dengan bayi perempuan itu.
" Biarkan dia menggendongnya Anna..." Kenzo meyakinkan Anna , semuanya akan baik-baik saja .
Anna pun membiarkan bibi Belle memberikan Nora pada Fahad, yang sebenarnya adalah ayah biologis Nora.
Fahad segera mengambil alih Nora, Fahad sangat terkesima dengan rupa Nora yang sangat cantik,benar - benar anak yang sangat menggemaskan untuk Fahad, tanpa di sadari Fahad tersenyum melihat Nora.
" Cantik sekali anak ini..." ujar Fahad tersenyum sangat lebar, rasanya lebih gereget saat menggedong bayi perempuan itu, entah rasanya ada getaran yang membuat hati Fahad sangat hangat.
Fahad beberapa kali menoel hidung mungil bayi itu, tangan mungil Nora memegang telunjuk Fahad dengan erat.
melihat pemandangan begitu mengharukan ,Anna tak kuasa membendung air matanya.
" kenapa kau menangis aku hanya meminjamnya sebentar!" ujar Fahad yang melihat air mata Anna keluar.
" Maaf saya terlalu lelah tuan!"
" Hemmm aku kembalikan bayimu dan istirahatlah dengan baik, jangan lupa kau juga harus merawat putraku!"
" Baik tuan!"
" Mbak siapkan makan untuk mereka, dan Anggita tolong bantu ibu Susu Dhiren jika butuh sesuatu, aku akan pergi keluar sebentar!"
Fahad pun segera pergi .
__ADS_1
" ikatan batin mereka cukup kuat!" gumam Kenzo.
" Ya om, ...Fahad sangat lembut pada anak kecil, atau memang itu karena mereka ada hubungan darah??"
" entahlah, tugas kita sudah selesai...kita pulang yuk...!"
" Ya, ayo pulang om...oh ya, mampir dulu aku mau lihat Lister.."
" oh ya benar...aku juga mau lihat adik ipar dulu, kau dan adikmu jauh berapa tahun sayang??"
" hilih, jangan mengolokku om..."
akhirnya mereka pun berkunjung sebentar untuk melihat baby Callister, setelah itu mereka segera kembali karena Lily selalu mengomel jika lama di tinggal pergi oleh keduanya.
Di ruang bawah tanah.
" aggggggggggggghhhhh, aampun.....sakitttttt"
" tolong hentikan tolong hiks hiks, bunuh aku saja, bunuh .."
" aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagggghhh cukuppp tolong Had,aku tidak tahan lagi!"
" kau tahu apa kesalahanmu???"
"maaf ..."
" maaf katamu??, kau sudah menghancurkan hatiku, lalu kau menghancurkan hati kakakku, dan menjadikan keponakanku menderita, apa kata maaf bisa mengembalikan semuanya yang sudah kau perbuat??, haaaa???"
" Fahad jika kau tidak mau memaafkan aku bunuh saja aku Fahad...!"
" tidak, aku kan membuatmu menderita setiap hari...!"
" tidak tolong bunuh saja aku...."
" Obati lukannya beri dia minum dan makan, agar aku lebih semangat menyiksanya besok!"
" Baik tuan!" Fahad pun bergegas pergi dari ruan bawah tanah dan segera menuju kamarnya, namun terdengar suara tangis bayi dari kamar Anna.
tok tok tok
" Siapa yang menangis??"
" Nora tuan, ..."
" kenapa??"
" Saya tidak tahu..."
" letakkan Dhiren dulu, urus anakmu dulu...dimana Anggita??"
" Anggita sakit perut, masih di kamar mandi,..."
dengan perlahan Anna melepaskan asinya dari mulut kecil Dhiren, dengan posisi Anna membelakangi Fahad.
saat diletakkan di box bayi Dhiren menangis,
Anna bingung sekarang keduanya menangis bersamaan.
" Bibimu kemana??"
" Dia ajak belanja mbak Zara tuan...!"
" astaga... benar-benar " Fahad segera menggendong Dhiren dan mencoba menenangkannya.
" Kau urus anakmu dulu!" ujar Fahad
Anna segera menggendong Nora dan mencoba menyusuinya tapi Nora tidak mau dan terus menangis keras, begitu juga dengan Dhiren.
__ADS_1
" kenapa kau tidak bisa menenangkan. bayimu ??"
" Tumben juga begini tuan" Anna pun mulai panik dan bingung.
" Coba, gantian..."
Fahad meletakkan Dhiren dan mengambil Nora dari Anna, dengan sigap anak segera berbalik menyusui Dhiren, Dhiren pun langsung terdiam.
tak lama kemudian Nora juga diam berada di gendongan Fahad .
Anna menoleh sedikit kebelakang melihat apa yang dilakukan Fahad pada putrinya, ternyata Fahad menimang perlahan sambil menciumi pipi Nora dengan gemas.
Air mata Diana mengalir begitu derasnya hingga jatuh menetes pada wajah Dhiren.
Jika bukan karena Dhiren, Nora tidak akan pernah merasakan timangan ayah kandungnya, terimakasih Dhiren,...
dalam hati Anna .
Anna merasa bahagia Juga sedikit ketakutan,
bagaimana jika Fahad tahu dan mengambil Nora darinya, sekarang dia terlihat sangat tidak menyukai wanita .
" Memangnya di mana ayah Nora??"tanya Fahad.
Anna terdiam tak tahu harus menjawab pertanyaan Fahad seperti apa.
" Dia tidak memiliki ayah Tuan ..."
" oh maafkan aku, ternyata Nora juga anak yang malang...maaf sudah merepotkanmu, karena Dhiren sangat penting bagiku, tolong rawat dia seperti kau merawat putrimu"
" Baik..."
setelah Dhiren kenyang, Anna meletakkan Dhiren di box bayi dengan perlahan, lalu menghampiri Fahad dengan menunduk bermaksud mengambil Nora dari Fahad.
Fahad pun segera memberikan Nora pada Anna, namun ponsel yang ada di saku dada Fahad terjatuh.
" Ah, untung tidak menjatuhi Nora,..."
Anna segera mengambilkan ponsel Fahad, dan betapa terkejutnya Anna saat melihat gambar dirinya dan Fahad yang berada di atas ranjang saat itu menjadi wallpapernya.
" apa pecah??"
tanya Fahad.
" Tidak tuan,..."
jantung Anna semakin berdebar-debar.
" Apa ini foto ibu Dhiren tuan??" Anna ingin mendengar jawaban Fahad tentang dirinya.
" ah, bukan..."
"oh...saya kira dia ibu Dhiren, maaf tuan saya terlalu lancang .."
" Tak apa, dia seseorang yang tidak bisa kulupakan sampai sekarang, aku berharap dia menjalani hidupnya dengan baik... karena aku tidak tahu di mana dia sekarang, ambil Nora, jika kau lelah, panggil Anggita untuk membantumu..."
" Baik tuan... apa dia sangat berarti untuk tuan??"
" kau tidak ingin identitasmu di ketahui, kau memakai masker sepanjang hari, tapi kau ingin tahu banyak tentangku, itu tidak adil bukan??"
Fahad pun segera pergi.
" Nora, mama harus bagaimana??"
Diana merasa antara senang juga bingung, sebenarnya dia itu siapa untuk Fahad.
tapi Anna tetap kekeh untuk menutupi identitasnya, karena itu mungkin yang terbaik untuk keduanya.
__ADS_1
" Maaf Nora, mama tidak bisa memberitahu identitas kita, bagaimana jika dia meragukan kita ,itu akan menyakitkan, lebih baik begini saja, mama akan memberikan yang terbaik untukmu..."
Anna segera menidurkan Nora, rasanya sangat melelahkan menyusui 2 bayi sekaligus, Anna segera mengunci pintu dan melepaskan maskernya, dia pun ikut beristirahat, mumpung keduanya terlelap.