
" Abang, bagaimana?" tanya Cindy
" Ibu sangat keras kepala!" ujar Martin merasa gagal membujuk Vevey.
" Kalian jangan membuat mama kalian sedih lah!" Hiro merasa gelisah.
Brookkkkkkkkkkkk
Cindy memukul meja dan membuat semua terkejut .
" Uncle, ayo kita bekerja sama!" ujar Cindy.
" sudah ,sudah, sudah, uncle sangat berterimakasih dengan kalian yang mau menerima uncle, tapi tolong jangan paksa mama kalian!"
" kita harus selesaikan ini jika tidak maka jangan datang lagi ke rumah kami!" ujar Fahad mengancam.
Hirosan memegangi kepalanya,
" Kita ke ruangan atas, Abang seret uncle ke atas!" pinta Cindy.
" Hey, hey hey....kalian hey apa yang kalian lakukan?"
Fahad dan Martin menyeret Hiro ke lantai atas.
kemudian Hirosan di dudukan di kursi dan di ikat kuat, agar tidak bisa pergi.
" tidak perlu begini, aku juga tidak akan pergi!"
Hiro meronta - ronta.
" Lakban mulutnya!" pinta Cindy
" Hey anak nakal kalian, mmm,mmm ,mmmm" Aina sukses menutup mulut Hiro dengan lakban.
" Uncle, harus pura - pura pergi jauh meninggalkan kami !"
" Mmmm, mmm,mmm " Hirosan menggeleng kepala.
" Fahad anggukan kepala Uncle!"
" Maaf uncle!" Fahad menganggukan kepala Hirosan.
Astaga, mereka nakal sekali...
dalam hati Hirosan.
" Pokoknya, nanti Paman harus mengirim pesan pada mama, yang isinya seperti ini,
Vevey, maafkan aku karna memendam perasan padamu, dan tolong jangan marah pada anak - anak mereka tidak bersalah, aku akan pergi ,karna pasti membuatmu merasa tidak nyaman, maafkan aku ya Vevey...
Bye ...
Harus begitu, .....!"
" Cindy itu terlalu alay bukan sih?" tanya Martin
" Mmmm mmmm mmmm" Hirosan mengangguk setuju dengan perkataan Martin.
" Itu bagus!" Sahut Aina.
" itu terdengar seperti uncle meminta ampunan untuk kita pada mama??" Ujar Fahad berpikir.
" Ya kan sekalian dudul, ....!"
" Oh iya ya?"
" Jadi uncle kita kirim kemana ini?" tanya Martin
" Nah itu, kirim uncle ke Afrika!"
" What?????" semua terkejut.
"itu tidak seperti uncle Cindy!"
" Lalu kemana abang?"
" Pulangkan saja ke Jepang!!!"
" Ah benar, pesan tiket ke Jepang, sekarang...abang tetap awasi uncle ya ke sana!"
__ADS_1
Fahad memesan tiket pesawat secara online
" semua penuh, kak untuk hari ini dan besok!"
" Yah.....!"
semua merasa kecewa.
" kenapa tidak berpura - pura saja , uncle ke bandara!, sita ponsel uncle!"
" Uncle maaf!" Fahad merogoh kantong Hirosan.
" Uncle butuh koper tidak kakak?". tanya Aina.
" Butuh, ...!"
" Pakai koper Aina ya!"
" boleh!"
" Okey, Aina ambilkan!"
Aina turun ke bawah, untuk mengambil kopernya, kemudian naik lagi ke atas.
" Kakak ini kopernya!"
" Whattttttt???" Cindy terkejut.
" Kenapa?"
" Lupakan kopermu , bagaimana bisa kau menyuruh uncle memakai kopermu berwarna pink dengan gambar LoL!"
" Sudahlah,sultan tidak perlu membawa apa - apa!" Ujar Martin.
" Benar, jadi abang dan Fahad membawa uncle ke Bandara, lalu mengirim pesan pada mama, aku akan memantau mama!, dan mengikutinya diam - diam dan akan memberitahu kalian jika ibu berangkat,!"
" di mengerti!"
" Baiklah,kita akan gantian berjaga kita tidur di sini tetap ikat uncle!"
" tapi kasihan uncle loe!" ujar Aina.
" Setuju!!!"
" Fahad dan abang yang jaga, aku dan Aina tidur dulu!, sini Aina kita tidur!"
" Baik, salamat malam..."
" Jadi jam berapa kita bergantian?" tanya Fahad
" Jam 1 ya!" jawab Cindy.
Cindy dan Aina pun terlelap,...sementara Fahad dan Martin masih terjaga.
Pukul 3 pagi
" Kakak bangun!" Fahad membangunkan Kedua kakaknya.
" Jam berapa ini ?"
" 3 pagi!" jawab Fahad sambil menguap.
" Oh kenapa jam segini??? kan jam 1 aku minta dibangunkan!"
" Ya Abang melarangku membangunkan kalian!" Jawab Fahad.
" Ah, kalian tidak tidur dong?, kalau begitu kalian cepat bawa uncle keluar dulu sebelum mama bangun!, aku akan melihat situasi dulu!" Cindy pun turun ke bawah perlahan
dia melihat situasi sangat aman ,dan segera menelpone Martin, Martin dan Fahad pun segera membawa Hirosan ke mobil dan membawanya ke Bandara.
" Aina kau menunggu di mobil saja dulu , aku akan memastikan mama sudah bangun belum!"
ujar Cindy, Aina pun segera menuju mobil dan dengan patuh menunggu di dalam mobil Cindy.
Cindy membuka pintu kamar Vevey perlahan, ternyata mamanya sudah bangun dan sedang mandi.
Cindy segera menyusul Aina, dan mengirim pesan pada Martin, jika sudah sampai langsung memintanya bertindak.
" Mama sedang mandi, jika sudah sampai segera kirim pesan untuk mama memakai ponsel uncle!"
__ADS_1
setelah menunggu setengah jam Martin baru membalas pesan dari Cindy.
" Okey, Fahad sedang mengirim nya!"
Balas Martin.
Cindy meletakkan handphonenya dan fokus ke depan, hatinya berdebar, bagaimana jika mamanya tidak peduli dengan uncle Hiro.
" Kakak, kenapa?"
tanya Aina.
" Aina bagaimana jika mama benar - benar tidak menyukai uncle Hiro? kasihan sekali uncle!"
" Semoga mama memberikan kesempatan pada Uncle kakak!"
" Yayay, aku menjadi gugup...!" Ujar Cindy tak tenang.
Cindy masih menunggu, dengan sungguh - sungguh matanya Fokus pada pintu utama rumahnya.
" Itu....itu ...oh itu mbak Zara" Cindy merasa kecewa karna mbak Zara yang keluar.
" Kenapa mama lama sekali, apa dia tidak melihat ponselnya??" gumam Cindy
" mungkin bisa jadi!"
" Lalu bagaimana ini??"
" Kita tunggu saja sampai mama keluar!"
" ini sudah 45 menit loh...!" Cindy sudah putus asa
" Aku akan mengabari abang jika mama tidak peduli dengan uncle"
" Yaaaaa, tunggu sebentar lagi kakak!" Aina masih berharap.
" Tidak..."
" Itu mama, keluar hanya dengan handuk kimono saja dan jaket, menuju garasi!" ujar Aina menunjuk ke depan.
" Gilaaaaaa, mama begitu saja sangat cantik ya??"
" Kakak, kita harus mengikuti mama , jangan salah fokus !" Aina mengingatkan
" Oh ya, cepat telpon abang, jangan di matikan kita harus berkomunikasi sampai mama bertemu dengan uncle Hiro!"
" Terlihat Vevey dengan buru - buru masuk ke dalam mobil dan ...."
Vroooooommmmmm vroooooommmmmm...
Mobil Vevey melesat cepat.
" mama jiwa pembalapnya tidak pernah luntur!, mama ini sangat keren, bagaimana bisa uncle Hiro ini memendam perasaan begitu lama, benar - benar payah!"
Cindy mengikuti mobil Vevey yang melaju sangat cepat, mau tidak mau dia juga harus mengikuti mamanya dengan kecepatan yang seimbang namun tetap dengan jarak aman.
" Waaaaaa.... kakak aku belum mau mati, toko bungaku baru dibuka!" Teriak Aina ketakutan sambil menggengam ponsel erat - erat.
" Kita akan tertinggal, ini arah ke Bandarakan ?, mantap! uhuyyyy" Cindy sangat kegirangan.
" Kakak tolong Fokus!, abang Aina takut, kakak mengemudi sangat cepat!"
Aina mengadu pada Martin.
" Kau harus tenang Aina, jangan membuat kakakmu kehilangan kendali!"
" Mmmmm..." Aina menurut dan menahat ketakutannya, jantungnya berdebar sangat kencang.
tidak sampai 30 menit mereka sampai di bandara, Cindy mengambil ponsel dari tangan Aina.
" Mama masuk, mama masuk!" ujar Aina.
"Martin dan Fahad melepas Hiro dan memberikan paspor dan tiket pesawat, mereka segera bersembunyi dengan aman.
Hirosan kebingungan, dia harus bagaimana,
Oh, anak - anak membuatku dalam masalah.
Hirosan menghirup nafas panjang.
__ADS_1