
" Nona...apa anda tidak ingin berangkat??"
" Tidak, mereka akan mencari gara-gara lagi pasti hari ini!"
" Saya akan temani dan menjaga anda di depan kelas!"
" Nanti kau juga akan kena masalah!"
" Apa anda sering di bully??"
" Ya!"
" sekarang sudah ada saya, anda tidak akan terluka lagi...!"
Fahad menarik tangan Diana untuk berdiri, Diana sudah berdiri namun engga. melangkah.
" Apa kaki anda masih sakit??"
" Ya...memangnya aku limbat??"
Fahad langsung menggendong Diana dan segera membawanya ke mobil dan segera mengantar ke sekolah, Fahad pun ikut masuk dan berjaga di depan pintu kelas, saat istirahat pun Fahad berdiri setia di samping Diana saat makan di kantin.
Diana tidak memiliki teman satu pun di sekolah, anak itu tetap cuek makan meskipun sekelilingnya membicarakannya.
" Fahad aku sudah kenyang!" ujar Diana yang terlihat makanannya hanya berkurang sedikit.
Fahad memapah Diana kembali ke kelasnya, dia tahu Diana akan malu jika dia menggendongnya.
" Apa pelajaran anda berjalan dengan baik??" Tanya Fahad.
" Ya...kenapa kau sangat peduli padaku?? jangan terlalu peduli padaku, mamaku sangat peduli padaku saja tega meninggalkan aku selama-lamanya!"
" Papah saya juga sudah pergi untuk selama-lamanya di usia ku yang masih sangat kecil!" Ujar Fahad.
" Benarkah??"
" Ya...nona anda bukanlah satu-satunya orang yang menderita di dunia ini!"
" Apa kau dulu pernah mengalami hal seperti ku di sekolah?"
" tidak tapi kakakku yang kedua pernah mengalaminya...!"
" Lalu kau melindunginya??"
" Ya, aku dan sepupu ku melindungi kakakku!'
Diana tersenyum mendengar cerita Fahad.
Andaikan aku juga punya saudara...
dalam hati Diana.
" Nona masih ada satu jam pelajaran, semangat ya!, saya akan menunggu di depan kelas!"
" Ya!"
Fahad menunggu Diana Sampai jam pelajaran pun selesai.
Bel sekolah pun berbunyi menandakan pelajaran telah usai.
Fahad menunggu semua teman kelas Diana keluar lebih dulu, hingga hanya tersisa Diana di dalam kelas.
" Nona, apa ada yang sulit dalam pelajaran anda??"
" Tidak ada...!"
Fahad membantu Diana mengemasi buku - bukunya dan memasukannya ke dalam ransel Diana, lalu membawa Ransel Diana di punggungnya.
" Mari nona pulang!"
Fahad segera memapah Diana berdiri.
" Og og...si pincang masih di sini... dan bodyguard nya yang tampan?!!!"
Gadis yang kemarin menggaggunya, kini datang bersama bodyguardnya juga ,Namun gadis itu membawa 4 bodyguard sekaligus.
__ADS_1
" Hehehehehe urusan kita belum selesai Diana!"
" Apa maumu...aku tidak pernah mengganggumu!"
" Hahahah kau sudah mengganggu pacarku, sampai dia mengejarmu!"l
" itu bukan salahku, aku tidak pernah menggubris pacarmu!"
" Tapi karena kau dia jadi meninggalkan ku!"
" Nona, bukankah nonaku sudah jelas mengatakannya, pacarmu bukan levelnya!"
" Oh lalu bagaimana levelnya?, apakah bodyguard rendahan sepertimu??"
" Tutup mulutmu!, jangan pernah merendahkan orang ku!" ujar Diana kesal, selama ini dia hanya diam tidak pernah menggaggu siapa pun tapi kenapa semua orang menggaggunya
" memang rendahan!, kalian hajar bodyguard itu dan beri pelajaran pada wanita ****** ini!" perintah winda.
"jangan harap kalian berani menyentuh nonaku...!" Fahad menghalangi Diana.
ke dua bodyguard itu menyerang Fahad dan 2 lainnya segera menarik Diana.
" Aggggggg....!"
booooookkkkkkkk
Fahad terkena pukulan karena tidak fokus.
Bodyguard Windy memang berbadan lebih berisi dari Fahad dan sudah berumur matang, kekuatannya lebih besar dari Fahad yang masih bertumbuh itu.
bakkkk booookkk...
Fahad pun tak kuasa menahan pukulan bertubi-tubi itu,
" Hahahah idiot, mencari bodyguard hanya melihat tampang saja memang orang miskin!" ujar Windy meremehkan.
" nikmati saja ****** itu, aku akan bertanggung jawab!" ujar Windy.
" Tapi non...!"
Fahad berpura - pura tidak sadarkan diri agar kedua orang itu berhenti memukulinya.
Diana hanya memejamkan mata, memang dia tidak bisa mengandalkan siapa pun di dunia ini, jika boleh memilih jika hari ini berakhir tidak baik, dia ingin mengakhiri hidupnya dan menyusul sang mama.
Saat kedua bodyguard yang memujukulinya lengah , Fahad segera terbangun dan mengambil bangku di dekatnya dan menghantam kan kursi itu di kepala keduanya dengan dua kali ayunan.
dengan sekuat tenaga Fahad menambahkan tendangan di dada keduanya.
" Oh tidak...!" Windy terkejut karna Fahad menyergapnya.
" Lepaskan nonaku, atau nonamu akan terluka!"
kedua bodyguard itu segera melepaskan Diana...
" Nona ayo sini datang padaku...!" ujar Fahad sambil menyeret Windy keluar.
Kedua bodyguard itu berjalan mengikuti Fahad keluar
" Nona, tahanlah sampai di parkiran!, dan segera masuk ke dalam mobil jika sudah sampai parkiran...!"
ternyata sekolah itu sudah sepi,
Diana segera masuk ke dalam mobil,
" Kalian tetap jauh di sana jika ingin aku melepaskan nona kalian!"
Kedua bodyguard itu menghentikan langkahnya, Fahad berjalan mundur dia masih memegang Windy, setelah sampai ke pintu mobilnya Fahad mendorong Windi sampai jatuh tersungkur, Fahad segera masuk ke mobil dan segera melaju pergi meninggalkan sekolah gila itu.
" Nona aku akan melaporkan pada Tuan tentang ini, ini tidak bisa dibiarkan!"
Fahad tahu mereka anak orang berada hal seperti itu tidak akan ada tindakan yang adil dari pihak sekolah, uang akan beribicara dalam kalangan atas.
Diana hanya terdiam, dia meratapi nasibnya yang kelam, jika dia boleh memilih ingin dilahirkan dikeluarga biasa namun, tidak sepeti sekarang dia dari kecil sudah busung ayah, dan tiba-tiba ibunya tiada, dunianya seakan gelap tak bercahaya, kemudian ayahnya mengajaknya pindah di kota itu agar Diana tidak teringat oleh ibunya namun ternyata itu menjadi permasalahan baru yang lebih menyakitkan untuk Diana, karena Diana tidak dekat dengan ayahnya, dia hanya mengenal ayahnya yang hanya seliweran di depannya dengan seragam dinasnya, sejak kecil ayahnya hanya menyapa saja tidak pernah bertanya tentangnya tidak pernah ada waktu bermain dengannya tidak ada kenangan indah dengan ayahnya, semua hanya tentang ibunya, sehingga dia tidak tahu harus bagaimana karena teman berceritanya sudah tidak ada lagi.
" Nona sudah sampai...!"
__ADS_1
" Oh...ya...!" Fahad segera turun dan membuka kan pintu mobil untuk Diana.
" Oh nak, Fahad ada apa denganmu?" penjaga itu terkejut melihat wajah Fahad babak belur.
" Heheh tidak apa-apa pak...nona ayo...!" Fahad masih bisa tersenyum saat memapah Diana.
Fahad memapah Diana sampai ke kamarnya
" Nona selamat beristirahat!"
"Fahad ...!"
" Ya nona...!"
" Tolong ambilkan kotak obat itu...!"
" Oh iya, saya lupa...saya akan mengganti kasa nona!"
Fajad mengambil kotak obat itu kemudian berjongkok .
" Duduklah di sini...!"
" Ha??"
" Apa kau tidak mendengar perintah ku??"
" Oh baik!" Fahad tahu tanpa nama orang tuanya dia bukanlah siapa-siapa, dia sangat patuh dengan perintah nonanya, padahal dia adalah tuan muda di kediaman Pratama.
Fahad segera duduk di samping Diana
Dianan mengambil kapas dan membersihkan wajah Fahad dengan alkohol.
Luka itu tidak berasa, baginya itu hanya luka kecil saja.
" Apa sakit??"
" Tidak nona!"
"Apa kulitmu badak??"
" bisa jadi!" Fahad merenges
" Terimakasih...!"
" Sama-sama!"
" Fahad, katakan pada ayahku aku mau home schooling saja...!"
" oh baik!" Fahad heran kenapa Diana tidak bicara sendiri pada ayahnya, namun Fahad tidak begitu peduli.
Diana perlahan mengobati luka Fahad, gadis yang terlihat sadis dan perusuh itu ternyata memiliki sisi lembut dan telaten, Fahad yang melihatnya sampai tertegun.
" Apa wajahku ada kotorannya??"
" Tidak, nona anda sangat cantik!" sambil memalingkan wajahnya, tanpa sadar Fahad memuji kecantikan Diana.
" aku tidak punya uang untuk memberimu upah memujiku!" ujar Diana tersenyum tipis.
Haaa?? apa aku tadi memujinya
Fahad yang lupa dengan ucapannya sendiri.
Tapi memang Diana sangat cantik, pantas saja kakak kelasnya cemburu padanya.
" Sudah selesai!"
" Terimakasih nona...saya akan menemui tuan segera dan berbicara pada tuan!"
" Ok!"
Fahad pun pergi, Diana melihat telapak tangannya yang baru saja memegang wajah Fahad itu.
Apa dia perawatan, gila wajahnya mulus sekali padahal sia laki-laki kenapa bisa sehalus itu...apa indra perabaku yang tidak normal?
dalam hati Diana keheranan.
__ADS_1