GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
114. Ketahuan lagi


__ADS_3

" Sayang, setelah ini aku ingin mengajak Sansan membeli beberapa perlengkapan untuk sekolah barunya!"


" oh tadi kenapa anaknya tidak di ajak sekalian?"


" Dia lagi asyik lihat Drakor kan tadi?"


" Oh anak itu suka berubah-ubah...!"


" Masih labil sayang,...!"


" Kadang pendiam... kadang terlalu rame,dia seperti memiliki 2 kepribadian!"


Mereka memang 2 orang yang berbeda...


dalam hati Chiko.


" Ya sudah, cukup...ini dulu saja...nanti keburu malam, toko mana yang buka?"


" Ah, istriku sangat pengertian!"


Setelah menemani Sasha belanja, Chiko segera membawa Santan Kara ke Apartemen.


mereka segera berganti posisi...


" ehmm...Sansan...apakah di sini ada laptop dan Wifi??"


" ada, kenapa?"


" Aku tadi tanggung sekali lihat Drakornya!"


" Ahhhhh...pakailah...pakailah!, disana...!"


" Terimakasih Sansan...!"


" Hmm, ayo om...!"


" Ya, Dai kemana?"


" Bascamp!"


" Oh, baiklah....!"


mereka pun segera pergi


" Nona, kita ke toko alat tulis dulu beli beberapa perlengkapan, tadi alasanku mengajak santan kara keluar ,untuk membeli perlengkapan!"


" Oh ya baiklah!"


Setelah membeli beberapa alat tulis, Chiko segera membawa Tasya kembali ke rumahnya.


Saat mau turun Tasya melihat natali, sedang berbincang dengan Zayn di taman.


" apa yang mereka bicarakan?" gumam Tasya


Natalie yang melihat Tasya turun segera menghampiri.


" Sansan, ayoo...kau dari mana saja??"


" Ha??" Tasya kebingungan


" Ayo kita lihat konser, aduh kita sudah terlambat!"


menarik - narik lengan Tasya


" Konser apa woyy!!"


" Lah...kau ini baru tadi siang kita bicarakan kok sudah tidak ingat!"


Tasya meminta penjelasan pada Chiko,


Chiko membisikan pada Tasya,


" Aku kurang enak badan, jadi kau menontonlah sendiri!"


" Eh kok gitu, kita kan mau nonton bertiga?"


" bertiga, dengan Aina... sebentar lagi Aina keluar!"


" Oh Tuhan, cobaan apalagi ini yang kau berikan???" Tasya memegangi kepalanya.


Tak lama Aina keluar,


" Sansan...kau kenapa lebih tinggi dan terlihat segar?"ujar Aina


" Oh, saudariku....!" Tasya memeluk Aina yang baru keluar.


" Kau kenapa?, aneh sekali?"


" sudahlah ayo berangkat!"


" Kalian saja ya, yang berangkat aku di rumah!"


" Tidak , tidak ayo ikut!"Aina dan Natali menarik Tasya masuk ke dalam mobil, dengan wajah terpaksa Tasya mengikuti kemauan 2 saudarinya.

__ADS_1


Chiko malah tertawa melihat ekspresi wajah Tasya .


" Ayah, aku pergi...apakah kau ingin melarang ku karena sudah malam?"


ujar Tasya meminta bantuan.


" Berangkatlah, tiket yang di beli tidak murah, jangan membuang sia - sia!"


" Ayah,...!"


"Zayn, cepat berangkat!" Ujar Chiko, Zayn pun segera melajukan mobilnya.


mereka pun pergi melihat konser bersama, Aina dan Natali sangat bahagia, sementara Tasya sangat tertekan.


" Sampailah mereka di tempat konser itu diselenggarakan, Zayn pun terpaksa ikut masuk agar bisa mengawasi anak-anak lebih jelas.


Aina dan Natali sangat bersemangat selama Konser berlangsung, sementara Tasya malah tidur ditengah keramaian.


" Pffffftttttttt!"


Zayn menahan tawa melihat Tasya yang tertidur sampai mulutnya ternganga, karena terlalu pulas.


setelah melihat konser selama 3 jam, akhirnya selesai lah mereka.


" Nona, nona....!" Zayn membangunkan Tasya yang masih tertidur.


" Apa??, Sansan kau tidur??" Aina sangat terkejut


" iya Sansan bukankah paling semangat tadi siang??"


" Dia ada masalah apa sih??" Aina sangat keheranan.


" oiii Sansan bangun!" teriak Aina ditelinganya.


Tasya terbangun, karena terkejut.


" Ohmmm, sudah selesai?, ayo pulang!" Tasya segera berdiri dan pergi mendahului.


Aina dan Natali saling memandang,


Zayan setia mengikuti Tasya


Nona, ini berbeda dari biasanya, apa ada yang aneh?, aku akan bertanya pasa Chiko nanti dalam hati Zayn.


mereka pun pulang, namun saat dal perjalanan ponsel Aina berbunyi.


" Aina, apa kau bersama om Zayn?"


" Ya, kak...ada apa??"


" Oh sebentar ya kak!"


" om, ban mobil kak Cindy bocor!"


" Di mana dia?" Tanya Tasya khawatir.


" Di dekat restonya...!"


" Om, cepat kesana om!" pinta Sansan.


Zayn segera melaju ke arah yang dimaksudkan Aina.


setelah 30 menit mereka pun sampai, terlihat Cindy sedang berjongkok di depan mobilnya.


Tasya segera turun menghampiri Cindy, yang diikuti Zayn dari belakang.


" Cindy, kenapa tidak telpon montir saja sih??"


ujar Zayn.


" aku mana tahu nomor montirlah om!" jawab Cindy.


" Kakak, apa ada Ban serep?" tanya Tasya


" ada San, di belakang, ada kunci lengkap juga ,tapi aku mana bisa!, om cepat gantikan ban mobilku!" pinta Cindy.


" Aku tidak ada keterampilan begini...!" ujar Zayn


" Lah, gimana sih om...masak gak bisa!" sahut Aina.


" Aku telpon montir dulu lah bentar!" ujar Zayn


" Lama, keburu malam, kak Cindy sudah lama pasti menunggu di sini, biar Sansan saja, om cepat bawa sini alat juga bannya!"


" hei jangan bercanda!"


" Iya San, jangan bercandalah!" Sambung Aina


" Cobalah,...!" Ujar Cindy yang mulai memperhatikan Tasya.


" Kira - kiralah, kalau bercanda!" ujar Zayn sambil menguluarkan ban dari bagasi


setelah semua di keluarkan Tasya segera mengganti ban mobil itu dengan sangat cepat dan tepat.

__ADS_1


"Selesai tuan putri, silahkan anda bisa melanjukan perjalanan!"


Semuanya sangat takjub melihat Sansan yang biasanya terlihat lemah, hari ini full power.


" Oke, kalian pulang lebih dulu, biar Sansan pulang bersamaku!"


" Oh ya!, ayo cepat keburu malam!" Zayn segera kembali masuk ke dalam mobil diikuti Aina dan Natali, mereka masih merasa heboh dengan keterampilan Sansan.


" Sansan...aku lelah apa kau bisa menyetir?" ujar Cindy


" Tentu saja, serahkan padaku tuan putri!"


Dengan sangat percaya diri Tasya mengemudi untuk Cindy dengan aman,nyaman .


Dalam perjalanan Cindy banyak memberi pertanyaan kepada Tasya.


" Sansan, lama sekali kita tidak berbincang, aih...saat kau dalam mood baik akan memanggilku tuan putri atau Dewi kwam in, tapi saat kau marah padaku kau pasti memanggilku.....??"


" Tukang Cendol dawet Limaratusan hihi!" Sahut Tasya sambil terkikik yang tanpa sadar dia sudah terciduk.


" Lalu kau suka memangganti nama Aina dengan apa sih, kok lupa ya?"


" Ainul, tak ginul ginul...!"


"Hahahahahah.....!" Keduanya tertawa bersama.


namun tawa Cindy menjadi berbeda.


" Hahahahhaha, hak huk huk hahahah hukhuk...!"


melihat Cindy terisak-isak Tasya menepikan mobilnya, lalu menepuk punggung Cindy perlahan.


" Apa kau merindukannya??"


" Huhuhuh, siapa yang kau maksud?"


" Martin?"


" Huhuhuhu,itu memang iya...tapi aku lebih merindukan orang lain lagi , hik hik dan dia mencoba membohongi ku!"


" Siapa?, kurang ajar sekali dia!"


" Ya, apa kau mau memukulnya untukku??"


" Tentu saja, ...ayo beritahu aku orang nya!"


" Baik!" Cindy segera mengeluarkan ponselnya, lalu mengarahkan layar ponselnya pada Tasya.


" Lihat ini dia orangnya!" ujar Cindy.


namun Tasya malah bingung, dan sedikit menahan tawa


" Kenapa tertawa?, ayo hajar orang ini!"


" hahah sepertinya kau salah tekan ke kamera , aku tidak melihat gambar siapapun kecuali wajahku sendiri!"ujar Tasya yang masih tertawa, namun seketika Tasya tersadar.


" Hei kakak mau memukul aku??,aku membohongi yang bagian mana?"


Cindy mendekati wajah Tasya yang meminta penjelasan.


" Ayolah, bukankah kau tahu aku ini memang palsu??"


Cindy langsung menarik telinga Tasya mendekat padanya.


" Kau sejak kapan tiba??" ujar Cindy.


" Apa maksudmu kaka?, kita kan tetanggaan!"


" Sansan palsu tidak akan tahu panggilan masa kecil kami!" masih menjewer telinga Tasya.


" Apa sangat jelas?, padahal aku masih belum ingin menunjukkan diriku!"


Cindy segera menarik Sansan Asli dan memeluknya...


" sangat jelas, karena Sansan palsu sangat lemah, dan tidak bisa mengemudi ,Aku apakah orang pertama yang menyadari mu??" ujar Cindy senang bercampur tangis harus bahagia.


" oh kakak rupanya mengetes ku, tapi sayang sekali, kakak orang ketiga!" jawab Tasya


Cindy memukul pundak Tasya kesal,


" Kemana saja kau ini, kemana saja, aku sangat merindukanmu, ternyata benar kau akan baik-baik saja karena kau adalah anak dari om Bram dan tante Sasha!"


" Aku berkeliaran kemana saja, karena aku sudah ketahuan oleh, kak Cindy ,om Chiko dan Dai, sepertinya aku harus pergi, karena tugasku belum selesai aku haru pergi mencari Juno dan Renata!"


" aku tahu... carilah mereka dan bawa pulang mereka, lalu berikan hukuman yang hebat!" Ujar Cindy.


" Apa kau kecewa dengan Martin?"


" Jangan bahas dia lagi , kita pulang, malam ini kau tidur denganku ya!"


" Baiklah, aku akan meminta ijin bundaku dulu!"


Tasya segera melajukan mobilnya kembali menuju kediaman Pratama.

__ADS_1


Author...


Hayooo likenya y


__ADS_2