
" Mas Fannan..."
" Ya Cindy...."
" Mas maaf ya karena Cindy sekarang tidak ada waktu buat makan siang sama mas...!"
" Cindy aku tahu kau kembali pada Martin"
" Apa??" terkejut namun hanya sebentar karena itu hal yang tidak sulit untuk Fannan untuk mengetahuinya.
Cindy tertunduk merasa tak enak hati
" Tak apa Cindy, mas akan mendukungmu, apapun itu pilihanmu"
" Mas..."
" Jangan menampakan wajah seperti itu, kita itu teman bukan?, jangan menganggapku seperti orang lain"
" Mas Fannan terimakasih!"
" Untuk apa??"
" sudah mau mengerti Cindy, bahkan Cindy tidak berani mengatakannya pada keluarga Cindy!"
" Aku mengerti alasanmu Cindy, oh ya bagaimana dengan Fahad??"
" Ya acara lamarannya sudah beres, entah kemarin papah mengomel karena keluarga Yuna, tidak bersiap malah baru bangun tidur...!"
" Ha???"
"Iya, aku tidak pernah melihat papa Hiro kesal baru kemarin aku melihat papah kesal"
" Lalu bagaimana dengan mamamu??"
" Tapi mama biasa saja, malah dia menceritakan jika saat di lamar mendiang papahku mama masih tidur nyenyak katanya!"
" Wah mamamu barbar juga ya??"
" Ya, begitu...mama itu..."
" hahaha keluarga yang unik... jadi kapan kira-kira Akan di adakan pernikahan?"
" Kata Fahad kemarin sepulang melamar ibu Yuna segera menelpon dan mereka menentukan pernikahan itu 3 minggu lagi..."
" Kedengarannya sangat tergesa-gesa ya??"
" Ehmmm anak itu sudah kepentok sama gadis itu, apa boleh buat sih..."
" Ya, lebih cepat lebih baik jadi aku masih sempat datang, ..."
" Mas mau kemana sih??"
" Aku ada tugas di luar pulau Cindy, ..."
" Kapan kembali??"
" Tidak tahu pasti, akan lama mungkin"
" Yah, mas jauh dong dari Cindy..."
" Ya, maaf ya... temenan kita LDR dulu"
" Hahahahah, iya iya...sering kabar - kabar
ya mas!"
" Tentu saja, kau juga harus bahagia ya Cindy..."
" Tenanglah, dia akan bahagia denganku"
" Abang ...." Cindy terkejut dengan kedatangan Martin namun tidak dengan Fannan yang tahu jika Martin mengikuti mereka sejak tadi.
" silahkan duduk tuan" ujar Fannan dengan santai.
" Ya, ...."
Martin pun duduk di samping Cindy dan langsung menggenggam tangan Cindy.
" Abang, kok tahu Cindy di sini "
__ADS_1
" Kebetulan lewat saja..."
" oh, ..." Cindy mengangguk meskipun dia tahu pasti Martin mengikutinya.
seketika menjadi hening karena kedatangan Martin.
" Cindy, setelah selesai makan aku pamit ya??"
" Oh, ya mas..."
Fannan pun segera menyelesaikan makanannya setelah selesai Fannan segera berpamitan.
" Abang, ada apa??"
" Tidak apa-apa kau cantik..."
" Hilih,...."
" ayo selesaikan makanya lalu ke apartemen, aku merindukanmu" bisik martin dengan senyum mesumnya
" Tidak mau..."
Martin mengambil tas Cindu yang berada di meja dan menarik Cindy pergi meninggalkan restoran itu.
" Abang,..." Karena Martin sangat kuat Cindy tidak bisa melepaskan diri, Martin segera mendudukan Cindy di mobil, begitu juga Martin dan segera melaju menuju Apartemen yang tak jauh dari restoran.
" Abang,..."
" ayo jalan apa aku gendong??"
" Ih nyebelin" Cindy segera keluar mobil dengan sendirinya dan segera masuk ke lobby apartemen dan menuju lift ke lantai 7
Martin sangat senang, melihat Cindy sangat kesal padanya.
tanpa mereka sadari ada sepasang mata memperhatikan mereka.
" Sayang, jangan ngembeklah..."
" abang nyebelin sih..."
Martin menangkap pinggang Cindy agar merapat padanya
Mereka berdua pun masuk ke dalam apartemen.
Tanpa basa basi Martin segera menyambar bibir indah berwarna peach itu .
" Abang, apa tidak apa-apa seperti ini ??"
" Tidak apa-apa kita sudah dewasa, hanya saja aku tidak bisa menunggu lebih lama "
" Bagaimana jika Cindy hamil??"
" Itu buah cinta kita, tentu saja aku akan bertanggung jawab penuh padamu dan buah cinta kita..."
" Abang, ..."
" Ya sayang??"
" Cindy akan membuat mama sedih jika Cindy hamil di luar nikah..."
" kalau begitu, biarkan abang berbicara dengan mama soal hubungan kita, agar kita bisa menikah!"
" jangan...."
" Jika begini maka kau akan hamil diluar nikah,... bagaimana??"
Martin mencoba membujuk kekasih hatinya, sebenarnya dia sangat ingin meminta restu pada Veve dengan segala resikonya namun Cindy sangat takut, jadi rencana kedua Martin memang harus membuat Cindy hamil di luar nikah agar mau tidak mau mereka akan mendapatkan restu, meski resikonya lebih berat.
" ehm....ya berikan Cindy waktu, dan bisakah abang menggunakan pengaman, agar tidak hamil dulu??"
" Itu tidak nikmat Cindy, aku tidak suka membuang calon bayi kita, siapa tahu diantaranya yang terbuang adalah calon genius ...kan sayang..."
" ih abang ...."
Martin meraba ke dalam dress Cindy Martin memulai aksinya.
" abang...ah ..."
" Kenapa kau sangat cantik, aku tidak akan bisa menahannya saat berada di dekatmu"
__ADS_1
" Abang, kita hampir melakukannya tiap hari, Cindy takut abang bosan"
" Mana ada yang begini bosan, tidak akan..."
" Sungguh tidak bosan??"
" Tidak, aku tidak akan bosan padamu, aku melakukannya pertama denganmu, dan kau itu yang pertama dan terakhir untukku..."
" Aku juga pertama dengan abang!"
" Ya aku tahu, dan aku sangat bahagia, karena kau sangat pandai menjaganya"
" Mana ada , nyatanya sudah abang rampas"
" Hehehe, ya itu memang untukku, aku tidak mengijinkan siapa pun mendapatkan kegadisanmu"
Martin ******* bibir Cindy lebih ganas, keduanya kini mulai menyeimbangi permainan panas di atas ranjang.
...----------------...
Mansion Alexcey
" Nona, apa yang anda lakukan??"
Fahad yang baru bangun melihat nonanya sudah berada di atas tangga besi.
" Lampunya mati Fahad aku mau menggantinya!"
" Kenapa tidak membangunkan Fahad??"
" Ah, ini perkara kecil, ahhhhhh... laba-laba"
" Awas nona!" Dengan sigap Fahad menangkap Diana yang tergelincir dari tangga besi.
"Nona anda membuatku takut"
" Ah, selamat... terima kasih Fahad, turunkan aku..."
Fahad segera menurunkan Diana dari gendongannya.
" Biar saya saja nona, ..." mengambil bolam di tangan Diana dan segera naik dan menggantinya.
Namun karena nyawa Fahad belum genap dia tidak menapaki anak tangga besi dengan tepat sehingga Fahad pun terpeleset jatuh kebawah.
" Oh...."
Bug....
" Ah...astaga, kenapa tidak sakit..." Fahad membuka matanya betapa terkejutnya ternyata Fahad jatuh di atas Diana tanpa sengaja bibir mereka saling menempel, mata mereka terbelalak saling memandang dan saling mencoba untuk memahami apa yang terjadi.
Fahad tersadar dan segera mengangkat kepalanya, namun dia sangat terkejut lagi saat mendapati tangannya yang memegang bolam lampu tadi sudah beralih pegangan di bolam squeshy milik Diana.
" Damn,...!" Dengan wajah panik Fahad segera mengangkat tangannya,
Diana masih terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi.
" Nona, saya...saya...minta maaf saya tidak sengaja...nona anda bisa menampar saya...atau memukul saya..."
Fahad terlihat panik sekali.
Diana pun sudah mulai memahami situasi yang terjadi.
" Fahad bisakah kau membantuku bangun lebih dulu??!"
" ah baik-baik..." Fahad segera meraih tangan Diana untuk membangunkannya.
" Nona saya sungguh minta maaf, adakah yang terluka??"
" Tidak, ternyata kau cukup berat!"
" nona maaf Fahad sungguh tidak sengaja!"
" Ehm.... terimakasih sudah membantu, aku akan siap untuk home schooling dulu " Diana segera masuk ke dalam kamarnya
Diana memegang bibirnya, dan juga squeshy yang di pegang oleh Fahad tadi.
" Ciuman pertamaku" Guma Diana masih syok.
begitu juga dengan Fahad,
__ADS_1
" Astaga, aku malah mencium nona tanpa sengaja, aha Fahad, sepertinya kau kehilangan ciuman pertamamu..." Gumam Fahad merasa kesal pada dirinya.