
setelah sampai di rumah sakit Anna dan Fahad segera masuk ke igd.
" Maaf bu ...anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk...!"
" tapi...pak .."
" Sayang, masuklah lebih dulu...biar Nora bersamaku di luar!" Fahad mengambil Nora dari Anna, Anna pun segera masuk ke dalam dan mencari di mana keberadaan Dhiren.
" Dhiren...Dhiren...mama datang..." Anna mencari di bilah bilah tirai.
" Anna di sini..." panggil Fannan.
Anna segera berlari pada Fannan,
" Kak...dia mana anakku???"
" Di dalam..."
Anna segera masuk ke dalam,
terlihat Dhiren masih terkulai tak berdaya,
dan belum sadar, Cindy menangis di samping Dhiren dan juga Fanya.
" Dokter... bagaimana keadaan anakku?" tanya Anna khawatir.
" Anna kenapa kau tidak mengatakan tentang Dhiren pada padaku, apa kau sengaja??"
" kakak..kakak...Diren anakku bagaimana bisa??"
"Jawab Anna...!!!" tegas Cindy marah
" Sayang, bukan waktunya untuk mencari kesalahan orang lain..." Fannan melerai , Cindy pun terdiam.
" Mendekat lah Anna Dhiren membutuhkanmu!" ujar Fannan lembut .
Anna pun segera mendekati untuk melihat putranya,
" oh nak maafkan mama nak... dokter bagaimana keadaannya??"
" loeh anda ibunya??"
" iya dok..."
" Sekarang sudah membaik, kita tunggu anak anda sadar setelah itu kami akan lanjut pemeriksaan, dan jika tidak ada masalah lain Anak anda bisa di pindahkan kamar setelah siap!"
" baik dokter terimakasih!"
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya Dhiren sadar dan menangis memanggil manggil.
" aaamaaaaa....hikhik amaaaa..."
Cindy mendekati Dhiren,
" sayang ini mama nak ini. mama..." melihat Cindy Dhiren malah histeris.
Anna langsung memegang tangan Dhiren,
__ADS_1
" Ammma di sini sayang amma di sini...sayng..." Dhiren yang melihat Anna langsung meminta gendong.
Anna langsung menggendong Dhiren lalu menciumnya, Dhiren terasa sangat nyaman dan mulai berhenti menangis.
Hati Cindy benar - benar terasa panas terkoyak melihat anaknya tidak mengenalinya dan sangat tidak ingin dekat dengannya.
Cindy gantian menangis terisak-isak,
" Cindy...kau harus tenang Dhiren masih sangat kecil, dia masih belum paham , dekati pelan-pelan jangan memaksa...agar dia juga nyaman denganmu...jangan berkecil hati...nanti selang bertambahnya usia, Dhiren akan mengerti..."
" hiks hiks hiks kakak...rasanya sakit hati Cindy...."
" Lapangkan hatimu agar tidak sakit Cindy...dia anakmu bagaimana pun dan apapun yang terjadi tidak ada yang bisa merubah itu, hanya butuh waktu saja..."
" Iya..."
" Fannan ajak Cindy keluar untuk di tenangkan!"
" ya kak..." Fannan pun mengajak Cindy keluar sementara Fanya masih tinggal.
" Dhiren...lihat, ini pistolmu nak, kau harus cepat membaik, lalu berkumpul lagi dengan Nora di rumah..."
Anna mendudukan Dhiren di ranjang pasien lalu, memberikan pistol mainan favorit Dhiren.
Dhiren terlihat sangat bahagia bisa tertawa dan bercanda dengan Anna ,seakan tidak mengkhawatirkan apapun lagi.
" Fahad sangat beruntung memilikimu Anna!" ujar Fanya.
" ah...Kakak itu berlebihan sekali..."
" Iya kak...Anna tidak bisa begitu mendadak, kenapa tidak kakak ipar saja yang tinggal dengan kami, lalu mari kita merawat Dhiren bersama, apalagi Dhiren dan Nora sudah tidak terpisahkan !"
" Rumah itu banyak kenangan yang akan mengingatkan Cindy!"
" tapi kemarin kakak ipar datang juga tidak apa-apa kak...jika sudah menerima, seharusnya itu tidak bisa menjadi alasan bukanya Anna tidak memahami keadaan kakak ipar, tapi Dhiren ini merawatnya dari kecil tidak mudah, dia tidak seperti anak yang lain, perawatan Dhiren ini tidak sembarangan, kalau mendadak seperti ini kami juga kelupaan mengatakan apa yang boleh dan tidak boleh di berikan pada Dhiren, dan itu masalah susu sapi ini baru satu...masih banyak yang lainnya!"
" oh... begitu???..."
" Dhiren sangat rentan masalah kesehatan, kami setengah mati membesarkannya sampai sekarang, kami juga sangat hati-hati merawatnya!"
" aku akan memberikan pengertian pada Fannan agar bisa menasehati Cindy..."
" Terimakasih kak ..."
" Oke aku keluar dulu Anna..."
Sementara Di luar.
" Cindy, mama sangat kecewa padamu, bagaimana bisa kau begitu ceroboh??"
Cindy hanya terdiam diomeli oleh Vevey,
" Sayang pelan-pelan jangan begitu keras!" Hirosan menenangkan Vevey.
" tidak...dia harus tahu, saat kau mengalami depresi,kau hampir membunuh Dhiren anakmu sendiri, Fahad menjaganya sendiri sampai bertemu dengan Anna, Anna juga memiliki anak, tapi dia tahu Dhiren memiliki tubuh yang berbeda dengan bayi lain, dia rela menyusui Dhiren dan membiarkan Nora memyusu Sansan, saudaramu sangat peduli dengan anakmu, Sansan yang belum memiliki anak saja rela untuk induksi Asi untuk menyusui Nora, Agar Anna bisa fokus menyusui Dhiren lalu apa yang sudah kau lakukan untuk Dhiren ??, tiba-tiba kau mengambilnya sesuka hati ???"
Cindy hanya bisa menangis, dia memang belum memberikan apapun pada Dhiren,
__ADS_1
sampai detik ini, dan kedatangannya malah menjadi petaka untuk putranya.
" Ma...tolong pegangkan Nora aku ingin melihat Dhiren sebentar!" ujar Fahad yang jika belum melihat putranya itu hatinya tidak tenang.
Vevey pun menggendong Nora,
Fahad segera masuk untuk melihat jagoannya itu.
" mama kenapa begitu membela Fahad, apa karena Cindy ini anak tiri mama??"
plakkkkkkkkkkk
Vevey menampar Cindy dengan keras.
" Kau sangat luar biasa Cindy..."
Vevey segera berjalan menjauh dari Cindy, sudah sangat kesal dengan pikiran Cindy yang tidak masuk akal.
sementara di kamar Yusuf 1
" Jagoan papah sudah sadar??"
" apaaaaaaah...oya ana??" wajah Dhiren kembali ceria.
" Nora tidak boleh masuk boy...aduh apa ini sakit??" menunjuk tangan Dhiren yang di infus.
" Nooo..."
" hebat...ayo nak cepat sembuh kita pulang ya ,tidak akan ada yang bisa memisahkan kita oke...!!"
" Oceeee..."
" anak hebat...Hemmmuuuah" Fahad mencium pipi Dhiren Fahad sangat bersyukur jika Putranya sudah sangat baik.
" Anna kenapa sedih??"
" Suamiku....apa kita ini egois??"
" Awalnya aku merasa egois, tapi untuk saat ini egois adalah jalan terbaik untuk Dhiren, Dia anak kandung kita, apapun yang terjadi... biar dia tumbuh dengan baik dibawah tangan kita, jika kakak mau bertemu, kakak bisa mengunjunginya, jangan berani membawanya lagi pergi dari kediaman Pratama!"
" Apa itu tidak apa??"
" aku akan menempuh jalur hukum, jika kakak keberatan!!, karena dalam kartu keluarga Dhiren tertulis jelas adalah anak kandungku!!"
" Jangan suamiku, kita akan membicarakannya baik-baik, jangan ada pertengkaran dalam keluarga kita,..."
" Jika kaka tidak keras, aku juga tidak akan keras,...semua ini untuk kebaikan Dhiren dan juga Nora...!"
" sebagai ayahnya aku akan melindungi putra ku dari segala ancaman, meskipun itu ibu kandungnya sendiri!"
" Aku yakin kakak akan mengerti...tidak perlu ke jalur hukum, aku takut kita akan kalah, dan itu akan berakibat fatal untuk Dhiren..."
" Semoga saja.!!, Boy, Papa menunggu di luar
ya, oma dan opa juga datang, jadi gantian..."
Dhiren mengangguk senang, Fahad segera keluar mencari mamanya .
__ADS_1