
" Aina...kenapa lesu??"
" 2 hari ini kak Cindy tidak di rumah...!"
" Lalu??"
" Aku rindu masakannya...!"
" Ah, kan bisa pesan loe...!"
" Ya tapi tetap masakan kak Cindy lah yang paling lezat...!"
" hemmm...kalau begitu akan ku minta mommy membuat sarapan untukmu,...!"
" Tidak Iyus...heheh...jadi kau akan mundur lagi ya kembalinya ke asrama??"
" Iya, Fahad akan menikah setelah Abang tunangan kan?? yea jadi aku ada alasan untuk tetap tinggal!"
" Yea....!" Aina memeluk tubuh Iyus dengan senang.
" Apa kau senang??"
" Tentu saja sayang...!"
" apa aku harus seperti Fahad??"
" Jangan, jangan seperti itu...kau akan mengecewakan paman, aku akan menunggumu dengan setia sayang...!"
" Janji ya!" Mengulurkan kelingkingnya.
" Janjilah..." menerima kelingking Iyus
" ehmm...Aina kita makan bubur aja yuk...!" ajak Iyus , karena makanan Favorit Iyus adalah bubur ayam.
Aina menunduk, sedih...
" Hei ada apa??"
Aina memainkan kedua telunjuknya
" Iyus...Aina tidak pandai memasak, Aina sedih jika nanti kita menikah Aina tidak akan bisa menjadi istri yang baik...!"
" Hehehehehe heheheehehe, apa wanita di haruskan memasak?? agar mendapat predikat istri yang baik??"
" Yakan kebanyakan begitu...!"
" Bukankah tante Vevey juga tidak bisa memasak??, jadi Tante gagal jadi istri yang baik??"
" Tidak mama adalah istri dan ibu yang baik!"
" Hmmm....lalu??, jangan sedih lagi tentang hal kecil itu, aku berjanji akan meratukan istriku, dia tidak perlu susah-susah di dapur, kita bisa memiliki beberapa asisten rumah tangga, agar kau cukup berdiam santai saja...jika perlu kau tidak usah bekerja!"
" Itu terdengar seperti aku tidak berguna??"
" Hahaha, tenang saja setelah kita menikah kau akan sangat berguna di atas ranjang!"
" Ih....!" Aina mencubit kecil lengan Iyus
" aku bercanda...!"
" Ayo jalan katanya mau makan bubur...!"
" Ya, ....ayo sayang naik...!" Membuka pintu mobil milik Suhail.
" Kau ini memakai mobil abang Suhail ,apa tidak di marahi...??"
" Tenang saja, abang sangat sayang padaku, jika aku memintanya, dia pasti akan memberikannya padaku...!"
" Ya kau tahu itu, Kenapa kau bermusuhan dengannya cukup lama?"
" Sayang, jangan mengungkit masalalu, itu kan aku masih kecil hehehe!"
__ADS_1
Aina masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Iyus.
mereka berdua berangkat mencari bubur sebelum ke Toko bunga Aina.
...----------------...
Siang hari Putra menjemput Savina di toko Kuenya dan membawa mommy nya ke toko perhiasan milik Sasha yang saat ini di bawah kendali Vevey.
" Mom...aku mau mommy yang pilihkan Cincin pertunangannya untuk Incess...!"
" Hah, iya baik...aku belum bertemu dengan calon menantuku itu, tapi kau dan Daddymu sangat suka membicarakannya, jadi mommy rasa anak itu cukup menarik...!"
" Pfffffffffffttttttttt....!" Putra menahan tawanya mengingat betapa menariknya Incess untuknya.
" Mommy senang kau sudah mendapatkan pendamping, mommy khawatir tentangmu yang tak pernah berurusan dengan wanita...atau Mommy yang tidak pernah tahu tentang percintaanmu??"
" Heheheh... mommy Putra punya satu mantan, Putra memang tidak akan mengekspos pada keluarga karena belum selesai pendidikan saat itu, niatnya kan selesai lalu aku kenalkan pada keluarga, eh tapi dia sudah menikah saat aku kembali ..hehehe!"
" Oh astaga, Putraku mengalami hal seperti ini dan aku tidak tahu, apakah aku ini ibu yang baik??, huhuhu ...!"
" Mommy adalah Ibu terbaik kedua setelah Ibu kandungku!"
" oh putraku, meski kau tidak terlahir dari rahimku, cinta dan kasih sayang mommy padamu sama besarnya dengan anak - anak kandung mommy...!"
" Itu aku juga merasakannya mom, Mommy dan Daddy begitu sangat menyayangiku!"
" Ehm, kau dan Suhail Adalah Saksi cinta kita bukan??"
" Heheheheh...Iya saat itu Daddy meminta tolong padaku untuk memberikan kejutan pada Mommy!"
" Ya benar, itu adalah takdir kita bukan ??"
" Mommy ...!" Putra memeluk Savina dengan erat.
" aku bangga dan sangat beruntung hidup bersama kalian...!"
" Kami yang beruntung nak..., ayo sekarang pilih cincin untuk Incess...!
" Ya ...!" Ibu dan anak itu memilih - milih Cincin untuk pertunangan.
" Minta saja tante Sasha mendesign khusus mom...!"
" Kau bercanda nak?? ,, waktunya sudah mepet kau akan merepotkan tantemu untuk itu, sementara pilih saja yang ada nanti untuk pernikahan kalian, baru minta tantemu design khusus...!"
" Boleh itu ma...!"
" Ya, sekarang coba kita ke cabang lain, barangkali di sana ada yang cocok...!"
" Oke...!"
mereka berdua sudah pindah cabang 3 kali, dan ini yang ke empat.
" ini Cabang terakhir di kota ini, jika tidak ada yang cocok terpaksa mencari di toko lain !"
" Hmmm...!" Putra mengangguk.
" Mom itu itu...!"
menunjuk Cincin yang berbentuk bunga lotus kecil dengan paduan berlian merah muda dan Mutiara di tengahnya.
" Wah itu imut sekali...pilihan Putra memang luar biasa...!"
" Mom bagaimana dengan ukuran jarinya?"
" tenanglah ibu Inces sudah memberikan ukuran jari manis putrinya...!"
" Wauuu....!"
" saya ambil itu ya...apa ini hanya ada satu??"
" Ya nyonya Nathan, ini hanya ada satu!"
__ADS_1
" Kalau begitu, jadikan ukurannya sama seperti ini...!"
" Memberikan Cincin itu pada pegawai Toko yang juga sangat mengenal keluarga Pratama.
" Baik, silahkan ditunggu Ya nyonya tuan"
Mereka ibu dan anak duduk di tempat tunggu sambil berbincang banyak, dan sampai pada akhirnya Cincin itu selesai di modifikasi.
" Sekarang kau mau kemana nak??"
" istirahat saja mom... terimakasih ya mom...aku antar kembali ke toko!"
" Baiklah, mommy memasak banyak kok ada di lemari penghangat, makan di waktu yang tepat jangan telat!"
" Oke mom...!"
Setelah Putra mengantar Savina ke toko dia pun segera kembali pulang.
Saat pulang baru sampai di gang dekat rumahnya, Putra mendapati Cindy turun dari mobil cukup mewah,
" Anak itu kenapa turun di situ??" Putra segera melaju mendekati Cindy yang berjalan kaki
" Tintin...!"
Cindy berhenti, Cindy tahu itu mobil Putra dari luar dia meringis menampakan gigi putihnya dengan senyum yang mencurigakan.
" Naik!" Tegas Putra
Cindy pun naik ke mobil abangnya itu masih dengan senyum Pepsodent.
" Siapa dia??, bukan Fannan kan??"
Cindy menunduk, dia terlihat seperti abis tertangkap basah karena selingkuh.
" Abang, kan aku dan mas Fannan hanya teman!"
" Ya abang tahu, lalu siapa itu? kenapa harus turun di sini, jangan mau di turunin di jalan, sebagai seorang wanita baik, itu merusak harga dirimu!"
perkataan Putra, bak Cambuk yang menyabatnya.
" Maaf abang, Cindy tidak bisa memberitahu!"
" Baiklah, abang tidak ikut campur lagi, kau harus bisa menjaga dirimu dengan baik, Cindy kita memang tidak bisa mengendalikan Cinta, tapi...kau bisa mengendalikan hatimu!"
" Abang, Cindy sangat payah soal itu...!"
" Jadi Dia Martin!" tebak Putra dengan tepat.
Tangan Cindy meremas dress yang di pakainya.
" Tidak seperti itu Cindy, hargailah dirimu sendiri...abang sangat menyayangimu...abang tidak ingin melihat adik-adik abang terluka!"
" Terimakasih abang,...!" Cindy meneteskan air matanya.
" Sudah jangan menangis...!" Putra membantu mengusap air mata Cindy.
" Cindy masih sangat mencintai Martin, tapi Cindy juga takut membuat keluarga Cindy terluka...!"
" Hah... semuanya sudah berlalu, lagian Martin tidak sepenuhnya salah!"
" abang, apa kau mendukungku??"
"tentu saja tidak, tapi sayangnya abang tidak ada hak ikut campur, namun saran abang itu adalah tidak kembali ke masalalu, jika aku menjadi dirimu, Fannan adalah option terbaik!"
Cindy hanya terdiam, tubuhnya sudah di serahkan pada Martin, mana bisa Cindy berharap memilih Fannan yang sangat baik dan sempurna itu, lagian Cindy memang tidak ada rasa dengan Fannan, mereka murni berteman.
" Ayo masuk dan istirahat Cindy...!"
mereka sudah sampai
" Abang terimakasih!" Cindy segera turun dan masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Cindy, semoga kau tidak memilih jalan yang salah.
dalam hati Putra