
" abang benar - benar marah??"
gumam Incess merasa sangat sedih.
Incess pun merebahkan tubuhnya ke ranjang, entah kenapa rasanya sangat, menyesakkan, Incess lebih suka jika Putra slalu menggodanya, tapi tiba-tiba Putra berubah menjadi dingin.
" Ah, seharusnya tadi aku tidak mendorongnya dan keluar...huhuhu bagaimana ini???" Incess meremas rambutnya .
Incess membolak-balikan tubuhnya gelisah, Incess segera bangun dan menyusul ke meja makan, rupanya semua sudah berada di meja makan untuk sarapan.
Incess pun ikut duduk dan makan, hingga selesai.
setelah semua selesai makan, Savina pun bertanya pada menantunya itu.
" Menantuku sayang, kenapa Putra buru-buru berangkat??"
" Iya mom, katanya ada urusan penting!"
" Oh, begitu...kalian tidak bertengkar kan??"
" Heheh tidak mom...!"
" Apa Putra mempersulitmu ??" tanya Nathan.
" Heheh tidak Dad...!"
" Baiklah, jika putraku itu menindasmu katakan pada Daddy!".
" Ya Dad...hehehe...!"
" Oh ya, Julia...bukankah kau akan mengajak Yang Mulia jalan-jalan??"
ujar Nathan.
" Ya Dad...!"
" Ajak sekalian tuan Ryu Jul...!" sahut Savina.
" Apa??" Alfred langsung terkejut.
" Oh, Yang Mulia...tuan Ryu kan juga tamu kita, masak tidak di ajak!"
Astaga istriku ini, sudah pandai membuat masalah
dalam hati Nathan.
"nyonya, saya tidak ikut, saat di sini untuk mengobati, bukan untuk jalan-jalan hehehe!" sahut Ryu yang mengerti situasinya .
" Aduh, anda benar - benar profesional!, hebat sekali!" Savina sangat bersemangat.
" tidak begitu juga nyonya, karena saya sudah berjanji akan melakukan yang terbaik untuk membantu Sansan!"
" Iya, tuan...anda mengaggumkan...kami serahkan semua pada anda tuan!"
" huh pamer!" ujar Alfred Lirih.
" Yang Mulia, jika sudah siap ayo...!" Ajak Julia.
" Sudah ayo...!"
" Eh, kakak ipar apa kau mau ikut??"
" Hah?? tidak tidak ..!"
" Menantuku ikut dengan mommy saja yuk ke toko!"
" Ya mommy...!"
" Kalau begitu, tuan Ryu apa mau ke tempat Sansan??, biar saya antar!"
Nathan menawarkan bantuan.
" Saya mau ke rumah sakit Tuan Crist tuan!"
" Ok, saya antar...!"
" Terimakasih!"
Julia mengajak Alfred berkiling kota, Julia sudah seperti pemandu wisata.
" Yang Mulia, ...!"
" Paling, aku panggilan yang terdengar dekat saja di sini!" pinta Alfred.
" Oh aku panggil kakak saja ya Yang Mulia!"
" Panggil seperti kau memanggil saudara tertuamu, itu terdengar sangat dekat!"
" Oh abang...??"
__ADS_1
" Ya...!"
" Baik, abang...!"
"itu lebih baik Julia...!" Alfred sangat kegirangan.
" Abang ... mau ke mana??, ke pantai, puncak atau ke kebun binatang, atau wahana. bermain?"
" wahana bermain ..apa itu ? terdengar seperti tempat anak-anak!"
" tidak juga, kita juga bisa berkunjung ke wahana bermain, permainan di sana banyak sekali Yang Mulia, eh abang ..!"
" Kita ke sana Julia...!"
" Baiklah, kita ke sana....Julia juga sudah lama tidak ke sana!"
Julia pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dituju.
Setelah sudah sampai mereka pun mengantri membeli tiket dan langsung masuk.
karna itu hari biasa, jadi tempat itu tidak terlalu ramai, bermacam mainan pun terpampang, Alfred sangat takjub dengan permainan yang tersedia, karena di negaranya tidak ada wahana bermain,memang benar kata Julia, semua usia membaur menjadi satu di tempat itu.
" Wah, apa aku juga harus membuat wahana seperti ini di negaraku??" ujar Alfred
" Buat Abang, lihat...ini tempat untuk orang bahagia, mereka semua sangat gembira, mereka melepas penatnya dengan menaiki permainan yang seru dan menantang!'
" Aku akan membuatnya nanti!"
" Julia, ayo kita naik itu!" Alfred memberanikan diri memegang tangan Julia, Julia terkejut karena tanganya tiba-tiba digenggam oleh Alfred.
" Aku boleh memegang tanganmu??, takutnya jika aku nanti tersesat!"
" Ya abang ...!"
Mereka mencoba permainan Flying tornado.
Permainan itu pun mulai berjalan,
" Oh, sial...ini cukup menakutkan!"
" Huaaaaaaaaaaa.....!"
" Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaagggghhh!'
" Julia, ini menyeramkan sekali, kenapa kau tidak aaaaaaaaaagggggggggggg!"
" Jul...aaaggggggggghhhhhhhhhhhhhhh"
Permainan itu berlangsung sampai selesai dan akhirnya keduanya pun turun, Alfred terlihat sangat sempoyongan, dan mual-mual.
" Yang Mulia...anda sebaiknya tidak menaiki itu lagi...anda terlalu lemah!"
" Julia, ini pertama kalinya dalam hidupku, di lemparkan ke udara berkali-kali, nyawaku hampir Melayang... bagaimana bisa kau tenang seperti itu!"
" Ini tidak menakutkan sama sekali yang Mulia!"
" Ah, kau mengesankan!"
" Yang Mulia apa anda masih mau lanjut??"
" Heheheh, tidak...kau saja jika kau mau!"
" Mau masuk rumah hantu yang Mulia??"
" Tidak, aku tidak mau melihat hantu!"
" hahahhaha Yang Mulia anda sangat Payah!' Julia tertawa sangat lepas.
Alfred sangat menikmati wajah ceria dari Julia itu.
" Kalau begitu, pindah saja dari sini...!"
" Mau kemana Jul??"
" Abang mau kemana??"
" Kemana saja yang penting sama kamu!"
" Aih...Kalau gitu Julia mau ke mall..!"
" Apa itu???"
" Ikut saja ..itu pusat perbelanjaan bang ...sama tempat makan dan nongkrong!"
" Mau makan??, aku masih kenyang ...!"
" Jalan-jalan dulu nanti Julia belikan banyak oleh-oleh buat abang bawa pulang!"
" Oh ya!, ayukkk, jangan lupa selalu gandeng tanganku, jangan sampai lepas, jika kau menghilang seorang raja, negaramu tidak akan damai!"
__ADS_1
" Idih..., ayo cepat!" Julia menggandeng tanga Alfred menuju Parkiran.
" Lepas abang, masuk... kalau nggak di lepas gimana julia nyetir? lagian di dalam mobil juga mau ilang kemana!"
" Ah, benar....!" Alfred melepaskan pegangannya dan segera masuk ke dalam mobil, mereka menuju pusat perbelanjaan.
sepanjang jalan-jalan dalam mall, Alfred tidak melepas pegangan tangan Julia,
" Abang, jika begini akan sangat repot!"
" Tapi tempat ini sangat ramai Jul...!"
Alfred menarik tali Hudinya dan mengikat pada salah satu tangan Julia dan juga tangannya.
" Oh astaga!"
" Tak apa, ayo jalan kau bisa memilih kan dengan begini, aku juga tidak akan hilang!" ujar Alfred santai .
kedua orang itu benar - benar menjadi puast perhatian, semua orang, menjadi bahan perbincangan.
Astaga, Raja ini benar - benar kekanak-kanakan.
dalam hati Julia.
Julia tidak perduli dengan pandangan orang lain, dia memasuki semua toko satu persatu, membeli banyak barang, dan memilihkan beberapa baju untuk Alfred, jam, sepatu dll.
Tapi setelah membayarnya Julia tidaj membawa barangnya
" Julia, kenapa kau tidak membawa barang yang sudah kau bayar??"
" Daddy menempatkan beberapa bodyguard bayangan', mereka biasa membantu Julia membawa barang!"
" Wah Keren sekali!, tidak mencolok...!"
" Abang, kita makan ke resto keluarga Pratama mau??!"
" Ya, mau...!"
"Ya sudah, lepaskan talinya...!"
Alfred pun segera melepaskan talinya, lalu memegang tangan Julia .
" Kan masih ke parkiran kan??"
" aih...baiklah!"
Dan mereka pun segera lanjut menuju restoran masakan Jawa milik Jovan.
" Wah, ini restoran yang sangat besar Julia...!"
" Iya,...tidak tahu makanan di sini cocok tidak di lidah abang...tapi abang harus coba!"
" baik aku akan berusaha menyukainya!"
" Kak...mau satu Ruangan VVIP nya satu ya ...ini memberku!"
" Baik Nona, Julia...kebetulan Tuah Fahad ada di sini hari ini!"
" Oh benarkah, kalau begitu aku mau Fahad yang memasak!"
" Maaf nona, tapi tuan Fahad sudah tidak terjun ke dapur lagi...tapi kami tetap punya koki andalan untuk layanan VVIP!"
" Ah, kalau begitu bisakah aku bertemu Fahad??"
" Ya, saya akan sampaikan dulu!"
" Baik!"
tak lama Fahad pun keluar, Fahad justru gagal fokus dengan tangan Julia yang di pegang erat oleh Alfred.
" hei Fahad...kau sibuk sekarang, sok sangat penting sekali ya!"
" hehehe...ada apa Julia, apa kalian resmi pacaran jadi mau memberitahu padaku??" sambil melihat tangan keduanya.
" Ah, Abang lepaskan tangan Julia!' pinta Julia.
" Oh kenapa??"
" abang tidak akan hilang di sini!"
" oh baik!"
Alfred melepaskan tangan Julia, Fahad terkekeh melihat hal itu
Raja ini cukup pandai berpura-pura,
astaga Julia, Julia apa dia anak kecil yang mudah hilang?
dalam hati Fahad.
__ADS_1