
" Yah ini aku...!" Martin menyodorkan kotak hadiah pada Cindy dengan senyum merekah
" Oh tidak ...tidak...!" Cindy masih belum siap mental bertemu dengan Martin , Cindy pun jatuh pingsan karena terkejut .
" Cindy....!"
Martin segera menangkap Cindy yang pingsan.
" Yuda...."teriak Martin
" Ya tuan..!"
" Bawa mobil ke sini cepat!"
" Baik!"
Martin segera menggendong Cindy masuk ke dalam mobilnya.
" Kita ke mana tuan??"
" Pulang!"
" Baik...!"
Martin memeluk wanita yang sangat dia cintai itu dengan erat, akhirnya dia bisa memeluk wanitanya lagi setelah sekian purnama.
" Maaf mengaggetkanmu...!" Membelai rambut Cindy yang tidak pernah berubah tetap dengan gaya yang sama.
Setelah sampai Martin segera membawa Cindy ke dalam kamarnya.
" Yuda, lihat barang bawaan Cindy, jika handphone menyala, matikan teliti lagi barang kali ada alat pelacak!" perintah Martin
Yuda yang sudah di latih Martin sekarang cukup hebat dan pintar
Yuda menemukan alat pelacak kecil di tas Cindy Yuda juga mematikan ponsel Cindy, alat pelacak itu di bawa pergi jauh dari tempat tinggal Martin.
" Kenapa dia belum sadar??" Martin sangat khawatir.
" Tidak jangan...!"
" Cindy ...!" Martin sangat senang melihat Cindy akhirnya siuman.
" Cindy....!"
" Aaaggggghggggghhhhh tidak pergi menjauh!" teriak Cindy histeris.
" Maaf, maafkan aku, bukankah aku boleh meminta apapun di saat ulang tahun mu??"
" Huhuhu pergi,....!"
" Cindy, aku masih sangat mencintaimu...aku yakin kau juga sama kan??"
" Tidak, ....!"
Cindy berteriak dengan lantang, namun hatinya sebenarnya masih sangat mencintai Martin, namun dia juga membencinya.
" Kau bunuh aku saja Cindy...!"
" Pergi....!"
Martin mengambil pisau lipat di sakunya,
" Cindy tolong maafkan aku, jika tidak maka tidak ada artinya lagi aku hidup, bisakah kau memaafkanku??, aku ingin kita kembali...!"
" Tidak..."
Tanpa ragu Martin menyayat pergelangan tangannya, mengucurlah darah segar itu jatuh ke lantai...mata Cindy terbelalak dia segera berlari membuang pisau dari tangan Martin
__ADS_1
" Cindy, aku sangat mencintaimu, tolong katakan juga kau mencintaiku...!"
" Tidak....apa yang kau lakukan??"
Namun darah itu semakin deras keluar,
" Katakan jika kau tidak mencintaiku, dan pergilah biarkan aku mati di sini sendiri!"
Air mata Cindy mengalir begitu deras, dia memang masih mencintai Martin .
" Huhuhuhu aku...aku masih mencintaimu...!"
" Bagus...bagus....aku sangat bahagia Cindy...!"
" Martin, lukamu harus segera di obati..., di mana kotak obatmu??"
" Itu...!" menunjuk belakang Cindy.
Cindy segera mengambil kotak obat itu
saat melihat luka Martin ternyata itu tidak terlalu dalam.
" Kau, kau membodohiku??" ujar Cindy sangat kesal.
" Jika kau ingin aku memotong tanganku aku akan memotongnya tanpa ragu...!"
Marti beranjak dan berniat mengambil pisau itu kembali, namun Cindy mencegahnya.
" Tidak, tetap duduk aku akan mengobatimu!"
Martin pun segera menjadi anak yang patuh.
Cindy segera menghentikan pendarahan itu lalu membalut dengan kasa.
" Sudah selesai, istirahatlah aku ingin pulang!" tegas Cindy.
Martin menarik Cindy ke dalam pelukannya
" Lepaskan Martin, hubungan kita sudah selesai...!"
" Aku tidak akan membiarkanmu pergi sampai kau kembali padaku!"
" Martin tolong hargai keputusanku!"
" Tidak kau hanya boleh mencintaiku seorang, tidak ada yang lain!"
Martin segera meluumat bibir pink milik Cindy yang sudah lama tidak ia rasakan.
" Hmmm...!" Cindy mencoba merapatkan bibirnya sekuat tenaga, Martin menggigit bibir Cindy sehingga Cindy menganga membuka bibirnya,Martin semakin liar mencium bibir Cindy yang sangat manis, lidahnya berkelana dalam mulut Cindy, Tak dapat di pungkiri Cindy juga sangat merindukan ciuman itu tubuh Cindy tak bisa berbohong, seluruh tubuhnya seperti tersengat listrik Cindy mulai terbuai dalam Ciuman hangat pria yang sangat dia cintai juga benci itu.
" Jangan lupa, ambik nafas sayang...!"
" Martin, kau gila??"
" Ya aku kehabisan akal sehatku karena mencintaimu Cindy...aku sangat rindu aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya!"
" Martin ...!"
" Tatap mataku Cindy, katakan jika kau tidak mau...aku akan melepaskanmu, aku akan mati di sini sendiri!" tegas Martin dengan tatapan tajamnya.
Air mata Cindy mengalir begitu deras, bibirnya tidak bisa mengatakan tidak, karena dia benar -benar sangat mencintai pria dihadapannya itu.
" Cepat katakan padaku Cindy...!"
" Huhuhuhu.....Martin aku mencintaimu, aku sangat rindu padamu...kenapa kau jahat padaku huhuhuhu....!"
" Maafkan aku Cindy, aku akan menebus semua kesalahanku padamu...!"
__ADS_1
" Huhuhuhuhu....!"
" Hei jangan menangis seperti itu..., aku merasa sangat terluka melihatmu bersedih...!"
" Martin, huhuhu aku sangat rindu padamu...!" Cindy mencurahkan semua isi hatinya, dia melupakan dendamnya dia melupakan tentang menjaga perasaan keluarganya, Cinta dan rindunya sangat menggebu melihat Martin berada dihadapannya, Pria yang slalu ia andalkan kembali di sisinya, kepala Cindy tidak bisa berpikir Jernih, hatinya sangat haus akan kerinduan yang di tahan bersama kebencian .
" Ayo menikah, ayo kita miliki 2 atau 4 anak ...!"
" Iya...!" Cindy mengiyakan ajakan Martin tanpa berpikir .
Martin segera mencium kembali bibir tipis berwarna pink itu, kali ini tidak ada penolakan sedikit pun dari Cindy, keduanya saling mengobati keduanya saling mengisi, Cindy mulai membalas ciuman Martin yang semakin ganas, keduanya kalut dalam hasrat yang sudah terpendam cukup lama, mereka melupakan semua hal saat itu hanya ada Martin dan Cindy di otak masing-masing.
Ciuman panas itu beralih menurun ke bagian leher,
" Ahhh..." Dessahan Cindy membuat Martin semakin bergelora Martin membuat tanda kepemilikan .
" Martin....!"
" Cindy, aku akan bertanggung jawab...!"
" tapi...."
" Cindy, aku menginginkanmu seutuhnya...aku tidak akan meninggalkanmu...!"
Cindy mengalungkan kedua tangannya di leher Martin dan tersenyum, dia menjadi gila, dia juga menginginkan sentuhan lebih dari Martin.
Mendapatkan lampu hijau dari Cindy, Martin segera melancarkan aksinya, hanya ini cara mengikat Cindy, agar Cindy tidak berubah pikiran.dia akan menanggung apapun akibatnya nanti yang terpenting Cindy kembali padanya .
" ehmmmm" Rintihan nikmat itu keluar dari bibir Cindy Martin sudah mulai bermain di bagian dada, Martin menjamah semua tubuh Cindy tidak ada yang terlewati sedikit pun.
Sampai pada akhirnya mereka berdua sudah sama - sama polos tanpa apapun
Cindy sangat terkejut dengan selang milik Martin sangat besar tegak dan kokoh.
" Apa kau terkejut??"
Cindy mengangguk , betapa itu sangat besar, apakah itu sungguh akan masuk begitu saja pada dirinya
" Apa kau siap sayang??"
Cindy menelan Savilahnya untuk meyakinkan dirinya.
" Ya...!"
Martin mulai melebarkan kaki Cindy, Cindy sangat malu, dan berusaha menutupi sesuatu yang sangat pribadi itu.
Martin menarik kedua tangan Cindy keatas, dia meluumat kembali bibir Cindy dengan kalap, saat Cindy mulai terbuai Martin segera menghantamnya begitu dalam.
Mata Cindy terbelalak
" Aggggggghh....!" Cindy tak dapat menahan bibirnya karena terkejut,
" Sakiiit...." Air mata Cindy mengalir begitu deras bibirnya bergetar menahan rasa sakit, Cindy tidak tahu jika bercinta itu sangat menyakitkan.
Martin melihat ke bawah, ada darah perawan mengalir, Martin tersenyum puas, ternyata Cindy slalu menjaga dirinya dengan baik, Martin sekarang tahu betapa pentingnya dirinya dalam hati wanita yang berada di bawah kuasanya itu.
" Aku juga merasa sakit, karena ini juga kali pertamaku..." Martin mulai mencumbui tubuh gadis yang sangat dia cintai itu saat Cindy terbuai, Martin perlahan mulai bergerak perlahan,
" Ouuuwhhh sakit...!" Cindy menggigit bibirnya
" Dasyat, ini sangat nikmat... sayang rileks dan kita tumpahkan semua kerinduan kita yang terpendam!" Cindy segera merengkuh tubuh kekar yang menguasai tubuhnya itu, Cindy mulai menikmati nikmat terlarang itu , keduanya beradu dalam nafsu yang menguasai diri mereka.
Martin segera menarik tubuh Sexy itu dalam dekapannya setelah mereka menyelesaikan hasrat mereka .
" Kenapa kau sangat menakjubkan!" Martin memuji wanita yang kelelahan di pelukannya.
" Diamlah, jangan menggodaku,aku sangat lelah...!" dengar suara lirih.
__ADS_1
" Hmmmm, I love you sayangku!" Martin mengecup ujug kepala Cindy penuh dengan cinta, Martin tidak mendapatkan jawaban dari Cindy, tandanya Cindy sudah terlelap.
Martin mulai memikirkan resiko yang akan dihadapinya namun matanya juga sangat lelah sebelum memejamkan mata, marti mengambil remot di bawah bantalnya dia mengunci semua jendela dan pintu dengan otomatis, dia takut Cindy akan kabur setelah terbangun.