GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
352. penyesalan


__ADS_3

Aka dan adiknya Rima pun tiba, keduanya terlihat begitu sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa sahabatnya itu.


" Laksmana, ini pasti ulah Juno..." ujar Aka sambil terisak.


" Kenapa begini??" Rima pun juga sangat terpukul, dia dulu sangat menyukai Juno, tapi Juno malah membuatnya menjadi mainan dengan teman-temannya, Rima sangat sulit dan terguncang saat itu, tapi Rima dan Aka sangat menghormati Martin, karena Martin memang orang yang baik, dan sekarang Juno berulah lagi dan malah membunuh kakaknya sendiri, Rima benar -benar tak habis pikir dengan Juno, jika dia hanya mati saja itu rasanya tidak cukup.


" Laksamana, Kak Martin meninggalkan harta kekayaan atas nama Cindy dan calon anaknya!" ujar Rima datar.


"Rima, itu jangan di bahas sekarang...tidak tepat!" Ujar Aka.


" Baik, maafkan saya , saya hanya menyampaikan saja!"


" hem... bicarakan itu setelah Cindy membaik, orang kepercayaan Martin pasti bisa di andalkan!" tegas Nathan.


" Abangg.....abanggg....abangg... tidak...kenapa abang meninggalkanku sendiri!' Reyna yang datang dan menangis histeris memeluk tubuh kaku Martin.


tangisan itu cukup lama, Rima mencoba menenangkan Reyna.


" Aku akan membunuh keparat itu!!" teriak Reyna mengepalkan tangannya.


" Rey,...nanti itu kita bisa lakukan, sekarang kita urus pemakaman kakakmu segera mungkin!" ujar Rima.


" Hiks hiks...abang....hiks hiks... paman maafkan abangku Martin, dan sungguh kami tidak tahu apapun, maafkan kami!" ujar Reyna melihat takut pada Nathan.


" Baiklah, aku sudah memaafkanmu dan Martin, tapi tidak dengan Juno!"


" Paman, bunuh saja dia aku tidak peduli, kirim dia ke neraka!" ujar Reyna yang sudah tidak memikirkan hubungan darah lagi.


akhirnya Nathan segera membantu menguruskan pemakaman Martin,


Yuda, Fahad dan juga Julia yang tiba pun segera menuju kediaman, karena Martin di bawa pulang ke kediaman Pratama sebelum di makamkan.


Yuda terduduk di depan peti Jenazah Martin, betapa dia juga sangat kehilangan sesosok Martin yang telah menjadi seseorang yang sangat penting di hatinya.


" Tuan, terimakasih atas segala hal yang anda berikan pada saya, saya akan menjaga semua milik anda dengan baik mulai sekarang, maafkan saya karna tidak berguna!"


Fahad juga berdiri di belakang Yuda, dia sangat membenci Martin, tapi dia juga tidak ingin seperti ini.


" Aku sangat menentang hubunganmu dengan kakakku, tapi aku juga tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi, tenanglah di sana, sekarang aku tahu bahwa kau benar - benar mencintai kakakku, aku berjanji akan merawat anakmu dengan, baik...!!!" ujar Fahad meletakkan bunga berdoa dan pergi.


semua orang -orang terdekat Martin pun tiba, ucapan belasungkawa pun di mana-mana.


Dan Martin pun segera di makamkan bersama dengan Jovan dan Bram di pemakaman keluarga Pratama.


Hari berkabung itu menyelimuti keluarga Pratama, Julius pun juga mendapat kabar itu tapi dia tidak bisa ijin untuk kembali.


 

__ADS_1


Sebuah kediaman yang sangat terpencil.


Juno menangis di sudut ruangan, ruangan itu sangat gelap, dan banyak sekali botol minuman berceceran kemana-kemana .


" Juno, kau harus tenang...!"


" Tian, kau bodoh... bagaimana bisa kau menyuruh orang bodoh itu, jika aku tahu ini akan terjadi aku tidak akan mengikuti rencana bodohmu!"


" maafkan aku Juno, maaf..." Tian memeluk punggung Juno dan menangis.


" Aku pastikan dia akan mati cepat!"


" Sebaiknya begitu, jika dia hidup aku akan memutilasinya hidup-hidup!"


" Dia juga sekarat dan wajahnya rusak, itu lebih dari cukup, dan dia akan mati dengan segera!"


" apakah kakakku sudah di makamkan??"


" Sudah, kakakmu di makamkan di pemakaman keluarga Pratama!"


" Aku tidak rela kakakku di makamkan di sana!"


" Juno, untuk saat ini kita harus mencari tempat persembunyian lain, jika.tidak kita akan mati juga??, dan kita belum berhasil membalas dendam!"


" kau cari, aku sedang tidak baik!" ujar Juno


Di rumah sakit,


" Om, aku mau Yuna selamat bagaimana pun caranya!" tegas Fahad.


" Apa??, kenapa kau mau menyelamatkan wanita gila itu??" ujar Yuda tak terima.


" Iya Had, dia mati lebih baik!"


ujar Crist terkejut.


" Aku tidak rela dia mati dengan mudah, setelah dia sadar langsung bawa ke ruang penyiksaan!" pinta Fahad .


Fahad pun juga mengetatkan penjagaan di ruangan Yuna.


" Itu aku setuju!" sahut Yuda.


Fahad pun segera menuju ke ruangan kakaknya Cindy, dia melihat ke adaan kakaknya yang sangat buruk dia mengalami depresi berat dan suka menyakiti dirinya sendiri,Fanan setia menemani Cindy meskipun Fanan juga babak belur di pukuli habis-habisan oleh Cindy, tapi Cindy juga suka memukuli perutnya sehingga dengan terpaksa kedua tangan Cindy di ikat.


Vevey begitu sangat terpukul dengan itu Vevey menagis terus karena dia merasa gagal menjadi orang tua.


" Fahad, jika kakakmu sudah melahirkan, mama akan membawanya Ke Swiss!"

__ADS_1


" Biar aku yang merawat keponakanku!,jika kau membawanya juga,kakak akan menyakiti keponkanku!" ujar Fahad.


" Kau kira mengurus anak mudah??"


" Aku sudah bersumpah di atas makam Martin aku akan menjaga anaknya!"


" Tapi...!"


" Sayang,...itu memang yang terbaik...Cindy akan teringat Martin jika melihat anaknya nanti!, jika di sini banyak yang akan membantu merawat anak itu, ada mbak Zara ,mbok Yem, kak Savina, kita fokus merawat Cindy dan men-supportnya agar membaik!"


" Aku tahu rasanya menjadi Cindy, tapi Cindy masih muda, dia terkejut dan belum bisa menerim semua!"


" Ya, ... keluarga kita juga sedang tidak baik-baik saja, Sansan juga sedang tidak baik sekarang,kau tidak boleh down harus kuat!" Hiro menyuport istrinya.


" Ma pulang dan istirahat, aku akan menjaga kakak disini!"


ujar Fahad.


Vevey pun menurut, dia segera pulang dan istirahat.


Di ruangan lain.


Sansan masih meringkuk, jelas dia sangat trauma, dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Martin tertabrak.


" Sayang, ..."


Kenzo juga sangat sedih dengan keadaan Sansan saat ini, Kenzo memeluk wanita kecilnya itu dengan erat.


" Om...Sansan takut" ucapnya dengan tatapan penuh ketakutan.


Kenzo terbayang, bagaimana takutnya Sansan saat itu, dia melihat ayah dan pamannya meninggal dengan tragis, saat itu dia masih kecil, apa dia juga menangis meringkuk sendirian di sana, atau dia pingsan sangking ketakutannya, melihat Sansan yang sekarang Kenzo tahu betapa dia memendam trauma bertahun tahun untuk tetap bertahan hidup seorang diri.


" Sekarang aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan slalu melindungimu!"


" Tuan, Lily menangis tidak mau makan dan minum, semua sudah membujuknya paman dan bibi sangat kualahan, saudara - saudaranya juga tidak dapat membujuknya!" ujar Dai melapor.


" Astaga!" betapa peningnya kepala Kenzo.


" Dia hanya ingin melihat Sansan ,melihat ibunya!"


" Bawa Lily kesini!" tegas Kenzo.


" Baik!!!"


Dai pun segera pergi.


" Sayang, sekarang kita punya anak-anak kau tidak bisa seperti ini terus...!" ujar Kenzo.

__ADS_1


Namun Sansan mengabaikan perkataan Kenzo.,,, Kenzo hanya berharap Lily dapat menyadarkan Sansan dari keterpurukannya.


__ADS_2