
"Wah, abang ruangan bibi bagus ya, ...!"
" Sebagus- bagusnya aku juga tidak mau tinggal di sini!" ujar Martin.
" Iya benar juga ya, siapa yang mau sakit?'
" ehmmm...jadi jangan pernah ingin menginap di sini ya?"
" Gila siapa yang mau!" mereka pun mendekati Sasha.
" Tante, selamat siang...tante ... kami sangat rindu padamu, kami sangat rindu saat tente mengomel pada Sansan, ah tante cepatlah bangun sansan sekarang menjadi lebih tenang, tidak seheboh dulu!, tante tidak akan dibuat pusing oleh Sansan lagi kok !"
" itu terdengar tidak seru ya?"
sahut Martin.
" Kok tidak Seru??"
" Ya, tidak ada berisik-berisiknya gitu!"
" Ah, itu Julius membuat onar terus!"
" Ah, dia agak tenang semenjak mengenal Yohana!"
" Ya baguslah ada pawangnya!"
" Abang, besok hari apa, apa abang ingat?" Cindy memeluk lengan Martin.
" Hari Rabu!"
" ihhhh menyebalkan, besok itu.."
"Hari ulangtahun Cindy!"
" Ah, aku kira abang lupa!"
" Mana mungkin, kau ingin meminta sesuatu dari abang?"
" Besok saja aku mintanya!"
" okey, kalau begitu!"
" Abang mau apa dari Cindy, karena itu hari bahagia Cindy, jadi Cindy akan kabulkan permintaan abang apapun!"
Martin mengusap, kepala Cindy dengan lembut,
" Aku tidak ingin sesuatu darimu!"
" Tapi Cindy ingin memberi sesuatu!"
" Bisakah di setiap hari ulang tahun Cindy, Cindy slalu memaafkan kesalahan abang?"
" permintaan macam apa itu abang?"
" Ya hanya itu yang abang inginkan, takutnya abang melakukan sesuatu yang membuat Cindy marah besar!"
" Abang, slalu membuat Cindy senang dan bahagia, mana mungkin membuat Cindy marah besar!"
" apakah permintaan abang dikabulkan?"
" Tentu saja!"
" Janji kelingking!"
Mereka pun menyatukan kelingking mereka.
Cindy merasa bahagia dan kemudian Cindy melihat ke ke samping.
Kedua matanya seperti melihat sesuatu yang mengejutkan.
" Cindy ada apa?"
Namun Cindy tidak menjawab pertanyaan Martin.
" Cindy....!!"
" Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hantuuuuuuuuuuuu.....!" Teriak Cindy ketakutan dan segera memeluk Martin.
" Hei hantu apa siang - siang muncul?"
Martin menenangkan Cindy .
__ADS_1
" Kalian, kenapa ribut - ribut sekali, ini Rum.."
" Paman kenapa?" Tanya Martin yang melihat ekspresi Chiko yang juga terkejut, barulah Martin melihat ke Samping.
" Haaaaa?" Martin pun terkejut
Chiko segera berlari,
" ah, ini ...ini sungguh anda, terbangun?" Chiko memeluk Sasha dengan erat sambil meneteskan air matanya sangking bahagianya.
" Oh, itu tante... tante ...hiks hiks, abang tante bangun ,tante sadar!" Cindy juga sangat kegirangan.
" Ah, iya...sungguh Tuhan baik hati!" Cindy dan Martin saling berpelukan.
" kalian cepat panggil Lidya atu dokter cepat!" ujar Chiko.
" Biar aku yang panggil paman!" Martin segera berlari keluar.
" Paman, tekan tombol di samping saja!" ujar Cindy.
" Oh astaga!" Martin segera menekan tombol di samping ranjang.
" Nyonya, di mananya yang sakit??, dimana yang tidak nyaman?" tanya Chiko
Namun Sasha hanya terdiam, namun air matanya mengalir deras.
" Tolong jangan menangis...!" Chiko menghapus air mata Sasha.
Tibalah Crist dan Martin yang terengah - engah karena berlarian.
" Ohs...os...os....huh, Panglima biarku periksa dulu sebentar!" Ujar Crist mendekat dan memeriksa Sasha dengan sangat detail.
" Aku akan menelpon mama dan bibi...!"
Cindy merogoh ponselnya.
" Tidak Cindy!" Chiko melarang.
" Paman ini kabar bahagia!"
" Tidak!!!" Chiko melarang dengan tegas.
"Kalian berdua harus tutup mulut!!!"
" Paman ada apa denganmu?" Martin sangat bingung.
" Crist, tolong periksa dengan baik!, anak - anak ikut paman keluar dulu!"
Cindy dan Martin pun mengikuti Chiko keluar ruangan dengan wajah kebingungan mereka.
" Cindy Martin, kalian tahu selama 7 tahun lebih kita masih belum bisa menemukan dalang di balik ini semua, kalian memiliki kelebihan dalam berpikir dan mencerna, seharusnya tahu apa maksud paman, paman tidak perlu menjelaskan mendetail kan?"
" Paham paman!" Sahut Cindy.
" hmmm, ini demi kebaikan Tante...kami akan merahasiakan nya!" sambung Martin.
" Termasuk pada Sansan dan mbok Yem!"
" Mengerti Paman, karna Sansan terlihat dekat dengan Istri ome Kenzo, yang sepertinya juga tidak baik!" ujar Martin.
" Ehmmm, sekarang aku tahu kenapa kalian tidak buru - buru membuktikan Sansan yang ini asli atau tidak, jadi kalian juga berjaga - jaga jika tante Sadar dan mencari Sansan, maka kita sudah menemukannya meskipun belum tahu dia asli atau palsu?" Cindy mencoba menebaknya
" Dan juga, ini untuk juga untuk menjaga Sansan yang asli tetap aman jika dia masih hidup!" sambung Martin.
" Kalian anak yang genius...jadi mohon kerja samanya!"
" Baik Paman!, tenang saja!"
" Ehmmm oke paman!"
Tak lama Crish keluar...
" Oh, Crish bagaimana?"
" Hmmm, dia sudah mulai sedikit berbicara, semua baik, namun dia harus melatih tubuhnya, agar kembali berfungsi dengan baik, dan sementara mungkin dia tidak akan bisa berjalan!"
" Hmmm, lalu yang lain?"
" kita lakukan pemeriksaan bertahap saja ya, agar tepat, kita ikuti perkembangan nya dulu!"
" Hmmm okelah jika begitu!, Jadi bisakah membuat peraturan siapapun tidak boleh menjenguk nyonya?"
__ADS_1
" Apa lagi ini Panglima?"Cris kebingungan.
" Hmmm, yang sudah tahu ya silahkan, tapi yang belum tahu, selama nyonyaku masih tahap pemulihan jangan boleh masuk, buatlah alasannya sendiri Crisht, aku masuk dulu!"
Chiko pun masuk ke dalam.
" Ada apa dengan Paman kaliang?" ujar Crist tak mengerti.
" Uncle Crist, ikuti saja...ini lebih baik!"
" Oh, okey....aku harus membuat alasan apa jika begini?" Crist berlalu sambil memegangi kepalanya.
" Ayo kita lihat Tante!" ajak Martin.
" Hmmm!" Mereka berdua pun masuk ke ruangan.
Chiko tersenyum sangat bahagia, berdiri dihadapan Sasha, ...
" Nyonya, apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Chiko
Sasha hanya menggeleng,
" nyonya ini berapa?" Chiko menunjukan 2 jarinya.
" Du....du..a...!" jawab Sasha terbata - bata.
"Ah, lalu apa anda ingat siapa saya?" tanya Chiko lagi.
" ya....!"
" Ah syukurlah, aku merasa sangat lega!" Chiko sangat senang begitu juga Martkn dan Cindy.
" Su....suu...suuuu...aaa..mii..ku"
" Apa??" Chiko dan yang lain terkejut dan memperlihatkan kesedihannya.
" Itu, eeee...itu nyonya, suami anda...!"
" Paman..!" Cindy menggeleng kepala berharap Chiko tidak mengatakannya sekarang.
" Itu , itu semua salahku, jadi untuk suami anda..."
" Kau...!" Sasha mendekat pada Chiko
" Iya ??"
" Su..su...aamiku, kau!"
" Apa???"
Krik krik krik krik...suasana tiba - tiba hening, Chiko menoleh ke arah Cindy dan Martin,yang memperlihatkan raut kebingungan nya.
Martin dan Cindy menaikan kedua bahu mereka serempak.
" Bisa anda ulangi?"ujar Chiko minta diperjelas.
"Su...suu suuuaaamiku!" ujar Sasha lagi sambil tersenyum memandang Chiko.
" Ini apa lagi?" Chiko benar - benar syok..
" Crist, Crist ,crisss..... panggil crissssssttttttt!" teriak Chiko panik
" Paman itu tombol!"
" ah yayaya...!" Chiko menekan berkali - kali karna sangat panik.
Crist pun tiba,
" Tolong lah kalian jangan main - main dengan bell itu!"
" Cepat periksa nyonya lagi!"
" apa lagi?, aku bilang bertahap, kau kira aku pesulap?, sabar lah!" Crist mengomel kesal.
" Ini, tapi nyonya mengira aku suaminya!" masih dengan wajah syok dan terkejut.
" Apaaaa???" Crist juga terkejut.
" Benar uncle, kami mendengarnya sendiri!" sahut Sasha.
Crist juga sangat terkejut, dan memutuskan untuk pemeriksaan lanjut dengan CT Scan.
__ADS_1