
Suhail pun segera membawa Sandy ke tempat Tiara
" Loh koh??"
" Sha aku mau numpang tinggal di sini, aku di aniaya di rumah Nathan!" Sandy mengadu dengan wajah memelasnya.
" Boleh koh...boleh tapi Sasha tidak bisa merawat kokoh di sini Sasha asa anak kecil!"
" Tiara dong..."
" Tiara??"
" iya Tiara .."
" Oh baiklah, anak itu pasti mau..."
" uncle, Suhail lihat keadaan Julius dulu ya??"
" oh iya terimakasih Suhail!"
" sama-sama!"
Suhail pun segera ke rumah tengah, Sasha memanggil Tiara untuk keluar.
" Ya bunda..."
" lihat Om Sandy terluka sementara biar dia dirawat olehmu saja...apa tidak masalah??"
"tentu saja tidak bun..."
" ya bawa dia ke kamar Natali sementara ini kan bersebelahan dengan kamarmu!"
" ayo om..."
" Ok..." Sandy langsung Full senyum.
" om apa itu sangat sakit.??"
" Ya aku di jahit 3 kali, tapi bukan sakitnya jahitan atau lukanya, aku terjatuh karena Nathan dan istrinya..."
" hah???"
" iya... tolong bantu aku ke tempat tidur Ra..."
" oh iya om..." Tiara pun membantu Sandy ke tempat tidur.
" Om mau makan??"
" Boleh Ra, ..."
" mau makan apa??"
" apa saja, cuma pingin yang kuah aja Ra!"
" Oh baiklah!"
Tiara pun segera membuatkan makanan untuk kekasihnya.
sementara Julius di rumah tengah.
" Anak nakal, ayo pulang...!!"
" tidak aku mau di rawat Aina..."
" biar mommy merawatmu nak!"
" mom, mommy kan sedang merawat kakak ipar, sudahlah..."
" Hihi anak ini...kau ini ya, sekarang apa-apa Aina mommy tidak dianggap padahal mommy sangat khawatir!"
" Maafkan Aina bibi..." ujar Aina
" oh bukan salahmu sayang tenang..."
" ya Aina memang anak paman yang tidak jelas!"
" Aina apa kau tidak sibuk??, biar aku yang menjaga adikku..."
" tidak bang, Aina longgar kok bang...bibi... paman!"
" tuh kalian dengar itu...." sahut Julius.
" Aina, kalau begitu bibi titipkan Julius padamu ya...maaf merepotkanmu...!"
__ADS_1
" Tidak Julius pulang, biar daddy yang merawat!!"
" Ogahhhhhhhhhhhh...!" tolak Julius mentah-mentah.
" kenapa??"
" Daddy sangat kasar bukannya sembuh malah tambah sakit aku nanti!"
" Anak gila kau!!!"
" sudah ayo cepat kita pulang, oh astaga aku lupa...Koh Sandy!" ujar Savina teringat
" Uncle sudah ku bawa ke kediaman Selatan, lukanya terbuka lagi, dijahit 3 kali ini dia bilang karna mommy dan daddy menjatuhkannya dan pergi!"
" wah parah kalian, sudah cukup uncle saja yang jadi korban aku jangan, aku agak ngeri dengan kalian...!"
" Diam kau!!" tegas Nathan.
" itu si kakak ipar sepertinya menangis dikamar, dia ingin menolong uncle tapi kena marah aku sudah mencoba menenangkan tapi tidak berhenti menangis..."
"aduh kalau begitu aku kembali!" Savina segenre berlari pulang.
" aku juga lebih baik mengurus menantuku dari pada anak blangsatan ini!"
Nathan pun pergi.
" Hah, kau hebat Julius...kau sebenarnya berhati lembut, hanya saja mulutmu kurang ramah ..."
" abang, Yohana sudah tiada..."
" hemmm aku mendengarnya, makannya aku datang...kau meminta Yohana di makamkan di pemakaman keluarga kita..."
" ya, kasihan dia...semasa hidupnya dia tidak punya rumah yang hangat untuk pulang, jika dia bersama keluarga kita, pasti di sana Yohana damai..."
" kau lupa dulu dia pernah menyakiti Fathia??'
Julius terkejut, dia lupa akan hal itu dan sedikit menyesal.
" tidak masalah, namanya manusia itu tidak bisa sempurna dalam menjadi baik, semua memiliki sisi jahat dan sisi baiknya sendiri, tidak apa-apa dia juga sudah mendapatkan balasannya, dan dia sudab berbeda alam dengan kita jika kita tidak memaafkan itu akan sulit untuknya..."
" ehmmm iya bang..."
" oke...karna kau dan Uncle sudah ada yang menjaga , abang kembali bekerja ya!"
" Ok, Aina ...maaf merepotkan Aina!"
" tidak-tidak sama sekali...!"
Suhail pun berpamitan pergi, Suhail pergi kini Fahad yang datang.
" Oh Julius aku bersyukur kau baik-baik saja, aku mendapatkan kabar dari om Chiko langsung aku pulang..."
" kau masih suka mengkhawatirkan ku Had!"
" tentu saja..."
" hemmm... terimakasih ..."
" untuk apa, kau di rawat kakakku aku jadi tenang, ...tapi kau jangan macam-macam..."
" aku terluka mau ngapain, tunggu sedikit pulih dulu kalau mau macam-macam!"
" Ku hajar kau nanti, ...."
" heleh kau itu yang suka macam-macam kan hayo..."
" heheh kalau tidak macam-macam, mana ada Nora...hahahhaha"
" Kalau begitu, Aina kita macam-macam yuk, nanti kalau di marahi kita bilang Fahad yang suruh!"
" emang mau berapa macam yus??"
" Hah??"
" hahahahahahahahahahha" Fahad tertawa puas.
" kau tidak boleh macam-macam dengan kakakku loh..."
Ting tong ting tong
terdengar suara bel dari luar.
" Siapa itu??"
__ADS_1
" tidak tahu...biar aku lihat!"
Fahad segera keluar dari kamar Aina
" Papah..."
" oh Dhiren..."
Fahad menggendong Putranya dan membawanya ke pintu utama untuk membuka pintu.
ceklek...
oh betapa terkejutnya Fahad...
" Kakak..." mata Fahad langsung berkaca - kaca seakan tak percaya jika yang ada dihadapannya itu adalah kakaknya Cindy
Tapi Fahad segera menutup wajah Dhiren,
agar tidak dilihat oleh Cindy.
" Fahad...." Air mata Cindy sudah mengalir deras.
" Fahad...tidak papa, kakakmu sudah bisa.menerima dan mencoba untuk melihat Putranya!" ujar Fanan menenangkan Fahad.
Fahad perlahan menurunkan tangannya, Cindy langsung memeluk Dhiren dan menangis histeris.
" hiiiiiiiiiiiii huuuuiuii maafkan mama Dhiren maafkan mamah...."
Dhiren pun tak kalah histeris , karena merasa asing dengan Cindy, dan langsung meminta Fahad untuk menggendongnya.
" apahhh oyooong huuuuuuaaaaaaaaaaaa"
Fahad tidak tahu harus bagaimana, Anna yang mendengar suara Dhiren menangis langsung berlari ke pintu.
" oh...kakak ipar..."
Fahad memberikan kode pada Anna agar membantu menenangkan Dhiren.
Anna langsung memberikan Nora pada Fahad.,
" aaaaaammmmaaaa oyooong..." Dhiren gantian meminta tolong pada Anna
Anna langsung memeluk keduanya,
" Dhiren, nak tidak apa-apa...ini juga mama Dhiren, sayang..."
" huaaaaaa ukaaannnn....amaaa oyooong..."
" kakak ipar, bagaimana jika masuk dulu, pelan-pelan saja kak...!"
Cindy melepaskan Dhiren, Dhiren langsung memeluk erat Anna seakan tidak ingin dilepaskan.
" Dhiren ...tidak apa-apa, ini papa dan mama Dhiren juga..."
" kak.. masuk dulu aja ya, abang juga..."
mereka pun masuk, Fanan menenangkan Cindy terlebih dulu agar tenang tidak buru-buru dengan Dhiren.
" kakak, syukurlah Fahad senang kakak sudah mau pulang..." ujar Fahad sangat bahagia.
" hika hiks...maafkan kakak Had sudah menambahkan beban padamu, perihal Dhiren..."
" jangan katakan beban, aku sudah berjanji akan menjaganya, dia bukan beban dia juga anak kami..."
" hika hiks... rasanya menyakitkan sekali anak kita tidak kenal kita, tapi itu salahku ,aku pernah menyakitinya di dalam kandungan karna depresi, huhuhuhu..."
" lupakan saja, kita mulai lembaran baru, kakak pulang saja, tinggal bersama kami pelan-pelan mendekati Dhiren..."
" hiks hiks...aku ikut mas Fanan aja Had..."
" tidak masalah kita tinggal di sini jika kau mau Sayang..."
" tapi bagaimana dengan kakak fanya...??"
" Dia kan juga sudah berpergian, kita mulai fokus pendekatan dengan putra kita...!"
" itu apa kalian akan membawa Dhiren pergi...???"
ujar Anna, ya bagaimana pun Anna yang sudah membesarkan Dhiren dari bayi sampai sekarang rasanya berat jika harus berpisah dengan Dhiren.
" Anna...dia anak kakak..."
" hiks...iya tidak apa-apa kalau begitu aku masuk dulu...." Anna pun segera masuk ke kamar dan menangis.
__ADS_1
Fahad pun segera menyusul istrinya untuk menenangkan juga..