GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
211.Meminta keadilan


__ADS_3

" Apa?? jika tadi sungguhan seorang pelayan apa dia sungguh akan dicambuk??"


" Julia, sejak aku lahir sampai aku naik tahta...sudah begitu aturannya...!"


" Yang Mulia bisa mengubah peraturan kan??, kenapa hanya merubah peraturan yang menguntungkan Yang Mulia sendiri??"


Dai yang berada di langit - langit mengelus dada, karena merasa Julia dan Sansan sangat mirip, perbedaannya adalah Sansan sangat menyukai uang dan Julia tidak.


" Julia, jangan samakan sistem pemerintahan monarki dan kongresional...berbeda!!"


" Yang Mulia aku lelah silahkan pergi aku mau istirahat!" Ujar Julia yang sama persis seperti Sansan.


" Baiklah, istirahatlah...besok pagi aku akan melihatmu!" Alfred pun segera pergi.


Dai segera turun dari langit-langit..


" Nona, ...!"


" Dai...kenapa kau masih di sini??"


" Ehmmm aku harus menjaga anda...sesuai perintah Panglima!"


" Dai...apa Sansan sudah bersama Om Kenzo??"


" Ehmm... Dia sudah bersama Tuan Kenzo..., nona pakailah ini ...ini obat racikan Sansan, Maaf nona saya bantu mengoles!" Dai mengoleskan obat pada pipi Julia yang bengkak.


" Terimakasih Dai, ...!"


" Sama-sama... selamat beristirahat nona...saya slalu ada di sekitar anda jadi jangan pernah khawatir!"


" Hmmm terimakasih!" Dai pun menghilang kembali.


Karna ada Dai Julia pun semakin tenang, dan segera beristirahat.


...----------------...


Panglima pun sampai di pelabuhan Negara M


dia segera membawa Renata ke kediaman Tanaka.


" Martin apakah dia adikmu??" Memastikan jika Chiko benar -benar membawa Renata.


" Ya Panglima, terima kasih!"


Mata Martin berkaca-kaca melihat tubuh adiknya penuh dengan luka wajahnya pun hampir rusak.


Chiko memberikan Renata pada Martin.


" Martin minta tolonglah pada Sansan, dia akan menyembuhkan adikmu!" Ujar Kenzo yang tak tega melihat keadaan Renata.


" Bawa adikmu ke kamar tamu...!" Ujar Yuki memandu jalan.


" Lukanya sangat banyak dia pasti sangat menderita...!"


" Bibi...apa Sansan mau menyembuhkan adikku??"


"Anak itu hanya sedikit nakal, tapi dia bukan orang jahat...Coba saja kau membujuknya!"


" Baik Bibi ,Martin akan mencobanya!" Martin segera menemui Sansan yang sedang memberikan terapi pada Fathia dan Lily.


" Sansan...!"


" emmm!" tanpa menoleh tetap fokus pada Fathia dan Lily.


" maukah kau menyembuhkan Rere??"


" Kak Fathia...apa sudah ada kemajuan??" Sansan mengabaikan Martin


" Ehmmm sedikit ada bayangan dihadapan ku!" ujar Fathia.


" Okey, cukup untuk hari ini 3 hari lagi kita lakukan terapi lagi...!"


" Baik Sansan...!"


" Sansan apa kau tidak mendengarku??"

__ADS_1


" Lily, sekarang cuci wajahmu lalu tidur siang , Jessi tolong adikmu ya!"


" Iya ibu...!"


" Sansan ku mohon... apa yang ingin kau aku lakukan aku akan melakukannya tolonglah Rere!"


Sansan sibuk merapikan alat-alatnya tak menoleh sedikit pun pada Martin.


Martin pun menyerah, dan berbalik kembali...


**Rasanya sangat menyakitkan, ketika kita diabaikan, tapi mau bagaimana lagi, sakit ini juga tidak lebih sakit dengan apa yang sudah Sansan alami.


Martin menerimanya dengan lapang dada**.


" Bibi, apakah ada obat?" tanya Martin pada Yuki.


" Apa anak itu tidak mau mengobati???"


" Sansan tidak mau bibi...!"


" Apa aku mengatakan tidak mau???" Sansan yang datang dengan peralatan medis dan obat-obatannya.


Yuki tersenyum melihat anak nakalnya itu mau membantu .


" Sansan??"


" Minggir kau Martin!!, menyebalkan...kenapa aku harus menolong musuhku sendiri!" mengoceh tidak jelas sambil membersihkan luka - luka Renata, Kemudian mengobatinya dengan cekatan.


" Kenapa kau mengoprasi wajahmu mejadi lebih jelek begini, sekarang ditambah luka ini kau akan semakin buruk rupa!" Mengomel tapi tetap mengobati dengan lembut dan cepat .


" Sudah selesai!, ini obat dalam di minum pagi, ini siang, dan terakhir malam...!, dan oleskan salep ini agar mukanya sedikit tertolong!" meletakkan semua obat di meja dan langsung pergi begitu saja.


" Martin apa kau mengingat semuanya??"


" Ya bibi...!"


" Salep ini akan menghilangkan luka di wajahnya dia akan kembali cantik tanpa bekas luka!" Ujar Yuki menunjuk obat salep di meja.


" Baik Bibi . terimakasih...!" Martin sangat terharu dengan perlakuan Sansan yang terlihat sangat tidak perduli namun sangat peduli.


" Aku sangat heran, keluarga besar itu sangat baik Kenapa kalian tega menyakiti mereka??"


" Sudahlah, siapapun yang salah itu memang sudah takdir...mendendam itu tidak akan menyelesaikan masalah, aku berharap Sansan akan mereda akan dendamnya...agar dia hidup bahagia...!"


" Andai saja adikku mudah di nasehati...semua tidak akan sekacau ini!"


" Ya sudah, istirahatlah Martin, Bibi akan menjaga adikmu!"


" Terimakasih Bibi...!"


Martin pun segera kembali ke kamarnya.


Mereka masih sangat muda, namun mereka sudah di pusingkan dengan keadaan yang sangat rumit, semoga semua cepat berlalu dan mereka bisa hidup bahagia.


...----------------...


" Yang Mulia....!"


" Apa Julia sudah bangun??"


" Sudah Yang Mulia ,tapi Nona tidur lagi karena sedang tidak enak badan...!"


" Hmm...apa aku bisa masuk?"


" Bisa Yang Mulia...silahkan...!"


Alfred pun masuk ke ruangan Julia, Alfred berdiri di samping Julia, melihat luka di wajah Julia.


" Ehmmm sudah tidak bengkak... syukurlah!"


" Yang Mulia apa anda terlalu senggang??"


" Kau tidak tidur??"


" ada suara langkah kaki membuatku terbangun!"

__ADS_1


" Apa aku mengganggu??"


" Ya ...!"


" Baiklah aku akan pergi...!"


" Yang Mulia, ...."


" Ya??"


" Mari kita bicara...!"


" Baiklah...!" Alfred pun duduk dengan baik.


" Yang Mulia, yang pertama saya mau minta keadilan karena tamparan ini, seumur hidup saya, saya tidak pernah di pukul oleh orang tua saya...!"


" Apa yang ingin kau aku lakukan??"


" Jangan menyela tolong dengarkan semua sampai aku meminta anda berbicara!"


Lagi - lagi Dai mengelus dadanya, melihat percakapan 2 orang berbeda kasta itu.


Alfred mengangguk dan mendengarkan dengan baik keluh kesah Julia.


" Yang Mulia, anda bisa mendidik pelayan anda untuk di siplin tapi kenapa anda tidak bisa mendidik Selir anda untuk di siplin ??"


Alfred tetap diam karena tidak di minta bicara,


" Yang Mulia aku beritahu pada anda, mendidik itu juga tidak dengan kekerasan, itu hanya akan menjadikan pelayan di sini takut pada anda dan tidak tulus melayani anda, toleransi itu perlulah, 1x, 2x,3x barulah ada penegasan hukuman, Tuan adalah contoh untuk bawahanya, anda juga harus mengajari selir anda menghargai sebab tanpa seorang pelayan dia juga tidak akan hidup nyaman!"


Alfred hanya mengangguk - angguk memahami semua perkataan gadis berumur 16 tahun itu.


" Dan lagi, seharusnya dia tidak langsung menampar dia punya mata yang bagus tapi tidak berfungsi dengan baik, itu sama saja tidak berguna, menyebalkan...akua sangat kesal, aku tidak bisa membalas, aku tidak bisa membela diri, aku ternyata hanya seorang pecundang di negara orang lain!"


" Yang Mulia kenapa anda diam saja??, apa anda menertawakanku di dalam hati??"


" Tidak, bukankah kau memintaku mendengarkan sampai selesai??"


" Oh, cepat bicaralah...aku sudah selesai!"


" Julia, aku mengerti... sekarang bangun mandi dan sarapan...aku pergi dulu!" Alfred pun beranjak pergi.


" Apa??, heiii heiii Yang Mulia....!"


" Nona... Yang Mulia sedang memikirkan cara untuk memberikan anda keadilan!" ujar Dai yang sudah pasti tiba-tiba nongol.


" Apa kau yakin??"


" Yakin, karena saya mengamati Raja cukup lama di sini!, Dia Raja yang baik...hanya saja memang membutuhkan arahan seseorang yang di anggapnya cukup dekat dengannya, sedari kecil apa yang dia pelajari dari lingkungan sekitar memang begini, apa yang diterapkan padanya memang begini, ... jangan terlalu mendesaknya, berikan dia waktu sedikit untuk mengambil keputusan!"


" Hmmm baiklah...Dai, ayo kita sarapan bersama, ...!"


" Ami dan Yuzan akan tahu keberadaan saya nona!"


" Mereka sekarang orang ku jangan khawatir!"


" Baiklah nona...!"


" Sebelum itu aku mau mandi dulu!"


" Baik nona!"


Sementara Alfred tersenyum - senyum sendiri di kediamannya.


" Yang Mulia, apa anda sedang senang??" Tanya Dans yang sedari tadi mengamati Rajanya.


" Dans, apa semua wanita di negara +62 itu sangat menarik??, mereka berani berbicara dengan Raja tanpa gemetaran, mengomeli raja sesuka hati, apa mereka memiliki nyawa 9 sehingga tidak pernah takut??"


" Mungkin kita menemui 3 wanita di negara +62 , seperti nona Tasya, lalu juga seperti nona Julia dan satu lagi seseorang yang menggantikan nona Tasya dia juga sudah di siksa sedemikian rupa juga masih tetap kukuh pada pendiriannya!"


" Ehmmm....kalau begitu tolong panggil selir ke tiga datang ke sini!"


" Baik Yang Mulia...!"


Dans segera melaksanakan perintah Rajanya,

__ADS_1


Baiklah, jadi apakah Yang Mulia juga tertarik dengan nona Julia??, sepertinya memang tidak bisa dipungkiri Beliau memang mewarisi darah Raja yang terdahulu mudah jatuh hati pada wanita, sudahlah itu bukan urusanku.


dalam hati Dans.


__ADS_2