GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
220. Terlambat jatuh Hati


__ADS_3

" Haih ternyata sudah setua ini kau belum benar - benar jatuh cinta, Yang Mulia bolehkah aku bertanya??"


" Ya, kak...!"


" Lalu kenapa kau memperlakukan Julia dengan sangat baik, apa karena mirip dengan Tasya??"


" Tentu saja bukan, ...!"


" Lalu...?"


" Dia sangat baik hati di balik wajah yang terlihat jutek, dia memiliki ketegasan dalam dirinya, dia juga berani saat dia merasa benar, dia mudah memaafkan, memiliki rasa. toleransi yang cukup tinggi...!"


" Apalagi??"


" Pandai memasak, perbedaan Tasya dan Julia itu ada dua kakak!"


" Apa itu?, Julia itu tidak begitu menyukai uang dan pemaaf, Tasya itu sangat menyukai uang, dan pendendam hehe ...!"


" Lalu kepribadian yang mana yang paling kau sukai??"


" Awalnya aku sangat menyukai Tasya, karena selalu ada aja hal yang membuatku kerepotan sampai melupakan masalah yang membuatku menjadi beban pikiran!"


" Dia menghiburmu yang banyak masalah dengan masalah yang di buatnya!"


" Hahaha iya benar, tapi dia juga slalu memberikan ku solusi....!"


" Lalu bagaimana dengan Julia?"


" aku merasa setiap banyak hal yang harus aku selesaikan dan sangat penat ,saat bersamanya, membuatku lebih tenang dan lebih mudah mendapatkan solusi dengan sendirinya!"


" Oh menarik sekali, Julia tidak membuat onarkan??"


" Hahaha tidak...aku kira dia sama seperti Tasya semakin ke sini semakin ke sana eh salah berbeda...!"


" hahaha kau sudah bisa bercanda,Kau menceritakan keduanya dengan ekspresi sangat berbeda!" Ujar Alena yang mengamati wajah adiknya itu.


" Apa bedanya??"


" saat membicarakan Tasya kau selalu tersenyum, namun gerakan tubuhmu sangat datar tapi saat membicarakan Julia semua anggota tubuhmu bergerak...seakan sangat menyenangkan membicarakan anak itu!"


" Benarkah?? kenapa aku tidak menyadarinya??"


" Kau sangat terlambat jatuh cinta, ingatlah untuk berjuang keras untuk mendapatkannya!"


" Apa maksudmu kakak??"


" Jangan sampai kehilangan lagi...aku mengamati anak itu cukup banyak mata yang mengagguminya saat dia berada di tokonya!"


" Apa??"


"Ya, dia masih sangat muda aura kecantiknya belum terpancar semua,tapi sudah membuat orang-orang tersihir, berbeda dengan selir-selirmu mereka memang cantik karna usianya yang sudah matang, jangan menyesal karena kau sangat lambat memahami hatimu, sebenarnya selir ketiga itu bisa membantumu memahami keadaannya, itu kenapa selir ketiga lebih cemburu dengan Julia dari pada Tasya, karena dia tahu, saat dengan Tasya kau belum benar-benar jatuh hati...!"


Alfred baru mengerti panjang lebar yang dikatakan kakaknya.


"tapi tetap harus, Pelan-pelan anak itu masih sangat muda aku yakin dia belum pernah berpacaran, jadi sama seperti mu tidak peka hihihi...sudah ah kau cepatlah kembali dan istirahat!"


" Baik kakak terimakasih untuk teh dan waktunya!" Alfred pun segera kembali ke kediamannya


Alfred merebahkan tubuhnya, dia ingin istirahat namun matanya tak dapat dipejamkan karena perkataan kakak perempuannya.


" Apa??, bagaimana mungkin aku jatuh hati secepat itu pada Julia??, saat pertama melihat fotonya, sangat biasa saja, tapi saat mengenalnya rasanya luar biasa...!"


Alfred tidak bisa tidur dirinya hanya berbolak-balik di atas ranjangnya yang lebar.

__ADS_1


" Sepertinya tidak benar jika aku jatuh cinta pada Julia, baru beberapa bulan anak itu di sini.... astaga aku hampir gila...!"


Tak terasa Alfred berpikir tentang dirinya sampai matahari terbit.


" Yang Mulia waktunya mandi!"


"Baik...!"


Dengan wajah yang lesu, dan kantong mata semakin terlihat jelas.


" Yang Mulia apa anda sakit??"


" Hnmm tidak!" jawab Alfred dengan tatapan kosong.


" Yang Mulia apa anda tidak tidur??" tanya Dans


" Hmmm...Aku akan mandi!" Alfred pun segera memasuki ruangan berendamnya.


pikirannya masih tertuju pada Julia, Julia, Dan Julia.


" Oh aku tidak bisa begini!" Alfred segera berganti baju dan segera keluar menuju arah tenggara.


" Yang Mulia, anda mau ke mana??, ayah dari Selir ketiga meminta untuk bertemu dengan anda!"


mendengar laporan pelayannya langkah kaki Alfred terhenti.


" Di mana dia??"


" Ada di tempat bersantai utara!"


Alfred segera menuju Utara, terlihat ayah mertuanya sudah duduk menanti.


" Hormat pada Yang Mulia!"


" Yang Mulia, maafkan atas kelancangan saya, kesalahan apa yang telah di perbuat oleh putri saya, sehingga Yang Mulia menghukumnya??"


" Apa putri mu tidak bercerita??"


" Bercerita namun saya tidak bisa mendengar hanya dengan satu pihak!"


" Ya aku sangat menyukai caramu, tapi perdana menteri putri anda sudah menyinggung ku... sebagai suami saya hanya mendidiknya !"


" Baik saya mengerti Yang Mulia, tapi Yang Mulia tidak bisakah anda memandang putri saya sebagai seorang wanita??"


" Aku slalu memandangnya sebagai wanita, memang selama ini kau kira aku anggap dia pria??"


" Tapi Yang Mulia, meskipun putri saya tidak menjadi seseorang yang dicintai oleh anda, bisakah seorang ayah ini memohon belas kasih anda untuk menyenanginya walaupun hanya sedikit!"


" Perdana menteri, jangan meminta lebih dari sebuah kesepakatan, aku paling tidak suka orang - orang serakah!"


" Yang Mulia, bahkan Nona Tasya saat itu menguras habis uang kami anda juga tidak marah, bagaimana bisa anda mengatakan kami serakah hanya karena meminta kasih sayang yang semestinya tidak perlu di minta!"


" Perdana menteri, jangan menguji batas sabarku, Kenapa kau terdengar mengaturku, kesepakatan awal itu bagaimana kau juga sangat paham, apa perlu aku perlihatkan perjanjian tertulis kita??"


" Tidak perlu Yang Mulia, maafkan saya!"


**Sepertinya memang benar, raja ini adalah orang impoten, sungguh malang putriku menikahi nya.


dalam hati ayah Selir ketiga**.


" Baiklah, aku harus pergi... selamat beraktivitas ayah mertua saya pergi dulu!"


" Baik Yang Mulia!" Alfred kembali menuju ke paviliun tenggara.

__ADS_1


" Aahhh... auuu sakit pelan sedikit!"


" Ada apa berisik dari luar!". Alfred masik ke kamar Julia.


" Keluaaaaaaaaaaarrrrrr!" teriak Julia sangat keras.


Alfred segera berbalik badan dan keluar.


" Yang Mulia kenapa tidak mengetuk dulu??" ujar Dai yang baru datang membawa obat ramuannya.


" Aku karena terlalu khawatir mendengar dia kesakitan!" Ujar Alfred merasa bersalah karena melihat apa yang seharusnya tidak dilihatnya.


" Yuzan, obatnya sudah siap, bantu oleskan pada tubuh nona!"


" Baik...!"


Yuzan segera mengambil obat dari Dai dan segera membawanya masuk untuk diolesi pada Julia.


" Dai, kau masih berhutang penjelasan padaku!"


" Ah...saya memang selama ini berada di Istana anda yang mulia!"


" Apa kau yang merencanakan penculikan Tasya?"


" Tentu tidak yang mulia, saya hanya menjaga saja tapi memang saya yang memandu jalannya!"


" Kau...!!!!" Alfred ingin marah tapi tertahan


" Lalu kenapa kau masih di sini??"


" Saya menjaga nona Julia...!"


" Oh...apa kau akan melaporkan kejadian hari ini pada keluarganya??"


"Tidak, Nona memintaku untuk tidak memberitahu keluarganya...!"


" oh benarkah??"


" Benar Yang Mulia!"


" Hmmm baiklah, kau tidak perlu bersembunyi lagi...kau bisa menjaga Julia 24jam, tolong jaga dia dengan baik Dai...!"


" Yang Mulia, apa anda jatuh hati pada Nona Julia??"


" Apa urusannya denganmu!"


" Oh maaf!"


" Apa lukanya parah Dai??"


" Lumayan, tapi aku sudah membuatkan ramuan jadi akan hilang dalam 3 hari...!"


" Oh, baguslah... untuk urusan makan malam sementara tidak perlu dulu, dia harus fokus untuk penyembuhan dirinya!"


" Baik Yang Mulia,akan saya sampaikan pada Nona!"


" Ehmmm....!"


" Yang Mulia, sudah waktunya untuk pertemuan!"


" Ya,,, Dai jika ada apa-apa... langsung cari aku!"


" Siap Yang Mulia!"

__ADS_1


Alfred menengok ke arah kamar Julia, rasanya sangat khawatir, dengan berat hati Alfred pun segera meninggalkan Paviliun tenggara.


__ADS_2