GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!

GADIS NAKAL INI, TAKDIRKU!!!
245. Kenangan yang terselamatkan


__ADS_3

Kenzo segera memberikan obat itu dengan cara yang sama, dan menghirupkan obat satunya lagi pada hidung Sansan.


Dai berdiri penuh harap agar sahabatnya itu segera sadar, agar dia tidak perlu menerima hukuman.


Sansan lihat saja jika sampai aku dihukum, aku akan menguburmu hidup - hidup di kotoran babiiiih.


dalam hati Dai .


" Dai...kenapa tidak ada reaksi??" tanya Kenzo dengan lirikan mata tajam.


" Tuan, semua obat butuh jeda kan...hehe...!"


memberi alibi sedapatnya.


" Hemmm....!"


Kenzo merasa jawaban Dai masuk akal, Kenzo menunggu sekitar 15 menit lamanya namun tidak ada reaksi apapun.


" Dai??"


" Tuan, ini obat herbal, mungkin membutuhkan waktu sedikit lama heheh...!"


" Bersiaplah ke markas utama, dan terima hukuman di lantai 2...!"


Dengan berat hati Dai pun , melangkah untuk ke bascamp utama dan menerima hukuman.


" Baik Tuan...!"


Dai pun keluar dari apartemen,


" Jika tahu akan seperti ini, aku lebih baik memakanmu dari pada meminta bantuan Dai!" Kenzo memeluk Sansan yang masih tertidur.


" Bangunlah, sudah 3 hari aku tidak mendengarmu tertawa, merengek, dan marah...aku sangat rindu sayang...jangan menakutiku...!"


Kenzo sangat takut jika Sansan akan tertidur selamanya.


" Om...aku tidak bisa bernafas!" ujar Sansan lirih.


" Sayang kau sudah bangun??, syukurlah...apa kau haus?, apa lapar? apa ada yang sakit??"


" ehm...aku pusing om...!"


" Oh aku akan panggil dokter...eh tunggu Dai...aku harus memintanya kembali...!"


Kenzo segera menghubungi Dai...


" Ya Tuan, saya sedang dalam perjalanan!"


ujar Dai lirih .


" Kembali, Sansan sudah bangun!"


" Apa?, saya kembali sekarang!" Dai segera memutar balik kembali ke apartemen.


" Om, apa yang terjadi aku lupa semuanya!"


" Kau tetaplah berbaring ,tunggu Dai datang...dia akan memeriksamu...!"


" Hmmm ..!" Sansan menurut saja karena kepalanya sangat pusing, badanya sakit semua , seperti aliran darahnya tidak lancar.


Ceklek...


" Dai, cepat kau periksa dia ..!"


" Baik...!"


Dai segera menarik tangan Sansan.


" Tuan, nona baik - baik saja kok....!"


" Ehmm.. syukurlah aku akan buatkan sup ayam untukmu...! , Dai tolong jaga Sansan!"


segera ke dapur


" Baik, .....!" Dai melihat ke arah Sansan terus menerus.


" Apa kau melihatku seperti itu??"


" Hah, kau tahu jika saja kau tidak bangun, mungkin aku akan lumpuh karnamu!"

__ADS_1


" Kenapa menyalahkanku??"


" Bagaimana bisa kau tidak tahu jika kau meminum banyak obat perangsang??"


" Ha?? kapan aku tidak ingat!"


" Mana ku tahu, aku baru sampai di markas utama, tiba-tiba Tuan memintaku datang mengurusmu...aku membuat beberapa bahan herbal untuk menenangkanmu, tapi kau malah tertidur seperti orang koma 3 hari!"


" Dai, aku minta maaf aku sungguh tidak ingat apapun...!"


" Apa kau merasa lebih baik??" Dai memijat jari - jari Sansan...!"


" Ehmmm lumayan, peredaran darahku mengalir dengan baik...!"


" Sansan tahu tidak, sepertinya Raja menyukai Julia!"


" What?? kau serius?? lalu bagaimana dengan Julia?"


" Julia bertengkar beberapa kali dengan Selir ketiga jadi Laksamana menjemputnya!"


"Apa??, kenapa dia berani menyakiti saudaraku saat aku tidak ada??"


" Sudah lupakan itu dulu, Julia membawa pulang Ami dan Yuzan!"


" Ha??, apa Raja mengijinkannya??"


" Ya, ... Raja memperlakukan Julia dengan sangat istimewa!"


" Hahahahaha...!"


" Apa yang kau tertawakan??"


" Ehmmm....aku akan membantu Raja mendapatkan Julia, aku sudah berjanji akan membantunya mencarikan permaisuri hihihi...sungguh laki-laki tidak bisa di percaya!'


" Hei aku juga laki-laki...!" Dai tidak terima.


" Tapi di mataku kau bukan laki-laki Dai...!"


" Lalu apa??, sudahlah aku tidak mau berdebat dengan pasien, eh jika kau mengatakan seperti itu kenapa kau malah membantu Raja, bagaimana jika Raja nanti menyakiti Julia??'


" Ehmmmm...Raja baik Dai...apa kau tidak tahu Raja memberikan Yuzan dan Ami itu untuk menjadi pionnya, mereka bisa menjadi informan yang tepat karena Julia sangat menyukai mereka bukan??"


" Ehmmmm tapi aku yakin Julia masih sangat polos, dia baru melihat dunia luar, dia pasti tidak ada perasaan apapun pada Raja, ...!"


" Ya benar...aku melihatnya begitu!"


" kalian asyik membicarakan siapa??"


" ehmmm...Tuan....!"


" om kami sedang membicarakan Julia dan Raja!"


" Kenapa?, kau merindukan Raja?"


" Lah kok marah??"


" Aku tidak marah, kau barus saja bangun tapi sudah membicarakan yang jauh!"


" kata Dai, Raja menyukai Julia!"


" Untunglah Julia sudah kembali!" Ujar Kenzo datar yang memang tidak mau tahu persoalan tentang kampret itu.


Dai memberi isyarat pada Sansan untuk diam dan tidak membahasnya lagi.


" Ayo makan...lah...setelah 2 jam baru mandi...ganti pakaian dan kembali istirahat!"


" Ya om...!"


" Ehm...kau akan di temani Dai, aku harus melanjutkan pekerjaanku, ingat tidak macam-macam atau aku akan menghukum Dai!"


" Tuan, saya kenapa di hukum???"


" hemmm aku tidak tega menghukum Sansan...!"


" Pfffffffttt....!" Sansan menahan tawanya.


" Ingat itu sayang??!"


" Baiklah...om juga jangan macam-macam!"

__ADS_1


" itu pasti, Dai tolong rawat Sansan dengan baik...saat aku kembali aku ingin melihatnya sudah bugar kembali...!"


" Baik Tuan!"


" Aku pergi!" Kenzo pun segera pergi meninggalkan apartemen.


Sansan dan Dai saling memandang.


" Oh...Dai kapan kau tiba??"


" sudahlah, sekarang kau mandilah, aku hampir lumpuh karena kau aku masih kesal!"


" Dai jangan marah, maafkan aku...ya...aku baru tahu jika om Kenzo begitu kejam sekali...!"


" Dia memang begitu, apa kau baru tahu??"


" Tidak om Kenzo dulu sangat baik dank lembut, mungkin karena dia harus menggantikan posisi pamannya, jadi dia juga harus seperti itu...!"


" Sansan, itulah sifat asli Tuan Kenzo,...jika dia tidak memiliki sisi kejam, dia tidak akan mampu menjadi ketua Aogiri!"


" Ayolah maafkan aku Dai bukankah kita sahabat??"


merangkul lengan Dai.


Dai mengusap kepala Sansan lembut,


" Sebenarnya aku juga tak masalah dihukum, aku sangat khawatir padamu, lain kali berpikirlah 2 kali saat bertindak...kau tahu nasib orang yang mengawasimu, dia dihukum oleh Tuan, karena tidak becus menjagamu!"


" Oh sungguh??"


" Ya, kau harus memikirkan orang sekitar mu saat bertindak...!"


" Baik, aku mengerti Dai....!"


" ehmm....oh ya aku punya sesuatu untukmu!"


" Apa itu??"


" Lihat ini...!"


Dai memberikan kotak hadiah pada Sansan.


" Apa ini??"


" Lihat, saja...aku terlambat memberi hadiah ulang tahun untukmu, aku kembali ke negara kita karna hal ini, aku yakin kau akan menyukainya!"


" Dai...kau memang yang terbaik...!" Sansan memeluk sahabatnya itu dengan gembira.


Sansan segera membuka hadiah dari Dai.


" Handphone???" melirik ke arah Dai.


" ehm...apa kau tidak ingat jika kau memberikanku sebuah ponsel saat kau menangis di bawah pohon besar...??"


" Aku ingat, ini ponsel bundaku??"


" Hemmm....aku sudah berhasil memperbaikinya untukmu....semua yang ada di dalam ponsel ini sudah aku backup, dan aku upgrade dengan versi terbaru...tidak ada yang hilang satu gambar pun, kau bisa memakainya dengan baik !"


" Dai... terimakasih!" Sansan memeluk Dai lagi kali ini dia benar-benar sangat bahagia.


" Ya lepaskan,kau jangan pernah memelukku di depan Tuan, atau aku akan mati mengenaskan!"


" Hihihi...baik Dai...!"


" Coba kau lihat dulu... aku akan menyiapkan air herbal untuk kau mandi....agar kau terlihat bugar kembali!"


" Wah, kemampuanmu semakin meningkat, Dai??"


" Jika bukan karena seseorang yang ceroboh aku juga tidak akan belajar banyak hal!"


" Pfffffffttt....!"


Sansan pun segera menghidupkan ponsel milik bundanya yang sudah menjadi handphone merk terkini, saat hp itu menyala Bena saja wallpaper nya masih sama ada dirinya saat masih umur 6 tahun ayahnya Bram dan juga bundanya yang rempong sepertinya.


Air mata anak nakal itu mengalir sangat deras melihat wujud ayahnya yang sangat ia rindukan, yang setiap hari ia rebutkan dengan bundanya yang rempong.


" Andai aku bisa kembali di waktu itu seperti di gambar ini, aku akan sedikit mengalah pada bunda, sesekali membiarkan dia menang, mendapatkan Ayah...hihihi...tapi pada akhirnya kita tidak ada yang menang bunda, ayah lebih memilih pergi meninggalkan kita, mungkin dia pikir dengan begitu kita tidak akan berebut lagi, karena dia tidak akan pernah bisa memilih salah satu dari kita untuk dimenangkan, huhuhuhuh....!"


Sansan menangis sesenggukan, rasa rindu pada seorang Ayah yang tidak akan pernah kembali, dan rasa rindu pada sosok bundanya yang ada namun tidak mengingatnya, itu begitu sangat menusuk dadanya sampai tulang belakang.

__ADS_1


__ADS_2