
setelah 15 menit, tidak kurang tidak lebih ketiganya datang tepat waktu.
" Tepat waktu, tepat waktu..."
Sansan dan kedua rekan setianya tiba.
Melda, melihat ke arah keduanya dan menunduk malu, keduanya sangat tampan.
" Bunda, ada apa ?? sebenarnya??"
" Anna, Sansan, ikut bunda dulu yuk...!"
" Hah??, katanya anak-anak rindu padaku??, kenapa mereka cuek??, eh itu bukanya anak yang di tolong abang??"
" benar, sini bentar kalian, eh Dai dan Noah tolong bantu Melda menjaga anak-anak sebentar..."
" Bunda, ada apa??"
" Jadi begini, itu si Melda katanya mau mencarikan ayah untuk Melvin...bunda Lihat 2 temanmu ini sangat baik dan berkualitas... yang mana yang cocok untuk Melda, kasihan ya Anna, Melda itu??" mencari dukungan dari Anna.
"benar, ...kasihan"
" kalian kenapa ikut campur urusan orang lain??, aku lihat Melda juga santai saja kok!"
" kau tidak tahu betapa sulitnya menjadi Melda, kau ini tak berperasaan!!"
" kenapa bunda malah mengomeliku??"
" bunda minta kau bantu dia !!!"
" Bunda, aku tidak yakin Noah dan Dai mau atau tidak dengan Melda, aku juga tidak akan memaksa mereka jika tidak mau, memang di mana suaminya??"
" menikah lagi...dan punya anak perempuan!"
" Nanti aku perhatikan dulu Meldanya, aku tidak bisa memberikan Noah atau Dai pada sembarangan orang, keduanya sudah seperti saudaraku..."
" Iya iya bunda tidak akan memaksamu..."
" sudah kita kembali ke sana!" Sansan pun segera kembali ke ruang tamu.
" Lister..." panggil Sansan pada adiknya.
" kakak, ..." Lister berlari ke arah Sansan dan meminta gendong.
" Sudah semakin pintar adikku yang tampan ini, kenapa kau tidak mirip bunda, kau anak siapa woiii??"
" titho..." jawab Lister.
" hah siapa Titho??, bunda siapa Titho??"
Sasha menepuk Jidatnya,
" Dia masih belum jelas berbicara kau jangan membuat asumsi yang aneh-aneh San, dia mengatakan Chiko!!, siapa lagi wajahnya sangat mirip dengan Chiko...huh anak ini bisa-bisanya bicara seperti itu, kau kira bunda ini main serong apa??!!!"
" Hahahahh" semua tertawa dengan candaan kecil itu.
tiba-tiba Melvin berdiri di hadapan Sansan, dengan tangan dipinggang.
" Eh siapa kau??, datang-datang menantangku??"
" turunkan Lister...!" ujar Melvin.
__ADS_1
" Dia adikku, apa urusannya denganmu??"
" tidak dia om kecil kami!!"
" om kecil??"
" San, sudah turunkan Lister jangan menggoda Melvin...!"
" Melvin tolong yang sopan nak!" sahut Melda.
" Oh namamu Melvin, kau harus bicara dengan lembut pada orang tua!"
" Om kecil, tenang saja aku akan menyelamatkanmu...!" ujar Melvin berlari mengambil tembak-tembakan mainannya dan mengarahkan ke Sansan.
" hahaha...." Sansan meletakkan Lister dan segera menggendong Melvin.
" Oh...tembaklah...nak...!" pinta Sansan santai
" kenapa kau tidak takut??, aku membawa senjata!!"
" aku punya pistol yang lebih bagus lagi kau mau lihat??" Sansan mengeluarkan pistol asli dari kantong pinggangnya.
" San, mau kau apakah Melvin...??"
Sasha sudah panik.
" Nyonya maafkan anak saya dia hanya anak kecil, jika anak saya menyinggung anda itu karena saya gagal menjadi orang tua yang baik..."
Sansan mengabaikan ucapan Melda,Sansan mengarahkan pistolnya di kepala Melvin.
" tante kecil...jangan..." ujar Anna membujuk Sansan
" Doooooorrrrr...."
" aggggggggggggggggggh..."Melvin berteriak memeluk Sansan.
Nora menangis ketakutan, sedangkan Lister dan Dhiren biasa saja .
" Sansan kau keterlaluan!!" Sasha meraih pistol ditangan Sansan dan melemparnya jauh ke lantai.
" Beraninya kau menggertak anak kecil!!!!" teriak Sasha marah dengan putrinya.
" Bunda, kenapa marah??, aku hanya mengajarkan pada ibu anak ini, dia tidak bisa bergantung pada orang lain...untuk mendapatkan kebahagiaan mereka...!"
" kau gila, Melvin masih kecil..."
" Bunda, aku dulu juga masih kecil, aku kehilangan ayahku dan pamanku di depan mata,lalu melihat kau sekarat, aku juga tak bisa apa-apa, aku menjalani kehidupan ku sendirian diluar sana, Melvin masih ada ibu dan kakeknya, ayahnya juga masih hidup, kenapa dia tidak berusaha keras lepas dari penderitaannya sendiri, dia sudah paham mengancam orang, meski dia kau katakan masih kecil, berarti dia sudah paham jika dia tidak boleh mengidamkan kebahagiaan orang lain untuknya, dia harus tahu kami bukan bagian dari keluarganya, jangan mengharapkan tangan orang lain untuk bahagia...!!!"
" Jangan bandingkan mentalmu dengan orang lain, setiap orang punya kapasitasnya sendiri Sansan, bunda kecewa padamu, kau tidak bisa begitu kejam dengan orang lain, bunda tahu kau sudah melalui banyak hal yang membuatmu sulit mempercayai orang lain, Bunda dulu bahkan mengalami hal yang sama denganmu, bunda juga hanya seorang diri, dan bertemu dengan keluarga ini, bunda bahkan tidak pernah berharap menjadi bagian keluarga ini, tapi mereka begitu baik menganggap bunda adalah keluarga mereka, jangan begitu kejam putriku...!"
" maafkan saya nyonya , karena kehadiran Melvin dan Saya membuat keluarga anda bertengkar!" ujar Melda merasa bersalah.
" Berhentilah meminta maaf, tidak akan ada orang yang terus mengasihanimu selamanya kau harus kuat, kenapa priamu meninggalkanmu, kau harus tahu,jadilah ibu yang hebat dan kuat, untuk Melvin, jangan terus berlindung dalam kemalangan putramu, untuk mendapatkan simpati orang lain, terlalu lemah pria juga tidak suka, terlalu kuat pria juga tidak berminat, setidaknya jadilah ibu yang hebat untuk menguatkan anakmu, dan jadilah wanita yang menawan dihadapan seorang pria...!"
" terimakasih atas nasehat anda nyonya sansan, saya akan mengingatnya..."
" mulai besok, Noah akan mengantar jemput putramu sekolah, dan Noah yang akan mengajarimu sedikit bela diri...!"
" Apa???" Noah terkejut dengan keputusan sepihak Sansan, tapi Noah bisa apa.
" Putriku....maafkan bunda sudah memarahimu, tadi...bunda terlalu lebay ya...?, heheh anak baik bunda terimakasih " Sasha memeluk putrinya yang besarnya sudah sama dengan dirinya.
__ADS_1
Jika dilihat mereka bukan seperti ibu dan anak, tapi kakak adik.
" Melvin, maafkan tante ya??, tante hanya bercanda sebagai permintaan maaf aku akan memberikan seorang ayah untukmu... yang bisa kau andalkan di sekolah!"
" siapa??"
" Dia, lihat dia cukup tampan, dan baik hati, dia sangat hebat dalam segala hal, dia bisa menjadi apapun yang kau mau, iyakan Noah??"
" Saya akan berusaha nyonya!"
" bagus... sekarang kau bisa memanggil Noah, ayah kandungmu..."
" Pfffft...." Dai tak kuasa menahan tawa.
" aku akan melihat dulu kemampuannya, baru akan ku panggil ayah, jika dia hebat maka cukup dia saja jadi ayahku, lagian Melvin sudah pusing memikiki banyak orang tua dadakan..."
" Boleh nak, ayah Noah akan mengantarmu dan ibumu pulang menemui kakekmu..."
" nyonya...???"
" Tidak ada salahnya di coba !" ujar Sansan menyemangati Noah.
Noah melihat ke arah Melda, si Melda langsung menunduk malu, lalu melihat ke Melvin yang terlihat cukup berharap banyak padanya.
" Aku akan mengantar kalian pulang!" ujar Noah dengan nada datarnya.
" Aduh Noah kau memang anak yang baik, hati-hati di jalan kalian..."
Setelah berpamitan mereka bertiga pun segera pergi .
" Wah tante kecil kau benar - benar keren, itu sangat hebat...!"
" Dia anakku tentu saja keren Anna!" ujar Sasha bangga.
" Siapa tadi yang barusan mengatakan kecewa padaku??, seketika berubah lagi, bunda kau tidak punya pendirian kuat!"
" Dasar anak luknut, beraninya kau mengatain Bunda mu!!!"
" Bunda, kau sudah mulai tumbuh keriput jangan mudah terpancing, takutnya Ayah Chiko tidak puas dengan kerutanmu!"
" oh mana keriput kaca mana kaca..." Sasha berlari ke ruang tengah untuk berkaca melohat kerutan yang di maksud putrinya.
" Anna aku pulang dulu....sampaikan pada bundaku..."
" eh tapi..."
" Lister...tolong itu tugasmu menenangkan bunda saat marah ya..."
" Ote...."
jawab Lister begitu saja yang penting oke.
" Dai kita pulang sebelum nenek lampir itu Murka...!"
" Kau memang anak kurang ajar San..."
Dai segera mengikuti Sansan keluar mereka segera pergi dengan kilat dari kediaman Pratama.
" San sannnnnnnnnnnnnnnnnn"
jengjreng bersambung...
__ADS_1