
" Panglima, ada pertemuan penting yang harus anda hadiri!"
" Okey, ...!"
"Sayang kau mau kemana?"
" Aku pergi sebentar ya!, aku sudah mengambil Cuti panjang, namun seperti pertemuan - temuan aku harus menghadirinya!"
" Berapa hari??"
" tidak sampai seharian!"
" Sungguh?"
" Hmmm, kebetulan juga di daerah sini, jadi apa kau ingin sesuatu?"
" aku ingin sesuatu namun lupa namanya!"
Sasha berpikir keras.
" Aku tahu apa yang kau sukai, tunggu aku dengan baik di sini oke!"
" Okey, ..eh tunggu!!"
" Apa lagi??"
Sasha menunjuk keningnya, kini chiko sudah mengerti, Chiko langsung mencium kening Sasha,
" Sudah ya!"
Sasha menunjuk pipi kirinya
Chiko langsung melihat jam tangannya,
" Astaga, Aku sudah terlambat, jadi baik - baik di sini, jangan berulah, dan tunggu aku akan kembali membawakan sesuatu yang anda inginkan!" ujar Chiko .
Seketika ingatan Sasha tentang Chiko terbuka,
dimana Chiko juga mengatakan hal yang sama,
" Heyyy..., kau harus cepat naik pangkat, aku akan memasakan bebek panggang bumbu rendang kesukaan mu!"
" Baik, saya harus pergi sekarang,karna sudah terlambat, tunggu di sini jangan slalu membuat banyak orang pusing, aku akan kembali membawakan sesuatu yang anda inginkan!" saat berbicara seperti itu di ingatan Sasha, Chiko mengusap kepala anak perempuan dan di belakang Sasha ada seseorang berdiri, namun Sasha tidak bisa mengingat wajah orang yang di belakangnya.
Saat memaksa membuka ingatannya,
" Aggggggghhhhhhhhhhhh!" Sasha berteriak kesakitan hingga terjatuh dari ranjang.
" Nyonya!" Chiko segera menekan tombol didekat ranjang.
Tanpa menunggu lama, Dokter jaga pun datang,
" Dokter, dia merasa sakit di kepala!"
" mari kita angkat dulu ke ranjang perlahan tuan!"
Sasha pun di angkat ke atas ranjang, dan dokter memeriksa secara mendetail.
" Beritahu wakil Panglima untuk menghadle lebih dulu, nanti aku terlambat sedikit!"
ujar Chiko pada anak buahnya.
" Baik!"
Chiko segera memanggil Martin,
" Ya paman ada apa?"
" Martin tolong ke Rumah sakit sekarang, paman ada pertemuan yang tidak bisa ditunda!, tante butuh di dampingin!"
" Baik paman, meluncur!"
Tanpa. banyak bertanya Martin, segera menuju rumah sakit.
Dan Chiko masuk lagi,
" Bagaimana dokter?"
" Tuan Panglima, nyonya tidak apa - apa, sepertinya nyonya mencoba mengingat sesuatu dengan memakasa, karena semua belum membaik, itu akan membuat tekanan yang menyakitkan di kepala, tolong jangan terlalu memaksakan untuk mengingat sesuatu!"
__ADS_1
" Oh, baik dokter terimakasih!"
" Ya tuan, saya permisi!"
" nyo..sayang,...apa masih sakit?" tanya Chiko.
Sasha langsung memeluk Chiko sangat erat
" Hiks hiks hiks...aku ingat sesuatu...maaf aku yang tidak menepati Janji, kau sudah menjadi seorang Panglima, dan aku tidak menepati janjiku, aku koma selama 7 tahun lebih, hiks hiks hik, aku akan sembuh dengan cepat, aku berjanji akan membuatkan Bebek panggang kesukaanmu, hiks hiks hiks ...maafkan aku suamiku...hiks hiks hiks...!"
Chiko pun tak kuasa menahan tangisnya, Chiko pun memeluk Sasha dengan erat.
" Hiks, hiks...!" Chiko sampai tak bisa menahan isak tangisnya, dia sangat menyayangi keluarga Tuannya, begitu juga Chiko sangat mengerti bagaimana Sasha memperlakukan dirinya seperti saudaranya, karena Sasha tahu, Chiko kehilangan adiknnya, karna adiknya menyelamatkan suaminya, karna itu Sasha juga sangat menyayangi Chiko, dia mengingat ketika Sasha mengatakan.
flashback bentar ya...
" Bukankah aku dan adikmu sangat mirip?, dari keseluruhan, kau bisa menganggapku adikk!"
" Mana aku berani nyonya?"
" Harus berani, agar kau bisa merasakan pusing nya aku mengurus istriku, jadi kau juga harus merasakannya!" sahut Bram.
" Baiklah, jika begitu...kau jika nakal, aku akan menjual ginjalmu!" Ujar Chiko bercanda.
"Hahah, ginjalnya mana laku, ginjal seorang pembuat onar pasti akan bertolak dengan tubuh orang lain!" tambah Bram meledek istrinya.
" Benar juga ya, hahahahaha!" Chiko tertawa lepas, Chiko menyadari betapa bahagianya dirinya ketika bersama keluarga tuannya itu.
Kenangan indah bersama keluarga Tuannya itu tidak pernah hilang.
" Berjanjilah kau harus segera membaik, aku masih bisa menunggu sampai kau bisa membuatkan bebek panggang itu untukku!"
" Ya, kau ikut menangis?, aku tahu sekarang bahwa kau sangat mencintaiku, aku merasa lega, terimakasih suamiku, kau tidak meninggalkan ku meski aku menjadi tidak berguna seperti ini!"
Chiko meletakan kedua tangan Sasha di pipinya, ...
" Aku sangat menyayangi kalian, jika tidak ada kalian dalam hidupku, aku tidak akan pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga, jangan mengatakan tidak berguna, setiap hembusan nafasmu dan senyummu itu sebagian dari kebahagiaanku!"
" Sudah jangan menangis, ...kau sudah ditunggu orang banyak kan panglima?"
sambil menyeka air mata Chiko.
" Panglima ku, tolong katakan I Love You!!"
pinta Sasha tersenyum.
Chiko dikejutkan lagi dengan permintaan Sasha, namun memang Chiko sangat tahu betapa tuannya itu memanjakan istrinya.
Chiko, menirukan gaya Bram mengusap kepala sambil tersenyum,
" I Love you...!"
" I Love you too!, hati - hati di jalan !" Sasha melambaikan tangan dan tersenyum ceria.
Chiko pun segera pergi,
Ah, aku lupa ingin bertanya tadi pada Suamiku...
dalam hati Sasha namun Sasha tidak berani mengingatnya, karna pasti kepalanya akan terasa sangat sakit lagi.
" Siapa ya?, ah aku tidak mau mengingatnya!" Gumam Sasha
" Mengingat apa tante??"
tanya Martin yang sudah tiba.
" Oh kau ,kau keponakan ku?, dimana pacarmu?" tanya Sasha.
" Pacar??"
" Ya waktu dulu itu loe, kamu lama sekali tidak menengok tantemu ini?"
" Maaf tante, aku banyak pekerjaan dan Cindy juga sedang banyak orderan melimpah!"
" Ah, pacarmu kerja apa?"
" Bukan pacar itu adik saya!"
" Adik??"
__ADS_1
" Tante, aku akan cerita silsilah keluarga kita ya?"
Ahhhh, gimana ceritanya dong aku pusing?, jadi aku cerita gimana ya?, jika tante adek dari paman Nathan, dan ayah Jovan trs paman Chiko itu kakak sepupu paman Nathan dan ayah Jovan , trs tante istri paman Chiko, trs gimana manggilnya?,aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya sekarang kan? aduh kepalaku pusing.
Martin memegangi kepalanya.
" Apa banyak hal yang tidak boleh aku tahu??"
tanya Sasha.
" Mmm begini tante...eeeee gimana ya???"
" Baiklah, mungkin belum waktunya aku tahu kebenaran nya sekarang , jadi jawab pertanyaan ku?"
" Ah, boleh!" ujar Martin meski agak deg - deg an takut tidak bisa menjawab.
" Apa aku punya Kakak laki - laki??"
" Punya - punya!" Jawab Martin gercep, udah kayak ala - ala lomba cerdas cermat.
" Apa dia sangat menyayangi ku??"
" Sangat, sekali, jangan di ragukan kasih sayang mereka!"
" Lalu dimana kakakku?"
" Paman sedang bertugas...belum bisa kembali,!"
" Lalu istrinya?"
" Tante, maafkan Martin ya, belum bisa menjawabnya!, tante fokus pada pemulihan dulu!"
" Ya baiklah!"
" jadi kau anak siapa?"
" aku hanya anak angkat saja yang di angkat kakak Tante!"
" oh??, kok kamu memanggil suamiku paman? gimana ceritanya?"
Mampus lah aku, paman sengaja ini membuatku pusing di sini...
" Tante, mau lihat putri tante yang sekarang?" Martin mengalihkan pembicaraan dengan cepat, memang martin ini rajanya mengalihkan topik.
" oh, putriku?, mana?"
" Sebentar, ...!" Martin membuka ponselnya dan menunjukkan foto Sansan yang sedang belajar.
" Oh ini putriku??, kenapa tidak mirip denganku?, maupun dengan suamiku?, mata dia coklat!"
" Mata Tante juga agak coklat, mau aku foto, tante ada miripnya kok sama Sansan!"
" Okey bagaimana, posenya?"
" Tante, tersenyum lah seperti di foto Sansan ini!"
" Oh ok!"
" 1...2...3...oke!, lihat tante... mirip kan?"
" ehmmmm sedikit sekali miripnya, dia ini anak siapa Martin?" Sasha meragukan anaknya.
" anak tante dan paman lah!"
" Kapan gambar Sansan di ambil?"
" Baru - baru saja, paman meminta Martin mengambil gambar Sansan sehari - hari, berniat untuk menunjukan pada tante!"
" Oh suamiku sweat banget ...!" Sasha sangat bahagia.
Martin merasa sangat bersalah,
" Tante, aku harap tante slalu tersenyum seperti ini selamanya!"
" Hehehe , Martin keponakan yang sangat perhatian, terimakasih Martin!"
" Sama - sama tante!"
Martin menemani Sasha mengobrol sana sini, sampai Chiko kembali.
__ADS_1