AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
LARI SORE


__ADS_3

Melihat mereka menerjang kearah nya dengan parang di tangan, James tidak terlihat gentar dia malah mempercepat larinya mendekati mereka.


Saat dia buah parang melesat datang mengarah lehernya.


Dengan sedikit menekuk tubuhnya kebelakang dua batang parang melesat dengan cepat lewat didepan hidungnya.


Di saat bersamaan James mengetuk siku tangan kedua orang yang sedang menebasnya.


Tangan mereka langsung kesemutan mati rasa, sehingga pegangan pada parang mereka terlepas.


James dengan sigap meraih kedua parang tersebut.


Dengan gerakan sangat cepat dia menebaskan kedua parang tersebut kearah kepala kedua orang itu.


Setelah itu dia baru menggunakan kedua parang menangkis dan menyerang kepala orang-orang kriting yang datang menyerangnya.


Gerakan James sangat cepat, menyelinap kesana kemari sambil terus memapas rambut di kepala para penyerangnya.


James seperti tukang cukur profesional, dalam sekejap 20 orang lebih, yang mengepungnya kini kepala mereka terasa dingin saat angin menerpa wajah mereka.


Secara reflek mereka meraba kepala mereka yang telah menjadi botak plontos.


Santi di sana yang tadinya cemas, kini tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya sendiri.


"Kalian semua cepat pergi dari sini, hari ini tuan besar mu sedang tidak ingin menakutinya dengan darah.."


"Lain kali kalau masih berani menganggu di kampus, bukan rambut lagi tapi hati-hati kepala kalian.."


ucap James sambil menunjuk dengan parang ditangan.


Lalu dia melempar dua parang itu tepat menancap 1 centi dari kaki Marcel.


Saking kuatnya lemparan James.


Kedua ganggang parang sampai bergoyang goyang.


Wajah Marcel langsung pucat, dengan buru-buru dia ingin mencabut kedua parang tersebut lalu melarikan diri.


Tapi karena menancap nya terlalu dalam sampai dia terengah-engah pun, sebatang dari parang itu pun tidak bisa dia cabut.


Dua orang temannya yang kehilangan parang mereka, segera datang membantu mencabut kedua parang tersebut.


Karena mereka memiliki tenaga besar, mereka berhasil menarik parang tersebut, kemudian segera berlari terbirit-birit meninggalkan tempat tersebut.


James sudah tidak memperdulikan mereka, dia langsung menghampiri Santi dan berkata,


"Maaf membuat mu ketakutan.."


"Lain kali aku berjanji akan mengurangi keributan, agar kamu tidak perlu cemas.."


Santi tersenyum lembut, hatinya benar-benar nyaman dengan ucapan yang James katakan pada nya barusan.


Ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan perhatian yang begitu lembut dari seorang pria.

__ADS_1


Sayang nya kedatangan James sedikit terlambat.


Batin Santi.


Bila tidak tentu dia akan sangat bahagia, menerima kehadiran James di samping nya.


Setelah kejadian seperti itu, dia mana pantas untuk berjalan bersama James.


Dia hanya akan membawa kekecewaan bagi kakak Sarah yang baik dan tampan ini.


Berpikir sampai di sini Santi pun menghela nafas kecil.


Kemudian sambil menatap James dia berkata,


"Kak James, kamu sangat baik terimakasih."


"Tapi sebaiknya kita tidak perlu terlalu dekat, aku tidak pantas untuk mu.."


"Senang berteman dengan mu... sampai jumpa.."


Setelah berkata begitu, sambil menundukkan kepalanya, Santi berjalan meninggalkan James yang berdiri mematung.di sana seorang diri.


James benar benar Tidak menyangka Santi akan bersikap seperti itu.


Setelah berjalan membelakangi James, Santi menghapus dua butir air mata yang menempel di pipinya.


Dia mempercepat langkah kakinya menjauhi tempat itu, Santi sangat takut.


Santi takut, dirinya akan benar-benar jatuh cinta pada James.


Saat itu akan lebih sulit dan lebih sedih, bila James meninggalkan nya, karena menyadari dirinya sudah bukan gadis lagi.


James sebenarnya ingin mengejar Santi, tapi dia tahu saat ini memaksa tidak akan ada gunanya.


Lebih baik dia bersabar, sambil terus menjaga dan melindungi nya.


Selalu ada saat Santi membutuhkan nya.


Semakin berdekatan dengan Santi, James semakin yakin hatinya telah terkunci oleh Santi.


Jadi dia hanya bisa berharap perlahan-lahan Santi bisa menerima kehadirannya.


James bahkan sudah bertekad akan melepaskan semua kekuasaannya di luar negeri sana, bila Santi bersedia mendampinginya.


Dia akan melupakan semua dendamnya terhadap musuh-musuh nya itu.


Sambil menghela nafas tak berdaya, James berjalan meninggalkan kampus menuju lapangan parkir mengambil mobilnya.


Di tempat lain setelah perkuliahan berakhir, karena jam 11 Andi masih ada perkuliahan lanjutan.


Andi langsung melangkah menuju perpustakaan, untuk menghabiskan waktu nya di sana.


Andi tidak mau menunggu di depan kelas, Andi sebisa mungkin menghindar untuk melihat hal yang paling tidak ingin dia lihat.

__ADS_1


Andi memilih setumpuk buku, meletakkan di sampingnya, lalu mulai fokus membaca buku di depan nya.


Satu halaman demi satu halaman di baca Andi untuk menghabiskan waktu nya.


Ketika waktu yang ditunggu Andi tiba, dia langsung keluar dari perpustakaan menuju kelas perkuliahan nya.


Andi mencari tempat duduk agak ditengah, sehingga tertutup oleh orang di sekitarnya.


Andi dulu paling suka duduk dekat jendela.


Tapi untuk saat ini Andi terpaksa merubah sedikit kebiasaannya.


"Bertahanlah di..kamu pasti bisa... setelah seminggu ini berlalu.."


"Setelah pindah ke kota lain, kamu pun tidak perlu lagi melihat yang paling tidak ingin kamu lihat itu.."


"Cukup fokus kumpulin uang secepatnya buat Viona agar bisa melepaskan diri dari nya.."


Sepanjang perkuliahan Andi sempat melihat Viona dan Rio lewat depan ruang kelasnya.


Tapi mereka tidak menyadari keberadaannya, karena tertutup oleh orang di sekitarnya.


Meski Andi harus menahan perasaan sakitnya, tapi itu jauh lebih baik daripada Viona berada dalam dilema dan posisi yang serba salah.


pikir Andi menghibur diri.


Selesai perkuliahan Andi buru-buru kembali ke kostnya.


Setelah mandi bersihkan diri, Andi langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur, melepas rasa penat di hatinya, karena harus berulang kali melihat situasi yang paling tidak ingin dia lihat itu.


Sedang apa Viona sore-sore begini pikir Andi, sedang jalan ke mall bersama Rio.


Atau milih berbaring seorang diri seperti aku saat ini.


Andi menggelengkan kepalanya dan bangun duduk,


"Sudah jangan berpikir bukan bukan lagi, lebih baik kamu kerjakan tugas mu hari ini.."


gumam Andi menegur dirinya sendiri.


Setelah menyelesaikan tugas nya, Andi berganti baju kaos santai dan celana pendek mengenakan sepatu larinya.


Lalu dia mulai berlari sore, mencari udara segar di luar rumah.


Sudah cukup lama dia tidak melakukan kegiatan ini, sejak Viona dan Santi hadir di kampusnya.


Sebelum kehadiran kedua gadis itu, hampir tiap sore Andi selalu menghabiskan waktu nya dengan berlari sore.


Yang nantinya akan dia tutup dengan berlatih ilmu langkah kaki dan jurus-jurus beladiri yang di ajarkan kakeknya.


Di sebuah lapangan yang sepi, di belakang gudang beras yang sudah lama di kosongkan.


Selain berlatih jurus, Andi juga biasanya melatih pernafasan disana.

__ADS_1


__ADS_2