AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
HIDUP TANPA PENYESALAN


__ADS_3

Violin menoleh kearah Andi dan


berkata,


"Maaf ya kak,.. Lin membuatmu sedih dan berkhawatir buat Lin.."


Andi menggeleng kan kepalanya dan berkata,


"Tak perlu, yang penting kamu harus ingat Ricky dan aku sangat membutuhkan mu, kamu harus sembuh dan segera kembali kesisi kami.."


Violin mengangguk dan berkata,


"Aku akan berusaha kak, uhuk,.


uhuk,..!"


"Tapi hal ini semua sudah ada yang atur, uhuk,.. uhuk,.!"


"Sudahlah jangan bicara lagi, istirahatlah.."


ucap Andi khawatir..


Violin menggelengkan kepalanya, dan berkata,


"Tidak kak, aku harus,,.. katakan,.. sekarang,.. bila tidak,..aku takut tidak ada waktu lagi,.. uhuk,..uhuk,..!"


Andi menatap sedih kearah Violin dan berkata,


"Ada pasti ada,.. kamu masih begitu muda,.. pasti akan ada,.. banyak waktu untuk kita.."


Andi tidak bisa menahan sepasang matanya untuk tidak berkaca kaca.


"Kakak,.. bila sesuatu yang buruk terjadi pada ku, jagalah putra kita baik baik, jangan pernah larut dalam kesedihan..uhuk,.. uhuk,..!"


"Ricky masih kecil dia sangat membutuhkan mu.."


ucap Violin lemah.


Andi menganggukkan kepalanya sambil menutupi mulutnya sendiri, agar suara tangisannya tidak terdengar keluar.


Sepasang matanya kini terus bercucuran air mata, membasahi wajahnya.


"Nicole kamu bantulah aku,..uhuk uhuk,.. uhuk,..! bantu aku rawat dan jaga mereka, agar aku bisa tenang..uhuk,.. uhuk,..uhuk,..uhuk.!"


Violin mengulurkan tangannya memegang tangan Nicole, kemudian dia menyatukan tangan tersebut ketangan Andi.


"Uhuk,..uhuk,.uhuk,..Uhuk,..uhuk,.


uhuk,..Uhuk,..uhuk,.uhuk,..!"


batuknya semakin hebat, tidak berhenti hingga terlihat kesulitan bernafas.


Andi buru-buru menekan tombol panggillah bantuan tanda bahaya.


Lalu dia melesat keluar dari dalam kamar, buru buru berteriak,

__ADS_1


"Dokter,..,!! Dokter,..!!" Dokter,..!!"


Andi yang dalam keadaan panik tanpa sadar berteriak menggunakan hawa murninya.


Otomatis suaranya sangat keras dan terdengar hingga kemana mana.


Dokter dokter pada buru buru berhamburan datang, untuk melihat apa yang terjadi.


Andi tanpa memperdulikan tatapan kaget para dokter, dia langsung berkata,


"Dokter tolong lah istri ku, keadaan nya mengkhawatirkan.."


Beberapa dokter dan perawat buru buru masuk kedalam, untuk melakukan pemeriksaan.


Andi hanya bisa duduk termenung di sana dengan wajah pucat dan airmata membasahi wajahnya.


Nicole dengan setia duduk di samping Andi menemaninya.


"Kakak jangan terlalu sedih dan cemas, percayalah Violin pasti akan sembuh.."


ucap Nicole mencoba menenangkan Andi.


Andi mengangguk kecil dan berkata,


"Semoga saja,.."


Dokter dokter terlihat sibuk hilir mudik, beberapa saat kemudian terlihat Violin di dorong keluar dari dalam kamarnya, di pindahkan menuju ruang ICU.


Violin terlihat terbaring di sana dengan mulut dan hidung terpasang alat bantu pernafasan.


Dari sepasang matanya yang terpejam rapat terlihat dari sudut matanya menetes sebutir air bening.


"Sayang bertahan lah, kamu harus bertahan demi kami.."


"Aku tidak ijinkan kamu pergi tinggalkan kami.."


Andi dan Nicole hanya bisa mengantar sampai depan ruang ICU.


Setelah Violin di dorong masuk kedalam sana, Andi terus berlutut di sana berdoa dan terus berdoa dengan wajah basah airmata.


Nicole tidak berani menganggunya, dia hanya terus duduk bersimpuh di sebelah Andi membelai punggung Andi dengan lembut.


Nicole sendiri juga tidak berhenti bercucuran airmata melihat keadaan Andi.


Pagi itu cuaca terlihat cerah, sinar matahari bersinar dengan gemilang menerangi seluruh puncak gunung Alpen, yang selalu tertutup salju putih.


Puncak gunung itu terlihat berkilauan indah saat tertimpa cahaya mentari pagi.


Anak sungai di bawah pegunungan tersebut terlihat mengalir dengan sangat deras.


Airnya sangat bersih dan jernih, hingga dasar bebatuan di bawahnya terlihat jelas.


Ada banyak ikan salmon yang berenang bebas di sana, sesekali ada beberapa ekor yang melompat terbang ke udara, kemudian jatuh kembali kedalam anak sungai tersebut.


Di atas puncak gunung terlihat langit biru di hiasi awan putih yang seperti kapas, terus bergerak pelan, tertiup oleh hembusan angin pegunungan.

__ADS_1


Terlihat seekor burung rajawali terbang bebas di atas sana, sambil sesekali mengeluarkan pekik nyaring nya.


Di sebuah pondok sederhana berhalaman luas, tepat nya di depan sebuah balkon kamar di lantai dua.


Terlihat seorang pria tua yang seluruh rambutnya telah memutih.


Pria tua itu terlihat mengenakan baju mantel dingin berwarna hitam, yang memanjang hingga ke mata kakinya.


Di bagian kakinya dia mengenakan kaos kaki dan sandal jepit berwarna putih.


Di tangan kanannya terlihat memegang sebuah gelas yang masih terus mengepulkan uap panas.


Sedangkan tangan kirinya tersimpan di dalam saku mantel dingin yang dia kenakan.


Sesekali pria itu akan menghirup air teh di dalam gelas yang dipegang nya.


Kakek itu meski terlihat sudah cukup tua dengan wajah sudah di hiasi keriput di sana sini.


Tapi garis garis bekas ketampanan wajah nya di masa muda masih terlihat jelas.


Tubuhnya juga terlihat masih tinggi tegap dan kekar.


Meski bila di lihat dari wajah dan rambutnya usia kakek itu tidak akan kurang dari tujuh puluh tahun an.


Kakek itu terus menatap kearah puncak gunung Alpen, awan putih, langit biru dan burung rajawali yang sedang terbang bebas,.sambil termenung seorang diri.


Sesekali dia akan menghela nafas sedih.


Di saat dia sedang asyik menikmati lamunannya seorang diri, tiba-tiba dari arah belakang nya.


Muncul dua buah lengan kurus panjang dan sedikit berkeriput melingkari pinggang kakek itu.


Seorang nenek tua, yang sebagian rambut nya mulai memutih, tersenyum bahagia, sambil menyandarkan kepalanya di punggung kakek itu yang bidang, lalu berkata dengan suaranya yang lembut.


"Sayang kenapa pagi pagi sekali kamu sudah termenung seorang diri di sini ?"


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?"


"Apa kamu kembali teringat pada dia ?"


Kakek tua itu tersenyum, dia mengeluarkan sebelah tangan kirinya dari saku bajunya, kemudian membelai lembut punggung tangan istrinya yang ada di pinggang nya, dan berkata,


"Waktu berlalu dengan begitu cepat, dalam sekejap saja semua tinggal kenangan..'


"Padahal aku merasa semua itu, seperti baru saja terjadi kemarin.."


ucap kakek itu kemudian menganut tangan nenek itu dan menciumnya dengan lembut.


Nenek itu tersenyum bahagia dan berkata,


"Biarkan saja yang berlalu biar berlalu, kita cukup kenang yang indah indah nya saja.."


"Hidup ini begitu singkat, buat apa kita mengenang hal hal tidak bahagia.."


"Daripada menghabiskan waktu untuk bersedih, lebih baik kita habiskan untuk bergembira,.. benar tidak ?"

__ADS_1


Pria tua itu memutar badannya menghadap kearah nenek itu dan membalas memeluk pinggang nenek itu dengan mesra dan berkata,


"Kamu benar sekali sayang, apalagi ada kamu, yang selalu menemani dan menerangi hidup ku bagaikan matahari..'


__ADS_2