
Viona menggunakan kedua tangannya memegang wajah Andi dan berkata,
"Sayang aku hanya bercanda dengan mu, aku mana mungkin tidak mempercayai mu."
"Aku bisa mencurigai dan tidak mempercayai siapa pun di dunia ini, kecuali kamu ."
Mendengar ucapan Viona Andi pun bisa bernafas lega.
"Vi sikap mu tadi, benar-benar mengagetkan ku."
"Aku tadi benar-benar bingung, bagaimana cara membuktikan bahwa aku tidak ada hubungan apapun dengan mereka."
Viona tertawa dan berkata,
"Kamu sungguh konyol dan polos, ingin membawa ku menemui mereka.."
"Kamu pikir bila mereka benar-benar suka dan tertarik padamu, akan kah mereka mengaku padaku bahwa kalian tidak ada hubungan apa-apa ?"
Sambil tersenyum lebar Viona melanjutkan kata-katanya,
"Sayang, pertama mereka akan mengakui sebaliknya bahwa kalian memang ada apa-apa."
"Mereka akan membuat kita bertengkar dan berpisah, agar mereka punya kesempatan untuk mendekati mu."
Kedua mereka akan mengikuti permintaan mu, mengaku kalian memang tidak punya hubungan apa-apa, mereka akan melakukan hal itu untuk menarik simpati dari mu.."
"Lalu mereka akan memberi bukti untuk kulihat dengan mata kepala sendiri, bahwa kalian memang punya hubungan khusus yang tidak ingin aku ketahui.
Andi tersenyum Canggung, sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Andi kemudian mengalihkan topik dan bertanya,
"Vi setelah kelas ini, kamu ada kelas lanjutan jam berapa ?"
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak ada cuma kelas ini saja, setelah ini bebas."
"Kenapa ? kamu ingin mengajak ku kemana ?"
tanya Viona sambil tersenyum lembut.
"Bagus kalau begitu, nanti ku beritahu setelah kelas perkuliahan selesai.."
"Ini aku sudah telat..!"
ucap Andi sambil tersenyum melambaikan tangannya kearah Viona dan berlarian meninggalkan tempat itu.
Di..Di...Di...! tunggu jelasin dulu..! .mau kemana !?"
teriak Viona penasaran.
Tapi Andi sudah menghilang, dengan uring-uringan dan bibir sedikit cemberut.
Viona masuk kedalam kelasnya, dia mengeluarkan HP nya dan mengirim pesan ke Andi.
"Mau kemana di...?"
Sesaat kemudian dia melihat ada balasan dari Andi,
"Sabar ya sayang, kuliah dulu..."
"Cihh..!"
Decih Viona kesal.
__ADS_1
Lalu dia membalasnya,
"Kak Anidi jahat...sebal..!"
Sesaat kemudian HP Viona kembali berbunyi, saat di buka isinya cuma gambar emozi orang tertawa.
Melihat hal itu Viona semakin cemberut, dan langsung menyimpan HP nya kedalam tas.
Kebetulan Dosen sudah datang, jadi Viona pun harus fokus ikutin perkuliahan.
Begitu dosen menutup acara perkuliahan pagi itu, Viona yang penasaran segera bergegas meninggalkan ruang kelas.
Tapi begitu keluar dari ruang kelas, dia langsung melihat Andi sedang berdiri, menantinya sambil tersenyum .
Melihat senyuman Andi, Viona langsung teringat kejadian kiriman chat terakhir Andi yang menertawainya.
Dia tiba-tiba merasa keki dan sebal, dengan wajah cemberut dia berjalan berlalu dari hadapan Andi tanpa mau melihat kearah Andi.
Andi sedikit terkejut, melihat reaksi Viona yang sepertinya benaran marah padanya.
Dia buru-buru mengejar Viona yang berjalan meninggalkan nya.
Andi memegang dan menahan tangan Viona dengan lembut dan berkata,
"Vi tunggu, kamu marah ya pada ku..?"
Viona menarik tangan nya dan berkata dengan dingin,
"Lepaskan tangan ku...minggir..!"
Viona menarik tangannya dari penggangan Andi, sambil mendorong mendorong tubuh Andi kesamping, lalu dia ingin pergi dari situ.
Andi terpaksa melepaskan pegangan tangannya, karena takut menyakiti Viona bila dia memaksa menahan tangan Viona.
Andi kemudian kembali mengejar dari belakang, sekali ini dia memeluk pinggang Viona dari belakang sambil menempelkan dagunya di bahu Viona dan berbisik,
"Aihh..!"
Viona menjerit kaget, saat merasa pinggulnya ditempel dengan ketat oleh Andi dari belakang.
"Lepaskan..! lepaskan tangan mu..!"
teriak Viona marah bercampur malu, karena banyak yang ngelihatin tingkah mereka berdua.
"Tidak sampai kamu memaafkan ku.."
ucap Andi berkeras sambil tersenyum.
Melihat senyum Andi, Viona kembali naik darah.
Dia pun berkata,
"Lepaskan tidak tangan mu aku hitung sampai tiga..!"
"Satu...! Dua...!"
"Tiga..!"
jawab Andi dengan nakal bermaksud menggoda Viona.
Tapi tidak di sangka-sangka, Viona dengan keras menginjak kakinya dan berkata,
"Nih rasakan..!"
"Aduhhh..!"
__ADS_1
jerit Andi kesakitan melepaskan pelukannya.
Lalu berlompatan dengan sebelah kaki, sambil memegangi kakinya yang kesakitan di injak oleh sepatu berhak keras milik Viona.
Viona tersenyum senang, tadinya dia ingin menambahi dengan tusukan kearah mata dengan dua jarinya..
Tapi dia membatalkannya, karena tidak sampai hati, sehingga dia hanya menggunakan telunjuknya mendorong dahi Andi, hingga Andi jatuh terduduk di atas lantai.
Sebenarnya Andi dapat dengan mudah menghindar dan mengantisipasinya, cuma dia tidak ingin membuat Viona tambah kesal.
Dengan berpura-pura kesakitan gini, tentu hati Viona akan senang, sehingga amarahnya bisa sedikit mereda.
Viona sambil tersenyum senang berjalan meninggalkan Andi pergi ke suatu pojok, yang sepi dan teduh duduk seorang diri menyepi di sana.
Andi berpura-pura berjalan dengan tertatih-tatih dan wajah meringis menahan sakit.
Dia duduk tidak jauh dari Viona, sambil mengelus-elus dan memijat-mijat kakinya sendiri.
Andi sengaja tidak langsung mendekati Viona takut Viona akan ngambek lagi.
Benar saja saat Andi melirik kearah Viona, Andi melihat Viona sedang tersenyum melihat kearahnya.
Saat kedua mata mereka bentrok, Andi dan Viona sama-sama tersenyum.
Viona pun menahan tawa, sambil menutupi mulutnya dengan tangan nya.
Andi pun tersenyum lebar menatap Viona dengan lembut.
Viona bangun dari duduknya, kemudian menghampiri Andi dan duduk disebelah Andi, kemudian sedikit membungkuk memperhatikan kaki Andi yang diinjaknya tadi dan berkata,
"Masih sakit ?"
Andi tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Mau lagi ?"
tanya Viona pura-pura sambil mengangkat kakinya.
Andi secara reflek menarik kakinya menjauh, sambil menatap Viona dengan kaget.
Viona pun tertawa, sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
Melihat hal ini Andi pun tersenyum lega, dia mengulurkan tangannya meletakkan nya di bahu Viona.
Saat di lihatnya Viona tidak menolaknya, dia baru menarik Viona kedalam pelukannya dan berkata,
"Vi aku ingin kamu menemani ku ke Bank, kamu ingat tidak nomer rekening mu ?"
"Kalau tidak, kita mampir bentar ke kost mu ambil buku rekening mu..'
"Untuk apa ?"
tanya Viona bingung.
Andi mengeluarkan cek hadiah pertandingan badminton kemarin malam dan berkata,
"Aku mau transfer ini ke kamu,"
"Loh kok gitu,? itu kan hadiah mu dan Sarah, ada juga kamu transfer nya ke Sarah kenapa ke aku.?"
ucap Viona menatap kearah Andi dengan wajah bingung.
Andi menghela nafas dan berkata,
"Sarah tidak membutuhkannya, dia menolaknya dan memberikan sepenuhnya pada ku.."
__ADS_1
"Dia semalam bahkan memaksa ku bercerita, berapa jumlah uang yang ku butuhkan.."
"Awalnya aku menolak memberitahunya "