
Andi pun segera mengerti, kedai kopi ini pasti milik keluarga Wang juga.
Sambil menggelengkan kepalanya, Andi berkata,
"Ayo,.."
Setelah melewati pos pemeriksaan kedua, Andi dan Nicole pun masuk kedalam ruang tunggu.
Nicole mengajak Andi langsung menuju ruang tunggu Ekslusif, hanya pemilik kartu anggota khusus yang di ijinkan masuk kesana.
Dengan menunjukkan kartu anggotanya ke petugas.
Nicole mengajak Andi masuk ke sebuah ruangan privasi yang menyediakan dua buah kursi pijat elektrik.
Sofa panjang meja kecil TV besar, dan sebuah jendela kaca lebar yang menghadap kearah lapangan tempat pesawat naik dan turun landas.
Di depan kaca jendela ada sederetan meja panjang yang di gunakan untuk meletakkan sederetan penganan kecil buah minuman ringan hingga berat semua ada.
Andi memilih mengambil tempat duduk di kursi elektrik yang bisa memijat otomatis.
Andi menikmati pijatan dari kursi pijat, yang bisa di setel tingkat kekuatan pijatannya.
"Mau makan atau minum apa gak di ?"
tanya Nicole yang berdiri di hadapan meja panjang itu.
"Air,..putih,..aja,.. "
ucap Andi dengan suara bergetar, karena dipengaruhi oleh getaran kursi tersebut.
Melihat hal itu, Nicole pun tersenyum lebar, dia mengambilkan sebotol air mineral buat Andi dan segelas anggur merah untuk dirinya sendiri.
Nicole duduk santai setengah berbaring di kursi santai di sebelah Andi.
Hanya saja dia tidak menyalakan mode pijat seperti Andi, dia sudah bosan dengan mainan seperti ini.
Dirumahnya sendiri ada dua, di kantor nya juga ada dua, satu di ruangannya, satu lagi di ruangan ayahnya.
Malah yang dirumah dan di kantornya lebih canggih lebih lembut pinjamannya, gerakannya juga lebih halus.
Yang disini buatan China, sedangkan yang di rumah dan kantornya buatan Jerman, tentu kualitas nya tidak sama, begitu pula dengan harganya.
Sebenarnya ayahnya yang paling suka menikmati mainan seperti ini, sementara dia sendiri merasa kegelian dan tidak nyaman.
"Ini di,.."
ucap Nicole sambil menyerahkan botol berisi air mineral ke Andi.
Melihat reaksi dan gaya Andi yang terlihat sangat menikmati mainan tersebut, Nicole pun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.
"Ma,...maka .sih .."
jawab Andi dengan suara bergetar.
__ADS_1
Nicole pun tidak bisa menahan diri untuk tertawa dan berkata.
"Kalau kakak begitu suka di pijat kenapa gak pernah bilang dari dulu..?"
"Atau aku ikut ke Swiss jadi tukang pijat mu gimana ?"
tanya Nicole sambil tertawa.
Andi mematikan kursi pijat, menegakkan sandaran kursinya, menatap kearah Nicole dan berkata,
"Mana boleh seperti itu, itu adalah tugas seorang istri.."
"Apa kata orang nantinya..?"
"Kalau gitu jadikan saja aku istri mu.."
ucap Nicole ringan, sambil tersenyum.
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Maafkan aku Nicole,.. aku tidak bisa.."
Nicole bersikap santai, dia menghabiskan sisa anggur merah di gelas nya dan berkata,
"Kak ini seandainya,.. cuma seandainya,.. aku hanya ingin tahu,..meski ini mustahil terjadi,.. tapi aku benar benar ingin tahu."
"Kak Andi jawablah dengan jujur, seandainya aku muncul lebih dulu bersama kakak ketimbang Violin kekasih kakak,.. akan kah kak Andi..?"
"Akan, aku pasti akan.."
Mendengar jawaban Andi, Nicole pun menghela nafas panjang dan berkata pelan..
"Alangkah akan bahagia nya aku, bila itu terjadi.."
Andi juga ikut menghela nafas panjang tanpa berkata apa-apa Andi menatap kearah luar jendela.
Andi tidak berani melihat kearah Nicole yang sedang bercucuran airmata dan terus menatap kearahnya.
Andi tidak tega hatinya menyaksikan kesedihan Nicole.
"Kak Andi ini kembali seandainya, tapi sekali ini mungkin saja terjadi.."
"Bagaimana bila nanti kakak menemukan Violin sudah punya suami dan anak dari suaminya itu."
"Mereka sudah hidup berbahagia akan kah kakak,.. ?... kembali ke Nanjing.."
Andi tanpa menoleh, masih tetap menatap kearah luar jendela, dia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan tegas.
"Tidak Nicole,.. aku tidak akan pernah ."
Meski di mulutnya berkata begitu, Andi tahu dengan jelas,.dia berkata begitu karena saat itu tiba, mungkin dia sudah tidak berada di dunia ini lagi.
Hanya saja, Andi hanya bisa memendam semuanya tanpa bisa dia katakan berterus terang kepada Nicole.
__ADS_1
Biarlah semua kesulitan dan kesedihannya hilang terbawa angin, bersama dengan dirinya yang umurnya juga tidak akan lama lagi.
Menurut perkiraan dokter paling lama, dia hanya punya waktu 3 bulan lagi, mungkin bisa tidak sampai kesana..
Andai dia tidak menderita penyakit itu, 100% dia akan kembali kekota J mencari kepastian.
Bila sudah di pastikan Violin sudah berbahagia bersama pria itu, Andi pasti akan kembali untuk menerima dan menyayangi Nicole dan menghabiskan sisa waktu mereka di dunia ini, hingga menjadi kakek kakek dan nenek nenek.
Tapi semua itu terlalu banyak andai yang tidak mungkin terjadi, kenyataan yang ada hanyalah, mencari tempat yang sepi.
Diam diam pergi meninggalkan dunia fana ini, tanpa perlu ada yang tahu.
Sehingga tidak ada yang perlu bersedih dan berduka, melepaskan kepergian dirinya.
Biarlah dirinya hidup dalam kenangan mereka yang bahagia dan gembira.
Mendengar ucapan Andi yang begitu tegas dan dingin, Nicole sudah tidak dapat menahan diri untuk menubruk kearah Andi .
Merangkul Andi erat erat dan melepaskan semua kesedihannya.
Nicole terus menangis di pangkuan Andi, tanpa menghiraukan panggilan pesawat yang sudah berulang hingga yang ketiga kalinya.
Sambil menghela nafas panjang Andi berkata pelan.
"Nicole waktunya telah tiba, relakanlah kepergian ku.."
"Jangan seperti ini, dengarkanlah kata kata kak Andi untuk yang terakhir kalinya..kamu mau kan ?"
Nicole menggelengkan kepalanya, tapi dia mulai melepaskan pelukannya, dan berdiri dari pangkuan Andi.
Sambil terisak dengan airmata bercucuran dia membantu mengambil dan memakaikan tas ransel itu ke punggung Andi.
Lalu dia menyerahkan tas kecil, yang berisi bekal makanan yang dia siapkan khusus buat Andi.
Nicole kemudian membalikkan badannya memunggungi Andi sambil menangis pilu, dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi mukanya sendiri.
Andi menghela nafas pelan, menepuk lembut pundak Nicole dan berkata,
"Kado kenangan untuk mu, ada di dalam brankas kantor, ini kunci nya untuk mu.."
"Aku pergi dulu, jaga diri mu baik baik, selamat tinggal.."
ucap Andi sambil meletakkan kunci kecil diatas meja.
Lalu dia mengeraskan hatinya, berjalan pergi sambil menyeret tas kopernya, menuju pintu yang akan membawanya langsung menuju lorong yang langsung terhubung dengan pintu pesawat.
"Kak Andi, tunggu .!!"
teriak Nicole saat Andi tangannya sudah berada di handle pintu ruangan tersebut.
Tanpa memperdulikan tatapan heran Andi, Nicole langsung berlari maju mendekati Andi.
Nicole tanpa berkata apapun Langsung meraih sepasang rahang Andi dengan kedua telapak tangannya yang lembut halus dan wangi.
__ADS_1