
Andi menyerahkan HP nya, agar Violin bisa berbicara langsung dengan wali kelas Dody dan Rina.
Ketika Violin sedang berbicara dengan wali kelas Dody dan Rina, Andi berjalan menghampiri kedua anak itu.
Andi lalu berjongkok di depan mereka dan berkata,
"Kenalkan nama ku Andi, aku temannya kakak' mu Viona dan Violin.."
Andi mengulurkan tangannya kehadapan kedua anak itu.
Dody dengan berani menyalami Andi, setelah itu baru di susul oleh Rina yang menyalami Andi sambil berkata,
"Kak Andi pacarnya kak Viona, apa kak Violin..?"
Mampus pikir Andi dalam hati, dia sangat terkejut mendengar ucapan anak kecil itu.
Andi sesaat menjadi bingung, tidak tahu mau jawab apa, mau jawab Viona secara jujur, dia takut nanti kedua anak ini melaporkan hal ini pada ibunya.
Saat ini pacar Viona jelas bukan dia, tapi Rio.
Nanti dia bisa di tuduh mengada ngada, merusak nama baik Viona.
Tapi bila menjawab Violin, itu lebih mampus lagi, dia bakal di kira Om Om senang yang doyan daun muda.
Di saat Andi sedang bingung menjawabnya, untungnya wali kelas Dody dan Rina sudah menghampiri mereka dan menegur Rina.
"Ehh anak kecil tahu apa soal pacar pacar.."
"Fokus belajar dulu, gak boleh ikut campur urusan orang dewasa.."
Mendapatkan teguran gurunya, Rina langsung menundukkan kepalanya dan berkata,
"Ya ibu..Rina tidak berani mengulanginya lagi.."
"Cepat minta maaf dulu.."
ucap wali kelas Dody dan Rina sambil tersenyum kearah Andi.
Melihat sikap Rina yang ketakutan, Andi pun berkata,
"Gak perlu Bu,..Rina gak bersalah, aku yang kurang siap menjawabnya.."
"Begini Rina, kakak bukan pacar kak Viona maupun kak Violin, kakak adalah teman baik mereka, sama seperti kakak berteman dengan kamu dan Dody.."
"Nah sekarang biar kakak yang antar kalian pulang yuk.."
ucap Andi sambil mengelus kepala kedua anak itu dengan lembut.
Kedua anak itu mengangguk patuh, mereka maju memegang tangan Andi dari kiri dan kanan.
Andi tadi ada melihat name tag nya wali kelas kedua anak itu.
Jadi Andi tahu wali kelas kedua anak itu bernama Darmi.
Saat mau pamit Andi pun berkata,
"Terimakasih banyak Bu Darmi, kami bertiga permisi dulu."
"Oh ya silahkan dek Andi.."
ucap Bu Darmi sambil tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Andi mengajak kedua anak itu, menuju kearah motornya.
Lalu Andi membantu kedua anak itu duduk di bagian depan motornya.
Di bagian depan Andi lebih mudah mengawasinya, kalau bagian belakang,.Andi khawatir mereka nanti terjatuh di jalan..
Andi tidak mau ambil resiko, setelah kedua anak itu duduk dengan benar.
Andi baru berkata,
"Dody dan Rina sudah makan belum ? kalian lapar gak ?"
Kedua anak itu saling pandang dengan ragu.
Melihat tingkah polos kedua anak itu, Andi pun tersenyum dan berkata,
"Bagaimana bila sebelum kembali ke rumah, kita mampir ke HokBen sebentar, kakak beli bungkus untuk kalian bawa pulang..?"
Kedua anak itu tersenyum lebar dan buru-buru mengangguk dengan gembira.
Menanggapi sikap mereka Andi pun ikut tersenyum senang dan berkata,
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang, Dodi pegang yang erat-erat ya, Rina kamu peluk Dody dengan erat.."
"Kedua anak itu mengangguk senang, mereka biasanya duduk di belakang terhalang pemandangan nya oleh tubuh Violin maupun ibunya.
Tapi kini mereka bersama Andi, mereka duduk di depan dan bisa melihat dengan bebas dan jelas.
Andi sengaja membawa motornya pelan pelan, demi keamanan kedua anak itu.
Andi membawa mereka berdua mampir sebentar ke HokBen.
Andi membiarkan kedua anak itu memilih sendiri, paket yang mereka inginkan.
Andi hanya menanggapi pilihan kedua anak itu sambil tersenyum.
Setelah melakukan pembayaran, Andi dan kedua anak itupun meninggalkan restoran Hok Ben melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua anak itu.
Saat Andi sedang mengendarai motornya, memasuki lingkungan perumahan menuju rumah tempat tinggal kedua anak itu.
Tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu yang menghadang perjalanan Andi, Andi terpaksa mengerem motornya.
"Maaf ada apa ya Bu ?"
tanya Andi heran.
Ibu ibu itu menghampiri Andi dan menunjuk muka Andi dan berkata,
"Hebat ya kamu,? bawa motor keren beli makanan mahal tapi hutang di warung ku tidak pernah bayar..?"
"Cepat bayar hutang..!"
teriak ibu itu dengan sikap galak.
Andi sedikit terkejut mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, saat melihat kedua anak kecil itu mulai mewek ketakutan.
Andi buru-buru berkata,
"Dody Rina, kalian jangan takut ya, ada kakak di sini."
"Kakak akan mengurusnya, percaya lah pada kakak.."
__ADS_1
Kedua anak itu menganggukkan kepalanya.
tapi wajah mereka jelas masih ketakutan.
Andi lalu menoleh ke arah ibu ibu itu dan berkata,
"Ibu tolong sabar sedikit, ada masalah bisa di bicarakan baik-baik, tidak perlu teriak teriak dan menakuti anak kecil.."
ucap Andi dengan tenang dan sabar.
"Sabar...sabar...kata mu, ku beritahukan pada mu, hari ini bila kamu tidak bayar hutang jangan harap bisa lewat jalan ini..!"
ucap Ibu itu sambil berkacak pinggang.
Di belakangnya ada 5 ibu ibu lain yang juga menganggukkan kepalanya, mendukung sikap ibu berambut gimbal itu.
Mereka menatap Andi dengan sikap galak dan tidak bersahabat.
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Sebenarnya apa yang terjadi ? kapan saya pernah berhutang sama ibu..?"
"Kamu memang tidak berhutang, tapi ibu kedua anak inilah yang berhutang pada warung ku, bila di total total sudah hampir 2 juta.."
"Itu saja, saya tidak hitung bunga nya..."
ucap ibu itu dengan muka tidak puas.
Andi menghela nafas panjang dan berkata,
"Begini deh Bu..saat ini di kantong ku cuma ada sejuta..."
"Bagaimana bila saya bayar 1 juta dulu, besok saya baru kembali kesini bayar sisanya..?"
"Tidak bisa pokoknya harus lunas hari ini, bila tidak kamu gak boleh lewat jalan sini.."
ucap ibu gimbal itu sambil melotot.
Ibu ibu lain pun ikut menimpali,
"Benar itu,.., meski Bu Luhut setuju...kami juga tidak bakal setuju membiarkan mu lewat."
"ibu kedua anak ini juga punya hutang sama kami, bukan sama ibu Luhut saja.."
Andi menatap ibu ibu itu dengan bingung, mau berkeras tidak mungkin, mau mengalah juga tidak bisa, karena di dompetnya saat ini cuma ada uang 1 juta saja.
"Tinggalkan saja motor mu dek sebagai jaminan.."
ucap salah satu ibu ibu yang sikapnya sedikit bersahabat.
"Benar itu.!..benar itu...!
sahut beberapa ibu ibu menyetujuinya.
Andi berpikir sejenak, kemudian dia memberikan kunci nya kepada ibu gimbal itu sambil berkata,
"Besok bila saya ingin menebusnya cari siapa ?"
"Adek tidak perlu khawatir, saya ibu lurah di kampung ini."
"Rumah saya ada di sana yang bercat putih itu, bilang aja Bu Norman, semua penghuni di sini pasti tahu."
__ADS_1
"Adek besok boleh ambil motor ini, bila sudah membereskan hutang Bu Luhut dan ibu ibu lainnya..'
ucap Ibu Norman dengan sabar.