AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
REAKSI ANDI


__ADS_3

"Kalau soal itu kalian boleh bertenang hati, semua kebutuhan biaya rumah sakit pasien, di tanggung sepenuhnya oleh pihak asuransi.."


"Pihak asuransi sudah langsung menghubungi kami, begitu mendengar pasien masuk kemari.."


ucap dokter sambil tersenyum.


"Ohh ya, tadi pihak asuransi berpesan, bila ada pihak keluarganya yang bernama Viona Violin dan Charles Huo yang hadir.


"Pihak asuransi meminta mereka menghubungi pihak asuransi, untuk membicarakan masalah hak waris keluarga pasien, bila sampai terjadi hal tidak di harapkan pada pasien Andi.."


ucap dokter itu bersimpati.


",Dia yang bernama Violin dokter.."


ucap Berry cepat.


Dokter itu mengangguk, lalu memberikan selebar kartu nama dan berkata,


"nona Violin kamu bisa hubungi nomor ini, mereka pasti akan bisa memberikan penjelasan lengkap pada mu.."


Violin menerima kartu nama itu dengan tangan gemetar, dan airmata bercucuran.


Dia tidak bodoh, begitu mendengar ucapan dokter di depan nya, dia pun sudah tahu Andi pasti sudah menyiapkan hal ini jauh jauh hari, agar bila suatu hari terjadi sesuatu dengan dirinya, dia bisa pergi dengan hati tenang.


Andi pasti meninggalkan sejumlah besar uang Asuransi kematian nya, buat dia, kakaknya dan kedua orang tua kandung Andi..


Violin sangat terharu, dengan jalan pikiran Andi yang telah memperhitungkan semuanya, dengan sangat teliti untuk orang orang yang di sayanginya.


Violin tentu tidak perduli berapa besar uang warisan itu, yang dia inginkan saat ini hanya satu, yaitu bagaimana caranya, agar Andi bisa sembuh dan pulih tanpa kurang apapun seperti sedia kala lagi.


Berry dan Violin setelah meninggalkan ruangan dokter, yang berbicara dengan mereka.


Mereka berdua langsung berjalan menuju, kamar rawat inap Andi, sesuai dengan informasi yang mereka terima dari dokter tadi.


Setelah bertanya tanya kepada beberapa perawat jaga, akhirnya mereka menemukan kamar di mana Andi di rawat.


Saat mereka berdua masuk kedalam kamar dan melihat kondisi Andi yang terbaring dengan wajah pucat, kepala di perban, sekujur tubuh dipasangi berbagai macam peralatan medis


Kedua orang itu tidak dapat menahan diri, untuk kembali menitikkan air mata saat melihat kondisi Andi.


"Berr masalah sebesar ini, tidakkah seharusnya kita menghubungi kedua orang tua kak Andi..?"


tanya Violin pelan.


"Mereka orang desa tidak tahu jalan, daripada di hubungi dan membuat mereka cemas dan bingung.."


"Lebih baik aku segera berangkat kesana menjemput mereka kemari.."


ucap Berry.


"Di sini terpaksa titip pada mu, aku tidak akan lama, paling lama dua hari sudah kembali..."


ucap Berry kembali.


"Pergilah kak, tenang saja di sini ada aku.. yang jaga.."

__ADS_1


ucap Violin yakin..


Berry mengangguk dan berkata,


"Kalau begitu aku berangkat sekarang juga.."


"Ohh ya kamu jangan lupa nelpon orang tua mu, dan telpon sekolah mu minta ijin.."


ucap Berry sambil menoleh kebelakang saat sudah tiba di pintu.


Baru saja Berry buka pintu, didepan berry berdiri ko Ahong yang menatap nya dengan cemas dan berkata,


"Ba.. bagaimana keadaan Andi..?"


"Tanya saja sama Violin, dia akan jelaskan semuanya.."


"Aku sedang terburu-buru mau jemput kedua orang tua Andi kemari.."


Ko Ahong mengangguk dan berkata,


"Benar benar,.. itu sangat tepat, pergilah,.. di sini ada aku, kamu tenang saja.."


"Makasih ko.."


ucap Berry sambil menepuk pundak ko Ahong yang kekar .


"Kamu ini bicara apa sih Berr, seperti baru kenal saja, pergilah cepat.."


ucap ko Ahong sambil mendorong Berry cepat pergi..


Setelah Berry pergi ko Ahong pun masuk kedalam kamar tersebut.


Ko Ahong setelah berdiri di samping Violin dia pun berkata,


"Lin bagaimana kondisi Andi menurut dokter..?"


Violin menghapus air mata di pipinya kemudian berkata,


"Kita duduk dan ngobrol di sana aja ko.."


Ko Ahong mengangguk, lalu mengikuti langkah Violin untuk duduk di kursi ruang tamu kecil di dalam kamar pasien.


Violin mengigit bibirnya erat-erat berusaha menahan sedu sedan, sebelum mulai bercerita mengenai semua yang di sampaikan Dokter padanya.


Setelah mendengarkan cerita violin hingga habis, ko Ahong pun berkata,


"Ini sih sekedar saran saja, sebaiknya bila dokter datang periksa, konsultasikan lagi sama dokternya.."


"Bagaimana bila Andi kita pindahkan dan rawat di kota J saja..?"


"Selain bisa mendapatkan dokter yang lebih baik, perawatan peralatan yang lebih lengkap,.di sana mobilitas kita untuk menjaga dan merawat Andi menjadi lebih mudah.."


"Kamu sendiri juga kan harus sekolah, tidak mungkin terus di sini, begitu pula dengan Berry dan kita semuanya.."


"Tapi ini sih cuma saran ku saja.."

__ADS_1


ucap ko Ahong pelan.


Violin mengangguk dan berkata,


"Aku juga berpikir seperti itu, tapi selain mendengar kan pendapat dokter, sebaiknya kita juga dengarkan pendapat orang tua Andi.'


"Berry sedang pergi menjemput mereka kemari, mungkin 1 atau 2 hari lagi mereka akan sampai kemari.."


ucap Violin.


ko Ahong mengangguk dan berkata,


"Kamu benar, kalau begitu kita tunggu saja Berry kembali bersama kedua orang tua Andi, baru nanti di ambil keputusan.."


"Lin kamu pasti sudah lelah, kamu istirahat lah tiduran di sini.."


"Biar aku berjaga di sana, kita bergantian jaga, saat ini Andi paling memerlukan kita, diantara kita tidak boleh ada yang sakit.."


ucap ko Ahong berpendapat.


Violin mengangguk, tanpa banyak bantah dia pun berbaring alakadarnya di sofa.


Sedangkan ko Ahong berjalan pergi duduk di kursi di samping Andi.


"Di dengarkan ko Ahong berjuanglah bangunlah secepatnya, kami semua sangat membutuhkan mu."


"Jangan biarkan kami terus menerus mencemaskan mu, tidak demi kami setidaknya demi Viona dan Violin, jangan biarkan mereka hidup dalam kesedihan dan perasaan bersalah seumur hidup.."


Ko Ahong tidak menyadari, akibat bisikan nya, ketika menyebutkan nama Viona.


Pelupuk mata dan ujung jari telunjuk Andi sedikit bereaksi.


Tapi hal itu tidak berlangsung lama.


Lalu Andi kembali ke asalnya lagi, seperti orang sedang asyik tidur.


Ko Ahong kembali duduk di kursinya, sambil bersandaran.


Terus menatap Andi, hingga akhirnya dia pun karena lelah, tanpa sadar ikut tertidur di atas kursi yang di duduknya.


Sedangkan di tempat lain, Viona yang sudah kembali kerumahnya.


Setelah masuk kedalam rumah besar dan megah itu, melihat kondisi ruang depan dan ruang tengah yang sepi.


Dia pun memutuskan perlahan-lahan menaiki tangga, kembali ke kamarnya yang terletak di lantai dua.


Viona masuk kedalam kamar nya, dia melihat situasi kamarnya yang besar rapi indah dan mewah tapi sangat sepi.


Viona menghela napas sedih, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuh dan pikirannya yang lelah dan penat.


Selesai mandi dan berganti pakaian tidur, Viona yang merasa tubuhnya jauh lebih segar.


Dia mengambil hpnya mengirim pesan ke Violin,


"Bagaimana kondisinya sekarang ?"

__ADS_1


__ADS_2