
Begitu melihat siapa yang menahan tangan nya, Rio secara reflek melayangkan tinju dan tendangan kakinya, kearah wajah pria yang ada di samping Violin.
Tapi tinju Rio kembali ditangkap sedangkan tendangan kakinya bagian tulang keringnya ditahan dengan tapak sepatu pria itu.
Pria itu sambil tersenyum berkata,
"Rio kalau kamu ingin tarung, boleh ajukan proposal ke ko Ahong, aku pasti akan melayani mu dengan baik,.."
"Tapi jangan minta Viona lagi mencari ku, malu tahu.."
ucap Andi sambil tertawa mengejek.
Yang menyambut pukulan dan tendangan Rio,.semua adalah Andi.
Andi setelah selesai berkata,
"Dia mendorong Rio mundur hingga menabrak Vivian Lim yang langsung terjatuh menabrak meja yang penuh makanan dan minuman.
"Brakkk,..!!"
"Aihhhhh,..!!
"Aduhh,..!! Sakit,..!!"
"Panas,..! Aduhhh,...!"
Sehingga kini Vivian Lim terlihat jauh lebih parah kotornya ketimbang Violin, karena.di kepalanya selain di penuhi.mie juga terkena tumpahan kuah masakan yang panah.
Kuah panas itu saat menyiram kepala dan wajahnya membuat dia menjerit jerit kesakitan.
"Kak bajingan itu telah menceraikan kak Viona 5 tahun yang lalu.."
lapor Violin ke Andi.
Mendengar ucapan Violin sepasang mata Andi menyala, dia menatap kearah Rio dan berkata.
"Katakan ada di mana Viona saat ini, ? mengapa kamu menyia nyia kan dia..!?"
Rio yang sedang sibuk menolong Vivian Lim, menjawab tanpa menoleh,
"Wanita ****** itu,.. kalau kamu mau cari saja sendiri, aku sudah tidak membutuhkannya lagi...!!"
"Sayang kamu tidak apa apa ,?!"
tanya Rio cemas..
"Sakit Rio,.. aduh wajah ku panas,.. sakit hu.hu..hu,..hu..!"
jerit Vivian Lim sambil menangis.
Rio buru buru menggendongnya dan berkata,
"Tenang sayang, aku akan mengantar mu kerumah sakit sekarang juga.."
Sambil melangkah pergi, Rio menoleh kearah Andi dengan marah dia berkata,
__ADS_1
"Bila terjadi sesuatu dengannya, aku pasti akan menuntut mu."
"Rio tunggu jelaskan dulu di mana Viona,..!"
teriak Andi marah sambil melesat cepat mencengkram bahu Rio.
"ARGHHH,..!!"
Jerit Rio tertahan, karena tulang bahunya seolah-olah mau remuk.
"Lepaskan,...!'
jerit Rio sambil berusaha menahan nyeri.
Bukannya di lepaskan Andi malah memperkuat cengkeramannya dan berkata,
"Bila tidak kau katakan, di mana keberadaan nya, jangan harap kau bisa keluar dengan utuh dari sini..!"
Rio yang merasa bila dia berkeras, cuma hancur sia sia, diapun langsung berkata,
"Pria sejati bicara baik baik jangan pakai kaki tangan,.seperti.orang kasar tidak berpendidikan.."
"Si ****** itu telah gila, 5 tahun lalu aku sudah ceraikan dia, kami sudah lama tidak berhubungan.."
"Kemana dia pergi bahkan bila hari ini kamu bunuh dan aniaya kami berdua,.. kamu juga tidak akan mendapatkan jawaban yang kamu inginkan."
ucap Rio berani.
Andi yang melihat beberapa petugas keamanan sedang berlari menghampiri kearah mereka.
Andi pun melepaskan cengkraman tangannya, membiarkan Rio ngeloyor pergi sambil menggendong Vivian Lim yang wajahnya mulai bengkak merah melepuh.
Sebentar saja pihak berwajib sudah tiba, Andi langsung di bawa pihak berwajib ke kantor polisi,.beserta beberapa saksi mata,.termasuk Violin.
Sedangkan James Santi Pei Pei, Dragon Wong dan Sarah mereka menyusul kekantor polisi, dimana Andi di bawa secara terpisah.
James sudah menghubungi pengacara kakeknya menyusul ke kantor polisi.
Setelah di tahan dan di interogasi hampir 7 jam di kantor polisi, akhirnya Andi di lepaskan, karena tuduhan penganiayaan yang di laporkan oleh Rio tidak terbukti.
Rekaman CCTV di hotel juga di jadikan sebagai bukti, bahwa Andi tidak bersalah.
Karena di sana jelas terlihat, Rio lah yang mulai menyerang Andi dan violin, begitu pula kejadian Vivian Lim yang menyiram Violin duluan juga lengkap tertangkap kamera.
Berdasarkan hal ini, pihak kepolisian malah menawarkan ke Andi untuk menuntut balik.
Tapi Andi yang malas ribet dan buang buang waktu bolak balik kantor polisi cuma habis uang.
Ujung ujungnya Rio dan Vivian Lim akan di lepas karena uang dan pengadilan tidak jelas.
Andi memilih menolak tawaran pihak kepolisian.
Setelah di bebaskan dari kantor polisi, Andi dan Violin langsung pergi mencari dan mengunjungi beberapa RS jiwa di kota B.
Tapi hasilnya nihil, mereka sama sekali tidak berhasil menemukan kemana perginya Viona.
__ADS_1
Akhirnya Andi dengan hati tidak rela terpaksa kembali kekota J,. karena violin tidak bisa lama lama menemani Andi mencari jejak Viona.
Karena Violin harus segera masuk kerja, banyak pasiennya yang antri menanti dirinya.
"Kak aku bisa naik travel atau train kembali ke kota J, itu bukan masalah.."
"Jadi kakak tak perlu membuang waktu hanya untuk mengantar ku, kembali ke kota J."
ucap Violin sambil menatap wajah Andi yang terlihat kusut dan agak kacau..
Mendapatkan kenyataan seperti ini, perasaan Violin juga tidak kalah kacau.
Selain mencemaskan nasib dan keadaan kakaknya, dia juga sangat cemas dengan nasib pernikahannya dengan Andi yang tinggal 4 hari lagi.
Dia sangat mengenal Andi,.dengan adanya kejadian seperti ini, bila ada sesuatu buruk yang menimpa kakaknya, ada kemungkinan Andi akan membatalkan semua rencana bahagia mereka.
Dua hal ini sangat membebani pikiran Violin sehingga dia sulit berpikir dengan tenang.
Dia kini hanya bisa berharap, kakak nya Viona bisa secepatnya ditemukan.
Dan kakaknya dalam keadaan baik baik saja.
Andi sambil menyetir menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak Lin, aku tidak bisa melakukan hal itu, kalian berdua adalah dua wanita terpenting dalam hidup ku selain ibu ku.."
"Aku harus atur yang terbaik buat kalian, semampu aku bisa."
"Aku akan antar kamu pulang dulu, nanti bila kamu sudah sampai di rumah."
"Aku baru bisa dengan tenang kembali kekota B mencari keberadaan Viona."
"Mencari Viona perlu waktu dan ketenangan, sedangkan kamu yang di perlukan justru waktu.."
"Karena sudah banyak pasien yang sedang menunggu penanganan mu.."
"Sayang kamu jangan khawatir dan berpikir terlalu banyak, konsentrasi saja dengan kerjaan mu.."
"Urusan Viona kakak mu percayakan pada ku.."
ucap Andi sambil membelai.lembut kepala kekasihnya.
Violin mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum, dia memegang tangan Andi, dan menciumi punggung tangan itu dengan lembut dan berkata,
"Terimakasih kak.."
Andi sambil tersenyum lembut menyetir dengan sebelah tangan, tangan yang lain nya, dia gunakan menarik Violin kedalam pelukannya dan memberikan ciuman lembut di kening Violin.
Violin membalas dengan menciumi pipi Andi dan berkata,
"Menyetir lah dengan konsen, aku mau tiduran.."
Violin melepaskan pelukannya dan kembali ketempat duduknya,.Andi mengangguk dan berkata,
"Tidurlah, nanti sampai aku baru membangunkan mu.."
__ADS_1
Setelah Violin tidur,.Andi pun mempercepat laju kendaraannya di jalan tol,. tidak sampai dua jam.
Mereka telah kembali ke parkiran apartemen mereka.