AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
VIONA YANG MENYEDIHKAN


__ADS_3

Polisi itu menatap Viona dengan tatapan tak berdaya, dan menggelengkan kepalanya.


Lalu dia pun mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak melihat Viona, dia berjalan masuk kembali kedalam ruangannya, dan memilih menghilang dari sana.


Viona tentu sangat tidak puas, dia berusaha meronta dari cekalan tangan Rio.


Tapi dia tidak kuat, sehingga terpaksa mengikuti arah tarikan tangan Rio.


Viona baru mau berteriak, Rio kembali berkata,


"Berani melawan dan berteriak coba saja, kamu pasti akan menyesalinya.."


"Percaya lah tidak akan ada yang akan berani datang membela mu.."


"Sebaliknya kamu pasti akan dikirim kerumah sakit jiwa.."


Mendengar ancaman Rio yang sepertinya tidak main main, akhirnya Viona pasrah di seret Rio masuk kedalam mobilnya.


Setelah tiba di rumah dengan kasar, Rio menyeret Viona masuk kedalam kamar, lalu dia melampiaskan seluruh kekesalannya dengan memukuli Viona hingga babak belur.


Teriakkan dan jeritan minta tolong serta tangisan Viona, sama sekali tidak terdengar dari luar kamar.


Karena kamar itu di pasangi peredam suara seperti studio rekaman.


Setelah puas menyiksa Viona, Rio menatap Viona yang terbaring tengkurap di atas kasur sambil menangis tak berdaya, dengan suara dingin dia berkata,


"Hei pelacur, kamu dengar baik-baik, aku sudah menunggu momen ini, dan bersabar cukup lama menghadapi mu.."


"Semuanya demi hari ini, berbagai ulah mu yang melecehkan ku selama ini, kini kamu akan membayarnya sedikit demi sedikit berikut bunganya.."


"Tadinya aku masih sempat berpikir mengampuni mu, tapi saat kemenangan ku, kamu malah berani meninggalkan ku pergi mencari si pecundang itu.."


"Sejak saat itu aku sudah putuskan, tiada pintu maaf lagi untuk mu.."


"Hari ini kamu berani kembali mempermalukan ku, di kantor polisi."


"Maka terimalah ini kamu ******...!"


bentak Rio kembali emosi.


Rio mengambil tali mengikat tangan Viona di ujung kanan kiri ranjang.


Viona yang sudah babak belur, dalam keadaan menyedihkan, dia sudah tidak punya tenaga untuk melawan sama sekali.


Dia hanya bisa merintih dan menangis dengan pasrah.


Rio kemudian dengan brutal kembali melayang kan tangannya menampar wajah Viona dengan keras


Setelah itu, dia menelungkup kan Viona memunggunginya, dengan kasar dia merobek robek seluruh pakaian Viona.


Tanpa memperdulikan teriakan dan permohonan ampun dari Viona, dengan kasar dan brutal, Rio merentangkan sepasang kaki Viona hingga terbuka lebar.

__ADS_1


Lalu dia memposisikan diri ditengah tengah, memposisikan senjata nya di bagian lubang an*s Viona.


Viona yang merasakan Rio menyentuh bagian tersebut, langsung berteriak ketakutan.


"Jangan Rio..Rio jangan..ku mohon jangan Rio...ampun..ampun..


tolong...tolong... Jangan...jangan... tidak boleh....jangan...di sana....!"


Rio sambil tersenyum mengejek, setelah menemukan posisi yang pas,.dia meludahi tempat tersebut.


Lalu dengan satu hentakan keras, masuklah seluruh senjata Rio di lubang sempit itu.


"Aduh sakittt....!!"


"Ahhhhhhh....!!"


teriak Viona dengan keras.


Sepasang matanya membelalak dengan airmata bercucuran, mulutnya terbuka lebar, menahan rasa sakit luar biasa.


Kepala nya sampai mendongak keatas, sepasang betisnya yang putih mulus juga ikut terangkat keatas saking nyerinya.


Rio sampai meram melek menikmati kedutan kedutan kesakitan Viona .


Lalu dia mencabut dan menghentak nya kembali, berulang kali sepuasnya, hingga akhirnya dia terpuaskan, baru dia mencabutnya secara paksa.


Meninggalkan lubang yang terbuka lebar, mengalirkan cairan putih kental bercampur warna merah darah.


Setelah Rio mencabutnya dengan kasar, kepala Viona dan betisnya yang indah pun ikut terkulai kebawah .


Saat keluar dari dalam kamar, Rio menyita HP Viona, lalu mengunci pintu kamar dari luar.


Setelah itu dia pun berlalu dari sana dengan wajah tanpa dosa.


Sedangkan kondisi Viona benar benar sangat menyedihkan, rambutnya yang biasanya indah memukau, kini terurai berantakan seperti orang gila.


Sepasang pipi dan matanya, biru lebam, sepasang matanya hampir tidak bisa dibuka karena bengkak.


Bibirnya robek, giginya beberapa tanggal, dahinya benjol sebesar telur puyuh.


Pokoknya wajahnya yang dulu sangat cantik dan memikat, kini terlihat sulit dikenali lagi.


Viona hanya bisa menangis diam disana, dengan suara tidak jelas.


Dia terus bergumam kecil di dalam hati.


"Andi tolong...Andi tolong lah aku.. bawalah aku pergi dengan mu..."


"Jangan tinggalkan aku sendirian...aku takut...aku takut ..di.. bawalah aku pergi..."


Tapi semuanya kini percuma, demi memenuhi permintaan nya, Andi sendiri sedang kritis koma tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Bagaimana Andi bisa datang menolongnya.


Beberapa jam berlalu, Viona sambil menahan nyeri di seluruh tubuhnya.


Dengan susah payah, dia bangun dari kasurnya, lalu dengan perlahan lahan dia merangkak kearah kamar mandi.


Viona meringkuk di bawah kucuran air shower dengan tubuh t*lanjang bulat, rambut terurai kebawah menutupi seluruh wajahnya yang sedang menangis pilu.


Air shower yang putih bersih jatuh membasahi tubuhnya, berubah menjadi merah berceceran diatas lantai, karena bercampur dengan darah Viona.


Terutama luka di bagian bawah tubuhnya, akibat tindakan brutal tidak berperikemanusiaan yang Rio lakukan padanya.


Mimpi pun Viona tidak pernah menyangka, nasibnya akan seperti ini, setelah dia menyerahkan seutuhnya hati dan perasaan nya pada Rio, yang dia terima saat ini adalah keadaan menyedihkan seperti sekarang ini.


Air hangat dari shower akhirnya berhasil memberikan Viona sedikit kesegaran dari tubuhnya yang sangat letih.


Viona setelah mematikan kran air, dia kembali merangkak kearah lemari pakaian, berganti pakaian baru.


Lalu kembali merangkak kearah kasurnya, yang berantakan dan menjijikkan.


Viona menarik dan melepaskan semua sprei kasurnya, karena tidak punya tenaga untuk mengganti sprei.


Viona tidur meringkuk di atas kasur tanpa sprei itu, sambil berlinang air mata..


Keesokan paginya, pintu kamar Viona baru di buka oleh Rio dari.luar.


Rio melangkah masuk kedalam kamar, dia berdiri memperhatikan Viona sejenak dengan tatapan lembut dan Kasihan.


Sambil menghela nafas panjang, Rio berjalan menghampiri Viona, yang sedang tidur meringkuk di sana.


Lalu perlahan-lahan dia ikut berbaring dan memeluk Viona dari belakang.


Viona tersentak terkejut terbangun dari tidur, tapi dia sangat trauma tidak berani meronta berteriak ataupun melarikan diri.


Dia takut Rio akan kembali marah dan menyiksa nya seperti kemarin.


Sehingga dia hanya bisa meringkuk mengigil ketakutan.


"Viona asalkan kamu menurut dan patuh pada ku, aku tidak akan menyiksa mu seperti kemarin.."


"Maukah kamu patuh dan menurut pada ku..?"


tanya Rio dengan lembut.


"Viona buru buru mengangguk dengan cepat.."


Rio tersenyum puas, lalu mencium tengkuk Viona memeluk pinggang Viona.


Viona semakin merinding, tubuhnya semakin mengigil dengan suara pelan dia berkata,


"Rio apa,.. yang kamu, ....inginkan..ku mohon.. jangan siksa aku lagi.."

__ADS_1


"Tidak.. tidak...tidak ..sayang..


selama kamu tidak mencoba untuk melawan ku..aku janji tidak akan menghukum mu lagi.."


__ADS_2