
"Dahulu aku memang sangat mencintainya, tapi kini terhadap dia, yang tersisa hanya ada rasa bersalah menyesal dan kasihan."
"Kini hanya terhadap mu lah aku sepenuh hati mencintai."
"Keputusan ini juga tidak mudah untuk ku, berpisah dengan mu, perasaan ku juga tidak kalah sakitnya dengan mu.."
ucap Andi seorang diri pelan.
Andi cukup lama duduk termenung disana dengan sedih, semakin lama dia semakin sadar, perasaaan nya terhadap Viona kini bukan lagi cinta.
Perasaan cintanya sepenuhnya hanya untuk Violin.
Kini terhadap Viona adalah rasa bersalah, rasa berhutang, rasa kasihan dan ingin mencoba sebisa mungkin menebus semuanya, agar hatinya bisa lebih tenang.
Setelah menenangkan guncangan perasaannya, Andi pergi cuci muka, mandi.
Setelah itu dia baru kembali masuk ke kamar Viona, kini di kamar itu sudah tidak ada siapa siapa, di sana hanya ada Viona yang sedang tidur seorang diri dengan tenang sambil tersenyum.
Andi ikut naik ke kasur itu, dia duduk setengah berbaring menemani Viona tidur.
Andi duduk sambil mengeluarkan HP nya,.dia memesan kendaraan menuju bandara, memesan tiket pesawat dan semua perlengkapan untuk persiapan berangkat ke New York lewat online.
Andi juga mengurus semua paspor Visa dan lain lain milik Viona, mendaftarkan nya ke kantor kedutaan Amerika.
Besok pagi rencananya dia baru membawa Viona langsung kesana untuk mengurusnya.
Andi juga mengabari berry agar mengatur kan segala sesuatu di sana.
Setelah semua beres, Andi pun masuk kedalam games nya.
Kebetulan Violin juga sedang online, Andi pun menemani Violin membantai semua musuh musuhnya hingga tuntas, dia membantu Violin naik level naik peringkat.
Setelah itu Andi mengirimkan semua armor dan hartanya ke Violin.
Andi mematikan karakternya, dengan duduk diam bersemedi, saat keluar dari games, Andi pun menghapus games kesayangan nya itu dari HP nya.
Andi juga mengganti semua foto profilnya bersama Violin,.di ganti dengan foto lamanya bersama Viona.
Andi mengumpulkan semua data foto Violin menjadi satu file yang dia sembunyikan dan kunci.
Sisanya kini di hpnya seluruhnya adalah foto Viona.
Andi meletakkan HPnya kemudian duduk setengah berbaring sambil memejamkan matanya.
Keesokan paginya saat Viona bangun menemukan Andi berbaring di sampingnya.
Dia pun tersenyum bahagia, menyusupkan dirinya berbaring dalam pelukan Andi.
Andi yang sebenarnya sudah bangun, dia sengaja membiarkannya beberapa saat.
__ADS_1
"Vi,.. aku mau membereskan barang barang mu boleh ?"
ucap Andi pelan sambil memeluk lembut Viona.
"Emangnya kita mau kemana di,..?"
tanya Viona heran.
"Rencananya kita akan terlebih dulu ke kantor kedutaan Amerika, bila sudah beres, aku akan mengajak mu mengunjungi new York.."
Viona menatap Andi dengan tatapan mata haru dan berkata,
"Di,..aku tahu kamu selalu memikirkan yang terbaik untuk ku, tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk itu."
"Aku tahu kondisi ku, aku sudah sangat bersyukur kamu bersedia menemani ku disini."
"Aku juga tahu demi menemaniku, kamu memilih berkorban perasaan terhadap adik ku,."
Andi menatap Viona dengan kaget dan berkata,
"Kamu tahu darimana, tentang hal itu..?"
"Apa Violin yang memberitahu mu ?"
tanya Andi curiga.
Viona menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Bukan,.. bukan dia, semua ini aku tahu dari papa."
"Papa lah yang menceritakan semuanya pada ku."
Andi terdiam, dia merasa sedikit bersalah telah berpikir tidak tidak tentang Violin.
"Di,..dengarkanlah aku, aku tidak ingin kemana mana, aku tidak ingin melewatkan sisa hidup ku dengan terbaring tersiksa di rumah sakit.."
"Tiap hari minum sekantong obat, rambut rontok hingga botak, ujung ujung tetap pergi juga.."
"Menghabiskan segudang uang untuk hal yang tidak ada harapan, aku benar benar tidak mau seperti itu di,.."
ucap Viona memelas, menatap Andi penuh permohonan.
Andi menatap Viona dengan serius dan berkata,
"Berobat masih ada peluang untuk sembuh untuk hidup, pasrah itu berarti hanya ada satu jalan, jalan kematian bagi mu.."
"Tidak Vi, aku tidak bisa melihat mu pergi dengan cara seperti itu, aku tidak bisa, aku akan merasa bersalah seumur hidup bila itu terjadi."
ucap Andi sambil menggeleng keras.
__ADS_1
Viona menggunakan kedua tangannya memegang wajah Andi menghadap kearahnya.
"Di,..kamu harus dengarkan aku."
"Kamu sudah mengundur nya sekali, kamu tidak boleh mengundur nya lagi."
"Anggap lah ini demi aku, aku mohon jadilah adik ipar ku.."
"Aku ingin hadir di sana sebagai saksi kalian,.anggaplah ini hiburan terakhir untuk ku."
ucap Viona sambil menatap Andi dengan serius.
Andi terus menggelengkan kepalanya sambil mengigit bibirnya sendiri dengan erat.
Airmatanya bercucuran tak tertahankan mendengar permintaan Viona barusan.
Dia sangat merasa bersalah pada Viona, bila tidak bisa menembusnya seumur hidup Andi akan merasa sangat menyesal.
Viona masih memegangi wajah Andi, dia kembali melanjutkan berkata,
"Di,... aku sangat mengerti jalan pikiran mu, kamu selalu meletakkan segala kepentingan ku,.jauh diatas semua kepentingan dirimu sendiri.."
"Di,.. kamu harus dengarkan aku, kamu tidak perlu menyesali diri mu atas keadaan ku saat ini,.."
"Ini sama sekali tidak.ada hubungannya dengan diri mu, kamu tak perlu merasa bersalah, berhutang, ingin menebus semuanya atau apapun."
"Aku seperti ini semua adalah murni pilihan ku sendiri, segala.resiko akibatnya adalah karma ku sendiri."
"Kamu harus selalu ingat ini di,.
Ketika orang tua ku terlibat hutang hingga menjerat ku bersama Rio, kamu sudah berhasil mengumpulkan uang dengan taruhan nyawa mu dan mengakhiri kontrak ku dengan nya."
"Ini berarti kamu sudah sukses membebaskan ku darinya.."
"Kejadian berikutnya adalah akibat kesalahan dan kelalaian diri ku menjaga diri, aku memilih mengabaikan mu dan pergi karaoke bersama teman teman hingga akhirnya aku kembali terjerat oleh nya.."
"Ini adalah kesalahan pertama ku.."
"Setelah terjerat olehnya, aku malah menipu mu, tidak berterus terang, sehingga aku terjerat semakin dalam."
"Ini adalah kesalahan ku yang kedua.."
"Selanjutnya kamu dan James sudah berhasil membebaskan aku darinya, adalah kebodohan ku, mengabaikan tawaran mu dan memilih kembali ke sisinya, bahkan menikah dengan nya, dan memilih menyakiti perasaan mu.."
"Ini lagi lagi adalah kesalahan ku untuk yang ketiga kalinya."
"Berikutnya lagi, aku percaya dengan akal akalan dia dan ayah nya, meminta mu mengalah di atas ring, hingga kamu koma hampir tewas dan akhirnya kehilangan ingatan.."
"Ini lagi adalah kesalahan keempat ku.."
__ADS_1
"Akibat kesalahan ku ini,. saat aku kehilangan segalanya,.aku tidak punya tempat untuk bersandar yang bisa ku andalkan."
"Karena aku lah yang dengan tega telah menjadi penyebab sandaran terakhir ku lupa ingatan..selama 5 tahun lebih.."