
Santi sambil tertawa berkata,
"Apa aku masih punya hak untuk memilih..?"
Andi dan Viona pun ikut tertawa mendengar ucapan Santi.
"San aku sarankan sih kamu ikut saja San, karena di lapangan sana setidaknya tidak ada yang kribo.."
ucap Andi sambil tersenyum.
Santi langsung mempelototi Andi dengan galak.
Andi meleletkan lidahnya sambil mengangkat bahunya, dia memilih menundukkan kepalanya minum sisa teh botol di hadapannya.
Sedangkan Viona sudah tertawa ngakak, sambil memegang perutnya yang serasa mau kram.
"Ya terus..terusin saja sepuasnya, tar kalau rahangnya lepas baru tahu rasa.."
Viona langsung berhenti tertawa, dia terlihat ketakutan dan ngeri.
Dia masih teringat jelas, dulu dia pernah tertawa berlebihan hingga rahangnya lepas.
Sakitnya bukan main, dia sampai menangis-nangis di buatnya, dan harus di.larikan kerumah sakit.
Menurut dokter yang merawatnya, sekali terjadi selanjutnya bisa kambuh lagi, bila tidak hati-hati saat tertawa ataupun menguap.
Karena engselnya sudah dol, dan itu tidak mungkin bisa di sembuhkan lagi seumur hidup.
Kini dia di ingatkan kembali oleh Santi, dia pun terdiam tidak berani tertawa lagi.
Santi tersenyum penuh kemenangan menatap Andi dan Viona.
Melihat Viona yang ngedadak diam, Andi menjadi khawatir, dia buru-buru berkata.
"Kamu tidak apa-apa Vi ?"
Viona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit.
Melihat hal itu Santi yang menjawab,
"Dia tidak akan apa-apa, asalkan kamu tidak buat banyolan yang gak lucu."
Andi mengangguk kemudian melihat jam ditangannya dan berkata,
"Udah jam 11.30 ni kita kembali ke kampus yuk, nanti kalian berdua telat lagi.."
Kedua orang itu mengangguk kompak, lalu.mereka bertiga terlihat berjalan beriringan meninggalkan warung mang Endut.
"Di.. kamu bukan nya gakda perkuliahan lagi,? ngapain ikut kita ke kampus.."
tanya Viona sambil menatap Andi.
Andi tersenyum dan berkata,
"Aku mau baca-baca di perpus.."
Viona mengerutkan alisnya dengan bibir cemberut berkata,
__ADS_1
"Mau baca-baca atau mau ngelaba cewek cantik di sana..?"
Andi buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku pinjam buku aja , tar bacanya di depan kelas mu bolehkan..?"
Viona tersenyum senang dan memberikan jempolnya kearah Andi.
Santi hanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap Viona yang kelewatan dan over di manja oleh Andi.
Begitu sampai di kampus mereka pun berpisah, Andi ke perpus Viona dan Santi ke kelas mereka.
Tapi hanya sesaat saja Andi di perpus, dia cuma pinjam beberapa buku, lalu dia buru-buru kembali ke depan kelas Viona.
Mencari tempat yang santai, lalu duduk membaca di sana.
Melihat Andi sudah kembali duduk di bangku dekat kelasnya, Viona pun tersenyum senang.
Dan bisa mengikuti kelas kuliahnya dengan tenang.
Santi juga ikut melihat kearah Andi, dengan tatapan kasihan.
Duduk di sana baca sungguh bukan tempat yang nyaman.
Berbeda jauh dengan ruang perpus yang menggunakan AC, di bangku dekat kelasnya itu kalau pagi bolehlah.
Kalau dah siang-siang begini, di mana matahari bersinar terik, tempat itu tentu sangat sangat panas dan kurang nyaman.
Santi menghela nafas panjang, lalu kembali fokus ke perkuliahannya.
Menghilangkan kecurangan Viona yang menganggapnya sedang mojok dan ngelaba gadis lain, jadi Andi tetap memilih bertahan di sana.
Perlahan-lahan bajunya mulai basah oleh keringat, dahinya juga di penuhi butiran keringat kecil-kecil.
Tapi Andi memilih tetap bertahan membaca di sana hingga kelas Viona usai.
Begitu kelas Viona usai dan bubaran, Andi merapikan buku membersihkan keringat di wajahnya dengan sapu tangan, lalu berjalan menghampiri Viona yang baru keluar dari kelas nya.
Melihat Andi yang bajunya basah oleh keringat,
Viona berkata sambil menutup hidungnya,
"Aduh gila loe di,.. badan mu bau keringat gini, pulang mandi gih cepat.."
Andi mengangguk dan berkata,
"Baiklah Vi kalau gitu aku pulang dulu bye.."
Setelah Andi pergi, Santi menarik tangan Viona dan berkata,
"Tega loe Vi, dia berkeringat begitu justru karena bertahan di tempat yang tidak masuk akal itu untuk nyenengin kamu."
"Tapi hasilnya kamu mengusirnya mengatakan dia bau.."
Viona tersenyum dan berkata,
"ya...ya... gue yang salah tar gue minta maaf deh lewat chat.."
__ADS_1
"Kita pulang yuk panas nih.."
Santi menggelengkan kepalanya tak berdaya melihat sikap temannya ini yang suka ngasal .
Andi yang memang kepanasan, begitu tiba di kost dia langsung ambil centong dan handuk terus mandi membersihkan diri.
Selesai mandi dan sudah segar, Andi baru iseng-iseng berbaring di kasur mengecek HP ternyata di dalam ada chat dari Viona, Andi pun membukanya,
"Di.. maaf ya dengan sikap ku tadi, kamu sudah berpanas-panasan aku malah mengusir mu pulang mandi.."
Andi tersenyum melihat chat dari Viona, dia pun membalasnya,
"Tidak apa-apa kamu benar kok, aku memang harus pulang mandi, aku juga merasa gerah dan ingin buru-buru pulang mandi."
"Lagipula mandi di kost mu kan gak mungkin, dalam cuaca panas dan kondisi badan penuh keringat dan bau gitu juga mau jalan kemana.."
"Paling tepat memang pulang mandi.."
Viona langsung membalas dengan emozi meminta maaf dan tertawa gembira.
Tak lama kemudian HP Andi kembali.ada pesan masuk.,
"Di jam 5 sore nanti, aku main ke kost mu."
"Sekarang mo bobo dulu ngantuk Miss U bye.."
Andi pun membalasnya dengan,
"Ok Miss U to.."
Viona tersenyum melihat balasan langsung dari Andi, dia kemudian meletakkan HP nya dan langsung tidur.
Berbeda dengan Viona, yang bisa tidur karena kamarnya di lengkapi AC.
Andi memilih duduk di depan jendela mengeluarkan sepotong kayu dan sebatang pisau ukir, dia dengan hati-hati mengukir wajah Viona di kayu tersebut.
Setelah mengukurnya selama beberapa jam, akhirnya Andi menyelesaikan ukiran nya.
Kini kayu tersebut berubah menjadi sebuah patung yang membentuk Viona yang sedang berdiri menatapnya dengan senyum manis.
Patung itu sangat indah dan cantik sangat mirip dengan Viona aslinya.
Patung itu mirip prototipe Viona berukuran mini.
Andi tersenyum puas melihat hasil karyanya, Andi menyimpannya di laci di mana sudah ada ukiran lainnya berbentuk dirinya sendiri, yang sedang tersenyum lembut menatap Viona
Dia membersihkan meja dan lantai dari kotoran ukiran kayu.
Setelah merapikan kamarnya, dia baru bergegas pergi mandi, hari sudah sore, sebentar lagi Viona mungkin akan tiba pikir Andi.
Baru saja Andi masuk ke kamar mandi, Viona pun tiba dengan motornya.
Dengan senyum gembira Viona langsung menuju kamar Andi dan memanggilnya sambil mengetuk pintu kamar Andi.
"Tok..tok...tok...! di...di...!"
.
__ADS_1