AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU

AKU TIDAK PERNAH MENYESAL MENCINTAI MU
PENGAKUAN SANTI


__ADS_3

"Jam berapa sekarang, ? kasur mu seperti mengandung obat tidur sangat nyaman buat tidur."


ucap Santi untuk menutupi rasa malunya.


Santi di dalam hati memaki-maki kesembronoannya sendiri. sembarangan tidur di kasur laki-laki yang bukan siapa-siapa baginya.


Untungnya Andi adalah pria yang sangat baik dan bisa di percaya.


Bila di kamar pria lain dia melakukan hal seperti tadi, bila terjadi sesuatu siapa yang akan bertanggung jawab.


Yang paling dirugikan tentu dalam hal ini adalah dia, apalagi bila sampai hamil.


Mau bagaimana dia melanjutkan masa depannya dan mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadap kedua orang tuanya.


"Sekarang udah jam 13.30 kalau mau mandi cuci muka, handuk dan sabun ini bisa di gunakan."


ucap Andi menyerahkan sebuah handuk baru dan sebuah gayung berisi peralatan mandi.


Santi yang merasa sedikit gerah dan masih sedikit mengantuk menyambut baik tawaran Andi.


Tak lama kemudian terlihat Santi meninggalkan kost Andi dengan menyetir motor Scoopy nya kembali ke kampus seorang diri.


Andi sempat menawarkan diri mengantarnya, tapi Santi menolak nya, dia bukan tidak suka diantar Andi.


Tapi dia memikirkan Andi yang harus berjalan kaki kembali ke kostnya berpanas-panasan setelah mengantarnya ke kampus.


Santi tidak tega merepotkan dan menyusahkan Andi yang baik.


Sampai di kampus Santi di sambut oleh Viona sahabat nya,


"Kamu kemana saja San setelah perkuliahan,? dicari kemana-mana gak ketemu, HP juga gak aktip."


ucap Viona sedikit cemberut kurang puas.


Santi adalah CS nya, kemana-mana mereka selalu berdua mereka jarang berpisah.


Tadi setelah dari kantin, dia berputar-putar di kampus mencari Santi gak ketemu.


Dihubungi lewat HP juga gak aktip, pulang ke kost juga gak terlihat batang hidungnya, tentu Viona menjadi cemas khawatir dan keki.


Maka nya begitu ketemu dia langsung memborbardir Santi dengan pertanyaan-pertanyaan.


Santi dengan senyum malu-malu berkata dengan suara lirih.


"Aku tadi main ke kost Andi.."


Viona menatap rambut Santi yang basah dengan curiga dan bertanya, entah kenapa hatinya tiba-tiba merasa panas.

__ADS_1


Apa jangan-jangan mereka berdua telah mengkhianatinya, batin Viona.


Ternyata cinta Andi padanya tidak lah sebesar yang dia pikirkan, ternyata Andi sama seperti pria lain gampang tergoda, bila di beri kesempatan.


"Rambut mu kenapa basah San ? kamu keramas dikost Andi ?"


tanya Viona curiga,


Santi tidak menyadari kejanggalan sikap temannya.


Dengan sikap malu-malu dan polos Santi menjawab,


"Tadi aku tertidur di sana, setelah di bangunin oleh Andi, aku merasa masih sedikit ngantuk dan agak gerah."


"Jadi aku terima tawaran Andi untuk mandi di sana biar segar, karena merasa rambut sedikit lepek, jadi aku sekalian keramas."


Viona mengerutkan alisnya, mendengar jawaban Santi dia menjadi semakin curiga.


Viona menatap Santi dengan tajam dan bertanya dengan curiga dan cemburu.


"Jadi kalian berdua sudah melakukan hal itu, sehingga kamu kecapekan tertidur disana, kemudian Andi membangunkan mu, mengingatkan mu untuk kuliah, jadi kamu pun mandi dan keramas di sana."


Mendengar pertanyaan Viona yang lebih mirip tuduhan, Wajah Santi langsung merah.


Kini dia mengerti arah pertanyaan sahabatnya tadi.


Ternyata di mata Viona sahabatnya ini, dia dan Andi begitu rendah.


Dengan marah Santi menatap Viona dan berkata,


"Vi aku dan Andi tidak lah serendah yang kamu kira.."


"Kami hanya berteman, tentu kami tahu batasan pertemanan."


"Aku sungguh kecewa sama kamu Vi, kamu memandang aku rendah dan murahan its ok no problem aku terima."


"Tapi Andi Vi.. Andi yang begitu mencintai mu dengan setulus hati dari sejak kamu SD hingga kuliah saat ini."


"Kamu tega menuduhnya melakukan perbuatan rendah itu dengan ku, aku sungguh merasa tidak pantas untuknya."


"San aku...aku...maafkan aku San, bukan itu maksudku tadi...aku.."


ucap Viona merasa bersalah tidak tahu mau berkata apa, dia terlihat gugup merasa tidak enak hati.


"Vi tadinya aku tidak mau bicarakan hal ini, tapi hari ini aku tidak bisa tahan lagi."


"Kamu ingat ketika kita kelas 1 SMP kakak kelas kita Marcel, yang mencoba melecehkan mu bersama beberapa anak SMK."

__ADS_1


"Mengapa beberapa hari kemudian dia datang ke kelas meminta maaf pada mu.?"


Viona menggelengkan kepalanya dan menatap Santi dengan tatapan ingin tahu.


"Itu karena Andi seorang diri mendatangi nya, yang sedang nongkrong bersama beberapa anak SMK."


"Andi menghajar mereka habis-habisan dan mengancam Marcel bila dia tidak minta maaf pada mu, Andi akan mematahkan kaki dan tangannya seperti Anj*ng."


"Itu semua ku saksikan sendiri dengan mata kepala ku sendiri, Andi melarang ku memberitahukan hal ini padamu, makanya aku tidak pernah menceritakannya pada mu."


Santi mengambil nafas sebentar kemudian kembali berkata,


"Bukan hanya itu, di malam perpisahan Ospek, bila bukan Andi yang menolong mu dari tangan Novi Mia dan Eva."


"Kamu pikir hari ini kamu masih ada muka untuk kuliah di kampus ini ?"


"Selama masa Ospek kenapa beberapa mentor yang tadinya sadis dan galak tiba-tiba jadi jinak dan baik."


"Sehingga kamu bisa melewati Ospek dengan nyaman, kamu pikir siapa di balik itu.?"


"Rio...Huh sungguh naif kamu..!"


"Kalau tidak percaya kamu boleh pergi tanya sendiri ke 6 mentor itu, mereka masih hidup kok dan bisa bicara dengan normal."


"Apa kamu tahu Andi menggendong mu sepanjang jalan dari kampus hingga ke kost."


"Sepanjang perjalanan berapa kali kamu memuntahinya, hingga baunya sudah seperti orang yang baru keluar dari tempat sampah ketika tiba di kost kita."


"Tidak ada keluhan sedikit pun yang keluar dari mulutnya tentang mu, bahkan dia kembali melarang ku untuk memberi tahu mu."


"Dia bahkan rela memberikan jasa itu untuk Rio agar kamu merasa puas dan bahagia, agar kamu tidak merasa kecewa ternyata penolong mu adalah seorang pria yang begitu rendah di matamu."


Viona hanya bisa bercucuran airmata mendengar semua cerita sahabatnya yang terlihat berapi-api dan penuh emosi.


Santi mengambil nafas sesaat setelah agak tenang emosinya dia baru berkata,


"Apa kamu sadar tadi pagi Andi berdiri tidak jauh dari depan kelas pagi kita."


"Dia berdiri seperti orang bodoh melihat mu tersenyum bahagia menerima bunga permintaan maaf dari Rio."


"Melihat mu bergandengan tangan mesra bersama Rio pergi ke kantin."


"Serasa dunia hanya milik kalian berdua, apa kamu lupa apa yang pria itu lakukan pada mu ?"


"Apa kamu lupa dengan tega karena egonya dia memarahi mu, menyakiti mu.?"


"Hanya karena segepok bunga dan sedikit akting kamu pun lupa semuanya."

__ADS_1


__ADS_2