
"Sudah cukup puas kamu pandangi wajah suami mu yang tua ini.."
ucap Andi dengan mata terpejam sambil menahan senyum.
Viona sangat kaget, saat Andi tiba tiba bersuara.
Dia lalu mencubit pipi Andi dengan gemas dan berkata,
"Kalau kamu tua, apalagi aku nyindir ya..?"
Viona sedikit mengerucutkan bibirnya.
Andi buru-buru membuka matanya dan berkata dengan panik.
"Maaf sayang bukan itu maksud ku, kalau kamu sih selamanya tidak pernah berubah dalam pandangan ku.."
Viona tertawa kecil dan berkata,
"Aku cuma bercanda saja dengan mu, mana mungkin aku bisa marah pada suami yang sebaik kamu..?"
"Di dunia ini cuma ada satu, dan sekarang dia sedang ada di hadapan ku ."
ucap Viona sambil tersenyum bahagia.
Andi tersenyum lega dan berkata,
"Kamu mengagetkan ku saja, bagaimana keadaan mu, sudah lebih baik ?"
Viona mengangguk cepat sambil tertawa berkata,
"Ada kamu di sisi ku, semua penyakit ku pun sudah hilang tertiup angin segar, yang kamu bawa untuk ku..'
Andi tersenyum dan berkata,
"Syukurlah kalau begitu, jadi aku tidak perlu membatalkan acara makan malam kita di cafe V di bukit D, yang sudah aku reservasi."
Viona langsung bangun duduk dan merapikan rambut nya dan berkata,
"Kamu serius di,..?"
Andi tersenyum dan berkata,
"Kapan aku pernah tidak serius pada mu ?"
"Hari ini adalah hari kasih sayang tgl 14 Februari, hari pertama selama kita kenal aku bisa rayakan hari Valentine bersama mu.."
Viona langsung maju memeluk Andi dengan mata berkaca-kaca,
"Maafkan aku di,.. hampir 8 tahun kita saling kenal, 3 tahun bersama."
"Tapi aku tidak pernah benar-benar ada untuk mu, di hari penting tersebut.."
Andi tersenyum dan berkata,
"Tidak apa-apa, cinta kita memang penuh perjuangan dan semua perlu proses.'
"Tapi pada akhirnya semua berakhir indah bukan begitu..?"
Viona mengangguk kecil dan berkata,
"Terimakasih di,.. terimakasih,.. terimakasih atas semua nya.."
Andi mencium kepala Viona dengan lembut dan berbisik,
"Tidak perlu Vi, jangan lupa aku sekarang adalah suami mu."
__ADS_1
"Kebahagiaan mu, tentu adalah tanggung jawab ku.."
"Pergilah bersiap siap, aku juga mau bersiap siap.."
ucap Andi lembut.
Viona tersenyum bahagia, dan mengangguk kecil.
Tapi saat ingin turun dari ranjang, Viona terdiam di tempat.
Andi menjadi kaget, melihat sikap Viona, dia buru-buru duduk di sebelahnya dan berkata,
"Kamu kenapa Vi, apa ada yang terasa kurang sehat dan kurang enak di badan..?"
Viona tersenyum sedih dan berkata,
"Tidak di,.. aku baik baik saja, aku sebenarnya sangat ingin pergi, tapi aku takut akan membuat mu malu di sana.."
"Kamu lihat aku selain beberapa stel pakaian sederhana dari panti, aku sama sekali tidak punya.."
Viona tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, dia keburu menunduk sedih.
Agar Andi tidak melihat air mata nya yang runtuh jatuh menitik ke punggung telapak tangannya yang terkepal erat.
Andi tersenyum dan berkata,
"Ohh itu, kalau itu kamu tidak perlu khawatir dan sedih.."
"Aku sudah siapkan semua untuk mu, kamu boleh pilih dan tes mana yang kamu cocok..'
"Aku akan pergi minta suster Emi membantu mu, aku nanti tunggu di luar, kalau ada perlu panggil aja..'
Setelah berucap Andi pun keluar dari dalam kamar mereka berdua.
Begitu pintu terbuka, terlihat deretan gaun baru berbagai warna ada di sana.
Sepatu juga ada beberapa pasang yang tersusun rapi di sana.
Viona tersenyum menahan haru, melihat perhatian yang begitu teliti di siapkan oleh Andi untuk nya.
Selagi dia sedang bengong di sana, pintu sudah di ketuk dari luar.
"Tok,..Tok,..Tok,..!"
"Silahkan masuk,..!"
balas Viona dari dalam kamar.
Pintu kamar terbuka, suster Emi melangkah masuk kedalam dan berkata,
"Biar saya bantu nyonya.."
Viona memilih sebuah gaun yang dia suka, lalu dia letakkan di atas kasur.
Viona ke kamar mandi, di temani dan di bantu oleh suster Emi.
Setelah selesai mandi, dia baru di bantu mengenakan gaun baru pilihan nya tersebut.
Gaun sedikit kedodoran karena tubuh Viona yang jauh dari proporsional.
Dia terpaksa mengenakan beberapa lapis pakaian di dalam, baru bisa sedikit ngepas dengan gaun pilihan nya.
Saat Viona ingin berias, dia kembali tersenyum terharu, melihat semua bedak lipstik hingga eye shadow yang biasa dia gunakan, semua juga sudah tersedia di laci meja rias.
Di sana juga ada sebotol parfum yang sama persis wanginya,. dengan parfum yang dahulu saat kuliah sering dia gunakan.
__ADS_1
Tak terasa air mata haru Viona kembali jatuh menitik.
Selesai membantu Viona berias dan merapikan rambut, suster Emi pun menggunakan kursi roda membantu mendorong Viona keluar dari dalam kamar.
Sebenarnya Viona bisa berjalan, tapi demi menjaga kondisi nya, bila keluar dari kamar atau kemanapun.
Andi menyarankan dia untuk selalu menggunakan kursi roda, dan hal itu Viona tidak mau menolaknya.
Dia tidak mau membuat Andi cemas dan khawatir untuk nya.
Melihat Viona sudah rapi, meski agak kurus dan pucat, tapi sisa kecantikan nya masih terlihat jelas.
Andi tersenyum puas dan berkata,
"Harap sabar sebentar ya, sekarang giliran aku yang dandan.."
Viona tersenyum dan berkata,
"Pergilah,.."
"Santai aja, aku bisa nunggu sambil nonton TV.."
ucap Viona lembut.
Andi mengangguk, setelah menciumi rambut Viona yang wangi.
Andi pun masuk kedalam kamar, mandi dan berganti pakaian rapi.
Setelah siap Andi pun keluar dari kamar nya.
Sesaat kemudian Andi dan Viona sudah duduk dalam mobil yang bergerak meninggalkan apartemen mereka.
Dalam perjalanan Viona bertanya,
"Di,.. wangi parfum ini,..? seingat ku dulu, kamu tidak pernah pakai parfum.."
"Ini sejak kapan ?"
Andi tersenyum pahit dan berkata,
"Aku sudah lama menggunakan nya."
"Awalnya Violin yang belikan untuk di taruh di mobil expander yang sekarang di pakai papa ku itu.."
"Pakai di pakai jadi cocok, dan aku tidak pernah ganti ganti lagi, hingga sekarang.."
"Gimana wanginya, bila kamu kurang nyaman."
"Besok kita bisa pergi cari parfum yang wanginya kamu cocok.."
ucap Andi cepat.
Dia takut Viona cemburu, sehingga kebahagiaan nya terganggu.
Viona tersenyum lembut menatap Andi dan berkata,
"Tidak kok di,.. aku juga menyukai wanginya, sangat elegan.."
Viona tidak heran, Andi bisa bertahan dengan satu jenis parfum dalam kurun waktu yang begitu lama.
Begitulah Andi nya, bila sudah menentukan pilihan tidak ada yang akan bisa merubahnya.
Sama seperti perasaan Andi terhadap dirinya, dia juga yakin perasaan Andi terhadap adiknya juga sama.
Hanya Andi tidak mau mengakuinya dan memilih menyimpan nya dalam dalam agar dia tidak merasakan nya
__ADS_1